Tips Paskah Anak-anak


Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita merencanakan PASKAH Sekolah Minggu:

1. Inti berita PASKAH harus jelas.
Beberapa kunci kata yang harus mewarnai seluruh acara PASKAH adalah: KRISTUS BANGKIT, KRISTUS MENGALAHKAN KEMATIAN, KRISTUS MENGALAHKAN MAUT, KRISTUS MENANG ATAS KUASA DOSA, KRISTUS SUNGGUH HIDUP, KRISTUS HIDUP DI DALAM HIDUPKU. Oleh karena itu tema-tema PASKAH sebaiknya dibuat dalam kalimat yang pendek dan jelas. Hindarkan kata-kata abstrak yang sulit dimengerti artinya, karena anak belum memiliki cukup kemampuan untuk menginterpretasi.

2. Acara PASKAH perlu dikoordinasi dengan baik. Seperti seorang memakai pakaian, maka ia akan memperhatikan kombinasi warna dan asesori yang cocok sehingga kelihatan serasi. Acara PASKAH pun demikian, seluruh rangkaian acara harus diatur agar mendukung tema PASKAH, baik nyanyian-nyanyiannya, renungan beritanya (cerita), dramanya, permainannya, dekorasinya, dll. Hindarkan kegiatan-kegiatan ekstra yang akan mengalihkan anak- anak dari inti pesan/berita PASKAH, misalnya kegiatan sosial, permainan yang tidak memiliki tema PASKAH, atau rekreasi. Jadikan PASKAH menjadi pelajaran rohani tentang iman Kristen yang paling mendasar. Dan sajikan itu dalam suasana yang menyenangkan.

3. Semua orang harus terlibat dalam perayaan PASKAH. Spirit PASKAH bukan spirit "one man show", karena PASKAH adalah perayaan kemenangan orang beriman di dalam Kristus. Oleh karena ikatan kasih diantara orang beriman akan mendorong kebersamaan, hal itu dapat tercermin baik dalam suasana maupun pada pembagian tugas pelaksanaan kegiatan ini. Semakin banyak guru terlibat semakin baik. Semakin banyak anak terlibat adalah yang terbaik.

4. Undangan perayaan PASKAH. Cara terbaik melibatkan anak-anak dan guru dalam mempersiapkan PASKAH adalah dengan membuat brosur/pamflet/kartu/selebaran yang berisi undangan untuk anak-anak lain, khususnya yang sudah lama tidak datang atau yang belum memiliki keselamatan. Tularkan semangat penginjilan dalam hati anak-anak, dengan pergi bersama- sama berkunjung dan membagikan undangan perayaan PASKAH. Guru memberikan contoh kepada murid-muridnya bagaimana mengundang anak lain untuk datang bersekutu dalam kebaktian PASKAH dan menjadi teman bagi mereka. Sementara anak-anak saling mengenal, guru memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan orang tua mereka.

5. Tempat dan waktu penyelenggaraan PASKAH. Untuk Sekolah Minggu yang lebih senang menggabung seluruh anak SM dalam acara PASKAH, maka akan diperlukan tempat yang cukup luas agar anak-anak dapat berkumpul bersama. Kendala yang lain adalah diperlukan guru-guru untuk berada di antara anak-anak agar keributan dapat terkendali. Dan juga waktu pelaksanaan mungkin akan lebih lama dari biasanya. Pengabungan kelas-kelas perlu dilakukan jika ada acara yang istimewa, seperti drama PASKAH, panggung boneka atau renungan (cerita) PASKAH dengan memanggil pembicara yang ahli dalam bidangnya.

Melaksanakan perayaan per kelas dapat menjalin rasa keakraban, namun demikian persiapan akan tidak efisien karena masing-masing guru kelas akan membuat persiapan sendiri-sendiri. Untuk menghindarkan rasa persaingan antar kelas, guru-guru dapat dihimbau untuk membuat acara yang sama di masing-masing kelas dan melakukan persiapan bersama-sama. Waktu pelaksanaan dapat dibuat lebih lama dari biasa, dan gunakan waktu untuk menolong anak mengerti berita PASKAH dengan lebih baik.

6. Follow-up perayaan PASKAH. Hal yang paling penting diperhatikan adalah bagaimana tindaklanjut perayaan PASKAH ini. Mengadakan kegiatan mudah, tapi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa berita PASKAH itu tinggal dalam hati anak-anak dan terpelihara tidaklah mudah. Oleh karena itu siapkan cara-cara bagaimana menolong agar benih yang telah ditaburkan mendapat siraman agar bertumbuh. Untuk itu guru-guru perlu memberikan bimbingan dan perhatian, baik itu berupa cerita-cerita lanjutan di minggu-minggu berikutnya, ataupun dengan mengadakan pertemuan tatap muka secara pribadi untuk berdoa bersama/sharing atau memberikan tugas-tugas bacaan untuk anak yang lebih besar.

TIPS KHUSUS UNTUK PASKAH

Sejarah Membagi Telur Pada hari PASKAH
"Mengapa gereja membagikan telur pada anak-anak SM pada hari PASKAH?" Ternyata banyak orang Kristen bahkan guru SM yang kurang jelas tentang sejarah membagi telur ini. Untuk Edisi Khusus PASKAH ini Tips Mengajar akan diganti dengan penjelasan singkat tentang sejarah membagi Telur PASKAH.

Tradisi membagi telur sebenarnya bukan tradisi gereja/Kristen (juga jelas tidak disebutkan dalam Alkitab). Sebelum kekristenan muncul, di negara 4 musim (Eropa) ada tradisi untuk merayakan datangnya musim-musim. Dewa musim Semi, yang bernama "Eostre" adalah dewa yang disembah pada perayaan "vernal equinox". Nama dewa ini juga yang akhirnya dipakai untuk menyebut hari PASKAH, "Easter" (bhs Inggris).

Pada abad-abad pertama kekristenan, tradisi ini sulit dihapus karena hari PASKAH memang kebetulan jatuh pada setiap awal musim Semi. Perayaan musim Semi selalu dirayakan dengan meriah mengiringi kegembiraan meninggalkan musim dingin yang suram dan beku (mati). Tumbuh-tumbuhan dan bunga mulai tumbuh dan bermekaran, dan suasana keceriaan seperti ini menjadi saat yang tepat untuk membagi-bagikan hadiah. Membagi-bagikan telur pada hari PASKAH akhirnya diterima oleh gereja selain untuk merayakan datangnya musim Semi, juga karena telur memberikan gambaran/simbol akan adanya kehidupan.



Vincentius Eko Yunianto S.S

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved