Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus


Tanggal 13 Juni 2004, di saat kita merayakan hari raya Tubuh dan darah terkudus Tuhan Yesus, kita mendengar kisah Injil tentang pergandaan roti di padang gurun. Yohanes menempatkan kisah pergandaan lima buah roti untuk mengenyangkan lima ribu orang ini di awal bab enam dari kitab Injilnya. Dan bab enam Injil Yohanes merupakan bagian Injil di mana yesus sendiri memberikan ajaran dan wejangan tentang roti kehidupan, tentang roti yang turun dari langit yang memberikan kehidupan kekal bagi mereka yang menerimanya.

Karena itu boleh dikatakan bahwa mukjizat pergandaan roti di padang gurun ini mempersiapkan kita untuk menerima suatu mukjizat yang lebih besar dan lebih agung yakni perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Banyak orang, seperti halnya para rasul serta orang lain yang mengikuti Yesus dan mendengarkan ajaranNya dalam bab enam Injil Yohanes, nampaknya terlampau sulit dan tak bisa terbayangkan untuk menerima kenyataan bahwa Yesus memberikan dagingNya untuk dimakan dan darahNya untuk diminum. Alasannya karena mereka melihat kata-kata Yesus tersebut secara harafiah, bahwa kata-kata yang diucapkan Tuhan akan terjadi apa adanya, sebagaimana telah terbukti dalam kisah penciptaan. Dalam Kitab Genesis, pada bab awal tertulis; ¡”Berfirmanlah Allah: ¡¥Jadilah terang.¡¦ Lalu terang itu jadi.¡” (Kej 1:3). Dan karena itu ketika mereka mendengar kata-kata Yesus di atas, boleh dikatakan bahwa mereka tak mampu menerima kalau hal itu menjadi sesuatu yang nyata.

Benar bahwa Yesus kini memulai sesuatu yang sama dengan apa yang terjadi di saat penciptaan. Namun hendaknya diketahui bahwa Yesus memulai suatu penciptaan yang baru. Ia menciptakan secara baru dunia kita ini lewat pencurahan seluruh darahNya yang terjadi saat mengorbankan diriNya di atas palang salib. Dan apa yang istimewa dalam penciptaan baru ini bukan hanya pada kekuatan Sabda Tuhan yang kreatif, tetapi juga pada kelimpahan dan kekuatan Sabda Tuhan yang re-kreatif, yang menciptakan secara baru serta menyelamatkan.

Kelimpahan ini menjadi amat nyata setelah lima ribu orang yang ada di tengah padang tersebut makan dan menjadi kenyang. Betapa banyak makanan yang tersisa dan terkumpul dalam dua belas bakul. Suatu kelimpahan yang muncul dari keterbatasan, yang muncul dari ketiadaan. Itulah kekuatan Sabda Tuhan yang menciptakan dan menyelamatkan.

Jadi makanan abadi yang diberikan Yesus kepada manusia berkat penjelmaanNya menjadi manusia yang mencapai puncaknya di atas salib serta kebangkitan ini, adalah cintaNya yang tak terbatas, yang tak mengenal awal dan akhir. Ia mencintai kita kemarin, hari ini dan hingga kekal selamanya. Barang siapa menerima pemberian cinta ini serta menghidupkannya dalam kesehariannya, maka ia akan memperoleh kehidupan kekal. Dari sini jelaslah, bahwa setelah dikenyangkan oleh roti cinta ilahi, kitapun selayaknya berbuat hal yang sama, mengulurkan cinta kita kepada sesama yang membutuhkan. Kita mendapat tugas untuk turut menciptakan mukjizat membagikan roti yang sama kepada orang-orang lain.



Tarsis Sigho - Taipei
Email: sighotarsi@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved