ELEGI


Seperti musim yang selalu berganti, seperti warna yang tak hanya hitam dan putih. Seperti hidup ini selalu ada yang datang dan ada pula yang pergi. Kegembiraan dan kebahagiaan kita dapat berubah dalam sekejap menjadi kesedihan dan kekecewaan. Tetapi bukankah tanpa rasa kecewa kita takkan mengenal rasa gembira? Tanpa kesedihan apa mungkin kita tahu makna kebahagiaan? Demikianlah, tak ada musim hujan tanpa kita mengenal musim panas. Begitulah hidup ini kita jalani dengan penuh keaneka-ragaman yang tidak selalu menyenangkan namun selalu dapat dinikmati.

Karena keindahan bintang-bintang hanya dapat disaksikan dalam gelapnya malam. Kekuatan kita pun selalu akan teruji saat kita menghadapi tantangan. Seberat apa pun soal yang sedang kita hadapi, terimalah dengan ketabahan dan ketenangan seakan semuanya hanya masalah biasa saja. Sebab percayalah bahwa harapan pada perubahan akan selalu ada jika saja kita meyakini bahwa semua hanya soal upaya dalam menerima dan menjalani hidup kita sehari-hari. Maka biarpun kita merasa kecewa, janganlah bersedih. Kita tidak tahu kapan waktu kita usai tetapi selama kita mau dan mampu untuk memperjuangkan kebahagiaan kita, kita takkan kecewa. Dan hidup ini takkan sia-sia. Tak pernah akan sia-sia.

Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban. Tidak semua persoalan memiliki jalan keluar. Memang. Tetapi pasti bahwa semua pada akhirnya akan berlalu juga. Demikianlah, musim datang dan pergi. Bertukar wajah dalam saat-saat yang tak pernah kita duga. Maka ada saatnya kita hanya dapat berharap. Berharap tetapi jangan pernah berhenti untuk berupaya. Sambil menyelesaikan satu demi satu kesedihan dan kekecewaan kita dengan penuh keyakinan bahwa pada akhirnya kita dapat meneguhkan hidup kita ini apa adanya. Inilah hidup kita. Inilah kita. Maka kita takkan kecewa. Takkan putus asa.

Di depan kita ada jalan terbentang panjang. Dengan ujung yang tak dapat kita lihat. Hanya dapat kita susuri. Dengan tak pernah berhenti. Dengan selalu melangkah maju. Kadang sambil tertatih-tatih karena keletihan atas beban yang harus kita pikul. Siapakah yang tak pernah memikul beban dalam hidupnya? Siapakah yang selalu dapat melangkah dengan pasti tanpa memikul masalah? Bukankah setiap orang selalu meyakini dirinya bahwa bebannyalah yang paling tak tertanggungkan? Jika begitu, beban siapakah yang bisa dikatakan dengan pasti sungguh tak tertanggungkan? Bukankah sesungguhnya setiap orang harus dan memang harus memikul masalahnya sendiri. Setiap orang punya kesedihan dan kekecewaannya sendiri. Tinggal bagaimana kita menghadapi dan menerima beban hidup ini. Hanya pada keyakinan kita terhadap hidup ini saja.

“Seandainya aku punya sayap, terbang terbanglah aku.....” demikian syair sebuah lagu indah. “Seandainya” adalah sebuah kata yang sayangnya, tak selalu dapat kita wujud-nyatakan. Bahkan sering tak mungkin dapat kita raih. Tetapi bagaimana pun juga syair itu berbunyi, keindahan lagu tersebut selalu dapat kita nikmati. Dan begitu pula dengan kehidupan ini. Sebuah hidup yang mungkin demikian perih dan pahit sekalipun selalu dapat kita nikmati dengan penuh rasa syukur. Bahwa paling tidak, kita dapat merasakan dan menjalaninya. Bahwa paling tidak, pengorbanan kita takkan sia-sia begitu saja. Bahwa selalu ada senyum dibalik tangis. Bahwa selalu ada harapan dibalik segala sesuatu yang terasa suram dan tak tertanggungkan. Kita hanya perlu percaya. Kita hanya butuh keyakinan. Maka kita pun mampu menjalaninya. Mampu menerima segala sesuatunya.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat. 11: 28 – 30)

A. Tonny Sutedja



A. Tonny Sutedja
Email: tonny_sutedja@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved