KABARKANLAH KEPADA GUNUNG-GUNUNG


KABARKANLAH KEPADA GUNUNG-GUNUNG
Kabarkanlah kepada gunung-gunung untuk melepaskan umatku. Kabarkanlah kepada dunia untuk menyambut kebebasan mereka. Ya, kita semua dibebaskan untuk memilih arah dan tujuan hidup kita masing-masing. Banyak jalan menuju ke Roma, kata satu pepatah tua. Maka kita semua dapat berubah. Kita semua pasti mengalami perubahan. Siapakah yang dapat berkata bahwa hidup di dunia ini kekal? Siapakah yang dapat merencanakan dan memastikan masa depannya sendiri? Siapakah?
Saat kita renungkan, apa yang dulu semasa kanak kita pikirkan, jelas akan berbeda dengan apa yang saat ini kita jalani. Banyak angan dan impian kita telah kandas. Banyak pula apa yang kita alami saat ini jauh dari harapan kita dulu. Jauh lebih baik atau lebih buruk, tak masalah. Kita semua telah berubah oleh waktu. Oleh situasi. Oleh pemikiran kita sendiri. Pada akhirnya hidup harus dikompromikan. Pada akhirnya hidup harus diterima apa adanya. Kita harus belajar terus menerus untuk hidup. Bahkan kita pun harus belajar saat menghadapi hari akhir kita. Saat kita harus menyerah pada kondisi fisik kita sendiri.
Kabarkanlah kepada gunung dan bukit serta dimana saja untuk melepaskan umatku. Demikianlah nyanyian sebuah lagu indah. Siapakah yang mengenakan baju merah? Siapakah yang mengenakan baju putih? Dan siapakah yang mengenakan baju hitam? Biarkanlah umatku lewat. Maka siapa pun kita, selayaknya menyadari bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Kita hidup bagai peziarah. Kita hidup melintasi waktu yang tak pernah akan kembali. Maka jangan sia-siakan hidupmu dengan hanya terpatok pada cara pandang yang sama terus menerus. Hanya terpancang pada apa yang telah kita miliki saat ini. Kita harus berkeliling, menikmati dan ikut merasakan pahit manis dunia ini. Duka dan suka. Begitulah kita adanya.
Maka jika engkau sedang sedih, tersenyumlah. Jika engkau sedang tertawa, ingatlah bahwa ada banyak wajah sedih di seputarmu. Hidup tidaklah bersumber dari diri kita sendiri. Hidup pun ada di diri sahabat kita. Ada di hati tetangga kita. Ada di hati orang lain, baik yang kita kenal maupun tidak. Ada di alam raya yang meliputi kita. Dan pada akhirnya hidup bersumber pada Dia yang telah membuat kita ada. Dia yang telah membagikan cinta kasihNya kepada kita semua.
Lilin di kegelapan adalah terang yang akan menuntun jalan kita. Lilin di kegelapan, kita sungguh berterima kasih pada cahayanya. Tetapi janganlah lupa bahwa dia telah memberikan tubuhnya sendiri untuk menerangi kegelapan kita. Demikian pula Yesus telah menerangi kegelapan jiwa kita dengan memberikan tubuhNya sendiri untuk disalib. Untuk melawan kejahatan yang ada dalam diri kita semua. Untuk menolak berkata ya kepada kepentingan diriNya sendiri. Untuk menerima hanya keinginan Bapa yang telah mengutusNya. Untuk menyelamatkan kita semua. Dan jika demikian, tidakkah kita, sebagai sahabat-sahabat terkasihNya, layak juga memberikan diri kita sendiri untuk ikut membuat cahayaNya makin bersinar? Dan bukan malah memudarkanNya.
Mari kabarkanlah kepada gunung, bukit dan dimana-mana. Mari kabarkanlah kepada mereka untuk melepaskan umatKu pergi. Ya, kita telah dilepaskanNya pergi untuk mengikuti jalan kita sendiri. Tetapi Dia pun telah memberikan teladanNya agar kita dapat, secara bebas, untuk mengikutiNya. Maukah kita? Janganlah bertanya pada rumput yang bergoyang, tetapi bertanyalah langsung pada hati nurani kita sendiri. Hati nurani kita.
A. Tonny Sutedja



A. Tonny Sutedja
Email: tonny_sutedja@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved