Karya Kami Hanya Doa


Pukul tiga pagi lebih lima belas menit. Dingin menusuk kulit. Dunia seolah berhenti berputar. Semuanya terasa beku di tengah kompleks biara para rahib Santa Maria Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah. Kompleks biara itu terjepit di tengah bukit, bersanding dengan tebing curam yang ditumbuhi pohon kopi. Gerimis baru saja turun. Keheningan yang nyaris sempurna, andai saja tidak terdengar desau angin pegunungan. Dan keheningan yang penuh daya gaib, mampu menentramkan jiwa yang gundah, tiba-tiba robek oleh dentang lonceng kapel.

Di pagi buta itu suaranya mirip koor malaikat. Menggema dan menelusup di sela-sela perkebunan kopi. Satu demi satu para rahib masuk ke ruang kapel. "Marilah menyapa dan memuji Tuhan Yesus yang telah rela menderita bagi manusia...." Itulah bait awal doa pujian saat para rahib memulai ibadat yang pertama tepat pukul 03.30. Hal itu dilakukan setiap hari. Tatkala di tempat lain orang masih terbuai mimpi, di pertapaan trapist Rawaseneng itu mereka sudah menyapa Allah Sang Pencipta. Doa pujian, bacaan suci, meditasi bersama, semua dilakukan oleh 33 rahib atau pertapa di tengah keheningan alam. Mereka itulah pewaris harta rohani Santo Benediktus, yang pernah menjadi eremit (pertapa tunggal) di sebuah gua pada abad 6, selama 3 tahun.

Ketika namanya terkenal, banyak orang datang minta nasihat dan bimbingan rohani. Tugas pelayanan itu tidak mungkin ditangani sendiri, dia lalu mendirikan 12 pertapaan kecil. Masing-masing pertapaan dihuni 12 rahib dan dipimpin seorang Abas atau Bapa Rohani. Mereka itulah yang disebut senobit, karena hidup bersama dalam satu biara. "Tapi karya utama kami, para rahib, adalah doa. Meski kami lari dari dunia ramai, bukan berarti kami lalu acuh terhadap sesama dan kehidupan ini. Tidak. Para rahib, sesuai panggilannya, ingin mengingatkan sesamanya akan nilai-nilai rohani yang harus diperjuangkan dan dijunjung tinggi. Katakanlah, seorang rahib bisa menjadi semacam tanda, suatu petunjuk untuk memberi kesaksian akan keagungan Allah. Juga persaudaraan semua orang dalam Kristus," papar Abas Frans Harjawiyata OSCO ( Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae).


Tamu Berdatangan

Meski berada di tengah daerah perbukitan yang luasnya 178 hektar, namun kompleks biara ini terasa sempit. "Lihat saja, sebagian besar berupa jurang dan tebing. Dulu kami hampir menolak tempat ini. Sebab memang sulit untuk dikelola," tutur Romo Abas sambil menunjuk tanah perbukitan yang hijau. Pada jaman Belanda, kompleks itu dipakai untuk Sekolah Pertanian. Ketika Jepang datang, gedung sekolah dipakai untuk menahan wanita-wanita Belanda. Saat Clash II pecah tahun 1948, tempat itu dibumihanguskan oleh kaum gerilya. "Jadi kapel tempat kami berdoa itu lebih layak disebut ruang kelas. Dan kamar para rahib bentuknya tidak beraturan, karena ditambah sedikit demi sedikit sesuai jumlah anggota," lanjut Romo Abas sambil menunjuk kamar dan ruang kuliah para rahib yang sederhana.
Hari itu ada seorang perempuan setengah baya, tampak mengikuti ibadat doa bersama para rahib dengan khusuk. Ia membuka-buka buku pegangan doa keluaran tahun 1957 yang telah disediakan. Sementara para rahib berdoa dengan jubah putih tak berkerudung, terkadang duduk, kemudian berdiri, lalu membungkukkan badannya. Semua itu juga ditirukan oleh perempuan tadi dan beberapa orang yang sengaja datang ke pertapaan untuk retret pribadi maupun mereguk keheningan sepuas hati. "Saya baru untuk pertama kali ini melakukan retret pribadi di Rawaseneng. Sebagai orang tua, saya ingin hidup tenang. Sudah berbulan-bulan saya mencoba untuk koreksi diri, datang ke psikiater minta terapi, tapi tak juga mendapatkan sumber masalah yang menyebabkan saya tidak tenang. Kini ketenangan itu sudah mulai saya rasakan, sekalipun baru konsultasi sekali saja," kata perempuan tadi.

Ada lagi seorang lelaki tua datang dari Jakarta. Dia sudah berkali-kali retret pribadi di pertapaan itu dimulai sejak tahun 1988. Kini dia merasakan ketagihan untuk selalu mengadakan retret. Sebagai pengusaha di Jakarta yang super sibuk, ia merasakan ketenangan hidup itu saat melewati hari-hari penuh doa di pertapaan Rawaseneng. "Ada rasa aman manakala hidup di tengah para pendoa. Sebenarnya kalau diijinkan, saya ingin tinggal di sini selamanya sampai mati. Sayang, pertapaan tidak mengijinkan," paparnya penuh kepasrahan. Yang berminat seperti itu banyak jumlahnya. Namun Romo Abas menggelengkan kepala tanda tidak setuju. "Biara ini didirikan tidak untuk karya seperti itu. Kalau kami ijinkan, wuahh, nanti tempat ini bisa jadi semacam penampungan orang-orang jompo," seloroh Romo Abas sambil tersenyum.

Seorang bapak tampak berjalan tertatih-tatih, sedikit agak sempoyongan. Namun kini ia mengaku sudah ada kemajuan. Bisa makan sendiri, mencuci, berbicara tanpa cedal. Bapak tua itu sedang retret untuk kesembuhan penyakit strokenya. "Saya sendiri tidak tahu pasti, mereka sembuh karena doa-doa kami atau sebab lain. Itu bukan urusan saya, itu urusan Tuhan. Ada atau tidak ada tamu yang datang untuk retret, kami tetap melakukan kegiatan seperti biasanya, yakni berdoa dan bekerja," jelas Romo Abas lagi. Pertapaan trapist Rawaseneng yang berdiri tahun 1953, tentu telah mencatat dengan tinta emas berbagai peristiwa yang terjadi di situ. Catatan itu tidak dalam bentuk buku atau album khusus, namun ada di dalam hati dan jiwa mereka yang pernah mencecap keheningan Rawaseneng. "Tidak sedikit orang merasa sembuh dari sakitnya hanya karena merasakan suasana hening. Mungkin itu bentuk lain dari rahmat Allah buat mereka yang datang kemari," lanjut Romo Abas. Terkabulnya banyak permohonan para tamu, sembuhnya mereka dari penyakit yang diderita, diakui Romo Abas bukanlah tujuan utama para rahib mendirikan pertapaan. Para rahib bukanlah psikiater, dokter ahli atau ahli terapi. Mereka mengakui tak punya kompetensi untuk menyembuhkan suatu penyakit apapun. Padahal, para tamu yang datang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang dan sebagainya itu, kebanyakan datang mengadakan retret untuk mendapatkan kesembuhan atas luka batin maupun sakit yang lain. Dan nyatanya berhasil. "Mereka datang kemari, bukan tertarik karena pribadi kami, namun karena kelompok kami yang menjalani hidup seperti ini. Dimana dalam hidup sehari-hari kami lalui dengan rangkaian doa dan kerja," papar Romo Abas lagi.

Sekalipun banyak tamu, para rahib tak merasa terganggu. Kegiatan rutin berjalan seperti biasa. Sebab para tamu memang tidak boleh masuk ke dalam kompleks biara. Mereka hanya ditempatkan di ruang tamu. Banyak tamu yang datang di samping mencari ketenangan dan kesembuhan, mereka juga ingin ikut berdoa bersama para rahib dan melihat cara hidup para rahib dari dekat. Dalam sejarah gereja, tradisi hidup kerahiban dimulai pada awal abad IV di padang gurun Mesir, di sekitar Sungai Nil. Gerakan itu didorong keinginan batin yang menyala-nyala untuk menghayati hidup Kristen secara radikal dan konsekuen sesuai Injil. Sesuai aturan, para rahib tidak diperkenankan menerima sembarang tamu tanpa seijin Romo Abas. Bahkan di antara para rahib sendiri tidak diperkenankan berbicara di sembarang tempat. Prinsip mereka, banyak bekerja sedikit bicara.
Karena itu selama ibadat dan berdoa di dalam kapel, antara para rahib dan tamu duduk secara terpisah. Para rahib cenderung "cuek", ketika berdoa menjadi obyek tontonan bagi tamu yang baru pertama kali datang ke Rawaseneng. Posisi mereka saat doa saling duduk bertatapan membentuk dua kelompok, berdoa saling bersahut-sahutan, terkadang duduk, berdiri dan tak jarang membungkukkan badan. "Mereka yang datang bukan hanya orang Katolik saja, namun banyak yang beragama lain. Mereka sekedar ikut doa sebisanya, melihat cara hidup dan doa kami. Nyatanya, mereka pulang sudah mendapatkan sesuatu yang diinginkan, berupa kesembuhan dari suatu penyakit yang diderita. Kesembuhan itu terjadi karena suasana di pertapaan yang tenang ini, dan mungkin juga berkat doa-doa kami. Sekalipun kami tak mau mengklaim, mereka sembuh karena doa-doa kami," kata Romo Abas dengan rendah hati. Di sisi lain, sekalipun para rahib tugas utamanya berdoa sebagai ungkapan kecintaannya pada Tuhan, mereka juga mengakui sebagai manusia biasa yang butuh makan untuk hidup.

Di atas tanah pegunungan yang berhawa sejuk seluas 178 hektar, dijadikannya lahan untuk kerja. Mereka bekerja bukan untuk menumpuk harta, namun sekedar untuk bisa hidup mandiri, sehingga tak menjadi beban bagi orang lain. Maka di atas lahan itu, didirikanlah usaha peternakan sapi perah, babi dan perkebunan kopi. Atas saran pemerintah, usaha yang sebelumnya berbentuk yayasan, mulai tahun 1990 menjadi sebuah PT dengan nama PT. Naksa Kejora yang mempekerjakan lebih dari 100 pekerja tetap. Layaknya sebuah perusahaan pada umumnya, di situ ada direktur utama, komisaris, bendahara, tunjangan kesehatan, pensiun, koperasi ataupun SPSI bagi karyawannya. "Bagi kami, entah usaha ini berbentuk yayasan atau PT, kami tak mempermasalahkan. Kami kerja, sekedar untuk cari makan sekadarnya. Buktinya, rejeki dari usaha ini, justru lebih banyak dinikmati oleh orang lain. Kami jumlahnya hanya 33 orang, tapi jumlah pekerja ada 100 orang yang masing-masing menghidupi rata-rata 3 anak dan istrinya," papar Romo Abas lebih lanjut. Kesederhanaan para rahib, mewujud dalam cara hidupnya. Menu makan sehari-hari lebih sederhana daripada tamu yang datang. Untuk tidur cukup sebuah papan dan selembar tikar, sedang para tamu tidur di atas kasur. Hidup tanpa pembantu, mereka biasa cuci pakaian, cuci piring sendiri seusai makan. Piring pun sekedar terbuat dari blek dan cangkir plastik.
"Anda tadi pagi sarapan dengan lauk apa? Adakah telur? Kalau itu ada, kami justru lauknya lebih sederhana daripada Anda," jelas Romo Abas sambil tersenyum. Sekalipun punya puluhan hektar kebun kopi, ratusan ternak sapi perah dan babi, pembuatan roti keju yang hasilnya dijual di berbagai kota besar, para rahib tak mau hidup ongkang-ongkang kaki. Mereka hidup dari kerja, sehingga tak punya harta berlebih, apalagi sampai punya deposito. "Kami hidup bukan dari bunga deposito. Kami tak punya tabungan. Seandainya ada rejeki sedikit, kami berikan untuk beasiswa puluhan anak dan bantuan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu di sekitar Rawaseneng. Kami hidup bersama mereka, jadi selayaknya jika kami juga memperhatikan kebutuhan mereka," papar Romo Abas lebih lanjut dengan suara tenang.
Terima kasih Romo Abas. Terima kasih para rahib. Di tengah zaman edan penuh kekacauan ini, doa-doa yang engkau lambungkan bagai embun penyejuk bagi jiwa kami yang kering kerontang. Paling tidak kami masih bisa berharap, ada orang yang suntuk dan tekun mendoakan hidup kami yang terengah-engah dalam peziarahan yang panjang.

Sebuah artikel dari Majalah UTUSAN No. 04, April 2001



Simon Sudarman/Budi Sardjono

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved