Sobat, MArilah Bertobat...


Bagi umat Katolik, Adven mempunyai makna penting.
Bukan hanya dengan tata liturgi, namun terlebih dalam penghayatan iman. Seruan Yohanes Pembabtis,“Bertobatlah dan berilah dirimu dibabtis dan Allah akan mengampuni dosamu.”

Suasana pertobatan menjadi warna utama dalam masa
Adven. Namun bolehlah dipertanyakan : Apakah masih
bergaung sebuah pertobatan dalam kehidupan manusia
jaman sekarang? Apakah masih perlu orang bertobat,
sementara yang ditawarkan dunia justru bertolak
belakang dengan seruan tobat itu sendiri.

Jangan-jangan orang sudah dirasuki virus Hitler,
“ Sekali berbohong, berbohonglah terus karena
kelak kebohongan itu akan menjadi kebenaran.”
Bisa-bisa anak muda jaman sekarang lantas mengatakan,
“Sekali berdosa, berdosalah terus. Karena kelak
dosa itu akan berubah menjadi limpahan rahmat.”

Pertanyaan berlanjut, apakah kita bertobat karena
takut dosa, bertobat karena takut mati, atau bertobat
hanya karena takut hukuman dari Tuhan? Kalau itu yang
terjadi maka pertobatan bukanlah pertobatan yang
benar. Pertobatan yang mandeg, tidak kreatif, tidak
membangun sesuatu yang baru dalam diri seseorang.
Pertobatan semestinya adalah bertobat untuk…
bukan bertobat dari… .

Ada kisah yang cukup menarik untuk menggambarkan
pertobatan.

Ada seorang pemuda buruk rupa dan sekaligus buruk
reputasinya. Dia seorang penjahat. Suatu ketika dia
bertemu gadis cantik. Pemuda itu jatuh hati dan
menyatakan cintanya padanya. Tetapi tentu saja sang
gadis menolaknya. Namun ia masih memberi sedikit
harapan kepada pemuda itu dengan mengatakan,”
Saya akan menerimamu asal bisa kau ubah wajah dan
kelakuan burukmu itu.”

Begitu cintanya pada sang gadis, maka pemuda itu
berjuang sekuat tenaga.

Suatu ketika, pemuda itu bertemu dengan seorang yang
mampu membuat topeng penutup wajah. Dan ketika topeng
itu dikenakan, wajah pemuda tadi menjadi sangat
tampan.

Suatu kesempatan dalam sebuah pesta, pemuda yang sudah berubah wajahnya bertemu dengan gadis tadi. Ia
menyatakan cintanya dan sang gadis menerima karena
juga tidak menyadari bahwa yang dihadapi adalah pemuda buruk rupa yang tersamar topeng di wajahnya. Maka jadilah mereka pasangan yang serasi. Setelah menikah pun pemuda itu berubah menjadi pribadi yang sempurna, setia, dan begitu mencintai istrinya.

Suatu hari, pasangan tadi bertemu seseorang yang pada
masa lalu merupakan rekan si pemuda. Karena tahu dan
mengenal, maka lelaki itu menarik topeng yang dikenakan dihadapan sang istri. Apa yang terjadi?
Begitu topeng itu dirobek, wajah asli yang semula amat buruk telah berubah persis seperti topeng yang
dikenakannya. Tetap tampan.

Dari kisah ini dapat dimaknai bahwa perjuangan yang
sedemikian kuat, penuh pengorbanan diri untuk mengubah sesuatu ternyata juga berdampak secara fisik. Pertobatan dan perubahan batin yang sedemikian rupa akan membantu mengubah fisik ke arah tatalaku yang lebih baik.

Bertobat bukan hanya karena mau menghindarkan diri
dari, tetapi lebih karena bertobat untuk meraih suatu
nilai. Meraih sesuatu yang lebih bermakna.

Itulah pertobatan kita yang sesungguhnya, dan masa
adven adalah kesempatan baik untuk kita dalam memahami dan sekaligus menjalankan laku tobat yang lebih berarti. Semoga…



ALTAR
Email: johanes_kunto@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved