Catatan Perjalanan Israel 05: Bariyet Al Quds


Setelah makan siang di Yeriko kami berperang melawan teriknya matahari yang menyengat mengunjungi reruntuhan kota ini serta sumur mata air Elisha. Dari atap rumah makan tempat kami santap siang bisa kelihatan dengan jelas lokasi penggalian kota Yeriko. Yeriko adalah tempat yang paling banyak digali oleh para arkeologist. Dari hasil penggalian dan penyelidikan para arkeologist ini disimpulkan bahwa kota tua Yeriko berada di bukit yang berhadapan dengan sungai Yordan, kira-kira 2 km di sebelah utara agak ke barat dari kota Yeriko saat kini. Penggalian terakhir oleh arkelogist Inggris K. Kenyon menemukan sisa-sia reruntuhan kota yang diasalkan pada sekitar tahun 9000 sebelum masehi. Saat itu adalah saat peralihan antara sistem kehidupan nomaden, suatu bentuk kehidupan berpindah-pindah menuju sistem kehidupan agraris yang mulai menetap.

Setelah digali kota ini terbagi dalam beberapa lapisan, yang menyimpulkan bahwa kota ini pernah beberapa kali hancur dan dibangun lagi. Dalam penggalian terakhir ditemukan begitu banyak bentuk peninggalan bangunan, seperti tangga tertua yang pernah dikenal di dunia, dinding kota tertua yang pernah dikenal para arkeologist, serta menara keamanan yang dibangun di tengah kota itu yang diperkirakan telah ada di sana sejak tahun 7000 sebelum masehi. Penemuan-penemuan ini membawa para penggali dan peneliti tersebut untuk menyimpulkan bahwa Yeriko merupakan kota tertua di dunia yang dibangun dijaga secara kuat. Lapisan teratas memberikan tanda-tanda bahwa kota ini di kemudian hari dibangun lagi di masa Binzantium, sekitar akhir abad ke 4 hingga awal abad 5.

Di sisi kota kuno ini terdapat sebuah mata air yang memberikan air yang melimpah bagi Yeriko, dengan kekuatan air kira-kira 700 meter kubik per jam. Sumur ini disebut Ain Al Sultan, karena menurut sejarah, kaum Babilon pernah mencungkil dan melemparkan mata sang raja dari Yerusalem di mata air ini. Namun dengan membuat referensi pada Kitab Perjanjian Lama, sumur ini disebut sumur Elisha. Kisah bagaimana Elisah memberkati sumur ini dengan secarik kain yang diberikan Elia sudah saya ceritakan dalam kisah perjalanan Israel kemarin. Di tengah kegerahan padang gurun, air yang bening ini sunggur menyegarkan, dan kami berlomba menanggalkan sepatu dan melompat ke dalam aliran sungai yang bening itu. Huh...segarnya!!

Seperti yang saya kisahkan kemarin, Gunung Pencobaan berada tak jauh dari Yeriko ini. Sejumlah gedung gereja ditemukan di sekitar tempat ini, dan yang paling terkenal adalah biara temptation ¡§Dair Quruntul¡¨. Mount of Temptation (Jabel Quruntul) memiliki dinding-dinding yang terjal dan tinggi yang terletak kira-kira 350 meter di bagian barat Yeriko dan menghadap Yordan Valley di Timur. Di dinding jurang ini ada sekitar 30 hingga 40 gua di dinding jurang, dan di sanalah para rahib dan kaum heremit hidup, berpuasa dan berdoa. Sungguh sulit untuk mendaki tebing terjal ini. Namun dewasa ini pemerintah Yeriko telah membangun kereta laying yang menghubungi Yeriko menuju biara di tebing jurang ini.

Nama ¡§Quruntul¡¨ berasal dari kata Lating ¡§Quadraginta¡¨ yang berarti 40. Ini mengindikasikan waktu 40 hari dan 40 malam lamanya ketika Yesus mengurung diri di padang gurun untuk berpuasa dan akhirnya dicobai iblis. Nama ini diberikan oleh pada masa perang salib.

Dari Yeriko kami menuju Yerusalem. Dalam perjalanan dari Yeriko menuju Yerusalem ini, saya membayangkan kisah perumpamaan Perjanjian Baru tentang seorang Samaria yang baik hati. Kisah perumpamaan ini diberi setingnya di sini, di mana terdapat hempasan padang gurun yang kering kerontang seluas sekitar 500 km persegi. Padang gurun ini disebut ¡§Bariyet Al Quds¡¨ yang berarti Padang Gurun Yerusalem. Di padang ini berdiri deretan gunung, sehingga jalan menuju Yerusalem dari Yeriko sering berkelok dengan tekukan tajam di lorong-lorong lembah pegunungan itu. Kenyataan ini membuat saya sadar bahwa kaum penodong bisa bersembunyi di balik gunung itu dan melancarkan serangan mereka. Demikianlah kira-kira yang terjadi di masa Yesus. Yesus menggunakan apa yang actual jaman itu untuk memberikan ajaranNya.

Jaman dulu tempat ini merupakan tempat yang disisihkan, artinya tak ada orang yang hidup di sini kecuali kaum heremit dan kaum pertapa. Kaum baduin dengan kawanan gembalaan mereka pasti juga pernah menjelajahi gurun ini. Dewasa ini tempat ini sudah dibuka pemukiman baru.

Sepuluh km di bagian timur Yerusalem, yang terletak pada ruas jalan Yeriko menuju Yerusalem, terdapat semacam hotel yang disebut ¡§The Good Samaritan Inn¡¨. Tempat ini dibangun pada abad ke enam belas, sebagai tempat peristirahatan di tengah padang gurun tersebut bagi kaum peziarah yang sedang menuju Yerusalem. Di seberangnya terdapat sebuah biara pertapaan serta sebuah gereja tua yang dibangun pada abad ke 5. Gereja ini dibangun sebagai kenangan akan kisah perumpamaan tentang sang Samaria yang baik hati itu.

Setelah melewati padang gurun Yerusalem ini, kami sudah bisa melihat kota Yerusalem di kejauhan, sebuah kota di atas gunung........... Saya membayangkan sebuah adegan ketika Yesus secara gemilang memasuki kota mulia ini. Saya juga membayangkan bagaimana daun-daun zaitu diayun-ayunkan oleh arakan orang banyak untuk menyambut kedatangan Yesus sebagai sang raja dan pemenang memasuki gerbangnya...........

Disambung........



Tarsis Sigho - Taipei
Email: sighotarsi@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved