TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Mari berdiskusi mengenai Kristiani, mohon saling menghormati dan tidak membahas agama lain di forum ini.

Moderators: vids, Ken, tiwul, kartono_w, Alfonsus

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Males_Marah » Sun Jan 18, 2009 3:05 pm

Shlama lekh ba noukhra d Maran Yeshu’a Mshikha…

Pakde wrote:Kata kucinya adalah "KESAKSIAN"


Tepat, tetapi itu baru salah satunya, kata yang lain adalah “FAKTA”

Pakde wrote:artinya anda hanya menceritakan apa yang menurut anda, anda lihat dan anda alami secara pribadi dan sangat bersifat subjektif. Artinya peristiwa tersebut adalah peristiwa menurut iman anda dan anda tidak boleh menganggap bahwa orang lainpun melihat seperti yang anda lihat.


Oleh sebab itu saya gambarkan dengan sketsa kasar, karena itu penglihatan metafisik.
:roll: :lol: :lol: :lol: :mrgreen:

Pakde wrote:Apakah "KESAKSIAN" anda benar benar terjadi seperti yang anda ceritakan atau hanya halusinasi anda,


Halusinasi ????? Hihihihihihi. :mrgreen: Coba baca lagi postingan awal saya di bagian antilog….
Oh ya,..saya tambahkan pula mengenai definisi halusinasi dari Wikipedia dan dari 45th Annual Meeting of the American Academy of Neurology in New York, New York (April 1993).

Wikipedia menuliskan:
A hallucination, in the broadest sense, is a perception in the absence of a stimulus. In a stricter sense, hallucinations are defined as perceptions in a conscious and awake state in the absence of external stimuli which have qualities of real perception, in that they are vivid, substantial, and located in external objective space.

Halusinasi mempersyaratkan mengenai suatu persepsi sadar dengan ketiadaan rangsang/stimuli luar yang mempunyai kualitas persepsi nyata dan berada diluar ruang/letak yang dituju (=and located in external objective space).
Apa yang saya lihat/persepsikan berasal dari stimuli/rangsang luar/external yaitu upacara Liturgi Ekaristi dan berada di dalam/pada ruang/letak yang dituju yaitu Altar tempat berlangsungnya konsekrasi. Due to the definition; what I am seeing in every single Eucharist Mass is not hallucination or excluded from hallucination as per definition.

45th Annual Meeting of the American Academy of Neurology in New York, New York (April 1993). mengenai "Lhermitte's Peduncular Hallucinosis" menuliskan:
…Visual hallucinations that were unformed or elemental (e.g., lights or spots) were associated specifically with the calcarine area or, more broadly, with the occipital lobe. He also presented reports of his own patients with temporal lobe tumors, examined in Cushing's neurosurgical clinic. The majority of these patients, if they hallucinated, reported formed hallucinations (e.g., objects or people)…

[4] THE CLINICAL PHENOMENON
[4-1] DISTINGUISHING PEDUNCULAR HALLUCINOSIS FROM OTHER VISUAL HALLUCINATIONS.

Visual hallucinations occur in a variety of psychiatric, neurologic, ophthalmologic, and systemic toxico-metabolic disorders. Hallucinations with a neurologic etiology need to be distinguished as to whether they are related to seizure activity or not, as irritative hallucinations tend to be stereotypic in nature and in form, may have localizing significance, and may be identified as part of a patient's aura.
Those hallucinations that are features of the psychotic disorders are perhaps the most commonly appreciated hallucinatory phenomena. They may be observed in the schizophrenic disorders, mood disorders, and also may be a feature in conversion disorder. Diagnostically, hallucinations need to be differentiated from delusions, confabulations (e.g., Cummings & Miller, 1987) and, if observed in the context of delirium, from illusions and misperceptions (e.g., Lipowski, 1990).
In addition to the clinical distinction as to the presence of a seizure disorder, hallucinations have generally been characterized as being either "irritative" or "release" phenomena (Cogan, 1973).(sampai lepas-lepas pakaian ??? kagak lah yaw). Peduncular hallucinosis is considered to be a "release" phenomenon, independent of seizure activity, although one case (McKee et al, 1990) reported the onset of hallucinations after the occurrence of a tonic-clonic convulsion. As a "release" phenomenon, peduncular hallucinosis is in the same class of visual hallucination as hypnagogic hallucinations and those observed in sensory-deprivation states.


Dari kutipan pada paper 45th Annual Meeting of the American Academy of Neurology jauh buangeet kami mengalami hal-hal itu…


Pakde wrote: tidak seorangpun yang berhak membenarkan atau menyangkalnya karena sekali lagi itu adalah "KESAKSIAN" ANDA DAN BUKAN "FAKTA".

Bicara soal definisi "FAKTA" maka sesuatu benar benar " ADA" harus berlaku bagi anda dan juga orang lain.


Ada lho yang melihat sebelum saya yaitu teman-teman saya...coba baca postingan awal saya lagi, bahkan salah satu member ponren ini yaitu sdr/sdri Hanya_Pelayan pun merasakan kehadiran Allah pada peristiwa Ekaristi (artinya termasuk Transubstansiasi) walaupun tidak melihatnya:

hanya_pelayan wrote:....suatu tread yg membangun, namun yang pasti Ekaristi adalah sesuatu Mujizat yang amat indah mungkin tdk dapat saya lihat, tapi dapat dirasakan kehadiranNya....


Kesaksian yang saya sampaikan tidak bernilai “klaim kebenaran meluas” atas apa yang saya saksikan coba baca kutipan dari postingan awal saya di bagian antilog:

Males_Marah wrote:Dari pengalaman metafisik inilah kami tahu bahwa peristiwa Transubstansi bukanlah ‘takhayul yang dikanonisasi’ atau hasil ‘intervensi setan’ terhadap iman Kristiani Sejati yaitu Iman Katolik.


Di dalam Tata Bahasa Indonesia terdapat 2 jenis kata ganti pihak pertama jamak yaitu:
1. Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik dan
2. Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik
Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kita
Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan tidak mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kami.

Mohon pelajari kembali Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa melalui buku-bukunya Jus Badudu, Gorys Keraf, Anton Hilman atau W.J.S Poerwodarminto karena terdapat perbedaan menyolok antara kata 'kita' dan 'kami' :lol: :lol: :lol: :lol:

Transubstansiasi/Transubstansi adalah fakta bukanlah klaim saya tetapi klaim dari Magisterium Gereja Katolik Roma sendiri seperti tertuang didalam Katekismus Gereja Katolik butir 1374:
1374 The mode of Christ's presence under the Eucharistic species is unique. It raises the Eucharist above all the sacraments as "the perfection of the spiritual life and the end to which all the sacraments tend." In the most blessed sacrament of the Eucharist "the body and blood, together with the soul and divinity, of our Lord Jesus Christ and, therefore, the whole Christ is truly, really, and substantially contained.” "This presence is called 'real' - by which is not intended to exclude the other types of presence as if they could not be 'real' too, but because it is presence in the fullest sense: that is to say, it is a substantial presence by which Christ, God and man, makes himself wholly and entirely present."

Coba baca kutipan Katekismus di atas baik-baik dan tekankan pada kalimat yang dicetak miring:
the whole Christ is truly, really, and substantially contained. Truly=secara benar/benar-benar, really=secara nyata/nyata-nyata. Kemudian diacukan dengan definisi kata ‘fakta’ dari Kamus Besar Bahasa Indonesia online yang saya download di posting sebelum ini.

Klaim bahwa Transubstansiasi/Transubstansi oleh Magisterium Gereja adalah fakta nyata lebih diperkuat lagi oleh para teolog Katolik seperti tertuang pada tulisan mengenai Transubstansi di New Advent.org:

The Real Presence of Christ in the Eucharist
In this article we shall consider:
• the fact of the Real Presence, which is, indeed, the central dogma;
• the several allied dogmas grouped about it, namely:
o Totality of Presence,
o Transubstantiation,
o Permanence of Presence and the Adorableness of the Eucharist;
• the speculations of reason, so far as speculative investigation regarding the august mystery under its various aspects is permissible, and so far as it is desirable to illumine it by the light of philosophy.

The real presence as a fact
According to the teaching of theology a revealed fact can be proved solely by recurrence to the sources of faith, viz. Scripture and Tradition, with which is also bound up the infallible magisterium of the Church.
Proof from Scripture
This may be adduced both from the words of promise (John 6:26 sqq.) and, especially, from the words of Institution as recorded in the Synoptics and St. Paul (1 Corinthians 11:23 sqq.).
The words of promise (John 6)
By the miracles of the loaves and fishes and the walking upon the waters, on the previous day, Christ not only prepared His hearers for the sublime discourse containing the promise of the Eucharist, but also proved to them that He possessed, as Almighty God-man, a power superior to and independent of the laws of nature, and could, therefore, provide such a supernatural food, none other, in fact, than His own Flesh and Blood. This discourse was delivered at Capharnaum (John 6:26-72), and is divided into two distinct parts, about the relation of which Catholic exegetes vary in opinion. Nothing hinders our interpreting the first part [John 6:26-48 (51)] metaphorically and understanding by "bread of heaven" Christ Himself as the object of faith, to be received in a figurative sense as a spiritual food by the mouth of faith. Such a figurative explanation of the second part of the discourse (John 6:52-72),…..

(Tulisan lengkapnya dapat dibaca di http://www.newadvent.org )

Thus, as per your statement before which was:

Pakde wrote:Bagi saya pertanyaan tersebut diatas dapat saya jawab : bukan dua2nya ! Bagi saya , seorang awam biasa yang selalu berusaha untuk taat dan percaya kepada Magisterium Gereja Katolik, transubstansi adalah ajaran atau doktrin yang diajarkan oleh Gereja saat ini pada saat saya menjalani hidup keagamaan saya.


Saya jadi bingung Magisterium Gereja Katolik yang mana ? Hihihihihi :mrgreen: :?:

Seandainya anda anggota Gereja Katolik St. Arnoldus Janssen Bekasi maka seharusnya anda taat pada Magisterium Gereja Katolik Roma…

Tetapi jika anda anggota Gereja Katolik St. Willebrodus Klender maka anda pasti taat dengan Magisterium Gereja Katolik Liberal yang berpusat di Leffebre Perancis yang telah di anathema/ekskomunikasi oleh Gereja Katolik Roma.

Pakde wrote:Contoh soal, bila anda mengemukakan "FAKTA" bahwa sekarang ini presiden Negara Republik Indonesia adalah SBY dan bukan orang lain maka "FAKTA" itu bisa dibuktikan oleh semua orang (datang aja ke istana negara dan tanya dan lihat siapa presidennya yang tinggal di istana sekarang ) namun bila anda memberikan "KESAKSIAN" bahwa anda melihat dalam suatu penglihatan bahwa SBY akan terpilih kembali dalam pemilihan 2009 maka "penglihatan" itu adalah "KESAKSIAN" karena hanya anda yang mengalami sendiri penglihatan tersebut ( mungkin dalam mimpi anda, kali )


Contoh yang tidak pas, yang anda ceritakan ini bukan metaphysic in-situ perception phenomenon tetapi clairvoyant phenomenon dan ini tentu bisa saja merupakan halusinasi mengingat memenuhi persyaratan definisi halusinasi. Hihihihihi :lol: :mrgreen:

But, whatever anda sungguh ‘bermental juara’ artinya bermental ‘saya harus menang/dimenangkan’, karena setelah saya telusuri ulang rupanya diskusi ini diarahkan pada pola menang v.s kalah oleh anda dan jika memang demikian maka saya menyatakan anda yang…..m-e-n-a-n-g dan saya menjadi yang…..k-a-l-a-h. Horeeee, applause saudara-saudara karena pakde telah memenangkan diskusi ini…. Wakakakakakaka…… :lol: :lol: :lol: :lol: :lol:

Tetapi saya tetap sepakat dengan Magisterium Gereja Katolik Roma bahwa transubstansi adalah fakta seperti tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik butir 1374.
Shlama…..hihihihihihi :mrgreen:
Abwun dbashmaya, nith qadashmakh, tethe malkuthakh, nihwe siwyanakh...wla ta'lan l nis youna ilapasan min bisha.
Males_Marah
 
Posts: 25
Joined: Thu Oct 23, 2008 11:09 pm
Location: Bekasi Indonesia

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Pakde » Sun Jan 18, 2009 8:25 pm

Males_Marah wrote:
Di dalam Tata Bahasa Indonesia terdapat 2 jenis kata ganti pihak pertama jamak yaitu:
1. Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik dan
2. Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik
Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kita
Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan tidak mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kami.

Mohon pelajari kembali Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa melalui buku-bukunya Jus Badudu, Gorys Keraf, Anton Hilman atau W.J.S Poerwodarminto karena terdapat perbedaan menyolok antara kata 'kita' dan 'kami' :lol: :lol: :lol: :lol:


:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: Sejak sd-smp-sma saya ga pernah pake buku model gituan, saya hanya tau pelajaran tatabahasa karangan Sutan Takdir Alisyahbana Alm. hehehehehe...................................................................................


Males_Marah wrote:
Tetapi saya tetap sepakat dengan Magisterium Gereja Katolik Roma bahwa transubstansi adalah fakta seperti tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik butir 1374.
Shlama…..hihihihihihi :mrgreen:


:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: Fakta yang tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik 1374 ga pernah bicara soal cahaya warna warni seperti yang anda lihat dan anda ceritakan dalam forum ini. hehehehehehe..................................................

Salam !
Pakde
 
Posts: 183
Joined: Thu Apr 26, 2007 4:24 pm
Location: Somewhere in the golden island

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby mbahjustinus » Mon Jan 19, 2009 11:33 am

Pakde wrote:
Males_Marah wrote:
Di dalam Tata Bahasa Indonesia terdapat 2 jenis kata ganti pihak pertama jamak yaitu:
1. Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik dan
2. Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik
Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kita
Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan tidak mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kami.

Mohon pelajari kembali Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa melalui buku-bukunya Jus Badudu, Gorys Keraf, Anton Hilman atau W.J.S Poerwodarminto karena terdapat perbedaan menyolok antara kata 'kita' dan 'kami' :lol: :lol: :lol: :lol:


:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: Sejak sd-smp-sma saya ga pernah pake buku model gituan, saya hanya tau pelajaran tatabahasa karangan Sutan Takdir Alisyahbana Alm. hehehehehe...................................................................................


Males_Marah wrote:
Tetapi saya tetap sepakat dengan Magisterium Gereja Katolik Roma bahwa transubstansi adalah fakta seperti tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik butir 1374.
Shlama…..hihihihihihi :mrgreen:


:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: Fakta yang tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik 1374 ga pernah bicara soal cahaya warna warni seperti yang anda lihat dan anda ceritakan dalam forum ini. hehehehehehe..................................................

Salam !



Pakde,

Memang sering kali kita ketemu suatu pendapat yang aneh-aneh ... tapi ya nggak apa-apa, wong namanya juga pendapat atau anggaplah pengalaman iman pribadi dan memang kalau ngomongin iman adalah sesuatu yang pribadi, jadi orang tidak bisa memaksakan sedang orang lain bisa juga untuk menolak

Ini membutuhkan kesabaran kita yang lebih besar dan telah sampeyan tunjukkan dengan baik sekali, walaupun sampeyan telah dianggap seperti "anak kemarin" hahaha tapi lebih baik begitu mas, daripada ditinggikan lebih baik kita direndahkan ... Orang semakin tahu semakin diam, Suatu pengalaman iman akan diuji kebenarannya oleh waktu, opo ora ngono mas ?

AMDG
mbahjustinus
 
Posts: 1010
Joined: Sat Mar 15, 2008 8:56 pm

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby valentinus » Mon Jan 19, 2009 1:22 pm

gereja Tiberias sekarang sudah mengakui Perjamuan Kudus dan bukan simbol lagi, juga minyak urapan . Minyak urapan ini yang aku tidak tahu dan tidak mengerti. Cuma yang paling extrem yaitu yang membawakan perjamuan kudus atau yang membaptis harus benar-benar tidak ada kutuk, bagaimana kita tahu ya gembala nya benar atau tidak ? sama dengan MM transubstansi bisa tidak terjadi kalau romonya ada kesalahan-kesalahan / hidup nya kurang beriman. masuk akal juga.

Pohon yang baik buahnya baik.
Keinginan itu bisa Menyengsarakan dan Melelahkan
valentinus
 
Posts: 111
Joined: Tue Oct 21, 2008 6:48 pm
Location: desa jawa-timur

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Inge » Mon Jan 19, 2009 3:52 pm

valentinus wrote:..... sama dengan MM, transubstansi bisa tidak terjadi kalau romonya ada kesalahan-kesalahan
/ hidup nya kurang beriman. masuk akal juga.

Pohon yang baik buahnya baik.


sudah banyak mukjizat Ekaristi yang terjadi, semuanya menunjukkan kuasa Tuhan.
mana bisa ya "kekuatan romo" yang kamu ceritakan di atas : ada kesalahan2 / kurang beriman ... bisa mempengaruhi mukjizat Ekaristi? bukankah kuasa Tuhan jauh lebih besar, sehingga tak ada satupun kuasa manusia yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan.

lagipula, bagaimana kita bisa menilai orang lain ... apalagi Romo ... punya kesalahan2 bla .. bla ... atau kurang beriman ... Tuhanlah yang Maha Tahu iman dan kekudusan masing2 anak NYA.

Tuhan memberkati.
Last edited by Inge on Tue Jan 20, 2009 8:20 am, edited 1 time in total.
Inge
 
Posts: 92
Joined: Sun May 18, 2008 12:08 am

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Shandy » Mon Jan 19, 2009 4:49 pm

Inge wrote:mana bisa ya "kekuatan romo" yang kamu ceritakan di atas : ada kesalahan2 / kurang beriman ... bisa mempengaruhi mukjizat Ekaristi? bukankah kuasa Tuhan jauh lebih besar, sehingga tak ada satupun kuasa manusia yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan.


Setuju, karena rasanya tidak adil juga jika hanya karena ketidakkudusan romo, mengakibatkan transubstansi tidak terjadi sehingga menghambat mujizat ekaristi bagi umat yang menerima komuni kudus.

GBU All...
Shandy
 
Posts: 98
Joined: Fri Sep 26, 2008 9:28 am
Location: Jakarta

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Pakde » Mon Jan 19, 2009 7:51 pm

mbahjustinus wrote:
Pakde,

Memang sering kali kita ketemu suatu pendapat yang aneh-aneh ... tapi ya nggak apa-apa, wong namanya juga pendapat atau anggaplah pengalaman iman pribadi dan memang kalau ngomongin iman adalah sesuatu yang pribadi, jadi orang tidak bisa memaksakan sedang orang lain bisa juga untuk menolak

Ini membutuhkan kesabaran kita yang lebih besar dan telah sampeyan tunjukkan dengan baik sekali, walaupun sampeyan telah dianggap seperti "anak kemarin" hahaha tapi lebih baik begitu mas, daripada ditinggikan lebih baik kita direndahkan ... Orang semakin tahu semakin diam, Suatu pengalaman iman akan diuji kebenarannya oleh waktu, opo ora ngono mas ?

AMDG


:) Ngikutin juga , mbah ? Hehehe... Biasa, mbah ! Sekalian buat latihan mental ! hehehehe.....
Betul ! :D Suatu pengalaman iman akan diuji kebenarannya oleh waktu , dan jangan lupa "agar iman kita tidak bergantung pada hikmat manusia melainkan kepada kekuatan Allah" (bdk 1kor2:5). :)

Salam !
Pakde
 
Posts: 183
Joined: Thu Apr 26, 2007 4:24 pm
Location: Somewhere in the golden island

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Males_Marah » Mon Jan 19, 2009 7:57 pm

Pakde wrote:
Males_Marah wrote:
Di dalam Tata Bahasa Indonesia terdapat 2 jenis kata ganti pihak pertama jamak yaitu:
1. Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik dan
2. Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik
Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kita
Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan tidak mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kami.

Mohon pelajari kembali Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa melalui buku-bukunya Jus Badudu, Gorys Keraf, Anton Hilman<--maaf bukan Hilman tapi Moelyono, Dr. Anton Moelyono atau W.J.S Poerwodarminto karena terdapat perbedaan menyolok antara kata 'kita' dan 'kami' :lol: :lol: :lol: :lol:


:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: Sejak sd-smp-sma saya ga pernah pake buku model gituan, saya hanya tau pelajaran tatabahasa karangan Sutan Takdir Alisyahbana Alm. hehehehehe...................................................................................

Oooo...wah, berarti mengenaskan sekali ya pakde, kondisi pendidikan Bahasa Indonesia setelah generasi pakde, karena hanya menggunakan 'buku model gituan' sehingga pendidikan Bahasa Indonesia menjadi pendidikan Bahasa 'gituan' Indonesia, jadi saya salah rupanya mempercayakan pengetahuan Bahasa Indonesia saya pada Bapak Profesor Dr. J.S 'gituan' Badudu, Dr.Gorys 'gituan' Keraf, Dr. Anton 'gituan' Moelyono, Padahal seperti Prof JS 'gituan' Badudu biografinya digambarkan begitu hebatnya lho.
Balai Bahasa Bandung wrote:Biografi

Jusuf Sjarif Badudu, lebih dikenal dengan nama J. S. Badudu, lahir di Gorontalo pada tanggal 19 Maret 1926. Dalam usia tiga belas tahun (1939) Badudu manamatkan Sekolah Rakyat di Ampana, Sulawesi Tenggara. Kemudian, ia mengikuti kursus Volksonderwijser/CVO di Luwuk, Sulawesi Tenggara (1941). Tahun 1949 ia menyelesaikan pendidikan Normaal School di Tertena, Sulawesi Tenggara. Ia melanjutkan sekolah di KweekschooI/SGA, Makassar, Sulawesi Selatan dan tamat pada tahun 1951. Tahun 1955 ia menyelesaikan pendidikan B.1 Bahasa Indonesia di Bandung dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung (1963). Tahun 1971—1973 Badudu melanjutkan pendidikan pada Postgraduate Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Tahun 1975 ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta, melalui disertasi yang berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.
.....Tokoh bahasa ini juga dikenal sebagai pembawa acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Pusat Jakarta (1977—1979) dan sebagai penatar bahasa Indonesia untuk berbagai lapisan masyarakat, seperti mahasiswa, dosen, guru, wartawan, pegawai pemerintah, dan polisi. Ia juga sering menyajikan makalah di luar negeri, seperti Belanda, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Jepang.

Dalam usia 76 tahun saat ini Badudu tidak hanya aktif sebagai guru, dosen, penatar bahasa Indonesia, tetapi juga aktif sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar dan majalah. Sejak tahun 1977 hingga sekarang, ia menjadi penulis atau pengisi rubrik tentang pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari Jakarta. Keaktifan Badudu menulis buku-buku yang berisi tuntunan tentang penggunaan bahasa Indonesia untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, dapat dibaca melalui karyanya:
1. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia;
2. Membina Bahasa Indonesia Baku (2 jilid);
3. Bahasa Indonesia: Anda bertanya? Inilah jawabnya;
4. Ejaan Bahasa Indonesia;
5. Sari Kesusasteraan Indonesia untuk SMA (2 jilid);
6. Buku dan Pengarang;
7. Belajar memahami Peribahasa (6 jiIid);
8. Peribahasa;
9. Mari Membina Bahasa Indonesia Seragam (3 jilid); dan
10) Penuntun Ujian Bahasa Indonesia untuk SMP (Catatan: Buku no. 7 s.d. 10 tidak diterbitkan lagi).

Badudu juga pernah melakukan penelitian bahasa, antara lain:
1) Morfologi Bahasa Indonesia Lisan (Pusat Bahasa);
2) Morfologi Bahasa Indonesia Tulisan (Pusat Bahasa);
3) Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga tahun 40-an (Pusat Bahasa);
4) Buku Panduan Penulisan Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (Pusat Bahasa);
5) “Bahasa Indonesia di Daerah Perbatasan Bogor—Jakarta“ (Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung).

Sebagai pakar bahasa yang sangat berpengalaman, Badudu juga telah menyusun beberapa kamus, antara lain:

1) Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia;
2) Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu — Zain);
3) “Kamus Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Dasar” (sedang diselesaikan);
4) “Kamus Kata-Kata Serapan Asing Bahasa Indonesia” (segera terbit).......


:cry: :cry: :cry: :cry: :mrgreen:
Lalu Dr. Gorys 'gituan' Keraf:
wikipedia wrote:Dr. Gorys Keraf (Lamalera, Lembata, 17 November 1936 - Jakarta, 30 Agustus 1997) adalah seorang ahli bahasa ternama Indonesia dan salah seorang dosen Universitas Indonesia.

Biografi Dr. Anton 'gituan' Moelyono dan WJS 'gituan' Poerwadarminta belum saya dapatkan.

Pakde wrote:
Males_Marah wrote:
Tetapi saya tetap sepakat dengan Magisterium Gereja Katolik Roma bahwa transubstansi adalah fakta seperti tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik butir 1374.
Shlama…..hihihihihihi :mrgreen:


:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: Fakta yang tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik 1374 ga pernah bicara soal cahaya warna warni seperti yang anda lihat dan anda ceritakan dalam forum ini. hehehehehehe..................................................

Salam !

Tepat, karena Katekismus Gereja Katolik adalah merupakan buku panduan iman bukan buku panduan penglihatan gaib, namun karena Katekismus Gereja Katolik itulah penglihatan gaib yang saya dapatkan bisa diterangkan dalam Terang Iman Katolik.
Abwun dbashmaya, nith qadashmakh, tethe malkuthakh, nihwe siwyanakh...wla ta'lan l nis youna ilapasan min bisha.
Males_Marah
 
Posts: 25
Joined: Thu Oct 23, 2008 11:09 pm
Location: Bekasi Indonesia

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Males_Marah » Mon Jan 19, 2009 8:06 pm

Shlama leikun ba barukha d min Maran Yeshu'a Mshikha,...
Pakde wrote:
Males_Marah wrote:
Di dalam Tata Bahasa Indonesia terdapat 2 jenis kata ganti pihak pertama jamak yaitu:
1. Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik dan
2. Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik
Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kita
Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan tidak mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kami.

Mohon pelajari kembali Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa melalui buku-bukunya Jus Badudu, Gorys Keraf, Anton Hilman<--maaf bukan Hilman tapi Moelyono, Dr. Anton Moelyono atau W.J.S Poerwodarminto karena terdapat perbedaan menyolok antara kata 'kita' dan 'kami' :lol: :lol: :lol: :lol:


:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: Sejak sd-smp-sma saya ga pernah pake buku model gituan, saya hanya tau pelajaran tatabahasa karangan Sutan Takdir Alisyahbana Alm. hehehehehe...................................................................................

Oooo...wah, berarti mengenaskan sekali ya pakde, kondisi pendidikan Bahasa Indonesia setelah pakde karena hanya menggunakan 'buku model gituan' sehingga pendidikan Bahasa Indonesia menjadi pendidikan Bahasa 'gituan' Indonesia, jadi saya salah rupanya mempercayakan pengetahuan Bahasa Indonesia saya pada Bapak Profesor Dr. J.S 'gituan' Badudu, Dr.Gorys 'gituan' Keraf, Dr. Anton 'gituan' Moelyono, Padahal seperti Prof JS 'gituan' Badudu biografinya digambarkan begitu hebatnya lho.
Balai Bahasa Bandung wrote:Biografi

Jusuf Sjarif Badudu, lebih dikenal dengan nama J. S. Badudu, lahir di Gorontalo pada tanggal 19 Maret 1926. Dalam usia tiga belas tahun (1939) Badudu manamatkan Sekolah Rakyat di Ampana, Sulawesi Tenggara. Kemudian, ia mengikuti kursus Volksonderwijser/CVO di Luwuk, Sulawesi Tenggara (1941). Tahun 1949 ia menyelesaikan pendidikan Normaal School di Tertena, Sulawesi Tenggara. Ia melanjutkan sekolah di KweekschooI/SGA, Makassar, Sulawesi Selatan dan tamat pada tahun 1951. Tahun 1955 ia menyelesaikan pendidikan B.1 Bahasa Indonesia di Bandung dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung (1963). Tahun 1971—1973 Badudu melanjutkan pendidikan pada Postgraduate Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Tahun 1975 ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta, melalui disertasi yang berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.
.....Tokoh bahasa ini juga dikenal sebagai pembawa acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Pusat Jakarta (1977—1979) dan sebagai penatar bahasa Indonesia untuk berbagai lapisan masyarakat, seperti mahasiswa, dosen, guru, wartawan, pegawai pemerintah, dan polisi. Ia juga sering menyajikan makalah di luar negeri, seperti Belanda, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Jepang.

Dalam usia 76 tahun saat ini Badudu tidak hanya aktif sebagai guru, dosen, penatar bahasa Indonesia, tetapi juga aktif sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar dan majalah. Sejak tahun 1977 hingga sekarang, ia menjadi penulis atau pengisi rubrik tentang pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari Jakarta. Keaktifan Badudu menulis buku-buku yang berisi tuntunan tentang penggunaan bahasa Indonesia untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, dapat dibaca melalui karyanya:
1) Pelik-Pelik Bahasa Indonesia;
2) Membina Bahasa Indonesia Baku (2 jilid);
3) Bahasa Indonesia: Anda bertanya? Inilah jawabnya;
4) Ejaan Bahasa Indonesia;
5) Sari Kesusasteraan Indonesia untuk SMA (2 jilid);
6) Buku dan Pengarang;
7) Belajar memahami Peribahasa (6 jiIid);
8) Peribahasa;
9) Mari Membina Bahasa Indonesia Seragam (3 jilid); dan
10) Penuntun Ujian Bahasa Indonesia untuk SMP (Catatan: Buku no. 7 s.d. 10 tidak diterbitkan lagi).

Badudu juga pernah melakukan penelitian bahasa, antara lain:
1) Morfologi Bahasa Indonesia Lisan (Pusat Bahasa);
2) Morfologi Bahasa Indonesia Tulisan (Pusat Babasa);
3) Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga tahun 40-an (Pusat Bahasa);
4) Buku Panduan Penulisan Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (Pusat Bahasa);
5) “Bahasa Indonesia di Daerah Perbatasan Bogor—Jakarta“ (Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung).

Sebagai pakar bahasa yang sangat berpengalaman, Badudu juga telah menyusun beberapa kamus, antara lain:

1) Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia;
2) Kamus Umum Bahasa Indonesia (Bedudu — Zain);
3) “Kamus Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Dasar” (sedang diselesaikan);
4) “Kamus Kata-Kata Serapan Asing Bahasa Indonesia” (segera terbit).......


:cry: :cry: :cry: :cry: :mrgreen:
Lalu Dr. Gorys 'gituan' Keraf:
wikipedia wrote:Dr. Gorys Keraf (Lamalera, Lembata, 17 November 1936 - Jakarta, 30 Agustus 1997) adalah seorang ahli bahasa ternama Indonesia dan salah seorang dosen Universitas Indonesia.


Pakde wrote:
Males_Marah wrote:
Tetapi saya tetap sepakat dengan Magisterium Gereja Katolik Roma bahwa transubstansi adalah fakta seperti tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik butir 1374.
Shlama…..hihihihihihi :mrgreen:


:lol: :lol: :lol: :lol: :lol: Fakta yang tertuang di dalam Katekismus Gereja Katolik 1374 ga pernah bicara soal cahaya warna warni seperti yang anda lihat dan anda ceritakan dalam forum ini. hehehehehehe..................................................

Salam !

Tepat sekali, karena Katekismus Gereja Katolik adalah buku panduan iman yang merupakan bagian dari Magisterium Gereja dan Tradisi Suci Gereja dan bukan buku panduan penglihatan gaib, namun dengan Katekismus Gereja Katolik itulah maka penglihatan gaib yang saya dapatkan bisa diterangkan di dalam terang iman. Terima kasih Gereja Katolik Roma karena Engkau mempunyai Katekismus yang sangat membantuku. :D :D :D
Shlama...
Abwun dbashmaya, nith qadashmakh, tethe malkuthakh, nihwe siwyanakh...wla ta'lan l nis youna ilapasan min bisha.
Males_Marah
 
Posts: 25
Joined: Thu Oct 23, 2008 11:09 pm
Location: Bekasi Indonesia

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Males_Marah » Mon Jan 19, 2009 8:27 pm

Shlama leikun ba noukhra d min Maran Yeshu'a Mshikha...

@ Inge, Shandy, dan Valentinus yang baik...

Please lihat lagi postingan-postingan awal terutama atas peringatan-peringatan Bung Tiwul sehingga saya mengoreksi pendapat saya bahwa Sakramen itu bersifat "ex opere operato" bukan "ex opere operantis"

Sehingga sudah tidak ada masalah lagi akan hal itu saya hanya mengharapkan dosa-dosa sakrilegi dari para klerus diakukan dahulu sebelum memulai ekaristi (walaupun itu bersifat opsional) sebab akan lebih baik jika tubuh/daging dan jiwa dibersihkan dahulu melalui penitensi doa sebelum mewakili mempelai Agung Yesus Kristus di dalam sakramen Ekaristi, mengingat urgensi dari nilai sakramen tersebut.

Sama seperti kitapun harus mengakukan dosa-dosa kita sebelum menerima Sakramen Ekaristi.

Shlama
Abwun dbashmaya, nith qadashmakh, tethe malkuthakh, nihwe siwyanakh...wla ta'lan l nis youna ilapasan min bisha.
Males_Marah
 
Posts: 25
Joined: Thu Oct 23, 2008 11:09 pm
Location: Bekasi Indonesia

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Males_Marah » Mon Jan 19, 2009 8:48 pm

mbahjustinus wrote:Pakde,

Memang sering kali kita ketemu suatu pendapat yang aneh-aneh ... tapi ya nggak apa-apa, wong namanya juga pendapat atau anggaplah pengalaman iman pribadi dan memang kalau ngomongin iman adalah sesuatu yang pribadi, jadi orang tidak bisa memaksakan sedang orang lain bisa juga untuk menolak

Ini membutuhkan kesabaran kita yang lebih besar dan telah sampeyan tunjukkan dengan baik sekali, walaupun sampeyan telah dianggap seperti "anak kemarin" hahaha tapi lebih baik begitu mas, daripada ditinggikan lebih baik kita direndahkan ... Orang semakin tahu semakin diam, Suatu pengalaman iman akan diuji kebenarannya oleh waktu, opo ora ngono mas ?

AMDG


Uluk Salam kagem Pikulun Bathara ingkang Mangejawantah, Eyang Yustinus Badranaya

Hamba ingkang asor punika inggih asring dipun wastani nganeh-anehi, sanadyan mboten ambabar prekawis gaib wontening rerencangan donya. Hanaging mboten punapi, miwah estunipun kajeng hamba sanes badhe pamer utawi agul-agul ngelmu.

Hamba namung prihatos mring asoripun para rencang anggenipung nginurmati Sakramen Mahakudus, kamangka sakramen punika estu tetungguling atma paguyuban Gereja Katulik inggih punika jantungipun Gereja Katulik sabab wontening sakramen punika Gusti Ingkang Maha Gung estu tedhak mring umatipun.

Hanaging punapi postingan kawula ingkang asor punika mboten sae tumrap Eyang Yustinus, kawula ingkang estu asor punika nyuwun sagunging pangaksami. :oops:

Nuwun.
Abwun dbashmaya, nith qadashmakh, tethe malkuthakh, nihwe siwyanakh...wla ta'lan l nis youna ilapasan min bisha.
Males_Marah
 
Posts: 25
Joined: Thu Oct 23, 2008 11:09 pm
Location: Bekasi Indonesia

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Leonardo » Tue Jan 20, 2009 1:58 am

Dear all :D

Please lihat lagi postingan-postingan awal terutama atas peringatan-peringatan Bung Tiwul sehingga saya mengoreksi pendapat saya bahwa Sakramen itu bersifat "ex opere operato" bukan "ex opere operantis"

Sehingga sudah tidak ada masalah lagi akan hal itu saya hanya mengharapkan dosa-dosa sakrilegi dari para klerus diakukan dahulu sebelum memulai ekaristi (walaupun itu bersifat opsional) sebab akan lebih baik jika tubuh/daging dan jiwa dibersihkan dahulu melalui penitensi doa sebelum mewakili mempelai Agung Yesus Kristus di dalam sakramen Ekaristi, mengingat urgensi dari nilai sakramen tersebut.

Sama seperti kitapun harus mengakukan dosa-dosa kita sebelum menerima Sakramen Ekaristi.


Setuju sekali dengan bro spiderman alias MM :D
Terima kasih mas MM atas sharing kesaksiannya dan semangat rendah hati untuk selalu setia dalam tradisi iman GK.
Semoga TUhan memberkati anda selalu :D


Uluk Salam kagem Pikulun Bathara ingkang Mangejawantah, Eyang Yustinus Badranaya

Hamba ingkang asor punika inggih asring dipun wastani nganeh-anehi, sanadyan mboten ambabar prekawis gaib wontening rerencangan donya. Hanaging mboten punapi, miwah estunipun kajeng hamba sanes badhe pamer utawi agul-agul ngelmu.

Hamba namung prihatos mring asoripun para rencang anggenipung nginurmati Sakramen Mahakudus, kamangka sakramen punika estu tetungguling atma paguyuban Gereja Katulik inggih punika jantungipun Gereja Katulik sabab wontening sakramen punika Gusti Ingkang Maha Gung estu tedhak mring umatipun.

Hanaging punapi postingan kawula ingkang asor punika mboten sae tumrap Eyang Yustinus, kawula ingkang estu asor punika nyuwun sagunging pangaksami.

Nuwun.
mbahjustinus wrote:Pakde,

Memang sering kali kita ketemu suatu pendapat yang aneh-aneh ... tapi ya nggak apa-apa, wong namanya juga pendapat atau anggaplah pengalaman iman pribadi dan memang kalau ngomongin iman adalah sesuatu yang pribadi, jadi orang tidak bisa memaksakan sedang orang lain bisa juga untuk menolak

Ini membutuhkan kesabaran kita yang lebih besar dan telah sampeyan tunjukkan dengan baik sekali, walaupun sampeyan telah dianggap seperti "anak kemarin" hahaha tapi lebih baik begitu mas, daripada ditinggikan lebih baik kita direndahkan ... Orang semakin tahu semakin diam, Suatu pengalaman iman akan diuji kebenarannya oleh waktu, opo ora ngono mas ?

AMDG


Uluk Salam kagem Pikulun Bathara ingkang Mangejawantah, Eyang Yustinus Badranaya

Hamba ingkang asor punika inggih asring dipun wastani nganeh-anehi, sanadyan mboten ambabar prekawis gaib wontening rerencangan donya. Hanaging mboten punapi, miwah estunipun kajeng hamba sanes badhe pamer utawi agul-agul ngelmu.

Hamba namung prihatos mring asoripun para rencang anggenipung nginurmati Sakramen Mahakudus, kamangka sakramen punika estu tetungguling atma paguyuban Gereja Katulik inggih punika jantungipun Gereja Katulik sabab wontening sakramen punika Gusti Ingkang Maha Gung estu tedhak mring umatipun.

Hanaging punapi postingan kawula ingkang asor punika mboten sae tumrap Eyang Yustinus, kawula ingkang estu asor punika nyuwun sagunging pangaksami. :oops:

Nuwun.


Wah kalau yang ini swear kewer2 kulo boten ngertos :D

salam damai :D
Leonardo
 
Posts: 209
Joined: Mon Jul 17, 2006 3:34 pm
Location: Batam

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Pakde » Tue Jan 20, 2009 7:50 am

Males_Marah wrote:
mbahjustinus wrote:Pakde,

Memang sering kali kita ketemu suatu pendapat yang aneh-aneh ... tapi ya nggak apa-apa, wong namanya juga pendapat atau anggaplah pengalaman iman pribadi dan memang kalau ngomongin iman adalah sesuatu yang pribadi, jadi orang tidak bisa memaksakan sedang orang lain bisa juga untuk menolak

Ini membutuhkan kesabaran kita yang lebih besar dan telah sampeyan tunjukkan dengan baik sekali, walaupun sampeyan telah dianggap seperti "anak kemarin" hahaha tapi lebih baik begitu mas, daripada ditinggikan lebih baik kita direndahkan ... Orang semakin tahu semakin diam, Suatu pengalaman iman akan diuji kebenarannya oleh waktu, opo ora ngono mas ?

AMDG


Uluk Salam kagem Pikulun Bathara ingkang Mangejawantah, Eyang Yustinus Badranaya

Hamba ingkang asor punika inggih asring dipun wastani nganeh-anehi, sanadyan mboten ambabar prekawis gaib wontening rerencangan donya. Hanaging mboten punapi, miwah estunipun kajeng hamba sanes badhe pamer utawi agul-agul ngelmu.

Hamba namung prihatos mring asoripun para rencang anggenipung nginurmati Sakramen Mahakudus, kamangka sakramen punika estu tetungguling atma paguyuban Gereja Katulik inggih punika jantungipun Gereja Katulik sabab wontening sakramen punika Gusti Ingkang Maha Gung estu tedhak mring umatipun.

Hanaging punapi postingan kawula ingkang asor punika mboten sae tumrap Eyang Yustinus, kawula ingkang estu asor punika nyuwun sagunging pangaksami. :oops:

Nuwun.


:D :D :D Mbah ! Help me .........please ! Tolong terjemahin dong ! Maklum ane dulu di sma-nya hanya diajarin bahasa kawi (bahasa jadul ) bukan model ginian ! Hehehehe............

Salam !
Pakde
 
Posts: 183
Joined: Thu Apr 26, 2007 4:24 pm
Location: Somewhere in the golden island

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Pakde » Tue Jan 20, 2009 8:58 am

Males_Marah wrote:
Di dalam Tata Bahasa Indonesia terdapat 2 jenis kata ganti pihak pertama jamak yaitu:
1. Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik dan
2. Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik
Kata ganti pihak pertama jamak intrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kita
Kata ganti pihak pertama jamak ekstrinsik mempersyaratkan bahwa pihak yang mengungkapkan tidak mengikutsertakan pihak yang diungkapi oleh sebab itu menggunakan kata ganti kami.

Mohon pelajari kembali Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa melalui buku-bukunya Jus Badudu, Gorys Keraf, Anton Hilman atau W.J.S Poerwodarminto karena terdapat perbedaan menyolok antara kata 'kita' dan 'kami' :lol: :lol: :lol: :lol:


Terima kasih atas saran anda ! Hehehe......... Mau ga mau terpaksa saya harus liat2 lagi koleksi buku saya untuk "mengingatkan" saya lagi "perbedaan kami dan kita". Ternyata ketemu buku dengan judul sbb :

* TATABAHASA INDONESIA(karangan DRS GORYS KERAF) untuk sekolah lanjutan atas , Penerbit Nusa Indah 1975 Cat : belinya tg 9-8-1975,
* INILAH BAHASA INDONESIA YANG BENAR (karangan J.S.Badudu ) JILID 1 - lV pENERBIT gRAMEDIA 1983-1986-1989-1995, belinya ga tau, ga ada catatan kapan belinya.
* MEMBINA BAHASA INDONESIA BAKU (karangan DR J.S. BADUDU, Penerbit PUSTAKA PRIMA , BANDUNG, 1980, belinya tg. 2-9-1980.
* CAKRAWALA BAHASA INDONESIA Jilid 1- 2 (karangan JS BADUDU) Penerbit Gramedia 1985, belinya 15 Februari 1986.
* EJAAN BAHASA INDONESIA (JS BADUDU),Penerbit "CV Pustaka Prima,Bandung 1984, belinya 1 Februari 1987.
* Pelik-Pelik BAHASA INDONESIA (JS BADUDU), Penerbit Pustaka Prima, BAndung 1976 Cetakan IV, belinya 13-11-1976.
* BAHASA INDONESIA, Anda bertanya ? Inilah Jawabnya. (JS Badudu),Penerbit Pustaka Prima,Bandung 1984, belinya tg12 -4-1986.
* Menuju Bahasa Indonesia Umum (Amin Singgih), Penerbit Angkasa, Bandung 1970,belinya tg 9-8-1976.
* MASALAH BAHASA YANG DAPAT ANDA ATASI SENDIRI (ANTON M. MOELIONO et al, Penerbit Pustaka Sinar Harapan Jakarta,19901.

Masih banyak judul buku yang lain (tapi udah capek ngetiknya) hehehe... namun terus terang buku karangan Anton Hilman ga ada dalam perpustaakan saya ( saya sering nonton acaranya di TV ttp acaranya adalah pengajaran bahasa Inggris dan bukan pengajaran bahasa indonesia) , kalo WJS Poerwodarminto hanya kamusnya aja yang ada , buku tatabahasanya ga ketemu.

Ok ! Gpp ! PR buat saya yang bodoh ini untuk belajar lagi perbedaan "kita dan kami" yang menurut anak saya, anak sd aja sudah tau bedanya ! Hehehe...... ! Kecian deh !

Doakan, semoga berhasil ! :)

Salam !
Last edited by Pakde on Tue Jan 20, 2009 1:21 pm, edited 3 times in total.
Pakde
 
Posts: 183
Joined: Thu Apr 26, 2007 4:24 pm
Location: Somewhere in the golden island

Re: TRANSUBSTANSI; FAKTA EKARISTI ATAU TAKHAYUL YANG DIKANON

Postby Pakde » Tue Jan 20, 2009 9:02 am

Sorry, double posting !
Last edited by Pakde on Tue Jan 20, 2009 12:44 pm, edited 1 time in total.
Pakde
 
Posts: 183
Joined: Thu Apr 26, 2007 4:24 pm
Location: Somewhere in the golden island

PreviousNext

Return to Diskusi Kristiani

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 8 guests

cron