HOMILI PAUS FRANSISKUS PADA MISA HARI MINGGU PALMA 24 Maret 2013


HOMILI PAUS FRANSISKUS PADA MISA HARI MINGGU PALMA 24 Maret 2013

Dikelilingi oleh peziarah, daun palma dan pohon zaitun, Paus Fransiskus merayakan Misa Hari Minggu Palma-nya yang pertama. Berikut ini adalah terjemahan lengkap Homili Paus Fransiskus pada Minggu Hari Minggu Palma, 24 Maret 2013. Bacaan Ekaristi : Yes 50:4-7; Flp 2:6-11; Luk 22:14-23:56).


Yesus memasuki Yerusalem. Sejumlah besar murid menyertai Dia dalam suasana meriah, pakaian mereka dihamparkan di hadapan-Nya, ada yang berbicara tentang mukjizat-mukjizat yang telah dilakukan-Nya, dan pujian lantang terdengar: "Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!" (Luk 19:38).

Orang banyak, merayakan, pujian, berkat, damai sejahtera: sukacita berkumandang. Yesus telah membangkitkan harapan besar, terutama dalam hati orang-orang sederhana, rendah hati, miskin, terlupakan, mereka yang tidak berarti di mata dunia. Ia memahami penderitaan manusia, Ia telah menunjukkan wajah rahmat Allah, Ia membungkuk untuk menyembuhkan tubuh dan jiwa. Sekarang Ia memasuki Kota Suci! Inilah Yesus. Inilah hati yang memandang pada kita semua, memperhatikan kesakitan kita, dosa-dosa kita. Kasih Yesus agung. Ia memasuki Yerusalem dengan kasih ini dan memperhatikan kita semua. Ini pemandangan yang indah, terang kasih Yesus, yang menerangi hati, sukacita, perayaan-Nya.

Pada awal Misa, kita mengulangi semua ini. Kita melambaikan daun palma kita, dahan pohon zaitun kita, kita bernyanyi "Diberkatilah Raja yang datang dalam nama Tuhan" (Antifon), kita juga menyambut Yesus, kita juga mengungkapkan sukacita kita pada penyertaan-Nya, pada kesadaran-Nya untuk menjadi dekat, yang hadir dalam diri kita dan di antara kita sebagai seorang sahabat, saudara, dan juga sebagai Raja: yaitu, sebuah mercu suar yang bercahaya bagi kehidupan kita. Yesus adalah Allah, tetapi Ia merendahkan diri-Nya untuk berjalan bersama kita. Ia adalah sahabat kita, saudara kita. Di sini, Ia menerangi kita di perjalanan. Dan oleh karena itu hari ini kita menyambut-Nya. Dan kata pertama yang terlintas dalam pikiran adalah "sukacita!". Jangan menjadi laki-laki dan perempuan kesedihan: seorang Kristiani tidak pernah bisa sedih! Jangan pernah memberikan jalan bagi keputusasaan! Kepunyaan kita bukanlah sukacita yang berasal dari memiliki banyak harta, tapi yang berasal dari telah menemukan satu Pribadi : Yesus, dari kesadaran bahwa bersama-Nya kita tidak pernah sendirian, bahkan pada saat-saat yang sulit, bahkan ketika perjalanan hidup kita berhadapan dengan masalah dan hambatan yang tampaknya tidak dapat diatasi, dan ada begitu banyak lagi! Saat inilah musuh datang, iblis datang, sering kali menyamar sebagai malaikat yang secara diam-diam memberitahu kita sabda-Nya. Jangan dengarkan dia! Kita mengikuti Yesus!

Kita menyertai, kita mengikuti Yesus, tetapi di atas segalanya kita menyadari bahwa Ia menyertai kita dan membawa kita di pundak-Nya. Ini adalah sukacita kita, ini adalah harapan yang harus kita bawa bagi dunia kepunyaan kita ini. Mari kita membawa sukacita iman untuk semua orang! Jangan sampai kita dirampas terhadap harapan! Harapan yang Yesus berikan bagi kita!

Kata kedua: mengapa Yesus memasuki Yerusalem? Atau lebih tepat: bagaimana Yesus memasuki Yerusalem? Orang banyak mengelu-elukan diri-Nya sebagai Raja. Dan Ia tidak menyangkal hal itu, Ia tidak menyuruh mereka diam (bdk. Luk 19:39-40). Tetapi raja seperti apakah Yesus? Mari kita mengambil pandangan pada-Nya : Ia menunggang seekor keledai, Ia tidak disertai oleh kalangan istana yang mengikuti-Nya, Ia tidak dikelilingi oleh balatentara sebagai simbol kekuasaan. Ia diterima oleh orang-orang yang rendah hati, rakyat sederhana, yang merasakan bahwa ada yang lebih dari sekedar Yesus, yang memiliki perasaan iman yang mengatakan, "Inilah Sang Juruselamat". Yesus tidak memasuki Kota Suci untuk menerima penghargaan yang diperuntukkan bagi raja-raja di bumi, bagi penguasa: Ia masuk untuk dicambuk, dihina dan dilecehkan, sebagaimana yang dinubuatkan Yesaya dalam Bacaan Pertama (bdk. Yes 50:6). Ia masuk untuk menerima mahkota duri, balok titian, jubah ungu: kerajaan-Nya menjadi obyek cemoohan. Ia masuk untuk mendaki Kalvari, membawa beban kayu-Nya. Dan ini membawa kita pada kata kedua: Salib. Yesus masuk ke Yerusalem untuk mati di kayu salib. Dan di sinilah martabat rajawi-Nya bercahaya dalam cara yang saleh: tahta kerajaan-Nya adalah kayu Salib! Saya memikirkan apa yang dikatakan Benediktus XVI kepada para kardinal: "Anda adalah para pangeran, tetapi dari Raja yang Disalibkan" yaitu tahta Kristus. Yesus memperlakukannya atas diri-Nya sendiri .. Mengapa? Mengapa Salib? Yesus memperlakukan atas diri-Nya sendiri kejahatan, kenajisan, dosa dunia, termasuk dosa milik kita, dan Ia membersihkannya, Ia membersihkannya dengan darah-Nya, dengan rahmat dan kasih Allah. Mari kita memandang ke sekeliling: berapa banyak luka yang ditimpakan pada umat manusia oleh kejahatan! Perang, kekerasan, konflik ekonomi yang menimpa orang-orang yang paling lemah, keserakahan akan uang, yang tidak satupun dapat mengantar bersama-Nya. Nenek saya akan mengatakan kepada kami anak-anak, tidak ada kain kafan memiliki kantong! Keserakahan akan uang, kekuasaan, korupsi, perpecahan, kejahatan terhadap kehidupan manusia dan terhadap ciptaan! Dan – masing-masing dari kita menyadari dengan baik – dosa-dosa pribadi kita: kegagalan kita dalam kasih dan rasa hormat terhadap Allah, terhadap sesama dan terhadap seluruh ciptaan. Yesus di Salib merasakan beratnya seluruh kejahatan, dan dengan kekuatan kasih Allah Ia menaklukkannya, Ia mengalahkan dengan kebangkitan-Nya. Ini adalah kebaikan yang dibawa Kristus kepada kita semua dari Salib, takhta-Nya. Salib Kristus yang memeluk dengan kasih tidak menyebabkan kesedihan, tetapi sukacita! Sukacita menjadi diselamatkan dan melakukan sedikit apa yang Ia lakukan pada hari kematian-Nya itu.

Hari ini di Lapangan ini, ada banyak anak muda: selama 28 tahun Hari Minggu Palma telah menjadi Hari Orang Muda Sedunia! Ini adalah kata ketiga kita: orang muda! Orang-orang muda yang terkasih, saya memikirkanmu merayakan di sekitar Yesus, melambaikan dahan zaitunmu. Saya memikirkanmu meneriakkan nama-Nya dan mengungkapkan sukacitamu berada dengan-Nya! Kamu memiliki bagian penting dalam perayaan iman! Kamu mengantarkan kami sukacita iman dan kamu mengatakan kepada kami bahwa kita harus menghidupi iman dengan hati yang muda, selalu, bahkan pada usia tujuh puluh atau delapan puluh tahun! Hati yang muda! Dengan Kristus, hati tidak pernah menjadi tua! Namun kita semua, kalian semua tahu betul bahwa Raja yang kita ikuti dan yang mendampingi kita sangat istimewa: Ia adalah Raja yang mengasihi bahkan pada Salib dan yang mengajarkan kita untuk melayani dan mengasihi. Dan kamu tidak malu akan Salib-Nya! Sebaliknya, kamu menerimanya, karena kamu telah memahami bahwa dalam pemberian diri kita maka kita memiliki sukacita sejati dan bahwa Allah telah menaklukkan kejahatan melalui kasih. Kamu membawa Salib peziarahan melintasi semua benua, di sepanjang jalan raya dunia! Kamu membawanya dalam menanggapi panggilan Yesus: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19), yang menjadi tema Hari Orang Muda Sedunia tahun ini. Kamu membawanya untuk memberitahu semua orang bahwa pada salib Yesus merobohkan tembok permusuhan yang memisahkan orang-orang dan bangsa-bangsa, dan Ia membawa rekonsiliasi dan perdamaian. Sahabat-sahabat yang terkasih, saya juga sedang berangkat pada sebuah perjalanan bersamamu, mulai hari ini, dalam jejak langkah Beato Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI. Kita sudah dekat pada tahap berikutnya dari peziarahan agung Salib Kristus ini. Saya menantikan dengan sukacita bulan Juli mendatang di Rio de Janeiro! Saya akan berjumpa kamu di kota besar di Brasil! Persiapkan dengan baik - persiapkan secara rohani di atas segalanya - dalam komunitasmu, sehingga pertemuan kita di Rio boleh menjadi suatu tanda iman bagi seluruh dunia. Kaum muda perlu memberitahu dunia: "Adalah baik untuk mengikuti Yesus, adalah baik untuk pergi bersama Yesus, amanat Yesus adalah baik, adalah baik untuk keluar dari diri kita sendiri, dari tepi keberadaan dunia dan membawa Yesus kepada orang lain!".

Tiga kata: Sukacita, Salib dan Orang Muda. Mari kita memohon perantaraan Perawan Maria. Dia mengajarkan kita sukacita akan perjumpaan Kristus, kasih yang kita harus pandang pada kaki Salib, kegairahan hati yang muda yang dengannya kita harus mengikuti-Nya selama Pekan Suci dan sepanjang hidup kita. Amin.


(http://katekesekatolik.blogspot.it/)



Shirley Hadisandjaja Mandelli

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Berita

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved