Dongeng Ibu


Ketika aku masih kecil, ibu sering mendongengkan cerita sebelum kami tidur. Aku dilahirkan dari keluarga sederhana, sehingga dua adikku dan aku terpaksa tidur berdesakan di satu ranjang besar. Hampir setiap malam ibu turut tiduran di antara kami untuk mendongeng. Inilah hal yang paling menyenangkan, sebab kami biasanya saling berebut untuk bisa tidur dalam dekapan ibu sambil mendengarkan dongen ibu.

Ibu perempuan sederhana "produk" jaman penjajahan. Beliau tidak berpendidikan tinggi. Saat itu kesempatan sekolah sangat sulit dan lagi kakek bukanlah pegawai tinggi, sehingga tidak mungkin menyekolahkan anak perempuannya untuk mencapai jenjang yang tinggi. Ibu juga tidak banyak membaca buku bacaan. Gaji ayah yang sangat kecil setiap bulannya habis hanya untuk makan dan pendidikan anak-anak. Tidak ada uang sisa untuk membeli buku bacaan. Akibatnya perbendaharaan dongeng ibu sangat terbatas. Dari waktu ke waktu ibu hanya mengulang?ulang dongeng yang sama, sehingga kami hafal tidak saja para tokoh, melainkan sampai setiap percakapan dari para tokohnya. Tapi hal itu bukan persoalan bagi kami. Kami tetap dengan tekun mendengarkan ibu mendongeng sampai selesai bahkan kami protes pada ibu kalau ibu sengaja ingin mempercepat dongengnya atau kami akan meluruskan percakapan para tokoh jika ibu salah mengucapkannya. Bagi kami dongeng ibu itu selalu baru.

Biasanya ibu mendongeng sambil tiduran atau duduk di dekat kami. Kami berebut untuk berusaha paling dekat dengan ibu supaya bisa menyandarkan diri di dada atau di punggungnya atau meletakan kepala di pangkuannya. Sambil mendongeng ibu mengelus-elus kepala kami. Ini suatu kenikmatan tersendiri. Aku sering merindukan hal ini. Elusan tangan ibu merupakan ungkapan kasih yang tak terhingga. Lebih dari sekedar kata-kata bahwa beliau mengasihi kami. Memang aku sering marah karena keputusan dan larangan ibu yang aku anggap tidak masuk akal. Aku sering jengkel dengan omelan yang panjang lebar dan pendapatnya yang tidak sesuai dengan pendapatku. Aku sering sakit hati kalau ibu mencubit pahaku, sebab suatu kesalahan. Tapi semua rasa itu menjadi sirna ketika kepalaku dielus atau aku bersandar dalam dekapannya. Saat dongeng adalah saat rekonsiliasi. Saat memperbaiki hubungan yang retak.

Dongeng yang disampaikan ibu merupakan dongeng-dongeng kuno seperti Kancil Nyolong Timun, Kancil dengan Harimau, Sangkuriang, Malin Kundang, Cindelaras, Ande-Ande Lumut dan cerita-cerita rakyat lainnya. Dongeng itu tidak mengajarkan kekerasan atau kemenangan yang diraih dengan kekerasan seperti banyak cerita anak atau film kartun yang beredar saat ini dan menjadi santapan anak-anak setiap hari. Dongeng ibu mengajarkan bahwa orang yang bersalah atau jahat pasti akan menanggung akibat dari perbuatannya. Sebaliknya orang yang baik hati dan bertahan dalam penderitaan dia akan menerima kebahagiaan di kemudian hari. Dongen ibu sarat dengan ajaran tentang kehidupan, moral, kasih dan budi pekerti meskipun sering kali dalam bentuk lambang-lambang yang tersamar.

Waktu kecil aku memang tidak mampu menterjemahkan semua pesan yang tersirat atau makna yang terkandung dalam suatu dongeng. Aku hanya memahami bahwa si Kancil adalah binatang yang cerdik, sehingga bisa mengalahkan harimau. Bahwa Malin Kundang menjadi batu akibat kekayaan yang menjadikannya sombong sehingga berani tidak mengakui ibunya yang miskin. Saat kecil aku hanya bisa menangkap jalan ceritanya saja.

Tetapi dengan memahami jalan cerita itu saja, sebetulnya telah ada pesan moral dan kasih yang meresap dalam diriku. Sadar atau tidak isi dongeng mempengaruhi pembentukan cara pandangku tentang kehidupan serta membentuk perilakuku. Manusia tidak muncul begitu saja. Dia mengalami proses dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Perkembangan manusia sangat dipengaruhi masa kanak-kanaknya. Hal-hal kecil yang ditangkap oleh seorang anak akan membekas dan mempengaruhi perilakukanya ketika dewasa. Ketika lahir seorang anak adalah seperti suatu kertas putih. Lambat laun kertas itu diisi dengan berbagai macam pengalaman hidupnya. Lingkungan dan keluarganyalah yang mengisi lembaran hidup seseorang dengan berbagai macam tulisan.

Pesan dongeng yang diulang-ulang merasuk secara perlahan dalam diriku dan kupribadikan. Memang manusia senantiasa berkembang. Nilai-nilai yang diyakini seseorang bisa berubah akibat pertemuan dengan nilai-nilai baru yang disodorkan oleh masyarakat, reaksi seseorang akan perubahan yang dia alami atau keinginan untuk mengubah diri. Tetapi nilai masa lampau yang telah terintegrasi dalam diri menjadi titik tolak nilai saat ini. Sikap hidup dan pandangan saat ini tidak bisa lepas pengalaman dan dunia masa lampau seseorang.

Saat ini kebiasaan ibu yang mendongeng pada anak-anaknya sudah mulai hilang. Anak-anak sekarang menghabiskan malamnya dengan nonton TV. Peran ibu sebagai pendongeng diambil alih oleh TV yang menyuguhkan cerita-cerita versi baru. Cerita-cerita kartun yang penuh dengan kekerasan. Cerita-cerita tentang tokoh hebat yang mengalahkan sesama dengan kekerasan. Anak diajak untuk menggunakan aneka senjata dan bela diri untuk mengalahkan musuhnya. Sinetron-sinetron membawa anak pada alam mimpi tentang cinta, perceraian, kerakusan dan sebagainya. Banyak cerita kartun dan sinetron yang tidak membawa pesan moral, budi pekerti bahkan tanpa makna. Anak-anak yang masih mencari tokoh idola sebagai panutan dengan cepat akan meniru salah satu tokoh dalam film sebagai model sikap dan gaya hidupnya. Dirinya dibangun oleh tokoh yang dilihatnya.

Dalam dongeng ibu mengajak kami untuk berfantasi. Dengan bebas kami menggambarkan situasi, peristiwa dan para tokohnya sesuai dengan dunia kami saat itu yaitu dunia anak-anak. Sedangkan TV tidak mengajak anak-anak berfantasi dengan bebas, sebab semua sudah tersaji penuh, baik melalui suara maupun gambar. Anak tinggal menelan begitu saja setiap adegan yang terjadi. Keterlibatan anak dalam cerita menimbulkan bekas yang kuat dalam dirinya.

Sajian cerita film tentang kekerasan yang setiap saat ditayangkan TV sedikit demi sedikit merasuki alam pikiran, dipribadikan dan membentuk keyakinan bahwa kebenaran akan menang hanya dengan membunuh si jahat. Tokoh-tokoh film muncul dengan segala kesuperan, keberanian dan segala tindak kepahlawanannya yang menganggumkan untuk menegakan keadilan dan kebenaran dengan kekerasan. Tetapi mampukah anak yang usianya masih belia mampu membedakan kebenaran dan kejahatan, keadilan dan ketidakadilan? Hal yang mereka lihat hanyalah si jagoan menang dengan mengagumkan.

Semua film yang dilihat oleh anak-anak ditafsirkan dari dunianya yang masih sempit. TV berbeda dengan ibu. TV tidak memberikan kesimpulan-kesimpulan atau penjelasan akan makna cerita yang baru saja disajikan. TV hanya menyodorkan suatu cerita. Sedangkan setiap kali ibu menyelesaikan suatu dongeng dia menjelaskan apa makna yang tersirat dan apa aplisikasi dari dongeng itu dalam kehidupan. Ibu masih mampu mempertanggungjawabkan ajarannya dari suatu dongeng. Dalam TV atau video, VCD, dan sarana komunikasi lainnya anak-anak diajak bebas menafsirkan apa yang baru saja mereka lihat. Tidak adanya pendapingan dan yang menjelaskan makna dan keteladanan seorang tokoh membuat anak-anak sering kali bertingkah aneh sebab ingin mengindentifikasikan diri dengan tokoh-tokoh hebat. Semua anak dapat menafsirkannya sendiri-sendiri. Akibatnya sering timbul tindak kepahlawanan yang ‘ngawur’.

Cerita TV sering kurang memberikan ajaran moral dan kasih. Banyak film diproduksi hanya untuk memenuhi selera penonton, sehingga pembuat film tidak peduli apakah film mereka membawa pesan atau tidak. Banyak film yang sejak awal sampai akhir hanya menonjolkan kekerasan, pelegalan pemupukan rasa dendam yang harus dibalas dengan pembunuhan. Bahkan promosi sebuah film hanya diambil bagian-bagian yang ada adegan kekerasan. Seolah-olah kekerasan adalah salah satu kriteria atau jaminan bagusnya sebuah film. Hal yang lebih parah adalah banyak film mengajak penonton untuk menikmati adegan kekerasan. Pada saat terjadi pukulan yang mematikan, penembakan atau penghancuran yang mengerikan, film sengaja diputar secara lambat, sehingga tampaknya mengajak anak untuk menikmati adegan mengerikan itu dan memberikan petunjuk praktis bagaimana melakukan kekerasan yang benar. Anak ditunjukan begini caranya membunuh orang yang benar.

Kalau toh ada film yang bertemakan cinta, banyak yang hanya berkisar cinta eros bukan agape. Arti cinta disempitkan pada hubungan pria dan perempuan. Anak tidak diajar bagaimana cinta yang tulus, cinta yang penuh dengan pengorbanan diri, cinta yang setia dan penuh hormat pada orang lain meski bagaimanapun keadaannya. Cinta yang siap untuk mengampuni, tidak mengambil jalan kekerasan untuk menyelesaikan setiap persoalan. Anak hanya belajar mencintai lawan jenis seperti cinta muda-mudi. Akibatnya anak-anak kecil sudah memerankan orang dewasa. Keponakanku beberapa waktu nangis sebab dapat surat dari temannya yang mengatakan bahwa dia mencintainya dan apakah keponakanku mau menjadi pacarnya? Padahal ponakanku baru masuk kelas satu SD dan temannya itu kelas tiga SD. Gejala apakah ini?

TV tidak bisa menggantikan peran ibu. TV tidak menimbulkan afeksi seperti yang terjadi saat ibu mendongenkan sebuah cerita. Memang hubungan afeksi antara aku dan ibu bisa terjalin dalam berbagai kesempatan dan peristiwa, tetapi pengalaman masa kecil menunjukan bahwa kasih ibu yang mengalir dari tangannya saat mengelus kepalaku atau kehangatan dekapannya saat dia bercerita sehingga membuatku tertidur dalam kedamaian, sangat berkesan bagiku sampai saat ini. Dalam mendongeng terjadi interaksi. Kami bisa menjalin kedekatan dalam suasana santai, tenang dan damai.

Dongeng bukan sekedar menceritakan sesuatu peristiwa, tetapi memuat nasehat-nasehat yang biasanya disimpulkan oleh ibu pada saat akhir cerita. Oleh karena nasehat disampaikan dalam bentuk cerita yang dituturkan dengan lemah lembut, maka aku tidak merasa kalau sedang dinasehati. Aku bisa menerima semua nasehat tanpa pemberontakan diri atau pertahanan untuk membela kebenaran yang aku yakini. Hal ini berbeda jika ibu memberi nasehat yang sama dengan omelannya. Secara sepontan aku membuat benteng diri dengan segala rasionalisasi, tumbuh mekanisme pembelaan atau menutup diri, sehingga segala nasehat itu berlalu begitu saja.

Dengan demikian dongen ibu pada malam hari selain memberi nasehat juga saat menjalin komunikasi yang penuh dengan kasih. Melalui dongen terjadi proses penanaman nilai-nilai kehidupan dan pembentukan kepribadian dan cara pandang mengenai kehidupan. Hal ini tampaknya sesuatu yang muluk, tapi jika kita lihat kenakalan remaja saat ini, apakah tidak mungkin pendapatku ada benarnya? Jika sejak kecil aku selalu melihat kekerasan dan siapa kuat dia akan menang, maka hal itu akan aku yakini dalam kehidupan seterusnya. Hampir 99% teman-temanku anak jalanan berasal dari keluarga pecah, keluarga yang menonjolkan kekerasan. Maka tidak heran ketika mereka besar mereka mulai mencari sasaran pelampiasan kekerasan. Mereka telah kehilangan saat terindah yang pernah kualami yaitu mendengarkan dongen ibu sebelum tidur.



gani
Email: yogas@indo.net.id

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved