Hidup Itu Indah


(Pengkhotbah 9 : 4 10)

Dalam menghadapi kehidupan ini, kita sering merasa hidup begitu menekan dan sulit. Berbagai pekerjaan membuat kita melewati hari demi hari dalam stres yang tak berkeputusan. Berbagai masalah membuat kita tak mampu lagi melihat hal-hal yang indah dan menarik dalam hidup. Bahkan kadangkala ada juga orang yang begitu putus asa sehingga mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Kalaupun tidak seekstrim itu, banyak orang menjadi seperti robot. Melewati hari demi hari dalam rutinitas. Tanpa gairah, tanpa semangat, tanpa harapan. Barangkali jika menyimak perkataan Pengkhotbah secara umum, kita akan merasa bahwa Sang Pengkhotbah seolah-olah menyetujui cara hidup seperti itu. Hidup itu sia-sia. Hidup manusia di bawah matahari sia-sia. Apapun yang diperbuat manusia, sia-sia. Apa gunanya berlelah-lelah dan berjuang, jika semua sia-sia. Apa artinya prestasi dan kehebatan manusia jika semuanya sia-sia.

Namun marilah kita meneliti lebih jauh apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Pengkhotbah tentang hidup manusia. Pengkhotbah mengatakan, \"Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan .....\" Hal ini menunjukkan bahwa yang membuat kita disebut sebagai orang hidup adalah harapan. Dengan memiliki harapan manusia mempunyai alasan untuk tetap melanjutkan hidupnya. Harapan membuat manusia tidak pernah berhenti berjuang. Harapan membuat manusia merancangkan langkah-langkah yang tepat bagi kelangsungan hidupnya. Ini membuktikan bahwa hidup manusia itu berharga karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang diperjuangkan untuk membuat manusia tetap hidup. Apalagi Pengkhotbah membandingkannya secara ekstrim dengan anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Hidup sangat berharga. Perbandingan antara kehidupan dan kematian yang seperti ini dikuatkan pada ayat 5. Bahwa kita yang hidup tahu bahwa kita akan mati sementara orang mati tidak dapat berbuat apa-apa. Ini menunjukkan bahwa hidup menjadi berharga karena kita melakukan sesuatu; berbuat sesuatu. Apa yang kita lakukan untuk mengisi hidup kita agar hidup kita menjadi bernilai ? Pertama-tama, Pengkhotbah mengajak kita untuk menikmati segala hal dalam hidup ini dengan sukacita, baik makanan maupun minuman (ayat 7); Pengkhotbah juga mengajak kita untuk senantiasa hidup dalam kebenaran dan keadilan, dengan tetap menjaga hidup kerohanian kita (ayat 8 : biarlah senantiasa putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu). Semua hal ini memberi penjelasan kepada kita, bahwa keindahan hidup tidak diukur dari panjang pendeknya umur, tidak juga diukur dari kaya miskinnya orang, tetapi dari bagaimana ia mengisi hidupnya.

Bagaimana ia melewati hari demi hari sepanjang kehidupan nya. Maka ketika Pengkhotbah menyatakan pada ayat 10 : \"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga karena tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat di dunia orang mati membuka wawasan kita tentang keindahan hidup. Hidup menjadi berarti jika kita mengisinya dengan kerja dan usaha tentang hal hal yang baik. Yang paling penting dari semua itu adalah meskipun hidup ini siasia, tetapi hidup ini adalah pemberian Allah (ayat 9). Maka selama kita hidup nikmatilah hidup kita dengan kerja, sukacita dan harapan. Hanya dengan demikian kita dapat menemukan keindahan hidup, pendek atau panjang umur kita. Kita dapat menikmati keindahan hidup, kaya atau miskin keadaan kita. Karena hidup adalah Anugerah.

Dengan memiliki harapan manusia mempunyai alasan untuk tetap melanjutkan hidupnya. Harapan membuat manusia tidak pernah berhenti berjuang. Harapan membuat manusia merancangkan langkah-langkah yang tepat bagi kelangsungan hidupnya. Ini membuktikan bahwa hidup manusia itu berharga karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang diperjuangkan untuk membuat manusia tetap hidup.



Simon Patabang
Email: simon_p@onebox.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved