Pohon Natal Di Panti Jompo


Suster Katrin baru saja mengajak para lansia untuk ikut menghias sebuah Pohon Natal di Panti Jompo, dan mulai membagi-bagi hiasan Pohon Natal yg beraneka ragam itu kepada para lansia. Tentu para lansia itu senang sekali. Mereka pun mulai merubung Pohon Natal setinggi 2 meter itu, yg diletakkan di sudut ruangan, tempat semua orang biasa berkumpul.

Dua bersaudara, kakek Kliwir dan kakek Klowor sungguh senang boleh ikut serta menghias Pohon Natal itu, dan merekapun mulai menghias bagian depannya. Mbah Ciblon yg sudah buyutan (gemetaran tangannya) juga mulai asyik menghias bagian yg lain dgn sangat hati-hati bersama mbah
Nyi'in, istri kakek Klowor. Sementara eyang Cosmas yg semasa mudanya memang senang naik gunung, dibantu mbah Uci dgn tertatih-tatih menggeret sebuah kursi. Mereka berdua memilih utk menghias bagian atas Pohon Natal tsb. Ruangan itu menjadi penuh dgn sukacita mereka. Suster Katrin tersenyum melihat mereka bergembira. Tapi sejenak ia celingukan mencari dua lansia lainnya, kakek Sutengli dan mbah Lome.

Oohh.. rupanya kakek Sutengli memilih utk menghias bagian Pohon Natal yg menghadap ke sudut tembok ruangan. Sementara mbah Lome memasangkan lampu2 kecil dalam rimbunnya Pohon Natal yg mulai terlihat meriah itu. Sesekali ia memperbaiki kunyahan tembakau di mulutnya. Usai menghias Pohon Natal itu, mereka beristirahat dan duduk di sekitar Pohon Natal itu. Menikmati hasil karya mereka bersama sambil makan penganan yg disiapkan oleh rekan mereka sendiri.

Suster Katrin yg penasaran thd kakek Sutengli, bertanya perlahan kepadanya, 'Kek Suteng, kenapa kakek memilih menghias bagian Pohon Natal yg menghadap ke sudut tembok? Kan bagian pohon di situ hiasannya tidak terlihat orang?'

Kakek Sutengli dgn terbata-bata dan terbatuk-batuk kecil menjawab, 'Suster, semua adalah bagian dari Pohon Natal, termasuk yg menghadap ke sudut tembok yg tak selalu terlihat orang. Mengapa kita tidak
menghiasnya juga? Apakah hanya yg terlihat orang saja yg kita hias dgn berbagai hiasan yg meriah? Apakah bagian pohon yg jarang terlihat itu tidak boleh ikut gemerlap sama seperti bagian pohon yg lainnya?'

Mbah Lome yg Jawa-nya msh medhok menyambung, 'Betul Suster. Dan alasan kulo (saya) masang lampu jauuuuh di dalem daripada pohon itu, justru cahaya daripada lampu2 kecil di bagian dalem daripada Pohon Natal itu kulo yakini mesti maringi (memberikan) cahaya ke seluruh daripada pohon,
dan nambah gemerlap hiasan yg ada di luarnya. Mosok hiasannya saja yg kelihatan? Lha pohonnya tetep gelap, toh nggih?'

Suster Katrin terdiam dan manggut-manggut. Jawaban dua lansia itu membuatnya merenung. Ya, mereka berdua benar, pikirnya. Apa yg dikatakan kakek Sutengli ibarat orang yg mempersiapkan Natal hanya lahiriahnya saja. Hanya pada apa yg terlihat oleh orang lain. Membeli baju baru, menghias rumah, mempersiapkan makanan dan minuman utk tamu2 yg akan datang, dsb. Tapi ia justru tdk mempersiapkan hatinya, bathinnya.Mungkin pergi ke gereja pun hanya sekedar kewajiban yg memaksa. Bukan suatu kerinduan dan persiapan hati yg sungguh-sungguh. Padahal seperti yg dijawab oleh Mbah Lome, lampu2 kecil dalam Pohon Natal yg menerangi seluruh Pohon Natal itu ibarat hati yg penuh suka cita, penuh iman dan pengharapan. Ia menerangi seluruh diri kita, menambah 'gemerlap'-nya diri kita, bahkan tanpa tambahan perhiasan duniawi apapun.

Kata-kata kakek Sutengli itu juga mengingatkan hal lain lagi bagi Suster Katrin. Ya, betapa kita sering hanya mempedulikan orang-orang yg terlihat oleh kita saja, yg sering kita jumpai, yg sering kita dengar dibicarakan orang. Tapi apakah kita mempedulikan mereka yg justru hampir tak pernah terlihat, tak pernah dibicarakan, dan tak pernah terjamah oleh orang lain?
Suster Katrin berdoa dalam hatinya, agar di Natal tahun ini Tuhan membimbingnya utk dapat menemukan mereka, bisa membantu mereka, sehingga mereka dapat mengalami \"kelahiran\" sebagai manusia-manusia baru. Boleh mengalami indahnya dunia tidak hanya pada Natal tahun ini. Setidaknya
mereka mendapatkan kepedulian yg sepantasnya dari sesamanya.

AMDG,



Yoseph Dwi
Email: jossy2@indosat.net.id

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved