Yesus yang menulis di tanah (Yoh 8; 1-11)


Dalam Injil hari Minggu kelima masa prapaska tahun 2004 ini kita mendengar kisah tentang seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawanya kepada Yesus dan meminta pendapatNya tentang tuntutan hukum yang harus dijalani untuk mengadili perempuan berdosa tersebut. Tata hukum mereka mengatakan bahwa wanita yang demikian harus dirajam dengan batu hingga mati.

Tuntutan hukum seperti ini bisa kita temukan misalnya dalam Kitab Ulangan: "Tetapi jika tuduhan itu benar dan tidak didapati tanda-tanda keperawanan pada si gadis, maka haruslah si gadis dibawa ke luar ke depan pintu rumah ayahnya, dan orang-orang sekotanya haruslah melempari dia dengan batu, sehingga mati, sebab dia telah menodai orang Israel." (Ulangan 22:20-21). Dalam Kitab Ulangan masih terdapat begitu banyak litani penghukuman dengan batu seperti ini. Seorang yang membangkang orangtuanya juga dihukum dengan cara ini. Orangtua membawa anak ke hadapan tua-tua dan berkata; "Anak kami ini degil dan membangkang, ia tidak mau mendengarkan perkataan kami, ia seorang pelahap dan peminum. Maka haruslah semua orang sekotanya melempari anak itu dengan batu, sehingga ia mati. " (Ulangan 21: 20-21).

Namun apa yang dibuat Yesus berhadapan dengan tuntutan seperti ini? Ia nampak acuh, bersikap seolah-olah tak peduli. Saat membaca bagian ini saya merasa ngeri bahwa Yesus tak berbicara sepatah katapun dan hanya menunduk dan menulis di tanah. Pada hal Ia seharusnya tahu bahwa sesuatu yang mengerikan yakni perajaman dengan batu hingga mati akan segera terjadi. Yesus tidak langsung menjawab tetapi "menulis" di tanah. Namun ketika Ia terus didesak, Ia lalu bangun dan berkata bahwa bila ada di antara mereka merasa diri tak bersalah, maka orang itulah yang harus pertama-tama melemparkan batu. Satu persatu mulai dari yang tertua meninggalkan wanita tersebut. Mereka yang seharusnya menjaga tata hukum itu tak melaksanakan tuntutan hukum. Mereka dengan cara ini juga melanggar hukum dan merekapun seharusnya diadili.

Yang menarik di sini adalah tindakan Yesus "menulis" di tanah. Apa yang ditulis oleh Yesus?? Banyak orang mengatakan bahwa Yesus menunduk dan menulis dosa-dosa dari mereka yang melontarkan tuduhan tersebut. Dan ketika mereka melihat dosa mereka tertulis di atas tanah itu mereka menjadi malu dan meninggalkan perempuan zinah tersebut. Mungkin penafsiran ini benar. Namun kita bisa melihatnya dari sisi yang lain, terutama dengan berkaca pada sejarah keterlibatan Allah dalam kehidupan umat Israel dalam Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama, Yahwe dengan perantaraan Musa, memberikan hukum-hukumNya kepada orang Israel. Selanjutnya hukum ini diperluas dan diperinci secara lebih mendetail agar mudah dipatuhi, yang kemudian dikenal dengan Hukum Musa, hukum yang dipakai juga dalam mengadili perempuan yang berzinah dalam bacaan Injil hari ini. Yang mau ditekankan di sini adalah bahwa dalam Perjanjian Lama, Tuhan juga pernah menggunakan jariNya untuk menulis. Tuhan menulis hukum-hukumNya dengan jariNya sendiri; "Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah." (Kel. 31:18). Dalam Kitab Ulangan juga dapat ditemukan hal yang sama; "TUHAN memberikan kepadaku kedua loh batu, yang ditulisi jari Allah, di mana ada segala firman yang diucapkan TUHAN kepadamu di gunung itu dari tengah-tengah api, pada hari perkumpulan." (Ul. 9:10). Ketika Tuhan menulis dengan jari tanganNya, Ia memberikan hukumNya kepada manusia.

Dalam bacaan hari ini kita melihat bahwa Yesus juga menulis. Apa yang dituliskanNya? Dari konteks di atas kita bisa memberikan jawaban bahwa Yesus sesungguhnya sedang memberikan hukumNya kepada manusia. Hukum apa yang diberikanNya?? Jawabannya bisa dilihat di akhir perikope ini; "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (8:11). Yesus memberikan hukum yang baru, suatu hukum yang didasarkan pada kasih. Kasih itu memaafkan, kasih itu mengampuni. Lebih dari itu Yesus datang membawa suatu gambaran diri Allah yang baru. Kalau dalam Perjanjian Lama, Allah itu dilihat sebagai hakim yang siap mengadili dan menghukum, kini Allah dipahami sebagai seorang Bapa yang mencintai, Bapa yang mengampuni, Bapa yang rela menerima kembali pendosa yang mau bertobat.

Yesus yang menulis di tanah adalah Yesus yang membawa hukum baru, suatu hukum cinta, suatu pengampunan. Kita semua adalah kaum pendosa. Namun kita adalah manusia yang berbahagia karena Tuhan rela mengampuni kita dan tetap mencintai kita selamanya. Setelah mengalami Tuhan yang bersikap demikian terhadap kita, maka kitapun sudah selayaknya mau mencinta dan mengampuni orang yang lain. Mari kita mencoba.



Tarsis Sigho - Taipei
Email: sighotarsi@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved