Janda yang Miskin (Markus 12:38-44)


Sudah sejak lama, katakanlah sejak saya masih kecil dan telah mampu memahami sebuah kisah. Sejak saat itu saya selalu berpikir tentang kebesaran sang janda dalam Injil Markus 12: 38-44. Saya membayangkan bahwa Yesus memuji perbuatan sang janda sebagai perbuatan yang layak dipanuti, sebagai tindakan yang pantas dijadikan contoh dan teladan. Kadang aku berkata pada diriku bahwa inilah tanda kesalehan, berani berkorban bahkan memberikan segala-galanya demi sesuatu yang mulia.

Hari ini, ketika saya membaca “The Cultural World of Jesus” di mana di dalamnya terdapat komentar tentang sang janda dalam injil di atas, paham yang telah lama saya anut di atas kini dikoyakan. Dikatakan bahwa komentar yang diberikan Yesus kepada sang janda di atas sebetulnya bukanlah ungkapan pujian, tetapi lebih sebagai suatu ungkapan kepedihan bathin, suatu tangisan. “Janda” dalam dunia Yahudi berarti seseorang yang seharusnya bungkam tanpa boleh membuka mulut. Budaya di Timur Tengah dibagi berdasarkan gender atau jenis kelamin. Lelaki adalah makhluk publik, jenis manusia yang boleh berada di tempat umum, sedangkan wanita harus berada di rumah bersama kelompok anak-anak. Lelaki mempunyai hak dan tugas sosial, menjabat tugas kepemerintahan, sedangkan wanita tak mempunyai hak sedikitpun, bahkanpun untuk berbicara atas namanya sendiri.

Dan anda boleh bayangkan bila sang wanita adalah seorang janda, seorang yang telah kehilangan lelaki yang dianggap sebagai sumber kekuatan keluarga. Situasi akan menjadi lebih buruk kalau anak putra sulungnya belum bekeluarga. Dan adalah suatu mala petaka bila ia tak memiliki anak putra sama sekali, karena ia mungkin akan dikembalikan ke keluarga asalnya. (Imamat 22:13; Ruth 1:8). Dalam Kisah Para Rasul dan dalam surat pastoral Paulus, janda merupakan isu penting bagi komunitas gereja awal. Janda yang masih muda sering harus berhadapan dengan berbagai tantangan sehingga Paulus sering menganjurkan agar mereka menikah lagi. (1 Tim 5:3-16, secara khusus dalam ayat 14). Karena kaum janda tak termasuk dalam hukum keturunan Yahudi, maka yang menjadi perhatian para janda adalah sekedar hidup dari hari ke hari. Hidup sehari adalah cukup untuk sehari.

Jadi kata-kata Yesus saat melihat tindakan sang janda yang memberikan segala yang ia miliki dalam Injil Markus di atas sebetulnya bukanlah suatu bentuk pujian. Tindakan sang janda adalah tindakan yang sangat “memalukan” karena ia secara sengaja memperburuk situasi hidupnya sendiri yang pada dasarnya sudah buruk. Dalam Injil Markus (bab 7: 10-13) Yesus berkata bahwa adalah hal yang salah untuk memberikan sumbangan ke Kenisah, yang dengan cara tersebut orang tua ditelantarkan. Dan adalah kesalahan yang berlipat, kesalahan dobel bila seseorang yang sedang berada dalam situasi terhimpit memberikan seluruh nafkahnya ke Kenisah dan dengan demikian mereka terjerumus dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam lagi.

Yesus sesungguhnya tidak memuji tindakan sang janda. Yesus “menangisi” tindakan tersebut, suatu tindakan yang terpaksa diperbuat oleh sang janda karena para pemimpin mereka mengajarkan tentang suatu bentuk “pengorbanan saleh”. Tujuan sumbangan kenisah sebetulnya untuk membantu kaum miskin, membantu mereka mengurangi penderitaan yang kini sedang mereka hadapi. Namun mereka kini justru terjerumus dalam jurang kemiskinan yang lebih miskin, pada hal para pemimpin mereka “...suka berjalan-jalan dengan jubah yang panjang, menerima penghormatan di pasar-pasar .” (Mark 12:40). Kata-kata Yesus sebetulnya suatu bentuk kecaman terhadap pemimpin mereka.



Tarsis Sigho - Taipei
Email: sighotarsi@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved