Pengakuan Dosa


Sejak Minggu Palem, hati saya tergerak untuk mengaku dosa, ingin rasanya mengungkapkan smeua dosa yang kubuat ini dan juga memohon pengampunanNya. Hati ini terasa ada ganjalan pas mengikuti minggu pelm, dimana rasanya kok tega sekali melihat peristiwa itu, kita mengakuiNya sebagai Raja, kemudian smeingug sesudah itu malha kita menyalibkan Raja kita… ada perasaan yang tidak enak saat mengikuti minggu palem itu…
Saya memang belum sempat mengaku dosa, sebenarnya dalam minggu sebelumnya ada kesempatan untuk mengaku dosa, karena saya juga kebetulan diminta bertugas pada salah satu kegiatan karismatik, yakni pada saat SHBDR, saat itu saya diminta juga untuk mencari seorang Romo untuk membantu acara pengakuan dosa. Suatu rencanaNya pula saat itu aku lagi dekat dengan seorang romo, dan aku minta kesediaannya dia pun mau.
Pada saat acara itu, tenryata waktu yang diberikan itu tidak mencukupi, dan melihat masih banyaknya peserta yang ingin mengaku dosa dan juga sang romo tidak bisa terlalu malam, karena besok paginya ia akan pergi lagi, maka saya putuskan saya mengalah lain kali saja. Saya sempet bercanda dengan teman yg lain, ntar aku ngaku dosanya di mobil aja, khusus nih, soalnya kan juga romonya aku yang antarkan juga…
Karena kerjaan yang mengejar target, aku mesti pulang sekitar jam 8-10 malam tiap hari, sehingga tidak sempet ke gereja untuk sakramen pengakuan dosa.
Setiap kali aku bangun pagi setelah minggu palem itu, niat aku sudah bulat untuk mengaku dosa setelah misa pagi hari, jadi aku bangun jam 5 pagi hari, akhirnya menjelang Kamis Putih, yakni pada Rabu subuh aku pergi ke misa pagi dan setelah misa aku menghampiri romo di paroki untuk meminta waktunya untuk ngaku dosa.
Tapi ternyata romo tersebut berhalangan memberikan sakramen pengakuan dosa, dia mengatakan ‘pergunakanlah waktu yang ada’…
Saat itu aku berkata terima kasih romo. Dalam hati aku tambah sedih dan kecewa, aku kecewa dengan diriku dan juga romo yang tidak memberikan kesempatan sebentar saja untuk diriku, tapi aku sadar aku harus menggunakan waktu dengan baik untuk mengambil bagian dalam sakramen ini.
Karena kesibukanku, aku berusaha lembur agar pada hari Kamis Putih aku bisa ambil cuti serta pada Sabtu dan Minggu Paskah aku bisa curahkan semua waktuku utk mengenang peristiwa Paskah itu. Karena jika aku selesaikan semua itu sebelum Kamis Putih, aku tidak harus datang seperti yang lainnya pada hari Sabtu dan Minggu Paskah. Sehingga aku tidak bisa mengikuti jadwal sakramen tobat ini di gereja paroki aku.

Rasa kecewa ini terus terbawa, dan aku ingin melupakannya, aku tahu ini semua salah aku, dengan masih memikirkan hal itu aku berangkat ke kantor sehabis misa tersebut.
Dalam pejalanan itu, aku kembali berbicara kepadaNya dan mohon maaf untuk ini dan aku berjanji suatu hal, aku ingin ikut Tuguran ( acara berdoa bersama Yesus pada malam menjelang Ia disalib ) aku ingin mengaku dosa semuanya secara langsung disaat hening itu.
Tapi karena kejadian itu, di hatiku menjadi ada rasa kecewa, ada perasaan berat sekali untuk tetap tersenyum, malam itu aku berusaha merenungkan dan juga berusaha keras untuk melupakan dan menghargai keputusan romo tersebut.

Pada Rabu malam itu, aku kembali mengirimkan renungan harian, dan saat itu aku baca renungan menjelang Kamis Putih, aku tersentuh dengan renungan tersebut: ‘Dulu, pada hari ini ada pengampunan dosa bagi para pendosa. Mereka diterima kembali dalam pangkuan Gereja. Orang kristen bisa tetap meneruskan tradisi pengakuan ini. ‘
Sungguh indah jika bisa seperti itu, aku sungguh rindu dan menginginkan untuk mengaku dosaku menjelang Paskah kali ini.

Kamis pagi aku berangkat ke Katedral, mengikuti Misa Krisma, Pembaharuan janji Imamat, saat itu aku berharap bertemu romo tersebut dengan maksud ingin menyapanya saja dan ingin menunjukkan pada diriku bahwa aku sudah melupakannya, ternyata benar aku bertemu dengan sang romo ini, dan aku menyapanya, dan dia tersenyum.
Kamis malamnya aku kembali lagi ikut misa ke Katedral bukan ke paroki aku seperti biasanya, aku tergerak untuk ke Katedral, aku pergi kesana, karena sesuai janjiku juga aku ingin Tuguran disana, makanya aku menyiapkan semuanya, walau antri panjang, tapi aku senang aku bisa hadir disana, dan puji syukur aku bisa masuk ke dalam gereja dan mengikuti misa Kamis Putih dengan baik…
Setelah misa, aku menunggu jam 10 malam untuk mulai Tuguran, pada saat berjalan melewati pingigr gereja Katedral kembali aku tersentuh lagi, aku senang aku bisa ikutin acara jalan salib dengan mengikuti semuanya, bisa juga berpuasa pada saat prapaskah ini, dan aku berkata padaNya, Tuhan sayang hanya satu yang aku ngak sempat lakukan, aku belum mengaku dosa kepada Engkau melalui seorang romo… lalu aku berkata lagi, kalau boleh aku ingin mengaku di Katedral ini…
Pas aku lewat di sisi gereja, ternyata romo yang memimpin misa Kamis Putih sedang beramah tamah dengan umat, aku pun dengan niat mau mengaku dosa, tapi kembali terkenang perkataan romo di paroki aku, tapi aku tidak menyerah, dan aku liat romonya, saat semua orang sudah berlalu aku memberanikan diri dan mohon dalam hati kepada Tuhan, aku berkata kepada romo tersebut, romo ada waktu ? aku ingin mengaku dosa…
Aku tahu, aku ini tidak tahu waktu, romonya pasti lelah, tapi alangkah suatu kemurahan Tuhan, sang romo merangkul aku, kita lakukan di kapel saja, hatiku berteriak dengan senang, dan aku bisa mengungkap semua ganjalan di hati ini, aku berterima kasih kepada waktu yang diberikan, aku sangat hargai hal itu, dan juga mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, ternyata rencanaNya sungguh ingah, sesuai renungan itu aku bisa mengaku dosa pada hari Kamis Putih di Katedral serta juga aku berhasil melalui suatu masalah dimana aku tidak menyerah untuk terus mau mengaku dosa, walau sempat aku ditolak, tapi ternyata itu adalah suatu ujian bagi aku, apakah aku bia tidak membencinya dan lebih menghayati arti mengaku dosa ini….
Pengakuan dosa kali ini sungguh berkesan, dan paskah ini sungguh berarti bagiku…

Terima kasih Tuhan…



vids - Pondook Renungan
Email: vids@pondokrenungan.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved