Melihat dan Memikul Salib


Seorang pastor misionaris Jerman yang berkarya di Paroki St. Mikhael Tumbajae-Manduamas, Keuskupan Sibolga sering dijuluki "opung bereng ma silangi". "Bereng ma silangi" artinya "lihatlah salib itu". Kata-kata ini menjadi kamus hidup bagi P. Theopil setiap kali dia berkotbah kapan pun dan dimanapun. Di dalam ruangan gereja "Opung" ini selalu mengajak semua orang untuk duduk hening dan mata harus menandang salib yang terpampang di depan altar. "Bereng ma silang" merupakan kunci kontak utama bagi pastor ini dalam menghibur, menasehati dan meneguhkan setiap orang yang datang kepadanya. Seolah-olah kata-kata itu menyatu utuh dalam hidup dan karyanya. Salib baginya sumber penghiburan yang menguatkan dan membawa kepada sukacita hidup.

Konsekuensi Atas Pilihan
Memandang atau melihat salib dalam arti biasa adalah pekerjaan gampang. Apa sih suslitnya melihat salib? Simbol penderitaan, sengasara dan maut sering kali kita maknai dengan kata salib. Setiap kita mempunyai sisi sengsara, susah dan sulit dalam hidup ini. Ada yang memaknai sengsara, susah dan sulit dalam hidup justru dilihat sebagai suatu pelunag tantangan untuk maju. Tetapi kebanyakan manusia 'enggan" dan tak mau bersusah-susah atau berakit-rakit dalam hidup. Pada umumnya manusia mau lepas bebas dari beban hidup. Dan sering kali kita manusia tak kuat atau tak tahan dalam ujian dan tantangan hidup. Kita maunya yang enak-enak saja. Padahal sebagai murid Tuhan kita mendapat teladan Guru Sejati yang memperlihatkan perjuangan dan sekaligus kemenangan atas sengsara dan derita hidup yang memerdekakan seluruh makhluk alam jagat raya.

Yesus mengalamai pergumulan puncak derita dan sengsara ketika berada di taman Getsemani. Menjadi pergumulan karena berada dalam dua pilihan menerima atau menolak penderitaan. Pergumulan Yesus memuncak, pergumulan dimana ia harus menanggung sengsara, derita dan maut. Sengsara, derita dan maut itu diterimaNya sebagai konsekuensi dari tugas perutusanNya di dunia untuk menebus umat manusia. Suatu tugas berat yang tak mungkin di tanggung manusia. Pergumulannya dalam doa menyebabkan keringat Yesus menetes seperti darah. Saat yang menggetarkan jiwa.

Drama derita dan pergumulan maut Tuhan juga menggetarkan para murid-Nya, mereka seolah tak berdaya, di satu segi mereka mengharapkan Yesus menjadi penebus umat manusia yang melepaskan mereka dari berbagai beban dan gejolak hidup. Tetapi justru mereka menyaksikan sendiri Tuhan Yesus diseret ke pengadilan seperti seorang penjahat ulung, seorang yang disamakan seperti melakukan tindakan sparatisme, penjahat kota, yang menghasut banyak orang. Hal ini sangat jelas diungkapkan dalam madah Yahwe yang menderita dalam bacaan pertama Jumat Agung. Melukiskan derita yang sangat mengerikan “wajahnya tak lagi seperti manusia, begitu buruk dan kotor”. Hamba Yahwe harus mengalami penderitaan dan korban nyawa menjadi taruhan demi nilai yang besar yakni kebenaran yang mememerdekan dan menyelamatkan semua manusia.

Berhadapan dengan peristiwa sengsara Tuhan seolah olah Para murid kehilangan daya hidup. Hal itu dimulai dengan peristiwa di taman Getsemani, Para murid kelelahan dan mereka tidak tahan menghadapi kantuk dan tertidur. Para murid dalam kemanusiaan mereka tidak tahan menghadapi kelemahan, mereka jatuh dalam pencobaan daging yang menyebabkan mereka pulas tertidur. Yesus menyuruh mereka untuk “Berjaga-jaga dan berdoa, supaya mereka jangan jatuh ke dalam percobaan” tetapi memang “roh penurut tetapi daging lemah.” (Mrk.14:38). Kecendrungan kita manusia tidak tahan dalam ujian dan cobaan hidup.

Ketika berhadapan dengan badai dan derita hidup kita seringkali mau menghindar atau bahkan lepas tanggung jawab mau mencari yang enak dan gampang saja. Umumnya kita sepertinya enggan mau berkait-rakit ke hulu atau bersakit-sakit dahulu,lalu bersenang-senang kemudian. Kita gampang menyerah pada situasi dan keadaan.

Sengsara dan Derita Realitas Hidup

Derita, sengsara dan maut adalah realitas yang sering kita alami setiap hari. Derita, sengsara dan maut itu pula berbeda-beda bobotnya pada setiap orang. Juga dalam menghadapi realitas derita dan sengsara itu pula berbeda-beda juga untuk memaknainya. Ada sebagaian orang dengan cepat menangkap derita dan sengsara hidupnya sebagi tanda kasih Allah dalam menguji kedalaman imannya. Tetapi ada sebagian orang malahan melihat derita dan sengasara sebagai malapetaka, bahkan kutukan dari Allah. Berhadapan dengan itu semua sikap dan prilaku iman macam apa yang dibutuhkan?

Sebagai umat beriman Kristiani, justru kita harus belajar dan menimba kekuatan dari dari Sengsara Tuhan sendiri "bereng ma silangi". Sengsara Tuhan Yesus adalah suatu peritiwa iman yang sangat mendalam maknanya bagi pertumbuhan dan keteguhan iman kita. Jumat Agung tidak saja merupakan kegiatan tahunan dimana kita mengulangi drama penyalipan Tuhan, passio, tetapi dengan pristiwa Jumat Agung, sebenarnya….kita merayakan sisi derita hidup kita bersama dengan Tuhan yang menderita bagi kita setiap waktu. Kita mati dan hidup bersama Tuhan. Perjuangan dan derita hidup kita mestilah perjuangan dan derita bersama Tuhan yang memerdekan, membebaskan dan memberi hidup bagi orang lain. Tuhan sendirilah yang harus menjadi pengerak dan penuntun yang melampaui kita dikala kita mengalami derita dan galau hidup. Perjuangan hidup kita akan mencapi puncaknya ketika orang lain memperoleh dan mengalami hidup.

Maka, makna Salib Tuhan dalam passio Tuhan..hendaklah itu menjadi tanda yang mengingatkan kita bahwa perjuangan dan perjalanan hidup kita adalah passio bersama Tuhan. Salib Tuhan menghibur kita dikala beban hidup terlampau berat. Tetapi Salib itu harus kita junjung dan kita pikul dalam hidup setiap hari.

"Melihat dan Mencium Salib MMS"
Melihat dan mencium salib adalah tanda hormat kita terhadap derita Tuhan yang menyelamtakan kita dari maut dosa. Melihat dan mencium salib Tuhan adalah juga tanda bahwa kita mau menyatukan derita hidup kita dalam derita salib Tuhan. Kita mau menimba kekuatan dari Salib Tuhan untuk berani bertarung demi kebenaran dalam hidup. Kita bertarung salam hidup bukan seperti para algojo-algojo, para imam kepala, seperti Pilatus, yang hanya memikirkan kepentingan dirinya, demi jabatan hidupnya, mempertahankan status quo, egoisme kelompok. Tetapi kita diajak untuk memandang dan mikul salib Tuhan dengan setia menjalani hidup bersama Tuhan sampai selesai. Kita tidak hanya cukup “memandang salib” “bereng ma silang I” tetapi kita memandang dan sekaligus memikul, membawa Salib itu bersama dengan Tuhan sampai selama-lamanya.......



Gusti Pardi
Email: pardi.gusti@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved