TUHAN YANG MEMBERI, TUHAN YANG MENGAMBIL


TUHAN YANG MEMBERI, TUHAN YANG MENGAMBIL
Angin berhembus kencang, menerbangkan debu di jalan yang sepi. Matahari siang bersinar amat terik. Dan sayup-sayup dari kejauhan, terdengar jerit tangis seorang anak. Panas. Suara lirih angin. Pepohonan yang mulai merangas akibat musim kemarau. Apakah makna semua ini bagi kita? Dapatkah kita ikut merasakannya?
Seringkali kita mencari jawaban pasti dalam apa yang sedang kita alami. Seringkali kita menginginkan suatu pengetahuan yang tidak membingungkan dalam menjalani hidup ini. Karena itu kita enggan dan bahkan menolak segala kesulitan yang datang menerpa kita. Kita ingin agar hidup kita aman, tidak terusik dan nyaman dalam ruang sempit perasaan kita. Tetapi betapa tak berartinya keinginan itu. Karena kesulitan ternyata datang terus menerus. Dan tak mampu kita bendung. Takkan mampu.
"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Demikianlah kalimat indah dari Ayub saat menerima cobaan hidup. Memang, kehidupan kita ternyata diawali secara amat sederhana. Tetapi kemudian, kita membuat banyak pemikiran yang sulit karena kita ingin memahami. Karena kita ternyata harus selalu memilih cara untuk memahaminya. Dan karena itu kita harus bersusah payah mencari dan menemukan jawaban-jawaban yang benar dan pasti dari segenap pengalaman hidup kita sendiri.
Namun, betapa sulitnya kita mendapatkan kebenaran dan kepastian itu. Proses mencari dan menemukan itulah sebenarnya yang menjadi tugas dan juga beban kita di dalam kehidupan ini. Karena ternyata tidak sesederhana yang kita inginkan. Kita toh tidak bermukim dalam kemah sempit diri kita saja. Kita harus dan selalu harus beradaptasi dengan lingkungan kita. Dan karena itu seringkali harus mengalami pertentangan kepentingan dengan lingkungan itu sendiri. Sebab itu, memilih sesungguhnya merupakan proses tersulit yang harus kita jalani. Dan ternyata, hampir tak seorang pun yang dapat melewati jalan yang sesak itu tanpa pernah terjatuh.
Kehidupan pada akhirnya memang harus dialami dengan proses jatuh bangun. Keberhasilan dan kegagalan. Kebahagiaan dan penderitaan. Siapakah yang dapat menghindarinya? Maka kita harus memiliki iman, pengharapan dan kasih seperti yang ditulis oleh Rasul Paulus. Kita juga memerlukan keberanian, ketetapan hati dan kepekaan untuk dapat menjalani pilihan hidup kita dengan iman, pengharapan dan kasih itu. Agar dengan demikian kita mampu untuk berbuat sesuatu dalam hidup ini. Serta untuk menghindari penderitaan dan segala keragu-raguan yang tidak perlu.
Debu beterbangan di jalan yang kering dan sepi. Dedaunan rontok masih terbang melayang-layang tertiup angin. Tetapi suara jerit tangis anak kecil itu kini menghilang. Di langit, perlahan segumpal awan berarak menutupi matahari. Maka mendadak udara menjadi teduh dan sejuk. Aku memandang dan mengalami semua itu dengan suatu perasaan teduh. Pada akhirnya, toh, segala sesuatu akan berganti. Musim hujan akan segera tiba. Maknanya bagiku, takkan ada penderitaan yang tanpa akhir. Takkan ada kekalahan yang abadi. Takkan ada penderitaan yang tak berkesudahan. Jika saja kita memiliki iman, kita akan mengetahui makna keberadaan kita di dunia ini.
A. Tonny Sutedja



A. Tonny Sutedja
Email: tonny_sutedja@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved