KERAGUAN ADALAH KEBENARAN


Siapakah yang hidup tanpa pernah mengalami keraguan? Siapakah yang dapat mengatakan bahwa dia tahu segala hal tentang kebenaran? Siapakah yang dapat memastikan bahwa hidupnya adalah mutlak benar dan tanpa salah? Siapakah? Tak seorang pun. Kita selalu berteman dengan keraguan, diakui atau tidak, dirasakan atau tidak, pikiran kita selalu merasa bimbang. Selalu ada rasa gamang saat kita berbicara soal keyakinan bahwa apa yang kita katakan saat ini adalah pasti benar. Ya, kebenaran mutlak sesungguhnya hanya ada dalam kalimat-kalimat yang senang kita khotbahkan kepada para pendengar kita. Tetapi tidak dalam hati dan perasaan kita sendiri. Tidak dalam kehidupan nyata yang kita jalani. Sebab itu, hidup sesungguhnya selalu adalah keraguan. Tetapi di dalam keraguan itulah, di dalam pencarian pada kebenaran itulah, kita akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya.
Tak ada yang sempurna di dunia ini. "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yoh 8:7) Kata Yesus saat dihadapkan kepadaNya seorang wanita yang terbukti berbuat zinah. Adakah yang kemudian melemparkan wanita itu dengan batu? Adakah? Tidak. Karena tak seorang pun merasa memiliki kebenaran yang mutlak. Tak seorang pun yang merasa tidak berdosa di hadapan kehidupan dunia ini. Tetapi sayangnya, sudah menjadi jamak dan lumrah juga, bahwa seringkali kita merasa bahwa kebenaran ada bersama kita. Kebenaran yang kita inginkan. Karena itu, kita merasa kuat dan berkuasa, atas nama Tuhan, untuk mengadili orang-orang lain agar mau mengikuti kebenaran kita. Terkadang dengan tekanan. Terkadang dengan paksaan. Bahkan dengan kekerasan dan pembunuhan. Tetapi sekali lagi, apakah kebenaran itu? Hal yang sama ditanyakan oleh Paulus kepada Yesus. Namun tidak ada jawaban yang diberikan. Tidak ada, karena kita semua seharusnya tahu apakah kebenaran itu.

Ya, kebenaran berada dalam kemampuan kita untuk hidup dan menghidupi hidup. Kebenaran berarti ketidak-mampuan kita untuk memastikan segala sesuatu. Kebenaran adalah keraguan. Dan takkan pernah dapat kita pastikan sebelum waktunya tiba. Allah memberi kita kemampuan untuk berpikir, kebebasan untuk bekerja dan kemerdekaan untuk bebuat apa saja yang kita anggap benar. Kita anggap benar. Tetapi bukan kebenaran menurut Allah. Bahkan seorang penjahat yang dihukum salib bersama Yesus pada saat-saat terakhir diberikan pengampunan dan janji bahwa: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:43) Maka jika demikian adanya, dapatkah kita memastikan kebenaran kita sendiri? Dapatkah kita?
Tak seorang pun yang hidup bersama kebenaran mutlak di dunia ini. Tak seorang pun yang hidup tanpa pernah merasa ragu dan bimbang atas keyakinan dan imannya.

Dalam salah satu suratnya, Bunda Teresa menulis: �... bagi saya, kesepian dan kekosongan itu sedemikian dalam sehingga saya memandang tetapi tidak melihat-Nya, saya menyimak tetapi tidak mendengar-Nya. Lidah saya bergerak begitu saja dalam doa-doa, tetapi sesungguhnya tidak mengatakan apa-apa. Kegelapan menyelimuti saya, sepertinya semuanya telah binasa...� (Rahasia Bunda Teresa, Amadeus Susanto). Ya, sekali lagi, tak seorang pun selama dia masih hidup dan berada dalam kehidupan dunia ini yang dapat memastikan apa itu kebenaran. Sebab kebenaran hanya dapat dirasakan dan dilakukan, bukan diucapkan atau dijadikan sebagai sebuah kepastian dalam khotbah-khotbah panjang namun tanpa makna.

Maka jika saat ini kita merasa tersudut karena sebuah peristiwa atau perbuatan yang dianggap salah, dan selama apa yang kita lakukan tak merugikan orang lain atau bahkan kita sendiri adalah kurban yang terjerat, janganlah kecewa. Jangan putus asa. Hidup tidaklah sesederhana teori-teori hukum dan pandangan manusia lain. Kita yang hidup. Kita yang mengalami. Kita yang merasakan. Kitalah bersama kebenaran itu. Ya, ada banyak hal dalam kehidupan ini yang tidak mutlak hitam kelam atau putih murni. Hidup berarti kita berada dalam dunia kelabu, dunia yang sering bahkan meninggalkan kita saat kita butuh, tak memberi kita air saat kita haus, tak menjenguk kita saat kita sakit, dan membiarkan kita telanjang saat kita tak punya pakaian, tak memberi kita tumpangan saat kita tergusur dan membiarkan kita lapar saat kita tak punya makanan. Maka pantaskah mereka lalu mendakwa kita sebagai orang-orang yang salah serta tersudut, dan karena itu harus dimusnahkan? Percayalah, saat kita disalibkan, Yesus akan berkata kepada kita: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Demikianlah adanya kebenaran itu.
A. Tonny Sutedja



A. Tonny Sutedja
Email: tonny_sutedja@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved