"Love the Lord your God with all your heart and with all your soul and with all your mind and with all your strength." ( Mark 12 : 30 )

"Love your neighbor as yourself" ( Mark 12 : 31 )

    Home |  About Fund |  Contact Us

== Register
If you're interesting in this program and want to join with us, please register in here...

List of Donors
Thank you for all donors...
== Fund Reports

Fund Reports
Search our list in here...

Download Fund list
Download the latest Fund list.
== Fund Transfer
Fill in this form every time you transfer your fund.
  
Use this facility Klik BCA for all of you that become BCA members.
== Donor Area
Update your profile and look your fund list.
== Our Activity
Look our activity in here...

Our Location
Our location in Jakarta and Surabaya...
== Questions / FAQ
If you want to know more details you can search in here...


 

Lokasi Rumah Singgah



Jika anda ingin melihat langsung ke lokasinya, silahkan saja.
Lokasi Rumah Singgah untuk di Jakarta:
Kampung Jembatan
Jl. Cipinang Besar Selatan no. 16A
Cipinang, Jakarta Timur

Lokasi Rumah Singgah untuk di Surabaya:
Dinoyo Surabaya
Jl. Dinoyo Alun-Alun II/36C
Telp. 031-5662271


Sejarah Kampung Jembatan

Pada awalnya Kampung Jembatan adalah sebuah kawasan rawa seluas kurang lebih satu sampai tiga Hektar yang dibagi dua oleh aliran Kali Cipinang, anak Kali Ciliwung. Dari beberapa sumber didapatkan beberapa versi berbeda dari awal terbentuknya kawasan hunian ini. Dari berbagai versi tersebut semuanya sepakat bahwa pemilik tanah ini pada awalnya adalah seorang tuan tanah Betawi yang tinggal di bagian atas wilayah tersebut.

Seperti pada umumnya pemukiman-pemukiman miskin di wilayah urban, terjadi jaringan migrasi berantai yang memanfaatkan hubungan keluarga atau hubungan sesama penduduk dari asal kampung yang sama. Wilayah ini bertambah padat dengan adanya beberapa peristiwa penggusuran tanah di sekitar daerah ini, diantaranya: penggusuran di wilayah Gembrong yang hanya berjarak 500 meter dari wilayah tersebut, penggusuran "gepeng" (gelandangan dan pengemis) dari wilayah kuburan Cina-Kobon Nanas yang berjarak sekitar 700 meter dari wilayah tersebut, serta penggusuran penduduk dari wilayah tepat di atas rawa-rawa ini untuk didirikan SDN 01 Cipinang Besar Selatan.

Jadi sepanjang berkembangnya kampung ini, penghuninya adalah kaum migran dari daerah dan para waga lain yang terkena penggusuran tanah di tempat tinggal sebelumnya.

Secara geografis, Kampung Jembatan terletak diantara Pabrik Jaya Mix - Kuburan Cina Cipinang (sebagai batas selatan) dan jalan Pedati & jalan Raya Casablanca (sebagai batas utara), serta diantara jalan By-Pass (sebagai batas barat) dan Waduk Cipinang (sebagai batas timur). Kampung ini termasuk dalam wilayah Kelurahaan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, dan meliputi RT 09 dan 012, RW 06 (dalam kegiatan kesehatan dan pos yandu mengikut sertakan juga RT 02). Secara keselurahan luasnya kurang lebih satu sampai tiga hektar yang dibelah dua oleh kali Cipinang di tengahnya.

Kondisi Demografis Tidak ada data yang akurat mengenai jumlah penduduk di Kampung Jembatan. Berdasarkan jumlah pemilik Kartu Keluarga (KK) saja tercatat 410 keluarga atau 1.500 jiwa sebagai penduduk tetap di Kampung Jembatan.

Warga Kampung Jembatan hampir seluruhnya memeluk agama Islam, hanya 4 KK yang beragama katholik. Sebagian besar warga berasal dari daerah-daerah "kantung beras" Jawa Barat seperti Subang, Ujung Gebang, Indramayu, Krawang, Bumiayu, Kejiwan (Cirebon) dan Sumedang serta dari daerah pantai utara Jawa lainnya seperti Tegal, Batang, Wleri, Semarang dan Brebes. Mayoritas masyarakat bekerja di sektor informal, yaitu pemulung logam, pedagang asongan, pedagang kecil, buruh transportasi.

Dalam keseharian, tiap sub-kelompok masyarakat masih terlihat mempertahankan budaya asal masing-masing. Walaupun pada generasi yang terlahir di Jakarta sudah mulai ada imitasi terhadap budaya kota metropolitan, namun warna budaya asal masih kental. Indikasi hal ini terlihat dari penguasaan dan penggunaan bahasa daerah masing-masing dalam berkomunikasi dalam keluarga.

Keadaaan anak-anak Dari pencatatan terhadap keluarga-keluarga pemegang KK, terdaftar 400 anak yang bermukin di Kampung Jembatan. Mereka tidak memiliki banyak pilihan aktivitas. Hanya sebagian dari mereka yang bersekolah, sementara sisanya putus sekolah atau tidak pernah sekolah sama sekali. Mereka yang bersekolah rata-rata mendapat bantuan beasiswa dari siapa saja yang peduli dengan mereka.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan sebagian dari mereka tidak bersekolah, yaitu: letak sekolah yang relatif jauh bagi mereka, pelajaran sekolah yang susah, keinginan sang anak membantu orang tua mencari nafkah, serta biaya sekolah yang tidak terjangkau.

Baik sekolah maupun tidak, sebagian besar anak Kampung Jembatan harus bekerja untuk membantu orang tuanya. Ada yang melakukan pekerjaan domestik (membantu mengurus rumah tangga) ada juga yang membantu mencari nafkah.

Keadaan pemuda Yang termasuk sebagai pemuda di kampung Jembatan kurang lebih berjumlah 100 orang. Mereka memang telah terbiasa dengan tuntutan untuk dapat menghidupi diri mereka sendiri. Menjadi pemulung, tukang bangunan atau kuli upahan bukanlah hal yang baru bagi mereka.

Disisi lain, tentunya mereka juga memiliki keinginan akan adanya perbaikan hidup, akan tetapi keterbatasan akses untuk melangkah ke tingkat selanjutnya menyebabkan mereka menjadi rendah diri dan merasa hidup mereka sekarang adalah batas maksimal dari seluruh kemampuan mereka. Walaupun sebenarnya ada kinginan untuk maju dan berkembang, tetapi untuk mereka hal itu hanyalah impian. Keinginan mereka telah dibatasi oleh anggapan turun-temurun bahwa anak orang miskin tetap akan miskin selamanya. Apalagi ada label yang mereka percaya bahwa mereka adalah orang bodoh dan malas. Label tersebut begitu mereka percayai dan menambah rasa minder mereka dalam menghadapi orang yang menurut mereka lebih tinggi tingkatan sosial-ekonomi. Rata-rata pemuda Kampung Jembatan hanya mengecap pendidikan sampai di tingkat SD. Bagi mereka sulit untuk melihat adanya kesempatan berkembang lebih jauh dengan hanya mengandalkan pendidikan setingkat itu. Lingkunagn telah menciptakan rasa pesimis dalam menghadapi kehidupan. Pendidikan hanya diartikan sebagai salah satu usaha untuk mengangkat status, terutama pandangan dari orang tua yang menyekolahkan mereka. Tetapi, dengan melihat lingkungannya yang tidak mengandalkan pendidikan untuk mencari nafkah, sekolah bukanlah tujuan utama mereka. Tujuan utama mereka adalah mencari nafkah dan merencanakan untuk membentuk rumah tangga.


(disadur dari "Proposal Program pendampingan Kampung Jembatan" - Jentera Muda Jakarta (JMJ) yang telah mengalami revisi, terutama pada data angka disesuaikan dengan kenyataan sekarang)





Home  |  Contemplation  |  Faith Sharing |  Figure of Faith  |  Contact Us
                   
@ 2002 Contemplation Hut