Hari Ulang Tahun


Hari Ulang Tahun...Hari untuk bahagia. Hari untuk risau. Hari saat aku bersyukur atas waktu yang telah diberikan kepadaku, sekaligus merasa bahwa hampir belum ada perbuatanku yang patut disyukuri. Tahun demi tahun berlalu. Apakah yang telah kulakukan? Mengapakah segala hal nampak hampa dan tak bermakna? Dimanakah dapat kutemukan kedamaian hati? Saat aku bersyukur, haruskah aku tak menangis? Saat aku berduka, haruskah aku tak bersyukur? Bukankah setahun telah lewat? Setahun lagi kesempatan telah diberikan kepadaku untuk menggunakan segenap talenta-talenta yang telah diberikanNya kepadaku? Tetapi berhasilkah aku? Siapakah yang mampu menjawabnya? Bukankah hanya Dia?

Waktu dalam hidup. Kadang mengalir tak terasa. Kadang merambat panjang dan membosankan. Siapakah yang dapat luput darinya selama kita ada? Di saat-saat yang hanya setahun sekali ini, sebaiknya kita duduk merenung dan meninjau kembali segala apa yang telah terjadi. Mencoba untuk menemukan asal dari apa yang kita hadapi saat ini. Maka nyata, bahwa hari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan yang telah kita ambil di masa lampau. Dan setiap pilihan kita kemarin menuntut tanggung jawab yang harus kita pikul hari ini. Tak bisa lain. Maka untuk apa perasaan sedih itu? Toh, kita tahu bahwa Dia telah memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih. Dan karena itu, pahit atau manis, kini, kita dituntut untuk menerima kenyataan. Menerima apa pun hasil dari pilihan kita. Kita dituntut untuk bertanggung-jawab atas segala pilihan kita sendiri. Bukankah itu adil?
Sesal. Mungkin perlu ada. Dan memang perlu ada. Tetapi putus asa? Jika kesesakan, ketak-berdayaan dan kepahitan menimpa kita akibat dari segala pilihan hidup yang telah kita ambil sendiri, lalu untuk apa kita merasa putus asa? Sebab dengan demikian, itu berarti bahwa kita enggan untuk bertanggung-jawab atas apa yang telah kita lakukan. Atau malah kita lari dari tanggung-jawab atas ulah kita sendiri. Tidak. Kita hidup dengan pilihan-pilihan kita sendiri. Sesulit apa pun situasi yang kita hadapi. Maka jika saat ini kita merasa gagal, kita sesali itu. Dan karena itu kita harus mengadakan pilihan-pilihan baru. Agar hidup kita kembali di jalur yang kita inginkan. Bukan dengan merasa hampa dan tak berbuat apa-apa lagi. Bukan pula dengan menyalahkan pihak lain.

Ulang tahun. Harapan dan kekhawatiran. Rasa syukur atas waktu yang telah kita terima. Rasa khawatir karena waktu yang kian singkat. Namun hidup kita tidaklah terikat pada waktu. Daging kita memang miliki sang waktu. Tetapi jiwa kita abadi. Kemungkinan-kemungkinan terbentang lebar di depan kita. Baik saat kita ada di dunia ini. Maupun saat kita tidak lagi berada di sini. Maka mengapakah kita merasa demikian terpencil? Bukankah kita tahu bahwa ada Dia yang sedang menemani kita. Dia yang telah menyediakan banyak tempat di rumah Bapa. Dia yang telah membuktikan dengan kematian dan kebangkitanNya sendiri betapa sianya perasaan putus asa itu. Dia yang telah memberi kita semua teladan bahwa setiap pilihan hidup harus ditanggung sampai tuntas. Bahkan sampai tuntas dengan segenap penderitaanNya sendiri di atas kayu salib.

Hari untuk bahagia. Hari ulang tahunku. Hari untuk bersyukur bahwa apapun yang telah kunikmati, apapun yang sedang kualami saat ini, dan apapun nanti yang akan kuhadapi, segalanya merupakan tanggung-jawabku sendiri di hadapan Dia yang telah memberikan teladan dengan hidupNya sendiri. Maka akupun berdoa agar aku tidak menghindarkan diri dari segala kesesakan ini. Agar aku tidak lari dari aliran sang waktu. Agar aku tidak berakhir di saat yang tidak dikehendakiNya. Melainkan tetap tabah untuk menghadapi hidup sambil membuat pilihan-pilihan baru jika pilihan-pilihanku dulu gagal.

Dengan tuntunan dari Dia yang telah memberikan teladanNya kepadaku. Maka kerisauan pun tak ada artinya lagi sekarang. Ada atau tak ada makna perbuatanku, biarlah Dia yang memberikan nilai. Sebab Dialah Tuan pemberi talenta bagi kehidupanku. Aku hanya sang pengguna, hamba yang dipercayakan untuk menggunakan pemberianNya sesuai dengan kemampuanku sendiri. Dan kelak aku pun akan mempertanggung-jawabkan pemberianNya itu. Ah, selamat datang waktu esok!



A. Tonny Sutedja
Email: tonny_sutedja@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved