TIGA JERAT


Iblis sedang bekerja secara luar biasa untuk menghancurkan keluarga Kristen. Jerat yang sering digunakan olehnya adalah TIGA-TA: harTA, tahTA dan waniTA. Karena itu tidak mengherankan bila ada statement: ”Pria yang berhasil dalam hidupnya adalah pria yang mampu mengalahkan harta, tahta dan wanita.” Jerat tiga-TA ini telah memakan banyak korban di dunia ini. Tentunya pembahasan ini tidak hanya diperuntukkan bagi kaum pria, tapi juga kaum wanita. Jerat-TA yang ketiga (waniTA) di sini berbicara tentang masalah cinta, nafsu dan seks. Sedangkan harTA berkaitan dengan uang, materi dan kekayaan. Dan tahTA berkenaan dengan jabatan, kedudukan dan popularitas.

1.JERAT HARTA

Banyak orang yang jatuh dalam dosa disebabkan karena jerat harta: penipuan, korupsi, pembunuhan dan kejahatan lainnya. Harta, yang meliputi uang, materi dan kekayaan, sebenarnya bukan sesuatu yang salah/jahat. Namun jika harta menjadi tujuan utama dalam hidup ini bisa menjadi jerat yang menjerumuskan kita dalam dosa. Karena itu nasihat firman Tuhan (Mazmur 62:11), ”janganlah hatimu melekat pada harta.” Sebab jika hati kita melekat pada harta, maka kasih kita kepada Tuhan akan beralih pada harta.

Sebagai keluarga Kristen yang menerima perjanjian berkat dari Tuhan, kita tidak perlu alergi dengan harta sebab ”Berkat Tuhan lah yang menjadikan kita kaya” (Amsal 10:22). Apakah orang Kristen tidak boleh kaya? Boleh saja, tinggal bagaimana kita menyikapi kekayaan tersebut sebagai berkat Tuhan atau tujuan hidup yang harus kita kejar mati-matian. Jika kita sadar bahwa harta/kekayaan adalah berkat Tuhan, maka kita harus dapat mengelola keuangan dengan benar. Bagaimana caranya? Kita harus berani ”menyebar harta” (Amsal 11:24) yaitu dengan cara: mengembalikan milik Tuhan (persepuluhan), persembahan untuk pekerjaan Tuhan, menolong saudara dan sanak family, serta membantu sesama yang mengalami kesulitan hidup. Tapi mereka yang menjadikan harta sebagai tujuan hidup, akan mengejar kekayaan (ingin kaya) sehingga ia akan jatuh ke dalam jerat dan dosa (1 Tim 6:9-10). Orang seperti ini jika menjadi kaya biasanya cenderung menjadi kikir dan tidak peduli dengan sesama (ingat, orang kikir tidak dapat masuk kerajaan sorga – 1 Kor. 6:9-10). Karena itu Yesus juga berfirman ”Orang kaya sukar masuk ke dalam kerajaan sorga” (Matius 19:23). Dalam konteks cerita tersebut Yesus menjawab pertanyaan seorang muda yang kaya, bagaimana caranya dapat memperoleh hidup yang kekal? Pemuda kaya tersebut menjalankan semua hukum Taurat dengan sungguh-sungguh, namun ternyata ia kikir. Karena itu Yesus memerintahkan pemuda tersebut menjual hartanya dan membagikan pada orang miskin. Ternyata ia menolak perintah Tuhan karena ia seorang yang kikir. Jerat harta telah menghancurkan kehidupan pemuda yang saleh itu.

Dalam Matius 6:19-24 Tuhan Yesus mengaitkan jerat harta dengan keinginan mata. Hawa jatuh dalam dosa bukan karena ia tidak mengerti firman, tapi karena ia jatuh dalam keinginan mata sehingga ingin menjadi seperti Tuhan (keangkuhan hidup) – Kej. 3:5-6.

Berapa banyak ibu-ibu atau isteri-isteri karena ”roh ingin” ini menjadikan hidup mereka bergaya konsumerisme dan materialistis. Apalagi di zaman modern seperti ini, ketika ibu-ibu memiliki kartu kredit, maka dengan tanpa kendali ia memuaskan hidupnya untuk meraup harta.

2.JERAT TAHTA

Tahta di sini meliputi: jabatan, kedudukan, posisi dan popularitas. Keinginan untuk memperoleh kedudukan (tahta) biasanya dilatarbelakangi dengan keangkuhan hidup. Yesaya 14:12-14 bintang timur (KJV ”lucifer”) jatuh karena sombong/angkuh, ingin seperti Allah dan bahkan ingin menduduki tahta Allah. Lucifer adalah malaikat yang mempunyai kedudukan istimewa selain Mikhael dan Gabriel. Tapi karena keistimewaannya itu ia menjadi sombong dan mencari tahta. Akhirnya ia dihukum dan dibuang ke bumi (Wahyu 12:7-9). Karena itu kita harus berhati-hati dengan pujian yang diberikan orang lain karena keberhasilan atau kelebihan kita, jika tidak hati-hati kita bisa mencuri kemuliaan Tuhan dan membangun tahta kerajaan sendiri.

Dalam 2 Petrus 2:10,18 dijelaskan karena mencari popularitas maka seseorang bisa mencuri kemuliaan Tuhan dan bahkan menghujat Tuhan (contoh: John Lennon the Beatles, Madonna, dll). Jika sudah merasa diri top/populer maka timbul keangkuhan hidup. Termasuk di dalamnya ”hamba-hamba Tuhan” dikatakan sebagai guru-guru palsu, di mana karena kharisma yang dimiliki maka ia mencuri kemuliaan Tuhan, mencari tahta dan akhirnya sombong dan menghujat nama Tuhan.

Ada yang karena iming-imingan tahta/kedudukan, rela mengorbankan kebenaran. Karena posisi, seseorang berani menukar ”hak kesulungan” (keselamatan) hanya dengan sepiring kenikmatan sementara. Bahkan tak jarang dalam gereja dan organisasi gerejawi terkait, politik uang (money politic) turut bericara untuk mengejar kedudukan dan rasa ambisius. Mari kita belajar tidak mengejar kedudukan, sebab semua itu disediakan oleh Tuhan bagi orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28; Ulangan 28).

3.JERAT WANITA

Jerat yang ketiga berbicara tentang masalah cinta, nafsu dan seks. Dosa ini terkait erat dengan keinginan mata dan keinginan daging. Dari sinilah timbul perselingkuhan dan perzinahan, baik zinah badani maupun zinah hati. Zinah badani ditulis dalam Keluaran 20:14 ”Jangan berzinah” sedangkan zinah hati ditulis dalam Matius 5:28, yaitu memandang perempuan dan ”menginginkannya” (terjemahan asli ”tergeraklah syahwatnya atau terangsang). Sekalipun seseorang tidak melakukan hubungan secara badan (seks) dengan bukan pasangannya, tapi karea ia memandang dan terangsang, di hadapan Tuhan hal tersebut sudah termasuk perzinahan.

Bagaimana mengatasi jerat dosa ini? Mazmur 119:37,38 mengajarkan agar mata kita menghindar dari melihat hal-hal yang hampa. Yesus berkata, ”cungkillah matamu, penggallah tanganmu” (Mat.5:29-30), ini berbicara tentang amputasi rohani. Kita harus berani memotong sumber dari kejahatan/dosa agar lepas dari jerat dosa kenajisan.

Belajarlah untuk menerima kekurangan atau kelemahan isteri/suamimu, jangan mencoba membanding-bandingkan dengan orang lain. Dengan menghargai kekudusan hidup nikah, maka tidak akan ada perselingkuhan dan perzinahan dalam hidup nikah kita.

Dalam keluarga Kristen sepatutnya anggota keluarga tinggal dalam kasih ilahi. Sebab kasih inilah yang mempersatukan dan menyempurnakan hubungan dalam anggota keluarga (Kolose 3:14). Dalam kenyataannya, karena semakin banyaknya kedurhakaan, maka kebanakan kasih orang menjadi dingin/tawar. Dosa perselingkuhan, perzinahan dan perceraian sedang mewabah saat ini. Karena itu hubungan suami-isteri harus terus dipupuk dengan kasih ilahi, sehingga mereka saling menerima, menguatkan, membangun dan mengampuni. Suami tahu perannya sebagai pribadi yang mengasihi isteri dan menjadi imam dalam keluarganya. Isteri harus tunduk dan menghormati suaminya. Dan anak-anak patuh dan taat pada orang tuanya. Sebaliknya, orang tua mengayomi anak-anaknya dan mendidik mereka dalam terang kebenaran firman Tuhan. Jika hal ini terjadi, sungguh ada suatu yang menggairahkan hidup dalam keluarga Kristen.

Pengirim:
Pdt.Yahya Mulyono, MA
GIA Kelapa Gading Jakarta
081.66666.45



Pdt.Yahya Mulyono, MA
Email: penerobos@gmail.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved