Gembala Yang Baik (Yoh 10:1-42)


"Akulah gembala yang baik. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku."

Hari minggu ke IV masa Paska merupakan hari minggu Gembala Yang Baik. Tentu anda pernah tergerak hati saat melihat lukisan atau gambar seorang Yesus yang sedang berdiri dikelilingi oleh beberapa anak domba. Domba-domba tersebut mengangkat muka dan memandang wajah Yesus seakan-akan dengan penuh perhatian sedang mendengarkan kata-kata sang Gembala. Atau anda mungkin sungguh menjadi amat akrab dengan gambar Yesus yang memikul seekor anak domba di atas pundakNya. Sang domba tak memberontak, tetapi mempercayakan dan menempatkan seluruh dirinya di atas pundak Yesus.

Beberapa hari kemarin saya menerima kiriman sebuah gambar Yesus yang menggendong seekor domba. Namun domba tersebut tidak diletakan di atas pundak, tetapi dipangku dengan penuh kasih sayang seperti halnya seorang ibu sedang menggendong mesrah anaknya. Sang domba seakan tertidur dalam pangkuan Yesus. Dan tahukah anda ekspresi apa yang ada pada muka Yesus?? Tak banyak lukisan yang menggambarkan Yesus yang tertawa. Namun dalam lukisan yang dikirim teman tersebut, Yesus nampak tertawa gembira. Yesus nampak senang bahagia menggendong domba dalam pangkuanNya. Kenyataan ini mengingatkan saya akan perikope Injil Lukas 15: 1-7, ketika Yesus memberikan perumpamaan tentang domba yang hilang. Ketika didapatinya kembali domba yang hilang itu, sang gembala akan mengundang tetangganya untuk bergembira bersamanya. "Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan." Sungguh merupakan suatu gambaran yang indah tentang Yesus sebagai seorang gembala. Ia menyebut diri sebagai gembala yang baik. "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya". NamuníKapa yang dimaksudkan yesus ketika Ia menyebut diri sebagai Gembala Yang Baik??

Hendaknya kita ingat bahwa Yesus tidak mengalamatkan kata-kataNya di atas kepada para pengikutNya, tetapi kepada kaum farisi. Dalam bab sembilan Injil Yohanes, dikedepankan tentang kisah seorang yang buta sejak lahir yang disembuhkan oleh Yesus. Peristiwa penyembuhan yang terjadi di hari Sabbat ini justru telah mendatangkan ketegangan di antara kaum farisi. Mereka akhirnya menolak si buta yang telah disembuhkan Yesus itu, karena dituduh sebagai seorang pendosa. Dalam konteks inilah Yesus datang dan menyatakan diriNya bahwa Ia adalah gembala yang baik; Ia bukanlah gembala upahan yang bekerja demi sesuatu (uang, pamor, nama) tetapi mengorbankan gembalaannya tat kala kawanan gembalaan tersebut disergap mangsa.

Dan ketika Ia menyebut diri sebagai seorang gembala, Yesus sesungguhnya sudah membuat suatu langkah radikal, yakni menempatkan diri dalam kedudukan sebagai Allah. Dan ini menjadi amat nyata di bahagian akhir bab 10 Injil Yohanes ini ketika Yesus berkata; "Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10; 30). Sudah jutaan tahun orang Yahudi menggunakan konsep "Gembala yang Baik" untuk menyebut diri Allah. Dalam Kitab kejadian Allah disebut sebagai Gembala, sang Gunung batu. (Kej 49:24). Gambaran seperti ini tetap dipertahankan dan digunakan oleh Musa, Yesaya, Yeremia, Ezekiel dan juga Amos. Raja Daud juga menyebut Allah sebagai Gembala. "Hai gembala Israel, pasanglah telinga, Engkau yang menggiring Yusuf sebagai kawanan domba! Ya Engkau, yang duduk di atas para kerub, tampillah bersinar.." (Maz 80). Dan kita pasti tak akan lupa Mazmur 23 yang terkenal itu "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang..."

Jadi ketika mendengar kata-kata Yesus bahwa Ia adalah gembala yang baik, kaum farisi langsung menangkap suatu arti di balik itu yakni bahwa Yesus kini menyamakan diriNya dengan Allah, bahwa Yesus menyebut diriNya sebagai Tuhan. Lebih dari itu, Yesus menempatkan diri dalam posisi yang bertolak belakang dengan kenyataan hidup kaum farisi yang menguras kawanan domba. Di sini Yesus mau menekankan bahwa tugas essensial seorang gembala adalah melayani para domba, bahkan meletakan nyawanya bagi domba-dombanya. "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yoh 10; 11).

Gagasan seorang gembala sebagai pelayan ini muncul lagi setelah peristiwa kebangkitan ketika Yesus memberikan tugas kepada Petrus sebagaimana telah kita dengar dalam bacaan Injil minggu yang lalu: "Gembalakanlah domba-dombaKu." Dalam versi bahasa Inggris, Yesus memberi perintah sebagai berikut; "Feed My sheep!" Petrus diminta untuk memberi makan, untuk mengenyangkan domba-domba milik Yesus sendiri. Makanan yang dimaksudkan di sini adalah santapan rohani, yakni bahwa pengikut Kristus seyogyanya mendapat pelayanan yang baik agar tiba dengan selamat di padang rumput yang hijau dan sumber air yang tenang. Menjadi gembala bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri, suatu kenyataan yang diperbuat oleh kaum farisi yang dikecam Yesus dalam bab 10 Injil Yohanes ini. Menjadi gembala berarti mau melayani!!!



Tarsis Sigho - Taipei
Email: sighotarsi@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved