Belas Kasihan


‘Ketika Yesus melihat orang banyak, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala’

Saudara-saudara terkasih,

Di tengah kehidupan jaman yang diwarnai persaingan dalam berbagai aspek, sulit rasanya menjadi murid Kristus dengan gerak belas kasihan. Kita umumnya lebih suka untuk berorientasi ‘gerak naik’: yakni perjuangan hidup untuk mencari popularitas, mencari kekayaan, segala sesuatu yang mapan dan pasti, maupun jabatan dan kekuasaan.

Gerak belas kasih berkebalikan dengan tata nilai duniawi karena ‘gerak belas kasih itu gerak menurun’, yakni menuntut ‘sikap pengosongan diri’ (kenosis). Yesus telah memulai ‘gerak belas kasih’ terhadap manusia yang berdosa: dengan memilih untuk menderita sengsara sampai wafat di salib. Kendati Ia berhak untuk membela diri atas tuduhan menghojat Allah, Ia tidak memperjuangkan hak itu, sehingga Ia rela diperlakukan tidak adil, mau dibunuh kendati tidak bersalah. Ia kehilangan kesempatan masa depannya dan kekuasaannya. Itulah Yesus yang ‘tidak mempertahankan keallahannya (Flp2:6-7). ‘ Tindakan belas kasih menuntut rela kehilangan segalanya: perasaan, waktu, tenaga, kekayaan, orientasi efektifitas dan efisiensi. Namun melalui tindakan-Nya itulah, Yesus berperan sebagai ‘pengantara’ Allah dan manusia, yakni dengan mengorbankan diri-Nya di salib sebagai persembahan yang kekal, agar manusia, yang telah jatuh dalam dosa, ditebus dosanya oleh darah-Nya, sehingga manusia beroleh hidup dalam Roh. Dalam Yesus, manusia didamaikan dengan Allah.

Minggu ini kita diajak merenungkan panggilan kedua belas murid. Yesus memberi kepercayaan kepada mereka untuk menjadi ‘perantara’ kehadiran cinta Allah, yang terwujud dengan mencari domba-domba Israel yang hilang, menyembuhkan orang sakit, mentahirkan orang kusta, membangkitkan orang mati dan mengusir setan. Apakah panggilan itu masih berlaku untuk kita sekarang ini?? Apakah kita dapat menyembuhkan orang sakit, mentahirkan orang kusta, membangkitkan oran mati dan mengusir setan?

Jawabannya bukan ya atau tidak melainkan jawabannya mesti ditempatkan dalam terang kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus mengubah makna penderitaan manapun bahkan kematian sekalipun bukanlah akhir segala-galanya. Karenanya, di balik setiap penderitaan ada ‘harapan baru’, yakni kehidupan. Ternyata kematian Kristus demi penebusan dosa manusia justru ‘jalan’ menuju hidup dalam Roh. Hidup dalam Roh, adalah hidup sebagai anak-anak Allah. Berkat kesatuan Kristus yang hidup bersama manusia, dan mati dengan manusia, manusia pun memperoleh karunia pengharapan akan hidup sebagai anak-anak Allah. untuk menjadi murid.

Menjadi murid tidak lain juga berperan sebagai ‘pengantara’ agar sesama kita yang menderita meyaksikan ‘pengharapan sebagai anak-anak Allah’. Karena itu, pertama-tama kehadiran diri kita di tengah sesama yang sedang mengalami penderitaan, adalah ‘tanda’ bahwa masih ada sahabat yang menemani ketika aku mengalami penderitaan. Kehadiran membutuhkan disiplin untuk kehilangan waktu, tenaga, perasaan, kekayaan, rela tidak berorientasi keberhasilan tetapi proses, berani menjadi orang yagn kurang efisien dan efektif. Itulah sikap ‘bela rasa’: berani kehilangan idealisme duniawi (prestasi, popularitas, kekuasaan). Itulah semangat menjadi murid Kristus, menjadi murid yang siap untuk ‘bergerak turun’ daripada ‘naik’.

Karenanya menjadi pemimpin kristiani tidak lain menjalankan disiplin kemuridan Kristus: berbelas kasihan. Bagaimana hati kita tergerak berbelas kasih bila masih mempertahankan dan mencari segala sesuatu dengan kacamata tata nilai dunia yang mencari efisiensi, efektivitas ? Maukah kita melanjutkan tindakan Yesus untuk ‘mengosongkan diri’ agar kita mampu menjadi ‘tanda pengharapan’ bagi sesama yang menderita?



Blasius Slamet Lasmunadi, Pr.
Email: slametblas@telkom.net

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved