Kehendak Tuhan?


Hari Sabtu lalu, aku bersama teman-temanku mengadakan acara ketemuan, sudah lama tidak berjumpa, dan kami akhirnya bertemu juga untuk acara makan-makan sembari merayakan hari ulang tahunku yang sudah lewat kapan lalu itu, acaranya kita misa bareng dan kemudian makan, tetapi kemudian ada usul dari temanku untuk sekalian saja pergi mendoakan seorang rekan yang menderita sakit kanker (sebut saja namanya Lia) .
Sehingga pagi itu aku berangkat jemput teman-temanku lalu berkumpul di rumah seorang dokter, dimana di rumah itu temanku Lia saat ini tinggal.

Lia adalah gadis cantik yang memasuki usia remaja, dia mengalami sakit kanker dan kondisinya sekarang kaki kanannya harus diamputasi untuk mencegah sel sel kanker itu menyebar ke seluruh tubuhnya.
Kami pun masuk ke dalam kamar itu dan mulai saling mengenalkan diri, saat itu aku melihat wajahnya yang tetap bersinar, tetap ceria, keadaannya memang sangat kurus sekali, mungkin karena akibat operasi kanker yang mana saat itu dokter sudah ‘angkat tangan’. Tapi pancaran matanya dan pengharapannya sungguh membuat kami melihat kemuliaan Tuhan disana.
Kami berkenalan dengan mamanya dan juga kakak perempuannya, yang mana juga suatu pengabdian yang baik dilakukan oleh kakaknya yang berhenti bekerja dan menemani adiknya selama perawatan ini, sungguh perbuatan yang tidak mudah dan butuh kebesaran hati yang sangat mendalam. Serta juga mamanya yang tiada henti berdoa rosario untuk Lia, dan menemaninya sepanjang hari.
Kami mulai melakukan pujian dan juga disambung dengan doa untuk dia, dan mulai saling berbincang-bincang, keceriaannya membuat kami yang hadir mendapatkan suatu berkat. Sehingga saat kami berdoa aku pun merasakan Tuhan telah berbicara melalui rekanku ini, aku merasa sentuhan Tuhan saat itu hadir bukan untuk dia saja tapi justru untuk kami yang hadir saat itu.
Sepulang dari situ aku masih memikirkan hal ini, aku masih bertanya kenapa Tuhan? Mengapa gadis seusia itu sudah mengalami penyakit kanker itu? Seakan aku mulai ingin mengerti Tuhan, ingin Tuhan menjawab dan menunjukkan keadilan, mulai pikiranku mau mengadili hal ini, mulai mencari keadilan dalam diriku.

Apakah ini Kehendak Tuhan?
Hal ini ditekankan lagi saat acara makan-makan dimana salah satu rekan berbicara sesuatu hal dan berkesimpulan tentang kehendak Tuhan, dan seorang temanku langsung berbicara, kalau semua sudah kehendak Tuhan, kenapa tadi kita doakan gadis itu? Bukankah itu sudah kehendak Tuhan?
Suatu perkataan yang sederhana tapi bagiku itu merupakan suatu bahan renungan yang mendalam, hal itu tertanam dalam pikiranku, sehingga selama perjalanan pulang aku selalu memikirkan hal ini, apakah memang Tuhan berkehendak demikian? Apakah Tuhan berkehendak untuk mendatangkan penyakit? Apakah Tuhan berkehendak untuk membuat seseorang cacat saat lahir?
Malamnya aku menelepon temanku, dan aku mulai sharing tentang hal ini, dan dia mengatakan itu bukan suatu kehendak Tuhan, tapi itu seijin Tuhan, perkataannya ini kembali membuatku bertanya-tanya lagi, dan kami mulai berargumen satu sama lain, mulai berkata tentang apa yang dialami Ayub, dan juga mulai bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang kami dapat dari rekan-rekan lainnya, dimana aku sharing ttg seorang yang divonis kanker dan tidak dapat hidup lebih dari 3 bulan, tapi dia tetap hidup dengan mewartakan kabar gembira dari hari ke hari, sampai berlalu 3 tahun dari saat divonis itu, dan temanku juga cerita tentang temannya yang mengalami kanker dan dalam setiap kunjungan temannya itu malah dia selalu meminta untuk sama-sama memuji
Tuhan dan bernyanyi bersama mereka, suatu berkat yang dialami para pengunjung karena mereka merasakan kehadiran Tuhan.

Siang ini, sepulang dari misa, aku membuka kitab Ayub dan melihat bagaimana sikap Ayub akan penderitaan ini. Dalam kitab itu Tuhan tidak berkehendak untuk membuat Ayub sengsara, tetapi Tuhan mengijinkan si jahat untuk melihat bagaimana Ayub bersikap jika semua yang dimiliki, sampai ia menjadi penyakitan apakah Ayub masih bisa taat dan setia kepada Allah.
Pergulatan sikap Ayub, merupakan sikap manusia umumnya, dimana Ayub sampai mengutuki hari kelahirannya dan mengatakan mengapa ia tidak menjadi bayi yang dilahirkan mati, seakan dalam hal ini dia menyesali hidup ini dan dalam pikirannya seakan berkata buat apa dia hidup di dunia ini dimana dia harus menderita?

Dalam kitab Ayub itu diceritakan pula ketiga temannya yang datang menghibur ayub dimana mereka juga mengoyakkan jubahnya dan menaburkan abu diatas kepala mereka karena simpatik akan penderitaan Ayub, dan mereka mendengarkan keluh kesah Ayub akan Tuhan dan mereka berargumen tentang semua itu dengan suatu pandangan kebenaran bahwa semua penderitaan ini karena Ayub telah berdosa, Karena Allah itu adil maka dia memberi ganjaran akan apa yang dilakukan oleh manusia. Tapi Ayub tetap membela dirinya dan menyebutkan apa yang telah dilakukannya akan ketaatannya akan Tuhan dan terjadilah pembicaraan panjang dimana Ayub mempertahankan dirinya dengan membenarkan dirinya dan teman-temannya mengatakan Ayub dihukum karena telah berdosa.

Dalam penghiburan dari teman-temannya itu Ayub pun mengerti akan semua itu dan dia pun berkata hal itu semua juga bisa dilakukan olehnya jika salah seorang temannya sakit, dia akan bisa menghibur, berkotbah dll, tapi berbeda keadaannya jika dia yang mengalami sendiri saat-saat susah ini.
Hal ini dialami oleh siapa saja yang menderita, memang dengan mudahnya kita menghiburnya tapi dalam diri si penderita tetap saja dia masih merasakan sakit itu. Suatu kenyataan yang memang berat dan dialami oleh setiap orang menderita.

Sampai suatu saat dimana Tuhan berbicara kepada Ayub, Tuhan menyatakan dirinya kepada Ayub, dan disitulah Ayub mengerti dan mengatakan ‘Sekarang mataku telah melihat Tuhan dan dia menarik kembali perkataannya dan dalam debu dan abu aku bertobat’ karena Ayub merasa tidak pantas untuk berhitung dengan Tuhan, tidak pantas untuk mencari-cari pembenaran atas dirinya dan Dia sadar bahwa Tuhan telah mengatur hal ini, Tuhan mengijinkan si jahat utk melakukan hal-hal untuk mencobai manusia, tetapi Tuhan tidak meninggalkan manusia.

Banyak dari kita saat ini dengan mudahnya juga melakukan penghakiman terhadap sesama kita dengan mengatakan hal-hal yang mengadili dengan mengatakan bahwa kejadian seperti itu karena itu dosamu. Jika ada rekan yang terkena musibah, mulai kita mencari dan mengatakan salahnya sih itu karena dia dulu begini begitu sehingga Tuhan marah. Kita disini seakan telah menjadikan diri kita seperti Tuhan, menjadi sombong dengan sikap dan kata-kata mengadili.

Dan juga untuk seseorang mengalami sakit atau cacat dari lahir itu bukan karena dosanya atau dosa orang tuanya seperti tertulis dalam kitab Yohanes, dimana murid-muridNya bertanya tentang seseorang yang terlahir buta, dan menanyakan apakah ini karena dosa dia atau dosa orang tuanya. Yesus mengatakan “Bukan karena dosanya dan dosa orang tuanya tapi agar kemuliaan Allah dinyatakan dalam dia”.

Tuhan Maha Kasih, semua indah dalam rancanganNya, Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi akan diri seseorang tapi Tuhan tidak meninggalkan orang itu, dan melalui orang itu Tuhan dimuliakan.

Tuhan akan mendengarkan permohonan orang-orang yang mendoakan sesamanya, seperti dalam kisah Ayub, Tuhan berkenan mengampuni teman-temannya itu yang telah berdosa dengan melakukan pembenaran bahwa Ayub menderita karena dosa-dosanya, melalui Ayub mereka diampuni, begitu juga Yesus melakukan hal itu kepada seorang perwira di Kapernaum karena Imannya maka hambanya sembuh, dan juga akan iman Yairus, seorang pegawai rumah ibadat akan anak perempuannya.
Semoga kita tidak berhenti berdoa bersama-sama dengan para penderita dengan kesungguhan hati dan iman, karena Tuhan akan melihat kesungguhan dan kasih yang ada dalam setiap orang.

Terima kasih Tuhan akan kisah ini.
Lia, semoga engkau terus memancarkan Kasih Tuhan yang ada dalam dirimu kepada setiap orang yang bertemu denganmu, dan semakin sabar dan mengerti rencana Yesus akan dirimu.



vids - Pondok Renungan
Email: vids@pondokrenungan.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved