Berserah kepadanya


Peristiwa ini terjadi lebih kurang 11 tahun yang lalu.Tahun 97 dibulan mei,bulan penuh rahmat,saya melahirkan seorang putra di Manado,yang kami beri nama Rosario Ayodya Bagaskara dengan berat 3.450 gr.

Rosario adalah anak pertama kami,kelahirannya sangat membawa kegembiraan dan kebahagiaan bagi kami. Sebulan setelah lahir kami harus kembali ke tempat tugas kami yaitu di Timika Papua.Pertumbuhannya dan perkembanganya sangat kami perhatikan. Rosario sangat lincah dan sehat. Diusia setahun ia sangat suka bernyanyi dengan suara keras dan kata2 yang belum sempurna,waktu itu lagi serunya piala dunia sepak bola,dan lagu yang desenangi go...go...go..ale...ale..ale...Setiap hari kami mengajarkannya selalu berdoa sebelum dan sesudah tidur,dia sangat cerdas,bisa menghafalkan doa Bapa kami dan Salam Maria.

Suatu hari diusianya 1,6 bulan,dikepalanya bagian atas ada benjolan kecil,awalnya kami tdk mengkawatirkan,kami coba obati dengan obat tradisional dengan menggosok ke bagian kepala yang benjol.tapi lama kelamaan semakin membesar sebesar kelereng,dan sering badannya demam,kekawatiran mulai muncul,kami membawanya kedokter ahli bedah,ketika di Rontgen,menurut dokter,terjadi keretakan pada tulang kepalaNya,Kami berulang2 tanya kepada dokter,apakah benar yang kami dengar?Tuhanku apa yang terjadi?Dosa apakah yang telah kami perbuat hingga mengami hal ini.Sangat berat yang kami rasakan.

Dokter menyarankan kami harus berobat(operasi) ketempat yang peralatannya lebih lengkap,kami memutuskan untuk berobat ke Jogja(suami dari Jogja).jadi sekalian bisa dekat dengan keluarga.Kami memilih RS Bethesda yang ditunjuk oleh perusahaan sehingga pembayarannya langsung bisa diuruskan.Saat di RS,keceriaan dan kelincahannya,selalu membawa keegembiraan bagi yang melihatnya,walaupun sakit dia selalu berceloteh dengan siapa saja yang ngajak bicara dengannya,dan lagu kesukaannya selalu terdengar.para dokter,juru medis bahkan yang sakit disekitanya merasa terhibur,semua menyayanginya.Beberapa proses harus di lewati,menunggu sampai kondisinya memungkinkan.Saat akan di CT scan ia harus di bius dulu,dokternya sampai heran,karena ukuran obat bius yang diberikan sudah sesuai dengan ukuran usianya,tap ia belum tertidur,masih bernyanyi-nyanyi dan celoteh.Akhirnya harus diulang lagi biusnya.Setelah kondisinya memungkinkan,Rosario harus bersiap2 menjalani operasi.

Malam sebelum operasi kami tidak bisa tidur,Berdoa,dan memohon..dan bertanya tanya kenapa harus begini dan begitu,Saya dan suami saling menghibur,Ia hanyalah titipan Tuhan kepada kita,Ia bukanlah milik kita,kami mengumpamakan kalau kami dititipkan sesuatu oleh orang lain kami juga harus rela kembalikan walaupun kami sudah sangat menyayanginya,juga dengan Rosario,kami hanya dititipkan.berat sekali rasanya...saya ingin berlari dann membawanya ketempat yang tidak harus ada operasi,didepan RS Bethesda ada mall,saya mengajaknya kesana,kugendong erat2,dan ingin rasanya tidak usah kembali ke RS.Tapi jika tidak operasi apa yang akan terjadi?padahal perusahaan sudah mau membantu biayanya.Saya kembali lagi di RS.

Hari yang ditunggu tiba juga,pertengahan bulan juli '99,rencananya operasinya akan dilangsungkan pagi hari.Menunggu didepan ruang operasi,rasanya dadaku mau meledak,saya ingin menjerit2 menangis,kutahan2 semakin sakit,mau menangis banyak pasien di RS.kira2 1,5 jam ia sudah keluar,saya mengejar kereta yang membawanya.begitu bnyk darah dikafan yang membungkus kepalanya,dia sudah suman lagi,dan bertanya 'mama ada apa"dan kembali tertawa..sampai di ruang ICU,dia bertanya"mama ini pipisnya cicak ya"padahal infusnya,saya mengiyakan saja,karena ia senang memandang tetsan2 infusMenurut dokter ada tulang yang hancur jadi harus diangkat(sebatas bulatan kelereng)Sebulan kami berada di RS,dan dokter membolehkan kami kembali.Dan waktu cuti kamipunpun sudah selesai,mau membawanya kembali ke timika,disana nanti siapa yang akan mengawasinya saat kami bekerja,mencari orang yang telaten sangatlah sulit,apalagi dokter menyarankan harus rajin kontrol.Akhirnya sehari sebelum keberangkatan kami putuskan Rosario tinggal di Jogja dengan bu'denya agar mudah untuk kontrol ke dokter.

Saat kami berangkat naik travel ke surabaya hatiku tercabik2menangis tak henti,karena saya tau dia sangatlah dekat denganku,tapi semunya untuk kebaikan..Saya berkomunikasi dengannya lewat telpon,rindu sekali hatiku.Setiap malam kulewati dengan membca buku yang sengaja kupinjam diperpustakaan untuk melewati malam.Doa dan doa selalu kami panjatkan,3 bulan dia diJogja,budenya mengabarkan hassil dari kontrol dokter,dikatakan kalau harus menjalankan operasi lagi karena disamping telinganya ada lagi..bagai disambar petir hatiku teriris iris.sedih sekali rasanya.Kebetulan saat itu saya sedang mengandung anak yang kedua,kami putuskan untuk mengambil cuti lebih awal,agar bisa mendampingi operasi keduanya.Dan kami putuskan di bawa ke Jakarta.Perusahaan menunjuk RS honoris Tangerang.Saya berangkatsendiri ke Jakarta karena suami rencananya akan menjemput saat kami akan kembali nanti.Kami janjian dengan bu'denya ketemuan di bandara Halim,saya tiba duluan,sebelum pesawat yang ditumpangi Rosario dan Bu;denya tiba.

Saat bertemu denganku,ia agak malu2,antara kenal dan tidak,mungkin sungkan ragu2,sepanjang jalan dengannya kunyanyikan lagu saat2 dia diayun mau tidur,atau saat kugendong sering kunyanyikan lagu kesukaaanya.Dia sudah mengenalku lagi.Di bilang ku bu;denya: bu'de,ini mamaku bukan bu'de.Dia sangat takut kalau ku tinggalkan lagi,ke toiletpun ia harus ikut.Saat operasipun tiba,suami yang seharusnya belum waktinya cuti,kusarankan ambil cuti saja,biar kita menghadapinya bersama,kami pasrah,kami berpikir kemungkinan terburuknya.Dalam doa ada harap,Tuhanku tolonglah kami.Operasi berjalan dengan lancar,Namun dalam hatiku bertanya2: Tuhanku bagaimana dengan kepala anakku,sudah dua tempat yang dioperasi,banyak pendapat dan saran agar operasi lagi untuk menutup tulang dikepalanya..

Suatu hari datang seorang bapak,entah darimana tau tentang anakku,dan menceritakan klu tempurung kepalanya sudah diangkat dan diganti yang palsu,karena kecelakaan yang berat.dan setahun ia tidak sadarkan diri,herannya kepala palsunya bisa ditumbuhi rambut,seperti kepala orang normal,dia bahkan mengijinjkan, tangan saya merabah dan mengetuk tempurung kepala palsunya..ada penghiburan dan penguatan yang diberikan kepada kami yang mampu membangkitkan semangat kami.setelah bapak itu pergi kami kurang peka bahwa Tuhanlah yang sudah mengirimkan bapak itu,sehingga kami tidak boleh putus asa. Tibalah waktu kami diijikan pulang oleh dokter,tapi saya harus masuk RS,karena bayi diperutku,berputar2 dengan kencang,dan menurut dokter karena terlalu kecapean,karena selama di RS saaya jarang bisa tidur.Setelah sehari diinfus kami minta ijin pulang dengan menandatangani surat pulang dengan kemauan sendiri.Kami berangkat ke Jogja dengan naik kereta api,sambil menunggu proses kelahiran anak kami yang kedua.Suami tidak bisa menunggui kelahiran anak kami karena waktu cutinya sudah selesai.Tgl 18 Desember putra kami yang kedua lahir,dan Kami namai : Anggello Tegar Sahaduta,dan dipanggil dengan Tegar,sesuai dengan ketegarannya selama diperut,melewati banyak tantangan dan godaan.Sebulan Tegar lahir,kami harus kembali lagi ke Timika-Papua,Dan Rosario tentu saja sangat menanti2nya,tidak ingin lagi ia ditinggal.Kami berangkat bertiga,saya,Rosario,dan bayi mungilku Tegar.Beruntung selama di travel dan pesawat dengan perjalanan yang panjang bisa dilewati dengan baik.Semuanya berkat pertolongan Tuhan.Tiba di Timika,papanya sudah menunggu penuh kerinduan.Jika Rosario ingin bermain bola,kami pakaikan helm dikepalanya,pokoknya kami sangat protec dngnya.

Suatu hari ketika kami meraba2 kepalanya....kog..di bagian belakang ada lagi benjolan yang hanpir sama dengan sebelumnya,dan ketika kami cek lagi ke dokter,kami disarankan untuk operasi lagi.Ya Tuhanku..apa lagi yang harus kami perbuat? menangis dan menangis...hingga pada satu keputusan berserah dan berpasrah kepada yang empunya segalanya...Memohon,merengek-rengek kepadaNya,untuk cmpur tangan dalam persoalan yang sedang kami alami.Doa Novena dan doa permohonan selalu kami naikkan,biarlah kehendakNya yang jadi bukan kehendak kami.Dimanapun kami berada hanya doa dan doa yang kami panjatkan,dijalanpun,selalu kami panjat dengan doa dalam hati kami,tak ada lagi yang kami andalkan hanyalah kepadaNya.Dan Mujizat Tuhan nyata dan terjadi,ketika kami betul2 berpasrah dan berserah padanya,benjolan di belakang kepalanya lambat laun mengempis dan pulih kembali,Puji bagiNya Yesus sang juru slamat kita,Allah yang hidup,bahkan sekarang tulang dikepalanya sudah mulai menutup.dan sekarang Rosario bisa menjalankan aktivitas seperti anak2 yang normal lainnya.Juli kemarin Ia lulus SD dengan nilai yang memuaskan,dan sekarang duduk di bangku SMP kelas I.

Aku percaya Tuhan mengasihiku dan mengasihi kita semua.seperti firman Tuhan :Jalan hidup orang benar diterangi oleh cahya firman Tuhan,jalan hidup orang benar semakin terang hingga rembang tengah hari,apabila ia jatuh,tidaklah sampai tergletak,karena tangan Tuhan jua yang menolong,dan membangunkannya kembali.Berserah ,berpasrah,dan bersandar kepadanya,pasti akan di berikan kelegaan.Amin

salam,

rachel,yuwantoro,rosario,tegar,abram
Timika-papua.



Rachel Yuwantoro
Email: rachelpaseki@yahoo.co.id

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved