Keselamatan diluar Yesus Kristus

Mari berdiskusi mengenai Kristiani, mohon saling menghormati dan tidak membahas agama lain di forum ini.

Moderators: vids, Ken, tiwul, kartono_w, Alfonsus

Keselamatan diluar Yesus Kristus

Postby sioeliong » Thu Jul 28, 2005 9:11 am

Buat rekan-rekan katolik,

Saudara saya adalah jemaat awan Roma Katolik, menyampaikan bahwa diluar Yesus Kristus ada jalan keselamatan.
(kalau tidak salah ini hasil dari konsili vatikan II)

Saat saya tanya lebih jauh, saya tidak mendapat jawaban yg memuaskan
Mohon bantuan kalau ada pastur atu rekan yg memiliki copy keputusan konsili tersebut dan penjelasannya.

THX
:)
Sioeliong
sioeliong
 
Posts: 129
Joined: Wed Jul 27, 2005 8:55 am
Location: Tangerang

Dominus Iesus

Postby - O - » Thu Jul 28, 2005 12:55 pm

Pasti salah.

Jika seseorang membaca hasil konsili dengan kacamata indiferentist, plus juga dia tidak mengerti paradigma ketika menyusun dokumen2 konsili, memang bisa terjerumus pada kesimpulan yang salah.

Saranku : Baca Katekismus, 839-841 tentang hubungan Gereja dengan agama-agama lain.
Lalu, ada satu dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ajaran Iman (kala itu Ratzinger adalah kepala Kongregasi ini) yang menjelaskan maksud-maksud dari Konsili Vatikan II.

berikut adalah terjemahannya.

note : tidak gampang dimengerti, harus dibaca berulang-ulang :D. Enjoy...


CONGREGATION FOR THE DOCTRINE OF THE FAITH

DECLARATION "DOMINUS IESUS" ON THE UNICITY AND SALVIFIC UNIVERSALITY OF JESUS CHRIST AND THE CHURCH

KONGREGASI DOKTRIN AJARAN IMAN

DEKLARASI "DOMINUS IESUS" TENTANG PERSATUAN DAN KESELAMATAN UNIVERSAL YANG BERASAL DARI YESUS KRISTUS DAN GEREJA


INTRODUCTION

1. The Lord Jesus, before ascending into heaven, commanded his disciples to proclaim the Gospel to the whole world and to baptize all nations: “Go into the whole world and proclaim the Gospel to every creature. He who believes and is baptized will be saved; he who does not believe will be condemned” (Mk 16:15-16); “All power in heaven and on earth has been given to me. Go therefore and teach all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, teaching them to observe all that I have commanded you. And behold, I am with you always, until the end of the world” (Mt 28:18-20; cf. Lk 24:46-48; Jn 17:18,20,21; Acts 1:8).

PENDAHULUAN

1. Tuhan Yesus, sebelum naik ke surga, memerintahkan murid-muridnya untuk mewartakan Kabar Gembira ke seluruh dunia dan untuk membaptis semua bangsa: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum" (Markus 16:15-16); "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:18-20; cf. Luk 24:46-48; Yoh 17:18,20,21; Kis 1:8).


The Church's universal mission is born from the command of Jesus Christ and is fulfilled in the course of the centuries in the proclamation of the mystery of God, Father, Son, and Holy Spirit, and the mystery of the incarnation of the Son, as saving event for all humanity. The fundamental contents of the profession of the Christian faith are expressed thus: “I believe in one God, the Father, Almighty, maker of heaven and earth, of all that is, seen and unseen. I believe in one Lord, Jesus Christ, the only Son of God, eternally begotten of the Father, God from God, Light from Light, true God from true God, begotten, not made, of one being with the Father. Through him all things were made. For us men and for our salvation, he came down from heaven: by the power of the Holy Spirit he became incarnate of the Virgin Mary, and became man. For our sake he was crucified under Pontius Pilate; he suffered death and was buried. On the third day he rose again in accordance with the Scriptures; he ascended into heaven and is seated at the right hand of the Father. He will come again in glory to judge the living and the dead, and his kingdom will have no end. I believe in the Holy Spirit, the Lord, the giver of life, who proceeds from the Father. With the Father and the Son he is worshipped and glorified. He has spoken through the prophets. I believe in one holy catholic and apostolic Church. I acknowledge one baptism for the forgiveness of sins. I look for the resurrection of the dead, and the life of the world to come”.1

Misi universal dari Gereja lahir dari perintah Yesus Kristus sendiri dan telah dijalankan selama berabad-abad dalam pewartaan misteri Allah, Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dan misteri dari inkarnasi Sang Putera, sebagai peristiwa yang menyelamatkan seluruh umat manusia. Isi fundamental dari pernyataan iman Kristen adalah sebagai berikut "Aku percaya akan satu Allah, Bapa, Yang maha Kuasa, pencipta langit dan bumi, yang kelihatan, dan yang tidak kelihatan. Aku percaya akan satu Tuhan, Yesus Kristus, satu-satunya Putra Allah, kekal bersama-sama dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa. Melalui dia semua hal dijadikan. Bagi kita dan bagi keselamatan kita, ia turun dari surga: dengan kuasa Roh Kudus menitis pada Perawan Maria, dan menjadi manusia. Bagi kita ia telah disalibkan dalam masa pemerintahan Pontius Pilatus; ia menderita sengsara, wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga bangkit kembali sesuai dengan Kitab Suci; ia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ia akan datang kembali dalam kemenangan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, dan kerajaannya tidak akan berkesudahan. Aku percaya akan Roh Kudus, Tuhan, pemberi kehidupan, atas kehendak Bapa. Bersama dengan Bapa dan Putera ia disembah dan dimuliakan. Ia telah berbicara melalui para nabi. Aku percaya akan satu Gereja katolik yang kudus dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan bagi pengampunan dosa-dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan kekal". 1

2. In the course of the centuries, the Church has proclaimed and witnessed with fidelity to the Gospel of Jesus. At the close of the second millennium, however, this mission is still far from complete.2 For that reason, Saint Paul's words are now more relevant than ever: “Preaching the Gospel is not a reason for me to boast; it is a necessity laid on me: woe to me if I do not preach the Gospel!” (1 Cor 9:16). This explains the Magisterium's particular attention to giving reasons for and supporting the evangelizing mission of the Church, above all in connection with the religious traditions of the world.3

2. Selama berabad-abad, Gereja dengan taat dan setia terus menerus mewartakan dan memberikan kesaksian tentang Injil Yesus. Sampai pada akhir milenium kedua ini, tugas ini masih jauh dari selesai. 2 Karena alasan tersebut, kata-kata St. Paulus menjadi lebih relevan: "Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!" (1 Kor 9:16). Ini menjelaskan tujuan Magisterium untuk memberikan alasan dan mendukung misi evangelisasi Gereja, diatas segalanya dalam hubungannya dengan tradisi-tradisi religius yang ada di dunia. 3

In considering the values which these religions witness to and offer humanity, with an open and positive approach, the Second Vatican Council's Declaration on the relation of the Church to non-Christian religions states: “The Catholic Church rejects nothing of what is true and holy in these religions. She has a high regard for the manner of life and conduct, the precepts and teachings, which, although differing in many ways from her own teaching, nonetheless often reflect a ray of that truth which enlightens all men”.4 Continuing in this line of thought, the Church's proclamation of Jesus Christ, “the way, the truth, and the life” (Jn 14:6), today also makes use of the practice of inter-religious dialogue. Such dialogue certainly does not replace, but rather accompanies the missio ad gentes, directed toward that “mystery of unity”, from which “it follows that all men and women who are saved share, though differently, in the same mystery of salvation in Jesus Christ through his Spirit”.5 Inter-religious dialogue, which is part of the Church's evangelizing mission,6 requires an attitude of understanding and a relationship of mutual knowledge and reciprocal enrichment, in obedience to the truth and with respect for freedom.7

Dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang telah diberikan oleh agama-agama ini kepada kemanusiaan, dengan pendekatan yang terbuka dan positif, Deklarasi Konsili Vatikan Kedua tentang hubungan antara Gereja dengan agama-agama non-Kristen menegaskan: "Gereja Katholik tidak menolak apapun yang benar dan kudus yang ada di dalam agama-agama ini. Ia sangat menghargai pola hidup dan tingkah laku, aturan-aturan dan ajaran-ajaran, yang mana, meskipun dalam banyak hal berbeda dari ajarannya, namun tidak dapat dipungkiri sering kali telah mencerminkan berkas sinar kebenaran yang menerangi semua manusia". 4 Sejalan dengan pemikiran ini, pernyataan Gereja tentang Yesus Kristus, "jalan, kebenaran, dan kehidupan" (Yoh 14:6), hari ini juga memakai cara dialog antar-agama. Dialog-dialog seperti ini tentunya tidak menggantikan, namun menemani missio ad gentes, yang diarahkan kepada "misteri dari persatuan", dimana "semua manusia, pria dan wanita yang telah diselamatkan berbagi, sekalipun dengan cara yang berbeda, dalam misteri penyelamatan Yesus Kristus yang sama melalui Roh Nya". 5 Dialog antar agama, yang termasuk di dalam misi evangelisasi Gereja, 6 membutuhkan sebuah sikap pengertian dan hubungan baik yang saling mengerti dan saling memperkaya, dalam kepatuhan pada kebenaran dan dengan mempertimbangkan kebebasan. 7

3. In the practice of dialogue between the Christian faith and other religious traditions, as well as in seeking to understand its theoretical basis more deeply, new questions arise that need to be addressed through pursuing new paths of research, advancing proposals, and suggesting ways of acting that call for attentive discernment. In this task, the present Declaration seeks to recall to Bishops, theologians, and all the Catholic faithful, certain indispensable elements of Christian doctrine, which may help theological reflection in developing solutions consistent with the contents of the faith and responsive to the pressing needs of contemporary culture.

3. Dalam dialog antara iman Kristen dengan tradisi-tradisi religius lainnya, dan juga ketika mencoba mengerti teori-teori dasarnya yang lebih mendalam, pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul perlu ditindak lanjuti dengan penelitian-penelitian yang baru, pengajuan proposal-proposal, dan mengusulkan tindakan-tindakan yang membutuhkan ketajaman yang serius. Dalam tugas ini, Deklarasi ini menghimbau para Uskup, theolog, dan seluruh umat Katolik, serta beberapa elemen doktrin Kristen yang penting, agar dapat membantu memberikan refleksi theologis untuk menemukan solusi yang selaras dengan isi dari iman dan untuk menjawab tantangan budaya masa kini.

The expository language of the Declaration corresponds to its purpose, which is not to treat in a systematic manner the question of the unicity and salvific universality of the mystery of Jesus Christ and the Church, nor to propose solutions to questions that are matters of free theological debate, but rather to set forth again the doctrine of the Catholic faith in these areas, pointing out some fundamental questions that remain open to further development, and refuting specific positions that are erroneous or ambiguous. For this reason, the Declaration takes up what has been taught in previous Magisterial documents, in order to reiterate certain truths that are part of the Church's faith.

Bahasa yang digunakan dalam Deklarasi ini dengan mengajukan pertanyaan tentang persatuan dan keselamatan universal sebagai misteri dari Yesus Kristus dan Gereja, ataupun dengan mengajukan solusi terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan masalah debat theologis yang bebas, sesuai dengan maksudnya, yang mana tidak ditujukan untuk mengancam secara sistematik, lebih ditujukan untuk menegaskan kembali doktrin dari Iman Katolik dalam area-area ini, dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar yang tetap terbuka bagi perkembangan lebih lanjut, dan membuktikan kesalahan posisi-posisi yang keliru atau tidak jelas. Untuk alasan ini, Deklarasi ini mengambil sikap dari apa yang telah diajarkan dalam dokumen-dokumen Magisterial terdahulu, untuk menegaskan kembali kebenaran-kebenaran yang telah menjadi bagian dari iman Gereja.

4. The Church's constant missionary proclamation is endangered today by relativistic theories which seek to justify religious pluralism, not only de facto but also de iure (or in principle). As a consequence, it is held that certain truths have been superseded; for example, the definitive and complete character of the revelation of Jesus Christ, the nature of Christian faith as compared with that of belief in other religions, the inspired nature of the books of Sacred Scripture, the personal unity between the Eternal Word and Jesus of Nazareth, the unity of the economy of the Incarnate Word and the Holy Spirit, the unicity and salvific universality of the mystery of Jesus Christ, the universal salvific mediation of the Church, the inseparability — while recognizing the distinction — of the kingdom of God, the kingdom of Christ, and the Church, and the subsistence of the one Church of Christ in the Catholic Church.

4. Pernyataan misioner yang konsisten dari Gereja dewasa ini mendapatkan ancaman dari teori relativisme yang berusaha untuk membenarkan pluralisme keagamaan, tidak hanya secara de facto namun juga secara de iure (atau secara prinsip). Dan sebagai konsekuensinya, beberapa kebenaran telah diganti; sebagai contoh, karakter dari karya penyelamatan Yesus Kristus yang lengkap dan pasti, yang merupakan sifat dasar dari iman Kristen dibandingkan dengan apa yang dipercaya oleh agama-agama yang lainnya, sifat terinspirasi dari Kitab Suci, kesatuan personal antara sang Firman Abadi dan Yesus dari Nazaret, kesatuan dari ekonomi Firman yang menjadi manusia dan Roh Kudus, persatuan dan keselamatan universal sebagai misteri dari Yesus Kristus dan Gereja, mediasi (perantaraan) bagi kesalamatan universal dari Gereja, dan keutuhan — dengan tetap mengakui adanya perbedaan — kerajaan Tuhan, kerajaan Kristus, dan Gereja, dan kehadiran Gereja Kristus yang satu dalam Gereja Katholik.

The roots of these problems are to be found in certain presuppositions of both a philosophical and theological nature, which hinder the understanding and acceptance of the revealed truth. Some of these can be mentioned: the conviction of the elusiveness and inexpressibility of divine truth, even by Christian revelation; relativistic attitudes toward truth itself, according to which what is true for some would not be true for others; the radical opposition posited between the logical mentality of the West and the symbolic mentality of the East; the subjectivism which, by regarding reason as the only source of knowledge, becomes incapable of raising its “gaze to the heights, not daring to rise to the truth of being”;8 the difficulty in understanding and accepting the presence of definitive and eschatological events in history; the metaphysical emptying of the historical incarnation of the Eternal Logos, reduced to a mere appearing of God in history; the eclecticism of those who, in theological research, uncritically absorb ideas from a variety of philosophical and theological contexts without regard for consistency, systematic connection, or compatibility with Christian truth; finally, the tendency to read and to interpret Sacred Scripture outside the Tradition and Magisterium of the Church.

On the basis of such presuppositions, which may evince different nuances, certain theological proposals are developed — at times presented as assertions, and at times as hypotheses — in which Christian revelation and the mystery of Jesus Christ and the Church lose their character of absolute truth and salvific universality, or at least shadows of doubt and uncertainty are cast upon them.

Sumber dari masalah-masalah ini ditemukan dalam prinsip-prinsip filosofis dan teologis, yang mengganggu dan menghalangi pemahaman dan penerimaan kebenaran yang telah diungkapkan. Beberapa yang dapat disebutkan disini: Keteguhan pendirian yang sulit dimengerti dan ketidak mampuan untuk mengungkapkan kebenaran ilahi, sekalipun dengan menggunakan ajaran Kristen; sikap relativisme terhadap kebenaran itu sendiri, dimana yang benar untuk beberapa orang belum tentu benar juga bagi yang lain; pengambilan posisi oposisi yang radikal antara mentalitas logis ala Barat dan mentalitas simbolik ala Timur, subjectivisme yang hanya memperhatikan alasan sebagai satu-satunya sumber informasi, yang menyebabkan tidak mampu untuk "menatap, tidak berani untuk menunjukkan kebenaran sebagai manusia"; 8 kesulitan dalam memahami dan menerima kejadian sejarah yang eskatologis dan pasti; pengosongan makna metafisik dari inkarnasi sang Logos Abadi dalam sejarah, menguranginya menjadi kehadiran Tuhan secara 'kebetulan' dalam sejarah; sistematika filsafat dari mereka yang, dalam melakukan penelitian teologisnya, menyerap ide-ide dari berbagai sumber yang memiliki banyak konteks filosofis dan theologis tanpa mempertimbangkan konsistensinya, hubungan sistematika, atau kesesuaiannya dengan kebenaran Kristen; dan terakhir, kecenderungan untuk membaca dan untuk menafsirkan Kitab Suci di luar Tradisi dan Magisterium Gereja.

Dengan dasar prinsip-prinsip tersebut, yang dapat menimbulkan nuasa-nuansa yang berbeda, beberapa proposal theologis dibangun — kadang dalam bentuk pernyataan yang tegas, kadang dalam bentuk hipotesa — yang kesemuanya membuat pengenalan terhadap Kristen dan misteri Yesus Kristus dan Gereja kehilangan sifat-sifat kebenaran mutlaknya dan ke-universal-an keselamatannya, atau paling sedikit menghadirkan kebimbangan dan ketidak-pastian diantara mereka.


I. THE FULLNESS AND DEFINITIVENESS
OF THE REVELATION OF JESUS CHRIST

5. As a remedy for this relativistic mentality, which is becoming ever more common, it is necessary above all to reassert the definitive and complete character of the revelation of Jesus Christ. In fact, it must be firmly believed that, in the mystery of Jesus Christ, the Incarnate Son of God, who is “the way, the truth, and the life” (Jn 14:6), the full revelation of divine truth is given: “No one knows the Son except the Father, and no one knows the Father except the Son and anyone to whom the Son wishes to reveal him” (Mt 11:27); “No one has ever seen God; God the only Son, who is in the bosom of the Father, has revealed him” (Jn 1:18); “For in Christ the whole fullness of divinity dwells in bodily form” (Col 2:9-10).


I. KEPENUHAN DAN KEPASTIAN DARI KARYA PENYELAMATAN YESUS KRISTUS

5. Sebagai peredam dari mental relativisme ini, yang semakin lama menjadi semakin umum, adalah sangat penting dan diatas segala-galanya untuk menanamkan kembali sifat-sifat yang jelas dan lengkap dari karya penyelamatan Yesus Kristus. Pada kenyataannya, kita harus benar-benar percaya bahwa, dalam misteri Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia, yang adalah "jalan, kebenaran, dan hidup" (Yoh 14:6), kepenuhan pengungkapan rahasia kebenaran ilahi telah diberikan: "tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya" (Mat 11:27); "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya" (Yoh 1:18); "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan" (Kol 2:9-10).

Faithful to God's word, the Second Vatican Council teaches: “By this revelation then, the deepest truth about God and the salvation of man shines forth in Christ, who is at the same time the mediator and the fullness of all revelation”.9 Furthermore, “Jesus Christ, therefore, the Word made flesh, sent ‘as a man to men', ‘speaks the words of God' (Jn 3:34), and completes the work of salvation which his Father gave him to do (cf. Jn 5:36; 17:4). To see Jesus is to see his Father (cf. Jn 14:9). For this reason, Jesus perfected revelation by fulfilling it through his whole work of making himself present and manifesting himself: through his words and deeds, his signs and wonders, but especially through his death and glorious resurrection from the dead and finally with the sending of the Spirit of truth, he completed and perfected revelation and confirmed it with divine testimony... The Christian dispensation, therefore, as the new and definitive covenant, will never pass away, and we now await no further new public revelation before the glorious manifestation of our Lord Jesus Christ (cf. 1 Tim 6:14 and Tit 2:13)”.10

Setia pada firman Tuhan, Konsili Vatikan Kedua mengajarkan: "Dengan pewartaan inilah, kebenaran terdalam tentang Tuhan dan pengampunan manusia terpancar keluar dari dalam Kristus, yang pada saat yang sama menjadi perantara dan kepenuhan dari seluruh wahyu". 9 Lebih jauh lagi, "Yesus Kristus, yang adalah Firman yang menjadi daging, dikirim 'dalam wujud manusia bagi umat manusia', 'Dialah yang menyampaikan firman Allah' (Yoh 3:34), dan menyelesaikan pekerjaan penyelamatan yang dibebankan oleh BapaNya kepadaNya untuk dikerjakan (cf Yoh 5:36; 17:4). Melihat Yesus sama dengan melihat Bapa (cf Yoh 14:9). Untuk alasan inilah, Yesus menyempurnakan wahyu dengan memenuhinya melalui seluruh pekerjaanNya untuk membuat kehadiranNya nyata dan memanifestasikan diriNya melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatanNya, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizatnya, dan terutama melalui kematianNya dan kebangkitanNya yang jaya dari kematian dan pada akhirnya, dengan mengirimkan Roh Kebenaran, Ia menyelesaikan dan menyempurnakan karya penyelamatannya dan menyatakannya dengan pengakuan ilahi... dispensasi bagi orang Kristen, sebagai perjanjian yang baru dan pasti, tidak akan berlalu, dan kita sekarang tidak menunggu pengungkapan rahasia yang baru sebelum manifestasi yang gemilang dari Tuhan kita Yesus Kristus (cf. 1 Tim 6:14 dan Tit 2:13)" 10

Thus, the Encyclical Redemptoris missio calls the Church once again to the task of announcing the Gospel as the fullness of truth: “In this definitive Word of his revelation, God has made himself known in the fullest possible way. He has revealed to mankind who he is. This definitive self-revelation of God is the fundamental reason why the Church is missionary by her very nature. She cannot do other than proclaim the Gospel, that is, the fullness of the truth which God has enabled us to know about himself”.11 Only the revelation of Jesus Christ, therefore, “introduces into our history a universal and ultimate truth which stirs the human mind to ceaseless effort”.12

Jadi, misi Encyclical Redemptoris sekali lagi memanggil Gereja untuk melaksanakan tugas mewartakan Injil sebagai pemenuhan kebenaran: "Dalam Firman yang pasti tentang pengungkapan diriNya, Tuhan telah membuat diriNya dikenal dengan cara yang terbaik yang mungkin dilakukan. Ia telah membuka diri kepada umat manusia tentang siapa diriNya. Pengungkapan-diri yang jelas oleh Tuhan ini menjadi alasan fundamental mengapa Gereja bersifat misioner dalam sifatnya yang paling dasar. Ia tidak dapat melakukan apapun selain mewartakan Injil, yaitu, kepenuhan kebenaran yang telah dibukakan oleh Tuhan kepada kita untuk mengenal diriNya". 11 Hanya melalui pengungkapan diri, Yesus Kristus "memberikan sebuah kebenaran universal yang tertinggi ke dalam sejarah umat manusia yang mengarahkan pikiran manusia pada usaha yang tidak pernah berhenti". 12

6. Therefore, the theory of the limited, incomplete, or imperfect character of the revelation of Jesus Christ, which would be complementary to that found in other religions, is contrary to the Church's faith. Such a position would claim to be based on the notion that the truth about God cannot be grasped and manifested in its globality and completeness by any historical religion, neither by Christianity nor by Jesus Christ.

6. Karenanya, teori yang menyatakan bahwa sifat-sifat karya penyelamatan Yesus Kristus adalah terbatas, tidak lengkap, atau tidak sempurna, yang pelengkapnya dapat ditemukan di dalam agama-agama yang lain, adalah bertentangan dengan iman Gereja. Posisi seperti ini mengklaim berdasarkan dugaan bahwa kebenaran tentang Tuhan tidak bisa dimengerti dan dimanifestasikan secara global dan lengkap oleh agama historis manapun, apakah itu ke-Kristenan maupun oleh Yesus Kristus.

Such a position is in radical contradiction with the foregoing statements of Catholic faith according to which the full and complete revelation of the salvific mystery of God is given in Jesus Christ. Therefore, the words, deeds, and entire historical event of Jesus, though limited as human realities, have nevertheless the divine Person of the Incarnate Word, “true God and true man”13 as their subject. For this reason, they possess in themselves the definitiveness and completeness of the revelation of God's salvific ways, even if the depth of the divine mystery in itself remains transcendent and inexhaustible. The truth about God is not abolished or reduced because it is spoken in human language; rather, it is unique, full, and complete, because he who speaks and acts is the Incarnate Son of God. Thus, faith requires us to profess that the Word made flesh, in his entire mystery, who moves from incarnation to glorification, is the source, participated but real, as well as the fulfilment of every salvific revelation of God to humanity,14 and that the Holy Spirit, who is Christ's Spirit, will teach this “entire truth” (Jn 16:13) to the Apostles and, through them, to the whole Church.

Posisi seperti ini bertentangan secara radikal dengan pernyataan-pernyataan iman Katholik sejak dulu, dimana kepenuhan dan kesempurnaan pengungkapan misteri karya keselamatan Tuhan telah diberikan di dalam Yesus Kristus. Karena itu, kata-kata, perbuatan-perbuatan dan seluruh kejadian historis Yesus, meskipun dibatasi oleh kemanusianNya, adalah benar-benar Persona ilahi dari Firman yang menjelma menjadi manusia, "Benar-benar Allah dan benar-benar manusia" 13 sebagai subjectnya. Karena alasan ini juga, mereka (pernyataan-pernyataan iman Katholik) memiliki di dalam diri mereka sendiri kepastian dan kelengkapan pengungkapan jalan keselamatan Allah, meskipun kedalaman dari misteri ketuhanan didalamnya sendiri tetaplah sangat sukar dipahami dan tidak akan pernah habis digali.
Kebenaran tentang Tuhan tidak bisa dihapuskan atau dikurangi hanya karena hal tersebut disampaikan dengan bahasa manusia; sebaliknya, bersifat unik, penuh dan lengkap, karena ia yang berbicara dan bertindak adalah Putera Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia. Sehingga, iman mengharuskan kita untuk mengakui bahwa sang Firman yang telah menjadi daging, dengan semua misteriNya, mulai dari inkarnasi sampai pada pemuliaan, adalah sang sumber, yang ikut serta secara nyata, dan juga merupakan kepenuhan dari semua pengungkapan karya penyelamatan Allah kepada umat manusia, 14 dan bahwa Roh Kudus, yang adalah Roh Kristus, akan mengajarkan "seluruh kebenaran" ini (Yoh 16:13) kepada Para Rasul dan, melalui mereka, kepada seluruh Gereja.

7. The proper response to God's revelation is “the obedience of faith (Rom 16:26; cf. Rom 1:5; 2 Cor 10:5-6) by which man freely entrusts his entire self to God, offering ‘the full submission of intellect and will to God who reveals' and freely assenting to the revelation given by him”.15 Faith is a gift of grace: “in order to have faith, the grace of God must come first and give assistance; there must also be the interior helps of the Holy Spirit, who moves the heart and converts it to God, who opens the eyes of the mind and gives ‘to everyone joy and ease in assenting to and believing in the truth'”.16

7. Tanggapan yang sepantasnya untuk pengungkapan karya penyelamatan Tuhan ini adalah "ketaatan iman (Rom 16;26; cf. Rom 1:5; 2 Cor 10:5-6) yang dengannya manusia secara suka rela dan total menyerahkan dirinya kepada Tuhan, dengan memberikan 'penyerahan yang total dari pikiran dan kemauan kepada penawaran dari Tuhan dan secara suka rela meng-iya-kan tawaranNya ini". 15 Iman adalah karunia yang diberikan secara cuma-cuma: "supaya kita bisa memiliki iman, Tuhan terlebih dahulu harus memberikan rahmat yang akan membantu; juga perlu bantuan dari dalam oleh Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan mengarahkannya kepada Tuhan, yang membuka mata hati dan memberikan 'kepada semua orang kebahagiaan dan ketenangan ketika meng-iya-kan dan mempercayai kebenaran". 16

The obedience of faith implies acceptance of the truth of Christ's revelation, guaranteed by God, who is Truth itself:17 “Faith is first of all a personal adherence of man to God. At the same time, and inseparably, it is a free assent to the whole truth that God has revealed”.18 Faith, therefore, as “a gift of God” and as “a supernatural virtue infused by him”,19 involves a dual adherence: to God who reveals and to the truth which he reveals, out of the trust which one has in him who speaks. Thus, “we must believe in no one but God: the Father, the Son and the Holy Spirit”.20

Ketaatan iman mengharuskan kita untuk menerima kebenaran pengungkapan diri Kristus, yang dijamin oleh Tuhan, yang adalah Sang Kebenaran itu sendiri. 17 "Iman pertama-tama adalah sebuah kesetiaan personal dari manusia kepada Tuhan. Dan pada saat bersamaan dan tidak dapat dipisahkan, merupakan sebuah persetujuan secara suka rela kepada seluruh kebenaran yang telah diungkapkan oleh Tuhan". 18 Iman, karenanya, sebagai "sebuah pemberian dari Tuhan" dan sebagai "kebajikan supernatural yang ditanamkan olehNya", 19 mengharuskan kita untuk taat: kepada Tuhan yang mengungkapkan (kebenaran) dan kepada kebenaran yang diungkapkan, diluar kepercayaan seseorang kepada orang yang berbicara. Sehingga, "kita tidak boleh percaya pada seorang pun kecuali Tuhan: Bapa, Putera dan Roh Kudus". 20

For this reason, the distinction between theological faith and belief in the other religions, must be firmly held. If faith is the acceptance in grace of revealed truth, which “makes it possible to penetrate the mystery in a way that allows us to understand it coherently”,21 then belief, in the other religions, is that sum of experience and thought that constitutes the human treasury of wisdom and religious aspiration, which man in his search for truth has conceived and acted upon in his relationship to God and the Absolute.22

Untuk alasan ini, kita benar-benar harus dapat membedakan antara iman theologis dan kepercayaan yang ada dalam agama-agama yang lain. Jika iman adalah (suatu kondisi yang) menerima di dalam karunia pengungkapan kebenaran, yang "memungkinkan kita untuk menerobos kedalam misteri sedemikian rupa sehingga membuat kita untuk mengerti secara logika", 21 maka kepercayaan, yang ada di dalam agama-agama lain, adalah akumulasi dari pengalaman dan pemikiran yang merupakan harta kemanusiaan yaitu kebijaksanaan dan aspirasi religius, dimana manusia dalam pencariannya akan kebenaran telah memahami dan bertindak berdasarkan hubungannya kepada Tuhan dan Kemutlakan. 22

This distinction is not always borne in mind in current theological reflection. Thus, theological faith (the acceptance of the truth revealed by the One and Triune God) is often identified with belief in other religions, which is religious experience still in search of the absolute truth and still lacking assent to God who reveals himself. This is one of the reasons why the differences between Christianity and the other religions tend to be reduced at times to the point of disappearance.

Perbedaan seperti ini tidak selalu dicamkan dalam releksi theologis masa kini. Sehingga iman theologis (penerimaan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan yang Esa dan Tritunggal) seringkali di-identikkan dengan kepercayaan yang ada di dalam agama-agama lain, dimana pengalaman religius masih dalam tahap pencarian kebenaran mutlak dan masih belum benar-benar meng-iya-kan Tuhan yang telah mengungkapkan diriNya sendiri. Ini adalah salah satu alasan mengapa perbedaan antara ke-Kristenan dan agama-agama lain semakin lama semakin berkurang sampai pada titik dimana tidak ada lagi perbedaan.

8. The hypothesis of the inspired value of the sacred writings of other religions is also put forward. Certainly, it must be recognized that there are some elements in these texts which may be de facto instruments by which countless people throughout the centuries have been and still are able today to nourish and maintain their life-relationship with God. Thus, as noted above, the Second Vatican Council, in considering the customs, precepts, and teachings of the other religions, teaches that “although differing in many ways from her own teaching, these nevertheless often reflect a ray of that truth which enlightens all men”.23

8. Hipotesis tentang nilai inspirasi (Roh Kudus) terhadap kitab-kitab suci dari agama-agama lain juga dikemukakan. Tentulah harus diakui bahwa ada beberapa element yang terdapat dalam teks-teks ini yang dapat secara de facto digunakan oleh banyak orang selama berabad-abad sebagai alat untuk memelihara dan menjaga hidup dan hubungan mereka dengan Tuhan. Sehingga, seperti yang telah ditulis diatas, Konsili Vatikan Kedua, dengan mempertimbangkan kebiasaan-kebiasaan, aturan-aturan, dan ajaran-ajaran dari agama-agama lain, mengajarkan bahwa "meskipun dalam banyak hal berbeda dari ajarannya (Gereja Katholik), namun tidak dapat dipungkiri sering kali telah mencerminkan berkas sinar kebenaran yang menerangi semua manusia". 23

The Church's tradition, however, reserves the designation of inspired texts to the canonical books of the Old and New Testaments, since these are inspired by the Holy Spirit.24 Taking up this tradition, the Dogmatic Constitution on Divine Revelation of the Second Vatican Council states: “For Holy Mother Church, relying on the faith of the apostolic age, accepts as sacred and canonical the books of the Old and New Testaments, whole and entire, with all their parts, on the grounds that, written under the inspiration of the Holy Spirit (cf. Jn 20:31; 2 Tim 3:16; 2 Pet 1:19-21; 3:15-16), they have God as their author, and have been handed on as such to the Church herself”.25 These books “firmly, faithfully, and without error, teach that truth which God, for the sake of our salvation, wished to see confided to the Sacred Scriptures”.26

Tradisi Gereja, walupun demikian, telah memberikan tanda pada teks-teks yang terinspirasi (Roh Kudus) sebagai kitab-kitab kanonik Perjanjian Lama dan Baru, karena (kitab-kitab ini) terinspirasi oleh Roh Kudus. 24 Dengan membawa tradisi ini, Konstitusi Dogmatik terhadap Pengungkapan Allah dari Konsili Vatikan Kedua menegaskan: "Karena Bunda Gereja yang Kudus, sesuai dengan iman masa apostolik, menerima kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru sebagai kitab-kitab yang suci dan kanonikal, semuanya secara keseluruhan, dengan semua bagian-bagiannya, dengan dasar bahwa, (kitab-kitab tersebut) telah ditulis dibawah bimbingan dari Roh Kudus (cf. Yoh 20:31; 2 Tim 3:16; 2 Pet 1:19-21; 3:15-16), Tuhan sendirilah yang menulis mereka (kitab-kitab suci), dan telah diberikan dalam bentuk seperti demikian kepada Gereja". 25 Kitab-kitab ini "secara tegas, tepat, dan tanpa kesalahan, mengajarkan bahwa kebenaran, yang oleh Tuhan diperuntukkan bagi keselamatan kita semua, ingin disimpan Kitab-Kitab Suci"". 26

Nevertheless, God, who desires to call all peoples to himself in Christ and to communicate to them the fullness of his revelation and love, “does not fail to make himself present in many ways, not only to individuals, but also to entire peoples through their spiritual riches, of which their religions are the main and essential expression even when they contain ‘gaps, insufficiencies and errors'”.27 Therefore, the sacred books of other religions, which in actual fact direct and nourish the existence of their followers, receive from the mystery of Christ the elements of goodness and grace which they contain.

Walaupun demikian, Tuhan, yang ingin memanggil semua orang kepadaNya di dalam Kristus dan ingin menyampaikan kepada mereka kepenuhan pengungkapan rahasia dan kasih Nya, "tidak pernah gagal untuk membuat diriNya hadir dalam berbagai cara, tidak hanya kepada individu-individu, namun juga kepada semua orang melalui kekayaan spiritual mereka, dimana agama-agama mereka adalah ekspresi yang essensial dan utama meskipun mengandung 'celah, tidak cukup dan kesalahan-kesalahan'". 27 Sehingga, kitab-kitab suci dari agama-agama lain, yang pada kenyataannya telah mengarahkan dan memelihara eksistensi dari pengikut-pengikutnya, menerima dari misteri Kristus, elemen-elemen kebajikan dan karunia yang terkandung di dalamnya.


II. THE INCARNATE LOGOS
AND THE HOLY SPIRIT IN THE WORK OF SALVATION

9. In contemporary theological reflection there often emerges an approach to Jesus of Nazareth that considers him a particular, finite, historical figure, who reveals the divine not in an exclusive way, but in a way complementary with other revelatory and salvific figures. The Infinite, the Absolute, the Ultimate Mystery of God would thus manifest itself to humanity in many ways and in many historical figures: Jesus of Nazareth would be one of these. More concretely, for some, Jesus would be one of the many faces which the Logos has assumed in the course of time to communicate with humanity in a salvific way.

II PERWUJUDAN SANG FIRMAN DAN ROH KUDUS DALAM KARYA KESELAMATAN

9. Dalam refleksi theologis jaman sekarang sering muncul pendekatan terhadap Yesus dari Nazaret yang menganggapNya sebagai sebuah figur dalam sejarah yang utama dan khusus, yang mengungkapkan rahasia ilahi tidak dengan cara yang eksklusif, namun perlu diperlengkap dengan wahyu-wahyu dan figur-figur penyelamat lainnya. Jadi keTuhanan, keMutlakan, Misteri Puncak dari Tuhan disampaikan kepada umat manusia dengan berbagai macam cara dan dalam bentuk banyak figure sejarah: Yesus dari Nazaret adalah salah satu dari mereka. Secara lebih konkrit, untuk beberapa orang, Yesus adalah salah satu dari banyak wajah yang digunakan oleh Sang Firman dalam perjalanan waktu untuk berkomunikasi dengan umat manusia untuk menyelamatkan.

Furthermore, to justify the universality of Christian salvation as well as the fact of religious pluralism, it has been proposed that there is an economy of the eternal Word that is valid also outside the Church and is unrelated to her, in addition to an economy of the incarnate Word. The first would have a greater universal value than the second, which is limited to Christians, though God's presence would be more full in the second.

Lebih lanjut, sebagai pembenaran ke-universal-an keselamatan dalam agama Kristen dan juga fakta adanya pluralisme agama, telah diusulkan sebuah ekonomi dari sang Firman yang abadi, dimana juga berlaku diluar Gereja dan bahkan tidak berhubungan dengannya (Gereja), sebagai tambahan dari ekonomi penjelmaan sang Firman. Konsep pertama akan memiliki nilai universal yang lebih besar dari pada yang kedua, yaitu yang hanya terbatas untuk orang-orang Kristen saja, meskipun keberadaan Tuhan (pada konsep yang kedua) lebih penuh (dibandingkan konsep pertama).

10. These theses are in profound conflict with the Christian faith. The doctrine of faith must be firmly believed which proclaims that Jesus of Nazareth, son of Mary, and he alone, is the Son and the Word of the Father. The Word, which “was in the beginning with God” (Jn 1:2) is the same as he who “became flesh” (Jn 1:14). In Jesus, “the Christ, the Son of the living God” (Mt 16:16), “the whole fullness of divinity dwells in bodily form” (Col 2:9). He is the “only begotten Son of the Father, who is in the bosom of the Father” (Jn 1:18), his “beloved Son, in whom we have redemption... In him the fullness of God was pleased to dwell, and through him, God was pleased to reconcile all things to himself, on earth and in the heavens, making peace by the blood of his Cross” (Col 1:13-14; 19-20).

10. Pendapat-pendapat ini sangat bertentangan dengan iman Kristen. Doktrin iman harus benar-benar dipegang teguh yaitu yang menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret, putera Maria, dan hanya Dia lah, sang Putera dan Firman dari Bapa. Sang Firman, yang "pada mulanya bersama-sama dengan Allah" (Yoh 1:2) adalah sama dengan Ia yang "menjadi manusia" (Yoh 1:14). Dalam Yesus, "Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16), "dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan" (Kol 2:9). Ia adalah "Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa" (Yoh 1:18), Ia adalah "Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita...seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Tuhan memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus" (Kol 1:13-14; 19-20).

Faithful to Sacred Scripture and refuting erroneous and reductive interpretations, the First Council of Nicaea solemnly defined its faith in: “Jesus Christ, the Son of God, the only begotten generated from the Father, that is, from the being of the Father, God from God, Light from Light, true God from true God, begotten, not made, one in being with the Father, through whom all things were made, those in heaven and those on earth. For us men and for our salvation, he came down and became incarnate, was made man, suffered, and rose again on the third day. He ascended to the heavens and shall come again to judge the living and the dead”.28 Following the teachings of the Fathers of the Church, the Council of Chalcedon also professed: “the one and the same Son, our Lord Jesus Christ, the same perfect in divinity and perfect in humanity, the same truly God and truly man..., one in being with the Father according to the divinity and one in being with us according to the humanity..., begotten of the Father before the ages according to the divinity and, in these last days, for us and our salvation, of Mary, the Virgin Mother of God, according to the humanity”.29

Setia kepada Kitab Suci dan menyangkal penafsiran yang keliru dan sepotong-sepotong, Konsili Pertama di Nicea dengan khidmad merumuskan imannya di dalam: "Yesus Kristus, Putera Tuhan, anak tunggal Allah, yang sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa. Melalui dia semua hal dijadikan. Bagi kita dan bagi keselamatan kita, ia turun dan menjelma, menjadi manusia, menderita dan bangkit kembali pada hari ketiga. Ia diangkat ke surga dan akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati". 28 Mengikuti ajaran Bapa-Bapa Gereja, Konsili Chalcedon juga menyatakan: "Putera tunggal yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, yang juga sempurna dalam keilahian dan kemanusiaan, yang juga adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia..., sehakekat dengan Bapa dalam ketuhanan dan sehakekat dengan kita dalam kemanusiaan..., berasal dari Bapa sebelum segala jaman dalam ketuhanan dan, dalam hari-hari ini, bagi kita dan keselamatan kita, oleh Maria, Bunda Perawan dari Tuhan, dalam kemanusiaan". 29

For this reason, the Second Vatican Council states that Christ “the new Adam...‘image of the invisible God' (Col 1:15) is himself the perfect man who has restored that likeness to God in the children of Adam which had been disfigured since the first sin... As an innocent lamb he merited life for us by his blood which he freely shed. In him God reconciled us to himself and to one another, freeing us from the bondage of the devil and of sin, so that each one of us could say with the apostle: the Son of God ‘loved me and gave himself up for me' (Gal 2:20)”.30

Untuk alasan ini, Konsili Vatikan Kedua menyatakan bahwa Kristus adalah "Adam yang baru...'gambar Allah yang tidak kelihatan' (Kol 1:15) Ia sendiri adalah manusia yang sempurna yang telah mengembalikan citra Allah pada anak-anak Adam yang telah terkoyak sejak dosa pertama... Sebagai seekor domba yang tidak bernoda ia mewariskan kehidupan bagi kita dengan darahNya yang telah ditumpahkannya dengan cuma-cuma. Di dalam Dia-lah Tuhan mendamaikan lagi kita dengan diriNya dan antara satu dengan yang lainnya, membebaskan kita dari perbudakan iblis dan dosa, sehingga masing-masing kita bisa berkata bersama dengan para rasul: Anak Allah 'yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku' (Gal 2:20)". 30

In this regard, John Paul II has explicitly declared: “To introduce any sort of separation between the Word and Jesus Christ is contrary to the Christian faith... Jesus is the Incarnate Word — a single and indivisible person... Christ is none other than Jesus of Nazareth; he is the Word of God made man for the salvation of all... In the process of discovering and appreciating the manifold gifts — especially the spiritual treasures — that God has bestowed on every people, we cannot separate those gifts from Jesus Christ, who is at the centre of God's plan of salvation”.31

Dengan memperhatikan hal ini, Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara eksplisit: "Usaha untuk memisahkan sang Firman dan Yesus Kristus adalah bertentangan dengan iman Kristen... Yesus adalah Firman yang Menjelma menjadi manusia — sosok tunggal yang tidak dapat dibagi-bagi... Kristus (Mesias) tidak lain adalah Yesus dari Nazaret; ia adalah Firman Tuhan yang menjadi manusia bagi keselamatan semua (orang)... Dalam proses pencarian dan penghormatan terhadap karunia yang demikian banyak — terutama harta-harta spiritual — yang telah diberikan oleh Tuhan kepada semua orang, kita tidak bisa memisahkan pemberian-pemberian tersebut dari Yesus Kristus, yang merupakan pusat rencana keselamatan Allah". 31

It is likewise contrary to the Catholic faith to introduce a separation between the salvific action of the Word as such and that of the Word made man. With the incarnation, all the salvific actions of the Word of God are always done in unity with the human nature that he has assumed for the salvation of all people. The one subject which operates in the two natures, human and divine, is the single person of the Word.32

Therefore, the theory which would attribute, after the incarnation as well, a salvific activity to the Logos as such in his divinity, exercised “in addition to” or “beyond” the humanity of Christ, is not compatible with the Catholic faith.33

Demikian juga halnya, berusaha memisahkan karya keselamatan sang Firman dengan sang Firman yang menjadi manusia seperti demikian adalah bertentangan dengan iman Katholik. Dengan penjelmaan (Kristus menjadi manusia), semua karya keselamatan dari sang Firman Allah selalu dijalankan dalam kesatuan dengan sifat kemanusiaan yang telah diambilNya bagi keselamatan semua orang. Subject yang tunggal, yang berkarya dalam dua wujud, manusia dan tuhan, adalah sang Firman yang satu. 32

Karenanya, teori yang hendak menghubungkan suatu karya keselamatan kepada sang Firman, setelah penjelmaan menjadi manusia, seperti misalnya dalam wujud ketuhananNya, yang dilakukan dengan "menambahkan" atau "diluar" kemanusiaan Kristus, tidak selaras dengan iman Katholik. 33

11. Similarly, the doctrine of faith regarding the unicity of the salvific economy willed by the One and Triune God must be firmly believed, at the source and centre of which is the mystery of the incarnation of the Word, mediator of divine grace on the level of creation and redemption (cf. Col 1:15-20), he who recapitulates all things (cf. Eph 1:10), he “whom God has made our wisdom, our righteousness, and sanctification and redemption” (1 Cor 1:30). In fact, the mystery of Christ has its own intrinsic unity, which extends from the eternal choice in God to the parousia: “he [the Father] chose us in Christ before the foundation of the world to be holy and blameless before him in love” (Eph 1:4); “In Christ we are heirs, having been destined according to the purpose of him who accomplishes all things according to his counsel and will” (Eph 1:11); “For those whom he foreknew he also predestined to be conformed to the image of his Son, in order that he might be the firstborn among many brothers; those whom he predestined he also called; and those whom he called he also justified; and those whom he justified he also glorified” (Rom 8:29-30).

11. Sama juga, doktrin iman mengenai kesatuan ekonomi keselamatan yang diingini oleh Tuhan yang Esa dan Tritunggal harus dipegang dengan teguh, dimana di sumber dan pusatnya terdapat misteri penjelmaan dari sang Firman, mediator rahmat ilahi kepada ciptaan dan penebusan (cf. Kol 1:15-20), Ia yang menggenapkan segala sesuatu (cf. Ef 1:10), ia yang "oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita" (1 Kor 1:30). Pada kenyataannya, misteri Kristus memiliki kesatuan intrinsik tersendiri, yang mencakup sejak dari pemilihan kekal dalam Tuhan sampai kepada parousia: "di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya di dalam Kasih" (Ef 1:4); "di dalam Kristus kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya" (Ef 1:11); "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya" (Rom 8:29-30).

The Church's Magisterium, faithful to divine revelation, reasserts that Jesus Christ is the mediator and the universal redeemer: “The Word of God, through whom all things were made, was made flesh, so that as perfect man he could save all men and sum up all things in himself. The Lord...is he whom the Father raised from the dead, exalted and placed at his right hand, constituting him judge of the living and the dead”.34 This salvific mediation implies also the unicity of the redemptive sacrifice of Christ, eternal high priest (cf. Heb 6:20; 9:11; 10:12-14).

Magisterium Gereja, setia pada pewartaan ilahi, menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah mediator (perantara)dan penebus umat manusia. "Firman Allah, yang melaluiNya segalanya telah dijadikan, telah menjadi daging, sehingga sebagai manusia yang sempurna Ia dapat menyelamatkan semua orang dan menambahkan segala sesuatu ke dalam diriNya. Tuhan... yang oleh Bapa dibangkitkan dari kematian, dimuliakan dan ditempatkan di sisi kanan Allah, mengangkatNya sebagai hakim bagi orang hidup dan orang mati". 34 Perantaraan keselamatan ini juga menyatakan suatu kesatuan pengorbanan Kristus yang menebus, sang imam besar yang kekal (cf Ibr 6:20; 9:11; 10:12-14).

12. There are also those who propose the hypothesis of an economy of the Holy Spirit with a more universal breadth than that of the Incarnate Word, crucified and risen. This position also is contrary to the Catholic faith, which, on the contrary, considers the salvific incarnation of the Word as a trinitarian event. In the New Testament, the mystery of Jesus, the Incarnate Word, constitutes the place of the Holy Spirit's presence as well as the principle of the Spirit's effusion on humanity, not only in messianic times (cf. Acts 2:32-36; Jn 7:39, 20:22; 1 Cor 15:45), but also prior to his coming in history (cf. 1 Cor 10:4; 1 Pet 1:10-12).

12. Ada juga mereka yang mengusulkan hipotesa ekonomi Roh Kudus dengan penafsiran yang lebih luas lagi dibandingkan dengan yang dilakukan terhadap sang Firman yang Menjelma, disalib dan dibangkitkan. Posisi ini juga bertentangan dengan iman Katholik, yang sebaliknya, memandang penjelmaan karya keselamatan sang Firman sebagai peristiwa trinitas. Dalam Perjanjian Baru, misteri Yesus, sang Firman yang Menjelma, juga merupakan kehadiran Roh Kudus sama seperti prinsip keberadaan Roh dalam manusia, tidak hanya terjadi pada jaman mesias (cf. Kis 2:32-36; Yoh 7:39 20:22; 1 Kor 15:45), namun juga sebelum kedatanganNya dalam sejarah manusia (cf. 1 Kor 10:4; 1 Pet 1:10-12).

The Second Vatican Council has recalled to the consciousness of the Church's faith this fundamental truth. In presenting the Father's salvific plan for all humanity, the Council closely links the mystery of Christ from its very beginnings with that of the Spirit.35 The entire work of building the Church by Jesus Christ the Head, in the course of the centuries, is seen as an action which he does in communion with his Spirit.36

Konsili Vatikan Kedua melihat kebenaran fundamental ini dengan memperhatikan kesadaran iman Gereja. Sewaktu menjalankan rencana keselamatan Bapa bagi seluruh umat manusia, Konsili melihat sudah ada hubungan yang erat antara misteri Kristus dengan Roh sejak dari semula. 35 Pekerjaan pembangunan Gereja oleh Yesus Kristus sang Kepala, dalam perjalanan masa, dipandang sebagai tindakan yang dilakukanNya dalam kebersamaan dengan Roh Nya. 36

Furthermore, the salvific action of Jesus Christ, with and through his Spirit, extends beyond the visible boundaries of the Church to all humanity. Speaking of the paschal mystery, in which Christ even now associates the believer to himself in a living manner in the Spirit and gives him the hope of resurrection, the Council states: “All this holds true not only for Christians but also for all men of good will in whose hearts grace is active invisibly. For since Christ died for all, and since all men are in fact called to one and the same destiny, which is divine, we must hold that the Holy Spirit offers to all the possibility of being made partners, in a way known to God, in the paschal mystery”.37

Lebih lanjut, karya keselamatan Yesus Kristus, dengan dan melalui Roh Nya, meluber keluar batas-batas Gereja yang kelihatan kepada seluruh umat manusia. Berbicara tentang misteri paskah, dimana Kristus sekarang menyatukan orang-orang percaya kepada diriNya dengan cara hidup didalam Roh dan memberikan harapan kebangkitan bagi mereka, Konsili menyatakan: "Segalanya adalah sungguh-sungguh benar, bukan hanya bagi orang Kristen namun juga bagi semua orang yang memiliki hasrat kebajikan dimana rahmat didalam hati mereka turut berperan serta. Karena Kristus telah mati untuk semua, dan karena semua orang dipanggil kepada tujuan yang satu dan sama, yaitu keilahian, kita harus percaya bahwa Roh Kudus menawarkan kepada semua orang untuk menjadi partner, dengan cara yang diketahui Tuhan, di dalam misteri paskah". 37

Hence, the connection is clear between the salvific mystery of the Incarnate Word and that of the Spirit, who actualizes the salvific efficacy of the Son made man in the lives of all people, called by God to a single goal, both those who historically preceded the Word made man, and those who live after his coming in history: the Spirit of the Father, bestowed abundantly by the Son, is the animator of all (cf. Jn 3:34).

Sehingga, ada hubungan yang jelas antara misteri penyelamatan dari sang Firman yang Menjelma dengan misteri dari Roh, yang mewujudkan buah-buah keselamatan dari sang Putra yang menjadi manusia dalam kehidupan semua orang, yang dipanggil oleh Tuhan kepada tujuan yang satu, kepada mereka yang dalam sejarah hidup sebelum sang Firman hadir sebagai manusia, dan juga kepada mereka yang hidup sesudah kedatanganNya dalam sejarah: Roh dari Bapa, yang dikaruniakan secara berlimpah oleh sang Putera, adalah yang menggerakkan semuanya (cf. Yoh 3:34).

Thus, the recent Magisterium of the Church has firmly and clearly recalled the truth of a single divine economy: “The Spirit's presence and activity affect not only individuals but also society and history, peoples, cultures and religions... The Risen Christ ‘is now at work in human hearts through the strength of his Spirit'... Again, it is the Spirit who sows the ‘seeds of the word' present in various customs and cultures, preparing them for full maturity in Christ”.38 While recognizing the historical-salvific function of the Spirit in the whole universe and in the entire history of humanity,39 the Magisterium states: “This is the same Spirit who was at work in the incarnation and in the life, death, and resurrection of Jesus and who is at work in the Church. He is therefore not an alternative to Christ nor does he fill a sort of void which is sometimes suggested as existing between Christ and the Logos. Whatever the Spirit brings about in human hearts and in the history of peoples, in cultures and religions, serves as a preparation for the Gospel and can only be understood in reference to Christ, the Word who took flesh by the power of the Spirit ‘so that as perfectly human he would save all human beings and sum up all things'”.40

Jadi, Magisterium Gereja pada masa sekarang ini secara tegas dan jelas telah mengingatkan kembali tentang kebenaran ekonomi ilahi yang satu. "Kehadiran Roh dan akibat dari pekerjaannya tidak hanya mempengaruhi individu-individu (yang terlibat langsung) namun juga masyarakat dan sejarah, orang-orang, kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama (yang lain)... Kristus yang bangkit 'sekarang bekerja di dalam hati manusia lewat kekuatan Roh Nya'... Sekali lagi, Roh yang sama yang menaburkan 'benih benih firman' yang hadir dalam beragam aturan dan kebudayaan, dan menyiapkan mereka semua bagi kematangannya yang penuh di dalam Kristus". 38 Dengan mengenali karya keselamatan dari Roh di dalam sejarah alam semesta dan dalam seluruh sejarah kemanusiaan, 39 Magisterium menyatakan: "Roh ini adalah Roh yang sama yang bekerja dalam penjelmaan, hidup, kematian dan kebangkitan Yesus dan yang sekarang sedang bekerja di dalam Gereja. Sehingga Ia bukanlah sebuah alternative dari Kristus atau Ia juga bukan sebuah kekosongan belaka yang kadang-kadang muncul diantara Kristus dan sang Firman. Apapun yang disampaikan sang Roh ke dalam hati manusia dan ke dalam sejarah manusia, dalam kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama, semuanya berfungsi sebagai persiapan bagi Injil dan hanya bisa dimengerti bila dihubungkan dengan Kristus, sang Firman yang mengambil rupa daging dengan kuasa dari Roh 'sehingga sebagai manusia sejati Ia dapat menyelamatkan semua orang dan menambahkan segala sesuatu ke dalam diriNya'". 40

In conclusion, the action of the Spirit is not outside or parallel to the action of Christ. There is only one salvific economy of the One and Triune God, realized in the mystery of the incarnation, death, and resurrection of the Son of God, actualized with the cooperation of the Holy Spirit, and extended in its salvific value to all humanity and to the entire universe: “No one, therefore, can enter into communion with God except through Christ, by the working of the Holy Spirit”.41

Sebagai kesimpulan, pekerjaan dari sang Roh tidak berada di luar atau paralel dengan pekerjaan Kristus. Hanya ada satu ekonomi keselamatan dari Allah yang Esa dan Tritunggal, yang dinyatakan dalam misteri penjelmaan, kematian dan kebangkitan dari sang Putera Allah, yang diwujudkan bersama-sama dengan Roh Kudus, dan yang nilai keselamatannya meluber kepada seluruh umat manusia dan kepada seluruh alam semesta: "Tidak ada seorangpun yang bisa bersatu dengan Allah jika tanpa melalui Kristus, dan karena pekerjaan Roh Kudus" 41


III. UNICITY AND UNIVERSALITY
OF THE SALVIFIC MYSTERY OF JESUS CHRIST

13. The thesis which denies the unicity and salvific universality of the mystery of Jesus Christ is also put forward. Such a position has no biblical foundation. In fact, the truth of Jesus Christ, Son of God, Lord and only Saviour, who through the event of his incarnation, death and resurrection has brought the history of salvation to fulfilment, and which has in him its fullness and centre, must be firmly believed as a constant element of the Church's faith.

III. KESATUAN DAN KEUNIVERSALAN DARI MISTERI PENYELAMATAN YESUS KRISTUS

13. Pendapat yang menolak kesatuan dan keuniversalan misteri penyelamatan juga dikemukakan. Posisi seperti ini tidak memiliki landasan alkitabiah. Pada kenyataannya, kebenaran dari Yesus Kristus, Putra Allah, Tuhan dan satu-satunya Penyelamat, yang melalui penjelmaan diri, kematian dan kebangkitan Nya telah membawa sejarah keselamatan kepada kepenuhannya, dimana didalam Dia keselamatan itu berpusat dan memiliki kepenuhan, dan ini harus dipegang dengan teguh sebagai elemen tak berubah dalam iman Gereja.

The New Testament attests to this fact with clarity: “The Father has sent his Son as the Saviour of the world” (1 Jn 4:14); “Behold the Lamb of God who takes away the sin of the world” (Jn 1:29). In his discourse before the Sanhedrin, Peter, in order to justify the healing of a man who was crippled from birth, which was done in the name of Jesus (cf. Acts 3:1-8), proclaims: “There is salvation in no one else, for there is no other name under heaven given among men by which we must be saved” (Acts 4:12). St. Paul adds, moreover, that Jesus Christ “is Lord of all”, “judge of the living and the dead”, and thus “whoever believes in him receives forgiveness of sins through his name” (Acts 10: 36,42,43).

(Kitab-kitab) Perjanjian Baru mendukung fakta ini dengan jelas: "Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia" (1 Yoh 4:14); "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yoh 1:29). Dalam khotbahnya di hadapan orang Saduki, Petrus, untuk membenarkan tindakan penyembuhan orang yang lumpuh sejak lahir, yang dilakukannya dalam nama Yesus (cf. Kis 3:1-8), menyatakan: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis 4:12). St. Paul menambahkan, bahwa Yesus Kristus "adalah Tuhan dari semua orang", "Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati", sehingga "barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya" (Kis 10:36,42,43).

Paul, addressing himself to the community of Corinth, writes: “Indeed, even though there may be so-called gods in heaven or on earth — as in fact there are many gods and many lords — yet for us there is one God, the Father, from whom are all things and for whom we exist, and one Lord, Jesus Christ, through whom are all things and through whom we exist” (1 Cor 8:5-6). Furthermore, John the Apostle states: “For God so loved the world that he gave his only Son, so that everyone who believes in him may not perish but may have eternal life. God did not send his Son into the world to condemn the world, but in order that the world might be saved through him” (Jn 3:16-17). In the New Testament, the universal salvific will of God is closely connected to the sole mediation of Christ: “[God] desires all men to be saved and to come to the knowledge of the truth. For there is one God; there is also one mediator between God and men, the man Jesus Christ, who gave himself as a ransom for all” (1 Tim 2:4-6).

Paulus, di suratnya kepada umat di Korintus menulis: "Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi--dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian--namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup" (1 Kor 8:5-6). Lebih lanjut, Rasul Yohanes menyatakan: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia" (Yoh 3:16-17). Dalam Kitab Perjanjian Baru, maksud penyelamatan universal Tuhan ini selalu dihubungkan dengan mediasi tunggal Kristus: "[Allah] menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia" (1 Tim 2:4-6).

It was in the awareness of the one universal gift of salvation offered by the Father through Jesus Christ in the Spirit (cf. Eph 1:3-14), that the first Christians encountered the Jewish people, showing them the fulfilment of salvation that went beyond the Law and, in the same awareness, they confronted the pagan world of their time, which aspired to salvation through a plurality of saviours. This inheritance of faith has been recalled recently by the Church's Magisterium: “The Church believes that Christ, who died and was raised for the sake of all (cf. 2 Cor 5:15) can, through his Spirit, give man the light and the strength to be able to respond to his highest calling, nor is there any other name under heaven given among men by which they can be saved (cf. Acts 4:12). The Church likewise believes that the key, the centre, and the purpose of the whole of man's history is to be found in its Lord and Master”.42

Adalah dengan kesadaran bahwa karunia keselamatan universal yang satu, yang ditawarkan oleh Bapa melalui Yesus Kristus di dalam Roh (cf Ef 1:3-14), maka umat Kristen awal berjuang melawan or
Image
- O -
 
Posts: 318
Joined: Fri Feb 13, 2004 2:27 pm

Postby - O - » Thu Jul 28, 2005 1:05 pm

Adalah dengan kesadaran bahwa karunia keselamatan universal yang satu, yang ditawarkan oleh Bapa melalui Yesus Kristus di dalam Roh (cf Ef 1:3-14), maka umat Kristen awal berjuang melawan orang Yahudi, menunjukkan pada mereka kepenuhan keselamatan yang melebihi Hukum (Taurat yang berlaku) dan, dalam kesadaran yang sama, mereka berjuang melawan dunia kafir pada masa mereka, yang menginginkan keselamatan melalui banyak tokoh penyelamat. Iman yang diwariskan secara turun temurun ini telah diingatkan sekali lagi oleh Magisterium Gereja. "Gereja percaya bahwa Kristus, yang mati dan bangkit bagi semua orang (cf. 2 Kor 5:15) bisa, melalui Roh Nya, memberikan bimbingan dan kekuatan bagi manusia untuk dapat menjawab panggilannya yang paling mulia, dan tidak ada nama lain di bawah kolong langit ini yang diberikan kepada manusia yang dengannya mereka dapat diselamatkan (cf Kis 4:12). Demikian juga Gereja percaya bahwa kunci, titik pusat, dan tujuan seluruh sejarah manusia dapat ditemukan di dalam Tuhan dan Guru mereka". 42

14. It must therefore be firmly believed as a truth of Catholic faith that the universal salvific will of the One and Triune God is offered and accomplished once for all in the mystery of the incarnation, death, and resurrection of the Son of God.

Bearing in mind this article of faith, theology today, in its reflection on the existence of other religious experiences and on their meaning in God's salvific plan, is invited to explore if and in what way the historical figures and positive elements of these religions may fall within the divine plan of salvation. In this undertaking, theological research has a vast field of work under the guidance of the Church's Magisterium. The Second Vatican Council, in fact, has stated that: “the unique mediation of the Redeemer does not exclude, but rather gives rise to a manifold cooperation which is but a participation in this one source”.43 The content of this participated mediation should be explored more deeply, but must remain always consistent with the principle of Christ's unique mediation: “Although participated forms of mediation of different kinds and degrees are not excluded, they acquire meaning and value only from Christ's own mediation, and they cannot be understood as parallel or complementary to his”.44 Hence, those solutions that propose a salvific action of God beyond the unique mediation of Christ would be contrary to Christian and Catholic faith.

14. Sehingga kebenaran iman Katholik akan tujuan karya keselamatan dari Allah yang Esa dan Tritunggal yang ditawarkan dan diselesaikan sekali untuk selamanya oleh misteri penjelmaan, kematian dan kebangkitan dari Putera Allah, harus benar-benar dipegang teguh.

Dengan dasar tulisan tentang iman ini, dengan memandang kehadiran agama-agama lain dan perannya dalam rencana penyelamatan Allah, thologi jaman sekarang diajak untuk memikirkan bagaimana figure-figure sejarah dan element-element yang positive dari agama-agama ini dapat masuk ke dalam rencana keselamatan ilahi. Dengan pemahaman seperti ini, berarti bahwa penelitian theologis memiliki lahan yang luas untuk digarap di bawah tuntunan Magisterium Gereja. Konsili Vatikan Kedua, pada kenyataannya, telah menyatakan bahwa: "mediasi yang unik dari sang Penebus tidak membuang, bahkan malah menimbulkan sebuah persatuan dari keanekaragaman yang ada yang semuanya berpartisipasi dalam sumber yang satu ini". 43 Isi dari keikut-sertaan mediasi ini perlu untuk ditelaah lebih mendalam, namun harus selalu konsisten dengan prinsip keunikan mediasi Kristus: "Walaupun keikut sertaan berbagai bentuk mediasi dari berbagai macam sumber dan tingkatan tidak dibuang, namun mereka memiliki arti dan nilai hanya dari mediasi Kristus, dan mereka tidak dapat dipahami secara paralel atau sebagai tambahan". 44 Sehingga, berbagai usulan penyelesaian yang mengusulkan sebuah pekerjaan penyelamatan Allah yang berada di luar dari mediasi unik Kristus akan bertentangan dengan iman Kristen dan Katholik.

15. Not infrequently it is proposed that theology should avoid the use of terms like “unicity”, “universality”, and “absoluteness”, which give the impression of excessive emphasis on the significance and value of the salvific event of Jesus Christ in relation to other religions. In reality, however, such language is simply being faithful to revelation, since it represents a development of the sources of the faith themselves. From the beginning, the community of believers has recognized in Jesus a salvific value such that he alone, as Son of God made man, crucified and risen, by the mission received from the Father and in the power of the Holy Spirit, bestows revelation (cf. Mt 11:27) and divine life (cf. Jn 1:12; 5:25-26; 17:2) to all humanity and to every person.

15. Cukup sering diusulkan bahwa theologi seharusnya menghindari penggunaan istilah-istilah seperti "kesatuan", "ke-universal-an", dan "kemutlakan", yang memberikan kesan penekanan yang berlebihan pada makna dan nilai penyelamatan Kristus dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Pada kenyataannya, ungkapan-ungkapan tersebut memang sudah sesuai dengan apa yang diungkapkan, karena kata-kata tersebut mewakili sebuah perkembangan dari sumber sumber iman itu sendiri. Sejak dari semula, komunitas orang percaya telah menemukan sebuah nilai keselamatan dalam Yesus sehingga hanya oleh Dia seorang, sebagai Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, disalibkan dan dibangkitkan, melalui tugas yang diberikan oleh Bapa dan dengan kekuatan Roh Kudus, berkenan menyatakan (cf Mat 11:27) dan menganugerahkan kehidupan ilahi (cf Yoh 1:12; 5:25-26; 17:2) kepada seluruh umat manusia dan kepada setiap orang.

In this sense, one can and must say that Jesus Christ has a significance and a value for the human race and its history, which are unique and singular, proper to him alone, exclusive, universal, and absolute. Jesus is, in fact, the Word of God made man for the salvation of all. In expressing this consciousness of faith, the Second Vatican Council teaches: “The Word of God, through whom all things were made, was made flesh, so that as perfect man he could save all men and sum up all things in himself. The Lord is the goal of human history, the focal point of the desires of history and civilization, the centre of mankind, the joy of all hearts, and the fulfilment of all aspirations. It is he whom the Father raised from the dead, exalted and placed at his right hand, constituting him judge of the living and the dead”.45 “It is precisely this uniqueness of Christ which gives him an absolute and universal significance whereby, while belonging to history, he remains history's centre and goal: ‘I am the Alpha and the Omega, the first and the last, the beginning and the end' (Rev 22:13)”.46

Dengan prinsip ini, seorang dapat dan harus mengatakan bahwa Yesus Kristus memiliki sebuah makna dan nilai bagi kemanusiaan dan sejarahnya, yang unik dan tunggal, yang hanya pantas ditujukan padanya seorang, secara tunggal, universal, dan mutlak. Yesus, adalah sang Firman Allah yang menjelma menjadi manusia bagi keselamatan semua orang. Ketika menyatakan kesadaran iman ini, Konsili Vatikan Kedua mengajarkan: "Firman Tuhan, yang melaluiNya semua hal diciptakan, telah menjadi manusia, sehingga sebagai manusia yang seutuhnya Ia dapat menyelamatkan semua manusia dan menambahkan segala sesuatu ke dalam diriNya. Tuhan adalah tujuan dari sejarah manusia, titik terpenting dari yang dicari oleh sejarah dan peradaban, pusat dari kemanusiaan, penghiburan bagi semua hati, dan pemenuhan dari semua aspirasi. Dialah yang dibangkitkan oleh Bapa dari kematian, dimuliakan dan ditempatkan di sisi kanan Nya, hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati". 45 "Keunikan Kristus inilah yang memberikanNya keunggulan yang mutlak dan universal, dengan menjadi bagian dari sejarahnya, ia menjadi titik pusat dan tujuan dari sejarah: 'Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir' (Wahyu 22:13)". 46


IV. UNICITY AND UNITY OF THE CHURCH

16. The Lord Jesus, the only Saviour, did not only establish a simple community of disciples, but constituted the Church as a salvific mystery: he himself is in the Church and the Church is in him (cf. Jn 15:1ff.; Gal 3:28; Eph 4:15-16; Acts 9:5). Therefore, the fullness of Christ's salvific mystery belongs also to the Church, inseparably united to her Lord. Indeed, Jesus Christ continues his presence and his work of salvation in the Church and by means of the Church (cf. Col 1:24-27),47 which is his body (cf. 1 Cor 12:12-13, 27; Col 1:18).48 And thus, just as the head and members of a living body, though not identical, are inseparable, so too Christ and the Church can neither be confused nor separated, and constitute a single “whole Christ”.49 This same inseparability is also expressed in the New Testament by the analogy of the Church as the Bride of Christ (cf. 2 Cor 11:2; Eph 5:25-29; Rev 21:2,9).50

IV. KEUNIKAN DAN KESATUAN GEREJA

16. Tuhan Yesus, satu-satunya Juru Selamat, tidak hanya membangun sebuah komunitas murid yang sederhana, namun mencakup Gereja sebagai misteri penyelamatan: Dia sendiri ada di dalam Gereja dan Gereja ada di dalam Dia (cf Yoh 15;1 ff.; Gal 3;28; Ef 4:15-16; Kis 9:5). Karenanya, kepenuhan misteri penyelamatan Kristus juga adalah milik Gereja, menyatu secara tak terpisahkan dengan sang Tuan. Benar, Yesus Kristus melanjutkan kehadiran dan pekerjaan penyelamatanNya di dalam Gereja dan melalui Gereja (cf. Kol 1:24-27), 47 yang adalah tubuhNya (cf. 1 Kor 12:12-13,27; Kol 1:18). 48 Sehingga, seperti kepala dan anggota tubuh, meskipun berbeda, namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain, demikian pula Kristus dan Gereja tidak dapat diceraikan atau dipisahkan, membetuk satu "totalitas keseluruhan Kristus". 49 Kesatuan yang tidak terpisahkan ini juga digambarkan di dalam kitab Perjanjian Baru dengan analogi Gereja sebagai Mempelai Kristus (cf. 2 Kor 11:2; Ef 5:25-29; Wah 21:2,9). 50

Therefore, in connection with the unicity and universality of the salvific mediation of Jesus Christ, the unicity of the Church founded by him must be firmly believed as a truth of Catholic faith. Just as there is one Christ, so there exists a single body of Christ, a single Bride of Christ: “a single Catholic and apostolic Church”.51 Furthermore, the promises of the Lord that he would not abandon his Church (cf. Mt 16:18; 28:20) and that he would guide her by his Spirit (cf. Jn 16:13) mean, according to Catholic faith, that the unicity and the unity of the Church — like everything that belongs to the Church's integrity — will never be lacking.52

Karenanya, dalam hubungannya dengan kesatuan dan keuniversalan mediasi keselamatan Yesus Kristus, kesatuan dari Gereja yang didirikan oleh Dia harus benar-benar dipegang teguh oleh iman Katholik sebagai sebuah kebenaran. Seperti halnya hanya ada satu Kristus, sehingga hanya ada satu tubuh Kristus, satu Mempelai Kristus: "satu Gereja yang Katholik dan Apostolik". 51 Kemudian, janji dari Tuhan bahwa ia tidak akan meninggalkan GerejaNya (cf. Mat 16:18; 28:20) dan bahwa ia akan selalu menyertai Gereja dengan Roh Nya (cf. Yoh 16:13) berarti, sesuai dengan iman Katholik, bahwa kesatuan dari Gereja — seperti semuanya yang berada di dalam integritas Gereja — tidak akan ada yang tertinggal. 52

The Catholic faithful are required to profess that there is an historical continuity — rooted in the apostolic succession 53 — between the Church founded by Christ and the Catholic Church: “This is the single Church of Christ... which our Saviour, after his resurrection, entrusted to Peter's pastoral care (cf. Jn 21:17), commissioning him and the other Apostles to extend and rule her (cf. Mt 28:18ff.), erected for all ages as ‘the pillar and mainstay of the truth' (1 Tim 3:15). This Church, constituted and organized as a society in the present world, subsists in [subsistit in] the Catholic Church, governed by the Successor of Peter and by the Bishops in communion with him”.54 With the expression subsistit in, the Second Vatican Council sought to harmonize two doctrinal statements: on the one hand, that the Church of Christ, despite the divisions which exist among Christians, continues to exist fully only in the Catholic Church, and on the other hand, that “outside of her structure, many elements can be found of sanctification and truth”,55 that is, in those Churches and ecclesial communities which are not yet in full communion with the Catholic Church.56 But with respect to these, it needs to be stated that “they derive their efficacy from the very fullness of grace and truth entrusted to the Catholic Church”.57

Umat Katholik perlu untuk mengakui bahwa ada kesinambungan sejarah — yang berakar pada kesinambungan apostolic 53 — antara Gereja yang didirikan oleh Kristus dan Gereja Katholik: "Ini adalah Gereja Kristus yang tunggal... yang oleh Penyelamat kita, setelah kebangkitanNya, dipercayakan dibawah penggembalaan Petrus (cf Yoh 21:17), menyertai dia dan para Rasul lainnya untuk memperluas dan mengaturnya (Gereja) (cf. Mat 28:18 ff.), ditegakkan di segala jaman sebagai 'pilar dan sumber kebenaran' (1 Tim 3:15). Gereja ini, yang didirikan dan diorganisasikan sebagai sebuah komunitas di dunia yang sekarang ini, hadir di dalam dan menghidupi Gereja Katholik, diperintah oleh Penerus dari Petrus dan oleh para Uskup dalam kesatuan dengan Dia". 54 Dengan ungkapan hadir didalam dan menghidupi (subsistit in), Konsili Vatikan Kedua berusaha untuk menyelaraskan dua doktrin: di satu sisi, bahwa Gereja Kristus, meskipun terjadi perpecahan diantara umat Kristen, tetap hadir secara penuh hanya di dalam Gereja Katholik, dan di lain sisi, bahwa "diluar struktur gereja, bisa ditemukan banyak elemen keselamatan dan kebenaran", 55 yaitu di dalam Gereja-Gereja tersebut dan komunitas gereja yang belum berada dalam komuni yang penuh dengan Gereja Katholik. 56 Namun mengenai hal ini, perlu untuk ditegaskan bahwa "mereka mendapatkan keberhasilan dari kepenuhan karunia dan kebenaran yang dikaruniakan kepada Gereja Katholik". 57

17. Therefore, there exists a single Church of Christ, which subsists in the Catholic Church, governed by the Successor of Peter and by the Bishops in communion with him.58 The Churches which, while not existing in perfect communion with the Catholic Church, remain united to her by means of the closest bonds, that is, by apostolic succession and a valid Eucharist, are true particular Churches.59 Therefore, the Church of Christ is present and operative also in these Churches, even though they lack full communion with the Catholic Church, since they do not accept the Catholic doctrine of the Primacy, which, according to the will of God, the Bishop of Rome objectively has and exercises over the entire Church.60

17. Oleh karenanya, hanya ada satu Gereja Kristus, yakni yang hidup di dalam Gereja Katholik, yang dipimpin oleh Penerus Petrus dan oleh para Uskup dalam komuni dengan beliau. 58 Gereja-gereja (yang lain), meskipun hadir tidak dalam komuni penuh dengan Gereja Katholik, tetap bersatu dengannya dengan keterikatan yang erat, yaitu, dengan kepenerusan apostolic dan (Sakramen) Ekaristi yang valid, mereka adalah Gereja Gereja khusus.yang benar (true particular Churches). 59 Dengan demikian, Gereja Kristus hadir dan juga berkarya di dalam Gereja-Gereja ini, meskipun mereka tidak memiliki komuni penuh dengan Gereja Katholik, yakni karena mereka tidak mau menerima doktrin Katholik dari Yang Terutama, Uskup Roma, sesuai dengan keinginan Tuhan, secara objektif telah ditunjuk dan menjalankan kepemimpinan atas seluruh Gereja. 60

On the other hand, the ecclesial communities which have not preserved the valid Episcopate and the genuine and integral substance of the Eucharistic mystery,61 are not Churches in the proper sense; however, those who are baptized in these communities are, by Baptism, incorporated in Christ and thus are in a certain communion, albeit imperfect, with the Church.62 Baptism in fact tends per se toward the full development of life in Christ, through the integral profession of faith, the Eucharist, and full communion in the Church.63

Di lain sisi, komunitas gereja yang tidak memelihara (pewarisan tahta) Uskup yang valid dan tidak memiliki substance sejati yang integral dari misteri Ekaristi, 61 tidak tepat untuk dimengerti sebagai Gereja; walaupun demikian, mereka yang dibaptis dalam komunitas ini, oleh karena Sakramen Pembaptisannya, telah dipersatukan di dalam Kristus sehingga telah berada di dalam sebuah komuni (hubungan) khusus dengan Gereja, sekalipun tidak sempurna. 62 Sakramen Baptis dapat membawa orang kepada kepenuhan hidup di dalam Kristus, melalui pengakuan yang integral dari iman, Sakramen Ekaristi, dan komuni penuh dengan Gereja. 63

“The Christian faithful are therefore not permitted to imagine that the Church of Christ is nothing more than a collection — divided, yet in some way one — of Churches and ecclesial communities; nor are they free to hold that today the Church of Christ nowhere really exists, and must be considered only as a goal which all Churches and ecclesial communities must strive to reach”.64 In fact, “the elements of this already-given Church exist, joined together in their fullness in the Catholic Church and, without this fullness, in the other communities”.65 “Therefore, these separated Churches and communities as such, though we believe they suffer from defects, have by no means been deprived of significance and importance in the mystery of salvation. For the spirit of Christ has not refrained from using them as means of salvation which derive their efficacy from the very fullness of grace and truth entrusted to the Catholic Church”.66

The lack of unity among Christians is certainly a wound for the Church; not in the sense that she is deprived of her unity, but “in that it hinders the complete fulfilment of her universality in history”.67

"Karenanya umat Kristen tidak diperbolehkan untuk membayangkan bahwa Gereja Kristus adalah tidak lebih dari sebuah kumpulan — yang terpecah-pecah, namun dengan cara tertentu dapat dipandang sebagai satu kesatuan — dari Gereja-Gereja dan komunitas gereja; atau mereka bebas percaya bahwa pada hari ini tidak ada Gereja Kristus, dan hanya merupakan sebuah tujuan yang harus diusahakan oleh semua Gereja dan komunitas gereja". 64 Pada kenyataannya, "element-element yang sudah diberikan kepada Gereja ini ada dan dipersatukan dengan kepenuhannya di dalam Gereja Katholik dan tanpa kepenuhan di komunitas yang lainnya". 65 "Maka sebab itu, Gereja-Gereja yang terpisah dari komunitasnya ini, meskipun kita percaya telah mengalami kerusakan, secara tidak sengaja telah kehilangan signifikansi dan kedudukannya di dalam misteri keselamatan. Namun roh Kristus tetap memakai mereka sebagai sarana keselamatan yang mendapatkan ke-efektifan-nya dari kepenuhan mutlak atas karunia dan kebenaran yang diberikan kepada Gereja Katholik". 66

Kurangnya persatuan diantara umat Kristen tentunya adalah sebuah luka bagi Gereja; bukan karena mereka memisahkan diri dari kesatuan dengan Gereja, namun karena "mereka menghalangi kepenuhan sempurna dari ke-universal-an Gereja di dalam sejarah". 67


V. THE CHURCH: KINGDOM OF GOD
AND KINGDOM OF CHRIST

18. The mission of the Church is “to proclaim and establish among all peoples the kingdom of Christ and of God, and she is on earth, the seed and the beginning of that kingdom”.68 On the one hand, the Church is “a sacrament — that is, sign and instrument of intimate union with God and of unity of the entire human race”.69 She is therefore the sign and instrument of the kingdom; she is called to announce and to establish the kingdom. On the other hand, the Church is the “people gathered by the unity of the Father, the Son and the Holy Spirit”;70 she is therefore “the kingdom of Christ already present in mystery”71 and constitutes its seed and beginning. The kingdom of God, in fact, has an eschatological dimension: it is a reality present in time, but its full realization will arrive only with the completion or fulfilment of history.72

V. GEREJA: KERAJAAN ALLAH DAN KERAJAAN KRISTUS

18. Misi dari Gereja adalah "untuk menyatakan dan membangun kerajaan Kristus dan Allah diantara semua manusia, kerajaan yang ada di atas bumi adalah benih dan permulaan dari kerajaan itu". 68 Pada satu sisi, Gereja adalah "sebuah sakramen — yaitu tanda dan sarana kesatuan yang intim dengan Allah dan persatuan dari seluruh umat manusia". 69 Karenanya, Ia (Gereja) adalah tanda dan sarana dari kerajaan; dimana Ia (Gereja) dipanggil untuk mewartakan dan mendirikannya. Pada sisi yang lain, Gereja adalah "kumpulan orang yang dileburkan dengan kesatuan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus"; 70 Ia (Gereja) adalah "kerajaan Kristus yang sekarang telah hadir namun masih menjadi misteri" 71 yang merupakan benih awalnya. Kerajaan Allah, memiliki dimensi eskatologis (akhir jaman): sebuah kenyataan dalam waktu, namun kepenuhan realisasinya hanya akan terjadi bersamaan dengan selesainya sejarah. 72

The meaning of the expressions kingdom of heaven, kingdom of God, and kingdom of Christ in Sacred Scripture and the Fathers of the Church, as well as in the documents of the Magisterium, is not always exactly the same, nor is their relationship to the Church, which is a mystery that cannot be totally contained by a human concept. Therefore, there can be various theological explanations of these terms. However, none of these possible explanations can deny or empty in any way the intimate connection between Christ, the kingdom, and the Church. In fact, the kingdom of God which we know from revelation, “cannot be detached either from Christ or from the Church... If the kingdom is separated from Jesus, it is no longer the kingdom of God which he revealed. The result is a distortion of the meaning of the kingdom, which runs the risk of being transformed into a purely human or ideological goal and a distortion of the identity of Christ, who no longer appears as the Lord to whom everything must one day be subjected (cf. 1 Cor 15:27). Likewise, one may not separate the kingdom from the Church. It is true that the Church is not an end unto herself, since she is ordered toward the kingdom of God, of which she is the seed, sign and instrument. Yet, while remaining distinct from Christ and the kingdom, the Church is indissolubly united to both”.73

Makna dari ungkapan kerajaan surga, kerajaan Allah, dan kerajaan Kristus yang ada di Alkitab dan Bapa Gereja, dan juga dokumen-dokumen Magisterium, tidaklah selalu sama, juga hubungannya dengan Gereja, yang masih sebuah misteri yang tidak dapat dimengerti oleh akal manusia. Karenanya ada banyak penjelasan teologis tentang ungkapan-ungkapan tersebut. Meskipun demikian, tidak satupun dari penjelasan-penjelasan ini bisa mengosongkan hubungan yang erat antara Kristus, kerajaan Nya dan Gereja. Pada kenyataannya, kerajaan Allah yang kita ketahui dari pengungkapan (Yesus), "tidak bisa dipisahkan dari Kristus maupun dari Gereja... Jika kerajaan Allah dipisahkan dari Yesus, maka pastilah apa yang diungkapkan bukanlah kerajaan Allah. Karena hasilnya adalah pengerusakan makna kerajaan Allah, yang beresiko berubah menjadi tujuan yang murni manusiawi atau ideologi dan mendistorsi identitas Kristus, sehingga tidak lagi muncul sebagai Tuhan yang di bawah kakiNya segala sesuatu akan ditaklukkan pada hari yang telah ditentukan (cf. 1 Kor 15:27). Demikianlah juga, kita tidak boleh memisahkan kerajaan Allah dari Gereja. Benarlah bahwa Gereja bukanlah tujuan akhir bagi dirinya sendiri, karena Ia (Gereja) diarahkan kepada kerajaan Allah, dimana Ia (Gereja) adalah benih, tanda dan sarana. Namun, meskipun belum mencapai Kristus dan kerajaan Allah, Gereja secara tidak dapat terpisahkan berada dalam persatuan dengan keduanya".73

19. To state the inseparable relationship between Christ and the kingdom is not to overlook the fact that the kingdom of God — even if considered in its historical phase — is not identified with the Church in her visible and social reality. In fact, “the action of Christ and the Spirit outside the Church's visible boundaries” must not be excluded.74 Therefore, one must also bear in mind that “the kingdom is the concern of everyone: individuals, society and the world. Working for the kingdom means acknowledging and promoting God's activity, which is present in human history and transforms it. Building the kingdom means working for liberation from evil in all its forms. In a word, the kingdom of God is the manifestation and the realization of God's plan of salvation in all its fullness”.75

19. Untuk menyatakan hubungan yang tidak terpisahkan antara Kristus dan kerajaan Allah kita tidak boleh mengesampingkan fakta bahwa kerajaan Allah — meskipun dalam fase historisnya — tidak di-identifikasi dengan Gereja dalam realitanya dan wujudnya yang kelihatan. Pada kenyataannya, "karya pekerjaan Kristus dan Roh di luar batas Gereja yang kelihatan" tidak boleh dikesampingkan. 74 Karenanya, kita harus selalu mengingat bahwa "kerajaan Allah menyangkut semua orang: individu, masyarakat dan dunia. Bekerja bagi kerajaan Allah berarti mengenal dan mengerjakan pekerjaan Allah dalam sejarah manusia dan kemudian mengubahnya.Membangun kerajaan Allah berarti berusaha untuk lepas dari Iblis dalam segala bentuknya. Dalam kata-kata, kerajaan Allah adalah manifestasi dan realisasi rencana Allah bagi keselamatan yang penuh". 75

In considering the relationship between the kingdom of God, the kingdom of Christ, and the Church, it is necessary to avoid one-sided accentuations, as is the case with those “conceptions which deliberately emphasize the kingdom and which describe themselves as ‘kingdom centred.' They stress the image of a Church which is not concerned about herself, but which is totally concerned with bearing witness to and serving the kingdom. It is a ‘Church for others,' just as Christ is the ‘man for others'... Together with positive aspects, these conceptions often reveal negative aspects as well. First, they are silent about Christ: the kingdom of which they speak is ‘theocentrically' based, since, according to them, Christ cannot be understood by those who lack Christian faith, whereas different peoples, cultures, and religions are capable of finding common ground in the one divine reality, by whatever name it is called. For the same reason, they put great stress on the mystery of creation, which is reflected in the diversity of cultures and beliefs, but they keep silent about the mystery of redemption. Furthermore, the kingdom, as they understand it, ends up either leaving very little room for the Church or undervaluing the Church in reaction to a presumed ‘ecclesiocentrism' of the past and because they consider the Church herself only a sign, for that matter a sign not without ambiguity”.76 These theses are contrary to Catholic faith because they deny the unicity of the relationship which Christ and the Church have with the kingdom of God.

Dengan mempertimbangkan hubungan antara kerajaan Allah, kerajaan Kristus dan Gereja, perlu untuk dihindari penekanan yang berat sebelah, seperti halnya "konsep-konsep yang dengan sengaja menekankan pentingnya kerajaan Allah dan kemudian menggambarkan diri mereka sendiri sebagai 'orang-orang yang peduli dengan kerajaan Allah'. Mereka menekankan pentingnya image Gereja, yang tidak peduli terhadap Gereja itu sendiri, namun secara total giat memberikan kesaksian dan melayani kerajaan Allah. Ini adalah gambaran sebuah 'Gereja bagi orang lain', sama seperti Kristus adalah 'manusia bagi orang lain'... Dan bersama-sama dengan konsep-konsep yang lain, konsep-konsep ini sering menimbulkan aspek-aspek negatif lainnya. Pertama, mereka diam terhadap Kristus: kerajaan (Kristus) yang mereka ceritakan hanya memiliki dasar 'theori' saja, karena menurut mereka Kristus tidak bisa dimengerti oleh mereka yang tidak memiliki iman yang kuat, namun di sisi lain, banyak orang, kebudayaan, dan agama lain mampu untuk menemukan dasar pijakan bersama bagi realitas ilahi tersebut, tidak peduli istilah yang digunakan. Untuk alasan yang sama, mereka menekankan pentingnya misteri penciptaan, yang tergambar pada keaneka-ragaman budaya dan kepercayaan, namun mereka diam terhadap misteri penebusan. Lebih lanjut lagi, kerajaan Allah, seperti dalam pengertian mereka, membuat nilai Gereja menjadi sangat kecil atau menurunkan peran Gereja sebagai reaksi dari issue 'sentralisasi gereja' yang timbul di waktu lampau dan karena mereka menganggap Gereja sendiri hanyalah sebuah tanda, pandangan yang tetap menimbulkan makna ganda yang membingungkan". 76 Pandangan-pandangan ini berlawanan dengan iman Katholik karena mereka menolak adanya kesatuan dalam hubungan antara Kristus dan Gereja dengan kerajaan Allah.


VI. THE CHURCH AND THE OTHER RELIGIONS
IN RELATION TO SALVATION

20. From what has been stated above, some points follow that are necessary for theological reflection as it explores the relationship of the Church and the other religions to salvation.

Above all else, it must be firmly believed that “the Church, a pilgrim now on earth, is necessary for salvation: the one Christ is the mediator and the way of salvation; he is present to us in his body which is the Church. He himself explicitly asserted the necessity of faith and baptism (cf. Mk 16:16; Jn 3:5), and thereby affirmed at the same time the necessity of the Church which men enter through baptism as through a door”.77 This doctrine must not be set against the universal salvific will of God (cf. 1 Tim 2:4); “it is necessary to keep these two truths together, namely, the real possibility of salvation in Christ for all mankind and the necessity of the Church for this salvation”.78

VI GEREJA DAN AGAMA-AGAMA LAIN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KESELAMATAN

20. Dari apa yang telah dinyatakan diatas, dapat diberikan beberapa point yang perlu bagi refleksi teologis, karena point-point ini menggali hubungan antara Gereja dan agama-agama lain dengan keselamatan.

Diatas segalanya, kita harus memegang teguh bahwa "Gereja, sebuah perjalanan ziarah di dunia, yang perlu bagi keselamatan: Kristus adalah mediator satu-satunya dan jalan keselamatan; Ia hadir kepada kita dalam wujud tubuhNya yaitu Gereja. Ia sendiri secara jelas menekankan pentingnya imam dan pembaptisan (cf. Mar 16;16;Yoh 3:5), dan pada saat yang sama menekankan pentingnya Gereja yang ke dalamnya manusia masuk melalui (sakramen) pembabtisan seperti melalui sebuah pintu". 77 Doktrin ini tidak boleh dipergunakan berlawanan dengan karya penyelamatan universal Allah (cf. 1 Tim 2:4); "penting untuk menjaga dua kebenaran ini secara bersamaan, yaitu kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus bagi seluruh umat manusia dan pentingnya Gereja bagi keselamatan tersebut". 78

The Church is the “universal sacrament of salvation”,79 since, united always in a mysterious way to the Saviour Jesus Christ, her Head, and subordinated to him, she has, in God's plan, an indispensable relationship with the salvation of every human being.80 For those who are not formally and visibly members of the Church, “salvation in Christ is accessible by virtue of a grace which, while having a mysterious relationship to the Church, does not make them formally part of the Church, but enlightens them in a way which is accommodated to their spiritual and material situation. This grace comes from Christ; it is the result of his sacrifice and is communicated by the Holy Spirit”;81 it has a relationship with the Church, which “according to the plan of the Father, has her origin in the mission of the Son and the Holy Spirit”.82

Gereja adalah "sakramen universal bagi keselamatan", 79 karena selalu bersatu secara misterius dengan Yesus Kristus Sang Penyelamat, sang Pemimpin Gereja, dengan selalu menundukkan diri kepadaNya, Gereja, didalam rencana Allah, memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan keselamatan setiap manusia. 80 Bagi mereka yang tidak termasuk sebagai anggota Gereja baik secara formal maupun yang kelihatan, "keselamatan dalam Kristus dapat diperoleh melalui kebaikan rahmat, yang menerangi mereka dalam situasi spiritual dan material mereka, dimana secara misterius mereka terhubung dengan Gereja, namun tidak secara formal masuk sebagai anggota Gereja. Rahmat ini berasal dari Kristus, ini adalah buah dari pengorbananNya dan disampaikan melalui Roh Kudus"; 81 Rahmat ini juga berhubungan dengan Gereja, yang "sesuai dengan rencana Bapa, Gereja berasal dari misi (penyelamatan) sang Putera dan Roh Kudus". 82

21. With respect to the way in which the salvific grace of God — which is always given by means of Christ in the Spirit and has a mysterious relationship to the Church — comes to individual non-Christians, the Second Vatican Council limited itself to the statement that God bestows it “in ways known to himself”.83 Theologians are seeking to understand this question more fully. Their work is to be encouraged, since it is certainly useful for understanding better God's salvific plan and the ways in which it is accomplished. However, from what has been stated above about the mediation of Jesus Christ and the “unique and special relationship”84 which the Church has with the kingdom of God among men — which in substance is the universal kingdom of Christ the Saviour — it is clear that it would be contrary to the faith to consider the Church as one way of salvation alongside those constituted by the other religions, seen as complementary to the Church or substantially equivalent to her, even if these are said to be converging with the Church toward the eschatological kingdom of God.

21. Mengenai cara Allah menyampaikan rahmat keselamatannya kepada individu non-Kristen — yang selalu diberikan lewat perantaraan Kristus di dalam Roh dan memiliki hubungan yang misterius dengan Gereja — Konsili Vatikan Kedua membatasi diri pada pernyataan bahwa Allah menganugerahkannya "dengan cara yang hanya diketahui olehNya sendiri". 83 Para theolog berusaha untuk mengerti pertanyaan ini lebih lanjut. Pekerjaan ini menjadi lebih penting lagi, karena pasti akan berguna untuk lebih mengerti rencana penyelamatan Allah dan bagaimana hal-hal tersebut dijalankan. Walaupun demikian, dari apa yang sudah dituliskan diatas tentang mediasi Yesus Kristus dan "hubungan yang unik dan spesial" 84 yang dimiliki oleh Gereja dalam wujud kerajaan Allah diantara manusia — yang secara substansi adalah kerajaan universal Kristus sang Penyelamat — jelaslah bahwa akan sangat berlawanan dengan iman bila kita berpendapat bahwa Gereja adalah salah satu alternatif jalan keselamatan bersama-sama dengan yang ditawarkan oleh agama-agama lain, yang dipandang sebagai pelengkap bagi Gereja atau secara substansial sederajat dengan Gereja, meskipun hal ini dikatakan dengan maksud membawa Gereja kepada kerajaan eskatologis Allah.

Certainly, the various religious traditions contain and offer religious elements which come from God,85 and which are part of what “the Spirit brings about in human hearts and in the history of peoples, in cultures, and religions”.86 Indeed, some prayers and rituals of the other religions may assume a role of preparation for the Gospel, in that they are occasions or pedagogical helps in which the human heart is prompted to be open to the action of God.87 One cannot attribute to these, however, a divine origin or an ex opere operato salvific efficacy, which is proper to the Christian sacraments.88 Furthermore, it cannot be overlooked that other rituals, insofar as they depend on superstitions or other errors (cf. 1 Cor 10:20-21), constitute an obstacle to salvation.89

Tentunya, berbagai tradisi religius memiliki dan menawarkan elemen-elemen religius yang juga berasal dari Allah, 85 dan juga adalah bagian dari "Roh yang ada di dalam hati manusia dan sejarah manusia, di dalam kebudayaan dan agama-agama". 86 Tentu, beberapa doa dan ritual yang ada di agama-agama lain dapat dianggap sebagai persiapan bagi Injil (Kabar Gembira), dimana upacara dan pendidikan yang mereka lakukan membantu membuka hati manusia sehingga Allah bisa bekerja. 87 Namun seseorang tidak dapat menghubungkan, keselamatan yang berasal dari ilahi atau yang bersifat ex opere operato, yang hanya layak dimiliki oleh sakramen-sakramen Kristen, kepada hal-hal tersebut. 88 Lebih jauh lagi, perlu diwaspadai bahwa ritual-ritual yang lain, sejauh mereka bergantung pada tahayul atau kesalahan-kesalahan lain (cf. 1 Kor 10:20-21), mengandung halangan bagi keselamatan. 89

22. With the coming of the Saviour Jesus Christ, God has willed that the Church founded by him be the instrument for the salvation of all humanity (cf. Acts 17:30-31).90 This truth of faith does not lessen the sincere respect which the Church has for the religions of the world, but at the same time, it rules out, in a radical way, that mentality of indifferentism “characterized by a religious relativism which leads to the belief that ‘one religion is as good as another'”.91 If it is true that the followers of other religions can receive divine grace, it is also certain that objectively speaking they are in a gravely deficient situation in comparison with those who, in the Church, have the fullness of the means of salvation.92 However, “all the children of the Church should nevertheless remember that their exalted condition results, not from their own merits, but from the grace of Christ. If they fail to respond in thought, word, and deed to that grace, not only shall they not be saved, but they shall be more severely judged”.93 One understands then that, following the Lord's command (cf. Mt 28:19-20) and as a requirement of her love for all people, the Church “proclaims and is in duty bound to proclaim without fail, Christ who is the way, the truth, and the life (Jn 14:6). In him, in whom God reconciled all things to himself (cf. 2 Cor 5:18-19), men find the fullness of their religious life”.94

22. Dengan kedatangan Yesus Kristus Sang Penyelamat, Allah berkeinginan bahwa Gereja yang didirikan olehNya menjadi instrumen bagi keselamatan seluruh manusia (cf. Kis 17:30-31). 90 Kebenaran iman ini tidak mengurangi rasa hormat yang tulus dari Gereja kepada agama-agama di dunia, sebaliknya, namun menghilangkan mentalitas indifferentisme, dengan cara yang radikal, yaitu "karakter relativisme agama yang percaya bahwa 'satu agama sama baiknya dengan yang lain'". 91 Jika benar bahwa pengikut-pengikut agama lain dapat menerima rahmat ilahi, secara objective dapat dikatakan bahwa mereka tentu juga berada dalam situasi yang amat kekurangan, dibandingkan dengan mereka, yang di dalam Gereja memiliki kepenuhan sarana keselamatan. 92 Walaupun demikian, "seluruh putera Gereja harus mengingat bahwa kondisi mereka yang lebih baik tersebut tidak berasal dari usaha mereka sendiri, namun berasal dari rahmat Kristus. Jika mereka tidak berhasil menjawab rahmat tersebut dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, tidak saja mereka tidak akan diselamatkan, namun mereka akan dihakimi dengan lebih keras". 93 Sehingga kita bisa mengerti bahwa, untuk melaksanakan perintah Tuhan (cf. Mat 28:19-20) sebagai wujud cintanya kepada semua orang, Gereja "mewartakan dan adalah tugasnya untuk mewartakan tanpa kesalahan, Yesus yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup (Yoh 14:6). Di dalam Dia, dimana Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya (cf. 2 Kor 5:18-19), manusia menemukan kepenuhan kehidupan religiusnya". 94

In inter-religious dialogue as well, the mission ad gentes “today as always retains its full force and necessity”.95 “Indeed, God ‘desires all men to be saved and come to the knowledge of the truth' (1 Tim 2:4); that is, God wills the salvation of everyone through the knowledge of the truth. Salvation is found in the truth. Those who obey the promptings of the Spirit of truth are already on the way of salvation. But the Church, to whom this truth has been entrusted, must go out to meet their desire, so as to bring them the truth. Because she believes in God's universal plan of salvation, the Church must be missionary”.96 Inter-religious dialogue, therefore, as part of her evangelizing mission, is just one of the actions of the Church in her mission ad gentes.97 Equality, which is a presupposition of inter-religious dialogue, refers to the equal personal dignity of the parties in dialogue, not to doctrinal content, nor even less to the position of Jesus Christ — who is God himself made man — in relation to the founders of the other religions. Indeed, the Church, guided by charity and respect for freedom,98 must be primarily committed to proclaiming to all people the truth definitively revealed by the Lord, and to announcing the necessity of conversion to Jesus Christ and of adherence to the Church through Baptism and the other sacraments, in order to participate fully in communion with God, the Father, Son and Holy Spirit. Thus, the certainty of the universal salvific will of God does not diminish, but rather increases the duty and urgency of the proclamation of salvation and of conversion to the Lord Jesus Christ.

Dalam dialog antar-agama, dan juga mission ad gentes "pada hari ini, selalu memiliki kekuatan yang hebat dan sangat dibutuhkan". 95 "Benar bahwa Tuhan 'menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran' (1 Tim 2:4); yaitu, Tuhan menginginkan keselamatan semua orang melalui pengetahuan akan kebenaran. Keselamatan bisa didapatkan di dalam kebenaran. Mereka yang mematuhi petunjuk dari Roh kebenaran sudah berada dalam jalur keselamatan. Namun Gereja, kepada siapa kebenaran ini telah dipercayakan, harus keluar untuk memenuhi keinginan mereka ini, yaitu membawa mereka kepada kebenaran. Karena Gereja percaya pada rencana penyelamatan universal Allah, maka Gereja harus bersifat misioner". 96 Karenanya dialog antar-agama, sebagai bagian dari misi evangelisasi Gereja, adalah salah satu tindakan yang dilakukan Gereja dalam mision ad gentes Gereja. 97 Kesamaan, sebagai dasar dari dialog antar agama, harus mengacu kepada kesetaraan derajat kemanusiaan setiap pihak yang ikut berdialog, bukan pada isi doktrinnya, atau pada posisi Yesus Kristus — yang adalah Allah yang menjelma menjadi manusia — dalam hubungannya dengan para penemu agama-agama yang lain. Gereja, dibimbing oleh kemurahan hati dan penghormatan atas kebebasan, 98 harus berkomitment untuk mewartakan kepada semua orang kebenaran yang telah diungkapkan oleh Tuhan, dan menyatakan keharusan untuk beralih kepda Yesus Kristus dan menyatu dengan Gereja melalui (sakramen) Pembaptisan dan sakramen-sakramen lainnya, agar dapat berpartisipasi secara penuh dengan Tuhan, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sehingga kepastian karya penyelamatan universal Allah tidak surut, malahan akan meningkatkan beban dan kepentingan dari pewartaan keselamatan dan beralih kepada Tuhan Yesus Kristus.


CONCLUSION

23. The intention of the present Declaration, in reiterating and clarifying certain truths of the faith, has been to follow the example of the Apostle Paul, who wrote to the faithful of Corinth: “I handed on to you as of first importance what I myself received” (1 Cor 15:3). Faced with certain problematic and even erroneous propositions, theological reflection is called to reconfirm the Church's faith and to give reasons for her hope in a way that is convincing and effective.

KESIMPULAN

23. Tujuan dari Deklarasi ini, dengan mengulangi dan menjelaskan kembali kebenaran-kebenaran tentang iman, adalah untuk mengikuti contoh dari Rasul Paulus, yang menulis kepada umat di Korintus: "Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri" (1 Kor 15:3). Dihadapkan dengan beberapa problem dan prinsip-prinsip yang salah, refleksi teologis sekali lagi dipanggil untuk menegaskan iman Gereja dan untuk memberikan alasan-alasan bagi pengharapan Gereja dengan cara yang punya kharisma dan effektif.

In treating the question of the true religion, the Fathers of the Second Vatican Council taught: “We believe that this one true religion continues to exist in the Catholic and Apostolic Church, to which the Lord Jesus entrusted the task of spreading it among all people. Thus, he said to the Apostles: ‘Go therefore and make disciples of all nations baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit, teaching them to observe all that I have commanded you' (Mt 28: 19-20). Especially in those things that concern God and his Church, all persons are required to seek the truth, and when they come to know it, to embrace it and hold fast to it”.99

Perlakuan terhadap pertanyaan agama sejati, Bapa dari Konsili Vatikan Kedua mengajarkan: "Kami percaya bahwa agama sejati yang satu tersebut terus berada di dalam Gereja yang Katholik dan Apostolik, yang kepadanya Tuhan Yesus mempercayakan tugas untuk menyebarkan kepada semua orang. Lalu, Ia berkata kepada para Rasul: 'Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu' (Mat 28:19-20). Terutama dalam hal-hal yang menyangkut Tuhan dan GerejaNya, semua orang diharuskan untuk mencari kebenaran, dan setelah mereka mengetahuinya, mereka harus menjaga dan memegangnya dengan teguh". 99

The revelation of Christ will continue to be “the true lodestar” 100 in history for all humanity: “The truth, which is Christ, imposes itself as an all-embracing authority”. 101 The Christian mystery, in fact, overcomes all barriers of time and space, and accomplishes the unity of the human family: “From their different locations and traditions all are called in Christ to share in the unity of the family of God's children... Jesus destroys the walls of division and creates unity in a new and unsurpassed way through our sharing in his mystery. This unity is so deep that the Church can say with Saint Paul: ‘You are no longer strangers and sojourners, but you are saints and members of the household of God' (Eph 2:19)”. 102

Pengungkapan diri Kristus akan terus menjadi "bintang penuntun yang sejati" 100 di dalam sejarah seluruh umat manusia. "Sang Kebenaran, yaitu Kristus, mengangkat diriNya sendiri sebagai autoritas yang merangkul semuanya". 101Misteri keKristenan sendiri, melampaui segala rintangan waktu dan tempat, dan menyempurnakan persatuan seluruh umat manusia: "Dari tempat dan tradisi yang berbeda semuanya dipanggil di dalam Kristus untuk berbagi di dalam persatuan keluarga anak-anak Allah... Yesus menghancurkan tembok-tembok pemisah dan menciptakan kesatuan dalam kebersamaan dalam misteriNya yang tidak terlampaui. Penyatuan ini begitu dalam sehingga Gereja dapat berkata kepada Santo Paulus: 'Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah' (Ef 2:19)". 102

The Sovereign Pontiff John Paul II, at the Audience of June 16, 2000, granted to the undersigned Cardinal Prefect of the Congregation for the Doctrine of the Faith, with sure knowledge and by his apostolic authority, ratified and confirmed this Declaration, adopted in Plenary Session and ordered its publication.

Paus yang berdaulat Yohanes Paulus II, pada Audiensi tanggal 16 Juni, 2000, telah memberikan kepada Kepala Kardinal dari Kongregasi Doktrin Iman yang bertanda tangan dibawah ini, dengan benar-benar sepengetahuan dan dengan kekuasaan apostoliknya, mengesahkan dan memperkuat Deklarasi ini, yang diangkat dari Sesi Paripurna dan memerintahkan untuk dipublikasikan.

Rome, from the Offices of the Congregation for the Doctrine of the Faith, August 6, 2000, the Feast of the Transfiguration of the Lord.


Joseph Card. Ratzinger
Prefect

Tarcisio Bertone, S.D.B.
Archbishop Emeritus of Vercelli
Secretary


Roma, dari Tahta Kongregasi Doktrin Iman, 6 Agustus, 2000, Pesta Transfiguration (perubahan bentuk) dari Tuhan.

Joseph Kardinal Ratzinger
Kepala

Tarcisio Bertone, S.D.B.
Uskup Agung Emeritus dari Vercelli
Sekretaris


--------------------------------------------------------------------------------

(1) First Council of Constantinople, Symbolum Constantinopolitanum: DS 150.
(2) Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 1: AAS 83 (1991), 249-340.
(3) Cf. Second Vatican Council, Decree Ad gentes and Declaration Nostra aetate; cf. also Paul VI Apostolic Exhortation Evangelii nuntiandi: AAS 68 (1976), 5-76; John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio.
(4) Second Vatican Council, Declaration Nostra aetate, 2.
(5) Pontifical Council for Inter-religious Dialogue and the Congregation for the Evangelization of Peoples, Instruction Dialogue and Proclamation, 29: AAS 84 (1992), 424; cf. Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 22.
(6) Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 55: AAS 83 (1991), 302-304.
(7) Cf. Pontifical Council for Inter-religious Dialogue and the Congregation for the Evangelization of Peoples, Instruction Dialogue and Proclamation, 9: AAS 84 (1992), 417ff.
(8) John Paul II, Encyclical Letter Fides et ratio, 5: AAS 91 (1999), 5-88.
(9) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Dei verbum, 2.
(10) Ibid., 4.
(11) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 5.
(12) John Paul II, Encyclical Letter Fides et ratio, 14.
(13) Council of Chalcedon, Symbolum Chalcedonense: DS 301; cf. St. Athanasius, De Incarnatione, 54, 3: SC 199, 458.
(14) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Dei verbum, 4.
(15) Ibid., 5.
(16) Ibid.
(17) Cf. Catechism of the Catholic Church, 144.
(18) Ibid., 150.
(19) Ibid., 153.
(20) Ibid., 178.
(21) John Paul II, Encyclical Letter Fides et ratio, 13.
(22) Cf. ibid., 31-32.
(23) Second Vatican Council, Declaration Nostra aetate, 2; cf. Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 9, where it speaks of the elements of good present “in the particular customs and cultures of peoples”; Dogmatic Constitution Lumen gentium, 16, where it mentions the elements of good and of truth present among non-Christians, which can be considered a preparation for the reception of the Gospel.
(24) Cf. Council of Trent, Decretum de libris sacris et de traditionibus recipiendis: DS 1501; First Vatican Council, Dogmatic Constitution Dei Filius, cap. 2: DS 3006.
(25) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Dei verbum, 11.
(26) Ibid.
(27) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 55; cf. 56 and Paul VI, Apostolic Exhortation Evangelii nuntiandi, 53.
(28) First Council of Nicaea, Symbolum Nicaenum: DS 125.
(29) Council of Chalcedon, Symbolum Chalcedonense: DS 301.
(30) Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 22.
(31) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 6.
(32) Cf. St. Leo the Great, Tomus ad Flavianum: DS 294.
(33) Cf. St. Leo the Great, Letter to the Emperor Leo I Promisisse me memini: DS 318: “...in tantam unitatem ab ipso conceptu Virginis deitate et humanitate conserta, ut nec sine homine divina, nec sine Deo agerentur humana”. Cf. also ibid. DS 317.
(34) Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 45; cf. also Council of Trent, Decretum de peccato originali, 3: DS 1513.
(35) Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 3-4.
(36) Cf. ibid., 7; cf. St. Irenaeus, who wrote that it is in the Church “that communion with Christ has been deposited, that is to say: the Holy Spirit” (Adversus haereses III, 24, 1: SC 211, 472).
(37) Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 22.
(38) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 28. For the “seeds of the Word” cf. also St. Justin Martyr, Second Apology 8, 1-2; 10, 1-3; 13, 3-6: ed. E.J. Goodspeed, 84; 85; 88-89.
(39) Cf. John Paul II, Encyclical Letter, Redemptoris missio, 28-29.
(40) Ibid., 29.
(41) Ibid., 5.
(42) Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 10. Cf. St. Augustine, who wrote that Christ is the way, which “has never been lacking to mankind... and apart from this way no one has been set free, no one is being set free, no one will be set free” De civitate Dei 10, 32, 2: CCSL 47, 312.
(43) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 62.
(44) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 5.
(45) Second Vatican Council, Pastoral Constitution Gaudium et spes, 45. The necessary and absolute singularity of Christ in human history is well expressed by St. Irenaeus in contemplating the preeminence of Jesus as firstborn Son: “In the heavens, as firstborn of the Father's counsel, the perfect Word governs and legislates all things; on the earth, as firstborn of the Virgin, a man just and holy, reverencing God and pleasing to God, good and perfect in every way, he saves from hell all those who follow him since he is the firstborn from the dead and Author of the life of God” (Demonstratio apostolica, 39: SC 406, 138).
(46) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 6.
(47) Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 14.
(48) Cf. ibid., 7.
(49) Cf. St. Augustine, Enarratio in Psalmos, Ps. 90, Sermo 2,1: CCSL 39, 1266; St. Gregory the Great, Moralia in Iob, Praefatio, 6, 14: PL 75, 525; St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, III, q. 48, a. 2 ad 1.
(50) Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 6.
(51) Symbolum maius Ecclesiae Armeniacae: DS 48. Cf. Boniface VIII, Unam sanctam: DS 870-872; Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 8.
(52) Cf. Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 4; John Paul II, Encyclical Letter Ut unum sint, 11: AAS 87 (1995), 927.
(53) Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 20; cf. also St. Irenaeus, Adversus haereses, III, 3, 1-3: SC 211, 20-44; St. Cyprian, Epist. 33, 1: CCSL 3B, 164-165; St. Augustine, Contra adver. legis et prophet., 1, 20, 39: CCSL 49, 70.
(54) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 8.
(55) Ibid.; cf. John Paul II, Encyclical Letter Ut unum sint, 13. Cf. also Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 15 and the Decree Unitatis redintegratio, 3.
(56) The interpretation of those who would derive from the formula subsistit in the thesis that the one Church of Christ could subsist also in non-Catholic Churches and ecclesial communities is therefore contrary to the authentic meaning of Lumen gentium. “The Council instead chose the word subsistit precisely to clarify that there exists only one ‘subsistence' of the true Church, while outside her visible structure there only exist elementa Ecclesiae, which — being elements of that same Church — tend and lead toward the Catholic Church” (Congregation for the Doctrine of the Faith, Notification on the Book “Church: Charism and Power” by Father Leonardo Boff: AAS 77 [1985], 756-762).
(57) Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 3.
(58) Cf. Congregation for the Doctrine of the Faith, Declaration Mysterium Ecclesiae, 1: AAS 65 (1973), 396-398.
(59) Cf. Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 14 and 15; Congregation for the Doctrine of the Faith, Letter Communionis notio, 17: AAS 85 (1993), 848.
(60) Cf. First Vatican Council, Constitution Pastor aeternus: DS 3053-3064; Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 22.
(61) Cf. Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 22.
(62) Cf. ibid., 3.
(63) Cf. ibid., 22.
(64) Congregation for the Doctrine of the Faith, Declaration Mysterium Ecclesiae, 1.
(65) John Paul II, Encyclical Letter Ut unum sint, 14.
(66) Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 3.
(67) Congregation for the Doctrine of the Faith, Letter Communionis notio, 17; cf. Second Vatican Council, Decree Unitatis redintegratio, 4.
(68) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 5.
(69) Ibid., 1.
(70) Ibid., 4. Cf. St. Cyprian, De Dominica oratione 23: CCSL 3A, 105.
(71) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 3.
(72) Cf. ibid., 9; cf. also the prayer addressed to God found in the Didache 9,4: SC 248, 176: “May the Church be gathered from the ends of the earth into your kingdom” and ibid. 10, 5: SC 248, 180: “Remember, Lord, your Church... and, made holy, gather her together from the four winds into your kingdom which you have prepared for her”.
(73) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 18; cf. Apostolic Exhortation Ecclesia in Asia, 17: L'Osservatore Romano (November 7, 1999). The kingdom is so inseparable from Christ that, in a certain sense, it is identified with him (cf. Origen, In Mt. Hom., 14, 7: PG 13, 1197; Tertullian, Adversus Marcionem, IV, 33,8: CCSL 1, 634.
(74) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 18.
(75) Ibid., 15.
(76) Ibid., 17.
(77) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 14; cf. Decree Ad gentes, 7; Decree Unitatis redintegratio, 3.
(78) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 9; cf. Catechism of the Catholic Church, 846-847.
(79) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 48.
(80) Cf. St. Cyprian, De catholicae ecclesiae unitate, 6: CCSL 3, 253-254; St. Irenaeus, Adversus haereses, III, 24, 1: SC 211, 472-474.
(81) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 10.
(82) Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 2. The famous formula extra Ecclesiam nullus omnino salvatur is to be interpreted in this sense (cf. Fourth Lateran Council, Cap. 1. De fide catholica: DS 802). Cf. also the Letter of the Holy Office to the Archbishop of Boston: DS 3866-3872.
(83) Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 7.
(84) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 18.
(85) These are the seeds of the divine Word (semina Verbi), which the Church recognizes with joy and respect (cf. Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 11; Declaration Nostra aetate, 2).
(86) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 29.
(87) Cf. ibid.; Catechism of the Catholic Church, 843.
(88) Cf. Council of Trent, Decretum de sacramentis, can. 8, de sacramentis in genere: DS 1608.
(89) Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 55.
(90) Cf. Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 17; John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 11.
(91) John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 36.
(92) Cf. Pius XII, Encyclical Letter Mystici corporis: DS 3821.
(93) Second Vatican Council, Dogmatic Constitution Lumen gentium, 14.
(94) Second Vatican Council, Declaration Nostra aetate, 2.
(95) Second Vatican Council, Decree Ad gentes, 7.
(96) Catechism of the Catholic Church, 851; cf. also 849-856.
(97) Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris missio, 55; Apostolic Exhortation Ecclesia in Asia, 31.
(98) Cf. Second Vatican Council, Declaration Dignitatis humanae, 1.
(99) Ibid.
(100) John Paul II, Encyclical Letter Fides et ratio, 15.
(101) Ibid., 92.
(102) Ibid., 70.
Image
- O -
 
Posts: 318
Joined: Fri Feb 13, 2004 2:27 pm

Postby nirwana » Thu Jul 28, 2005 5:30 pm

Baca yg singkat saja, mungkin lebih berguna.

105. PASAR MALAM AGAMA

Aku dan temanku pergi ke 'Pasar malam agama.' Bukan pasar
dagang. Pasar agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya,
propagandanya pun sama hebatnya.

Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa
Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat
pilihanNya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang
terpilih seperti bangsa Yahudi.

Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang
dan Muhammad ialah nabiNya. Keselamatan diperoleh dengan
mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.

Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan
bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silahkan
mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil risiko
masuk neraka.

Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: 'Apakah
pendapatmu tentang Tuhan?' Jawabnya: 'Rupanya Ia penipu,
fanatik dan bengis.'

Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: 'Bagaimana Engkau
bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah Engkau
tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan
jelek kepadaMu?'

Tuhan berkata: 'Bukan Aku yang mengadakan 'Pasar malam
agama' itu. Aku bahkan merasa terlalu malu untuk
mengunjunginya.'

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ,
Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)
nirwana
 
Posts: 10
Joined: Fri Jun 17, 2005 10:25 am

Postby spongebob » Fri Jul 29, 2005 7:08 am

nirwana wrote:Baca yg singkat saja, mungkin lebih berguna.

105. PASAR MALAM AGAMA

Aku dan temanku pergi ke 'Pasar malam agama.' Bukan pasar
dagang. Pasar agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya,
propagandanya pun sama hebatnya.

Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa
Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat
pilihanNya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang
terpilih seperti bangsa Yahudi.

Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang
dan Muhammad ialah nabiNya. Keselamatan diperoleh dengan
mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.

Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan
bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silahkan
mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil risiko
masuk neraka.

Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: 'Apakah
pendapatmu tentang Tuhan?' Jawabnya: 'Rupanya Ia penipu,
fanatik dan bengis.'

Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: 'Bagaimana Engkau
bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah Engkau
tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan
jelek kepadaMu?'

Tuhan berkata: 'Bukan Aku yang mengadakan 'Pasar malam
agama' itu. Aku bahkan merasa terlalu malu untuk
mengunjunginya.'

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ,
Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)


De Mello mendapat peringatan dari Vatican.
Tulisan-tulisan beliau 'berbahaya' untuk umat yang kurang paham.
Mohon hati-hati.
Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia ...
spongebob
 
Posts: 119
Joined: Fri Nov 26, 2004 10:11 am

Re: Keselamatan diluar Yesus Kristus

Postby Alfonsus » Fri Jul 29, 2005 3:02 pm

Sdr. sioeliong,

Apa yang dikatakan saudara anda adalah kesimpulan yang salah, atau mungkin juga artikulasi yang tidak tepat.

Gereja Katolik mengafirmasi bahwa Allah mampu memberi keselamatan secara bebas, juga kepada siapa yang bukan karena kesalahannya sendiri berada di luar Gereja (bukan anggota Gereja).
Keselamatan yang mereka terima ini, adalah berkat wafat dan kebangkitan Kristus.

Tapi anda harus hati-hati juga untuk tidak mengambil kesimpulan yang salah, sebab pernyataan di atas tidak mengatakan bahwa seseorang tidak perlu menjadi anggota Gereja atau tidak perlu mengenal Kristus.

Pernyataan di atas tidak lebih dari pernyataan bahwa di dalam Gereja ada jalan keselamatan yang pasti, sementara bagi mereka yang mengakhiri hidupnya di luar Gereja tanpa mengenal kepenuhan wahyu dalam Kristus, Gereja percayakan kepada kerahiman Allah semata.

Tapi Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa ada keselamatan terlepas dari Kristus.

Dokumen Dominus Iesus yang dipost mengafirmasi hal ini.

Karena itu, apa yang anda sampaikan bukan dari sumber informasi yang tepat dan tidak pernah diajarkan Gereja Katolik.

Saudara anda mengartikulasikan secara salah, bahwa di luar Gereja sama dengan tanpa atau di luar rahmat Allah melalui Kristus.


sioeliong wrote:Buat rekan-rekan katolik,

Saudara saya adalah jemaat awan Roma Katolik, menyampaikan bahwa diluar Yesus Kristus ada jalan keselamatan.
(kalau tidak salah ini hasil dari konsili vatikan II)

Saat saya tanya lebih jauh, saya tidak mendapat jawaban yg memuaskan
Mohon bantuan kalau ada pastur atu rekan yg memiliki copy keputusan konsili tersebut dan penjelasannya.

THX
:)
Alfonsus
 
Posts: 397
Joined: Fri Jul 04, 2003 1:16 pm
Location: Jakarta

Postby - O - » Fri Jul 29, 2005 5:33 pm

Kisah tentang pasar malam agama itu baik sebagai wacana bahwa kita sebaiknya selalu berusaha mencari persatuan dalam kebenaran. Bukan gontok-gontokan, adu glamour demi nama agama.

Cuman hati-hati saja jangan diartikan bahwa agama itu hanya atribut belaka. dimana doktrin-doktrinnya bersifat dan bertujuan untuk agama itu sendiri.
Konsep keKristenan yang baik tidak akan mengadopsi cara-cara seperti ini. Kristen adalah untuk Kristus, Gereja ada dan hanya ada untuk Kristus.
Menyelesaikan karya Kristus (Kol 1:24).
Image
- O -
 
Posts: 318
Joined: Fri Feb 13, 2004 2:27 pm

Re: Keselamatan diluar Yesus Kristus

Postby tiwul » Sun Jul 31, 2005 1:33 am

sioeliong wrote:Buat rekan-rekan katolik,

Saudara saya adalah jemaat awan Roma Katolik, menyampaikan bahwa diluar Yesus Kristus ada jalan keselamatan.
(kalau tidak salah ini hasil dari konsili vatikan II)

Saat saya tanya lebih jauh, saya tidak mendapat jawaban yg memuaskan
Mohon bantuan kalau ada pastur atu rekan yg memiliki copy keputusan konsili tersebut dan penjelasannya.

THX
:)


Tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus. Yg ada dan mungkin sekali yg sering di salah artikan oleh banyak org adalah ajaran Gereja Katolik yg mengatakan bahwa org yg tidak pernah mengenal Yesus Kristus atau bahkan org yg bukan karena kesalahannya sendiri tidak tahu dan sadar bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Putra Allah yg turun ke bumi dan karena nya tidak menjadi Kristen bisa mendapatkan keselamatan.

Tapi keselamatan ini tidak akan didapat tanpa jasa penebusan Kristus di kayu salib. Jadi semua yg nantinya selamat hanya selamat karena Yesus Kristus dan di dalam Yesus Kristus.

Salam...
tiwul
 
Posts: 1541
Joined: Wed Jul 14, 2004 3:05 pm

Postby sioeliong » Mon Aug 01, 2005 9:19 am

Sdr O,
Terima kasih untuk kutipan lengkapnya dari dokumen diatas.
Saya sudah print out dan sedang mempelajarinya.

Dalam gereja Kristen, saya memahami:
1. Keselamatan hanya bisa melalui, oleh dan didalam karya Yesus Kristus
dan kita diperintahkan untuk pergi dan mewartakan karya keselamatan tersebut.
2. Dalam Anugrah Umum, manusia memiliki pengenalan dan pemahaman yg terbatas akan Allah. (tdk tepat, tdk benar dan tdk sempurna)
3. Sehingga merupakan tugas kitalah untuk membawa berita keselamatan itu kepada mereka.
4. Bagi orang yang sudah mendengar Injil dan menolaknya maka ia akan celaka.
5. Namun bagi orang yang belum pernah mendengar ttg Injil Kristus, maka keselamatannya diserahkan kepada kebaikan dan kedaulatan Allah.

Mempelajari sekilas dokumen dari Saudara O diatas, saya melihat tidak berbeda. Dan saya bersyukur karenanya.

Mohon penjelasan lebih jauh.






Dan sesudah membaca sekilas dokumen diatas saya merasa tidak ada yg
Sioeliong
sioeliong
 
Posts: 129
Joined: Wed Jul 27, 2005 8:55 am
Location: Tangerang

Postby Athanasios » Sun Aug 21, 2005 8:22 pm

1. Keselamatan hanya bisa melalui, oleh dan didalam karya Yesus Kristus
dan kita diperintahkan untuk pergi dan mewartakan karya keselamatan tersebut


Betul tapi kurang lengkap.

Ini yang lengkap

Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus, sebagai upaya yang perlu (untuk keselamatan), namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tinggal didalamnya, ia tidak dapat diselamatkan. (Lumen Gentium 14)

Itulah yang diajarkan oleh Konsili Oikumene Vatikan ke-2
Athanasios
 
Posts: 59
Joined: Sun Aug 21, 2005 7:33 pm

Postby aldila » Tue Aug 23, 2005 8:34 pm

lebih lengkapnya hasil konsili vatikan II ada di www.ekaristi.org,jika kamu ke jogja di kanisius juga banyak buku2 tentang iman katolik,kalo belum jelas mending tanya pastur paroki terdekat aja... :wink:
aldila
 
Posts: 4
Joined: Wed Aug 10, 2005 1:18 pm

Postby sioeliong » Wed Aug 31, 2005 9:27 am

Athanasios wrote:
Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus, sebagai upaya yang perlu (untuk keselamatan), namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tinggal didalamnya, ia tidak dapat diselamatkan. (Lumen Gentium 14)

Itulah yang diajarkan oleh Konsili Oikumene Vatikan ke-2


Saya menghormati pendapat konsili Ouikumene Vatikan dan Gereja Roma Katolik.
Namun saya berpendapat bahwa Gereja atau Gereja Katolik tidaklah harus Gereja Roma Katolik.

Yang perlu lebih ditekankan adalah tugas Gereja untuk mewartakan bahwa Keselamatan hanya ada didalam karya penyelamatan Tuhan Yesus Kristus.
Lepas dari perbedaan pandangan Kristen dan Roma Katolik, saya pribadi melihat rekan-rekan Roma Katolik sebagai rekan pewarta Kabar Baik. :)

Mohon ditanggapi positive concern saya dibawah ini.
Saya memulai topik ini didasarkan rasa penasaran saya pada percakapan dengan kakak ipar saya, teman2 dilingkungan tempat tinggal dan dikantor yang beragama Katolik. (selanjutnya disebut mereka)
Mereka menganggap tidak adanya urgensi pewartaan Injil, karena setiap orang bisa selamat melalui cara dan agamanya masing-masing.

Saat saya mengutip kata-kata Yesus:
Akulah jalan dan kebenaran dan hidup tidak seorangpun sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku. (yoh 14:6)

Mereka mengartikan/menjelaskan bahwa Aku=Yesus=Allah=Kasih.
Sehingga jika seorang menjalankan kasih, sudah beragama itu sudah cukup dan orang itu bisa sampai ke Surga.

Wah, saya pikir celaka kalau seperti ini. Siapa yang akan pergi mewartakan Injil?

Puji Tuhan! Bukan begitu pandangan Gereja Roma Katolik.
(pandangan saya terhadap artikel yg diberikan diatas)
Puji Tuhan ! Masih ada Milyaran jiwa penganut Roma Katolik yang akan memberitakan Injil Kristus.

Roma 10:17. Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus.
Sioeliong
sioeliong
 
Posts: 129
Joined: Wed Jul 27, 2005 8:55 am
Location: Tangerang

Postby fantioz » Wed Aug 31, 2005 10:05 am

Namun saya berpendapat bahwa Gereja atau Gereja Katolik tidaklah harus Gereja Roma Katolik


Jika Gereja itu tidak Katolik, "adakah Tubuh Kristus terpecah-pecah"?.

Di antara Gereja Katolik yang ada saat ini, salah satu dan yang paling Katolik, paling Alkitabiah adalah Gereja Roma Katolik.

Bisa saja ada anggapan bahwa Gereja Roma Katolik belum 100% Katolik.

Tapi setidaknya Gereja-gereja harus ada usaha untuk menuju ke-Katolikan (Universal). Atau lengkapnya sesuai dengan "the mark of Church" : Satu, Kudus, Katolik, Apostolik.

Gereja Roma Katolik sudah dan sedang berusaha untuk mempertahankan tanda tersebut.

Meski terkesan Ecclesiosentris, tapi jika diselami lebih mendalam arahnya tetap Kristosentris, karena ALkitab juga mengatakan itu. Pondasi kebenaran adalah Gereja yang adalah salah satu bentuk Tubuh Kristus yang kelihatan.

SALAM

Fantioz
Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.
fantioz
 
Posts: 165
Joined: Fri Aug 06, 2004 1:15 pm
Location: Surabaya

Postby Laskar Jidat » Wed Aug 31, 2005 12:40 pm

Saya menghormati pendapat konsili Ouikumene Vatikan dan Gereja Roma Katolik.
Namun saya berpendapat bahwa Gereja atau Gereja Katolik tidaklah harus Gereja Roma Katolik.

Gereja Katolik itu cuma satu yaitu Gereja Roma dan semua semua gereja yang berada di dalam persekutuan penuh dengannya.
Nah, mengingat mempelai Kristus itu cuma satu (dan bukannya dua, tiga atau empat) maka semua yang tidak bersatu dengan Gereja Katolik tidak akan bisa selamat (sesuci apapun orang itu).
Lalu bagaimana keselamatan bisa terjadi bagi orang2 di luar persekutuan dengan Gereja Katolik? Caranya adalah mereka akan dipersatukan secara ajaib dengan Gereja Katolik. Bagaimana teknis pelaksanaanya hanya Tuhan yang tahu.
Laskar Jidat
 
Posts: 201
Joined: Mon Nov 08, 2004 11:56 pm

Usul topik baru

Postby sioeliong » Thu Sep 01, 2005 12:59 pm

Gereja Katolik itu cuma satu yaitu Gereja Roma dan semua semua gereja yang berada di dalam persekutuan penuh dengannya.

Hampir selama empat puluh tahun (1378-1417) ada dua Paus dari Gereja Roma katolik yang bersaing, satu di Roma dan lainnya di Avignon, Paus yang satu diakui oleh sebagian kekuatan Eropa dan yang lainnya oleh sebagian Eropa lainnya.

Kalau begini gimana yah? :wink:

Kita bikin topik baru tentang Gereja Katolik dan Gereja Roma Katolik.
Karena topik ini tentang keselamatan diluar Kristus.
Sioeliong
sioeliong
 
Posts: 129
Joined: Wed Jul 27, 2005 8:55 am
Location: Tangerang

Next

Return to Diskusi Kristiani

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 3 guests

cron