Refleksi Pertemuan Internasional Penghubung Comunione e Liberazione 2007


PONDOK RENUNGAN

Kamis, 4 Oktober 2007

ITALIA

Seorang sahabat Pastor Katolik Indonesia membagikan pengalamannya di Italia selama 1 tahun berkenalan dan berjumpa dengan Kristus dalam Gerakan Communione e Liberazione (CL) serta pengalamannya mehadiri Pertemuan Internasional Penghubung Comunione e Liberazione 2007 di La Thuile tanggal 25-29 Agustus 2007 yang lalu.

Refleksi Pertemuan Internasional
penghubung Comunione Liberazione 2007
La Thuile, 25-29 Agosto 2007


Pengantar

Tgl 25-29 Agustus 2007 telah berlangsung di hotel Planibel La thuil, di kaki pegunungan Mount Blanc, pertemuan internasional para penanggungjawab dan penghubung gerakan awam Communione e Liberazione (CL) dari seluruh dunia.

Peserta

Para peserta berjumlah kurang lebih 400 orang yang terdiri dari sejumlah rekan di Italia dan utusan-utusan yang datang langsung dari 62 negara.

Saya diundang sebagai peserta Indonesia pertama (harap tahun depan ada teman lain juga). Dari Asia tenggara ada juga beberapa kawan lain yakni seorang remaja putri dari Burma, seorang teman dari Singapura, dua orang ibu dari Malaysia dan seorang ibu dari Metro manila-Filipina. Ada juga seorang rekan datang langsung dari Australia.

Tema pertemuan :
"Cristo me trae tutto, tanto è bello". Tema yang menarik kurang lebih terjemahannya adalah : “Kristus menarik seluruh diriku, sungguh Indah”.

Proses :

Pertemuan AIR adalah pertemuan tahunan CL di mana seluruh penanggunggjawab dan penghubung di seluruh dunia betemu untuk bersama-sama merfleksikan kembali seluruh kegiatan selama setahun. Yang dimaksud dengan kegiatan selama setahun tidak lain adalah kegiatan khas CL yakni, apa yang dikenal sebagai Sekolah Komunitas (Scuola di Comunità) yaitu, kegiatan katakese terbimbing oleh otoritas mengajar gereja dengan fokus utama adalah mendalami dan mendalami cara pandang baru terhadap hidup yang lahir dari persekutuan pribadi dengan Kristus yang telah menjadi manusia dan hadir di tengah pergulatan hidup manusia. Sekolah Komunitas di jalankan dengan mendalami sebuah teks yang ditentukan. Selain Sekolah Komunitas ada juga bentuk-bentuk karya CL, seperti AVSI atau asosiasi-asosiasi lain di bawah CL yang menjalankan karya karitatif secara sistematis dan profesional di bidang pendidikan dan kesehatan, pertanian dan peternakan, Bank makanan untuk kaum miskin, program beasiswa, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan itu adalah saat berahmat karena diyakini bahwa semuanya berawal dari persekutuan dengan Kristus dalam GerejaNya.
Karena itu pertemuan Internasional ini sebenarnya dimaksudkan sebagai penyegaran kesadaran akan kehadiran Sang Sabda yang telah menjadi manusia dan menarik tiap-tiap orang untuk mengalami kelimpahan kasihNya dari mana ada energi untuk melayani dunia. Karena itu pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk menguatkan persahabatan untuk menjadi saksi tentang sang Sabda yang Menjadi Manusia.

Alur pemikiran ini mengalir dalam proses pertemuan seperti sebuah retret, dari renungan-renungan yang dipandu oleh Presiden CL Julian Carròn dan diakhiri dengan ekaristi. Renungan yang dibawakan oleh Pastor Carròn, sebenarnya adalah simpul refleksi yang dikerjakan bersama seluruh komunitas selama setahun di seputar dua pilar utama ; Pertama, pertemuan dengan Kristus (yang telah menjadi manusia) sebagai Tuhan bagi tiap-tiap orang. Pertemuan denganNya yang “menghitung rambut di kepala tiap orang”, menegaskan membuat kita mampu mengenal kerinduan kita yang paling dalam melalui semua dicari dalam hidup.

Selain itu ada juga sharing pengalaman dari sejumlah orang peserta khusus. Tahun ini tiga orang diundang untuk berbagi pengalaman. Cardinal Angelo Scola hadir dan membagi pengalaman. Sebagai seorang seminarist, imam, uskup dan kardinal yang bertumbuh bersama kumnitas CL, sharingnya lebih terarah pada sejarah lahirnya CL sebagai upaya untuk menghidupkan kembali kesadaran di tengah umat tentang karisma pembabtisan dalam Gereja sebagai pengalaman pertemuan dengan Tuhan secara personal. Setiap orang yang percaya pada Kristus, harus mengalami kepercayaan itu sebagai sebuah “pengalaman”. Institusi Gereja sebenarnya bertugas untuk menghidupkan kembali kenangan sekaligus kesadaran akan karisma ini.

Hadir juga membagi pengalaman dua orang awam yang lain yakni Inocente Figini, seorang bapak dari 14 anak yang dalam kesederhanaan memutuskan untuk memelihara lagi 24 orang anak jalanan dan menerima 60 orang anak yang lain dirumahnya setiap hari lalu memulai sebuah kehidupan komunitas hanya karena terdorong untuk hidup dalam persekutuan karena iman (communione). Selain itu seorang anggota CL di Uganda-Kampala, Rose Busingye yang menemukan makna pelayanan sebagai ungkapan persekutuan dengan Kristus di tengah 2000 pasien AIDS dan 2050 anak yatim-piatu yang diasuh oleh AVSI di Uganda.
Pertemuan berakhir dengan sharing dalam kelompok-kelompok negara yang diakhiri dengan sintesi dari Carròn.


Beberapa Pokok Refleksi Pribadi

1. Pertemuan dan persekutuan dengan Kristus sebagai kata kunci.

Kata kunci selama pertemuan adalah perjumpaan dan persekutuan dengan Kristus. Riwayat pertemuan dan persahabatan dalam CL bermula dari kesadaran akan kejadian inkarnasi sendiri, di mana Allah menjadi manusia, datang dan menemui manusia dan tinggal di antara manusia. Murid-murid pertama bertemu Kristus, tinggal bersama Dia. Mereka ditarik oleh Dia untuk bersatu denganNya dan menjadi sahabatNya. Dengan bersahabat dengan Dia mereka juga menjadi sahabat satu sama lain. Persahabatan di antara mereka bersandar dari persahabatan dengan Dia dan diarahkan menuju sebuah tujuan yang satu, persahabatan dengan Allah Bapa sendiri sebagai kerinduan terakhir setiap orang.

Gereja adalah kelanjutan dari perjumpaan historis ini, Allah yang menjumpai manusia dalam Yesus Kristus, yang kasihNya yang begitu kuat menarik sejumlah orang padaNya dan mengalami secara nyata hidup bersamanya. Sehingga orang –orang yang bertemu dengan Dia mendapatkan rahmat KEINDAHAN itu yang akhirnya menarik juga orang-orang lain padaNya. Persekutuan dengan Kristus yang setia pada Allah Bapa adalah prinsip awal dari setiap persahabatan dan persekutuan antara manusia. Dengan bersatu dengan Dia orang mampu mengembangkan persahabatan yang sejati dengan sesama yang lain dalam sebuah persekutuan yang terarah menuju Allah. Dan persekutuan itu nyata dalam Gereja. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang ditarik oleh kasih Allah dan diri Yesus Kristus dan terus menerus dalam kehidupan itu memberikan kesaksian dan kenang-kenangan itu dalam tiap bentuk pertemuan dan kehadiranya di tengah dunia. Karena tugas Gereja adalah (dalam bahasa Don Giussani) mengajar setiap orang untuk menerima dengan lebih sadar kerinduan terdalam dalam hatinya masing-masing untuk bertemu Tuhan (il senso religioso) dan menyadari bahwa Yesus Historis melalui pristiwa inkarnasi (avvenimento di Cristo) adalah jawaban yang nyata dari kerinduan itu.

Seluruh perutusan Gereja di tengah dunia melalui liturgi, pelayanan karitatif dan kesaksian di tengah dunia lainnya adalah buah dari persekutuan dengan Kristus yang dirayakan. Setiap orang bisa menjadi sahabat yang baik bagi yang lain kalau keindahan Kristus hadir dalam hidupnya sebagai pengalaman yang nyata. Dengan kata lain persahabatan di antara orang-orang yang bersekutu dengan Kristus harus menjadi kesaksian tentang Dia, sehingga lahirlah persahabatan yang jujur, tidak untuk saling memperalat seperti dalam dunia politik.

2. Lahir dari krisis : sebuah sketsa perjalanan Gereja Eropa (Refleksi pastoral).

CL (Communione e Liberazione) adalah gerakan yang lahir dalam gereja untuk menegaskan kembali kenangan akan karisma sakramen pembaptisan, olehnya kita semua dipersatukan dengan Kristus dalam GerejaNya. Sebenarnya di balik kehadirannya, sebagaimana juga gerakan awam lainnya CL lahir dari sebuah konteks yang konkrit.

Eropa adalah simbol kemajuan dunia dengan ilmu dan tekhnologi yang mengagumkan. Kemajuan ini lahir sebagai buah kegigihan manusia dalam mencari dan menegaskan makna hidupnya. Sejarah pencaharian makna itu juga berkembang sampai pada sejarah penyelidikan dan penjajahan di belahan dunia yang lain.
Namun pada sisi yang lain, sebenarnya kita yang datang dari dunia yang lain, bisa merasakan dengan nyata kehidupan masyarakat yang individualistik, sekular bahkan putus asa (nihilis). Banyak orang mendambakan satu kehidupan yang ramah, di mana tiap orang bisa saling bersapa dan saling menerima dalam kesahajaan. Sikap bathin yang berkembang dari rasa hormat dan cinta satu-sama lain oleh karena martabat pribadi tiap-tiap orang. Dan Gereja sebenarnya diharapkan menjadi sebuah “wilayah” di mana harapan itu ditemukan. Karena secara hakiki di dalam Gereja, kasih Allah secara historis hadir dalam sejarah manusia dan kasih Allah itu memberi tempat tertinggi pada martabat tiap orang. IA mencintai setiap orang dengan nama dan sejarahnya masing-masing. Pengalaman ditemui dan dicintai oleh Allah sebagai pribadi mengembangkan dalam diri tiap orang kemampuan untuk mencintai, dan terutama menghidupi dalam Gereja kesaksian itu secara nyata. Sebenarnya pada titik inilah letak krisis.
Banyak gedung Gereja bagus tapi hanya menjadi tempat wisata. Banyak paroki menjadi kering dan impersonal. Bahkan di banyak tempat, suasana paroki sangat berisiko menjadi sekedar tempat formal di mana bertemu dan berdoa kepada Tuhan yang juga impersonal tanpa merasakan sedikit tegur sapa di antara orang-orang yang berdoa. Juga kerap orang datang ke gereja untuk mengurus hal-hal yang sifatnya sipil semata, urusan perkawinan, surat-surat, dll. Selain itu situasi ini karena di beberapa negara di Eropa, para pastor adalah “pegawai negeri” /atau “pegawai gereja” yang digaji dengan baik untuk menjalankan sebuah profesi. Kotbah-kotbah, katakese dan seluruh tampilan Gereja akhirnya atau menjadi institusionalisme, sibuk dengan diri sendiri, atau menjadi spiritualisme yang lebih banyak bicara tentang kesalehan yang sama sekali terlepas dari tanggungjawab untuk kehidupan manusia yang nyata. Singkatnya Gereja kehilangan karismanya yang sejati yakni sebagai Tanda pertemuan dengan kerajaan Allah yang mendatangi manusia dalam diri seorang pribadi yang bernama Yesus Kristus dan mencintai setiap orang, satu demi satu. Perjuangan Gereja adalah perjuangan membuka diri agar pertemuan ini dialami lagi. Dan praktis di banyak tempat tidak ditemukan. Banyak anggota Gereja terutama kaum mudanya meninggalkan Gereja.

CL sebagai gerakan awam sebenarnya lahir untuk menghidupkan kembali ingatan akan karisma dari Pertemuan dengan Kristus dalam Gereja. Sebuah gerakan untuk membawa pulang anggota Gereja ke dalam pangkuan ibu gereja sendiri. Memang ada resiko bahwa tidak semua anggota CL paham akan hal ini. Ada resiko munculnya kecenderungan egoisme kelompok di antara para anggota CL. Ada juga resiko di mana maksud awal sebagaimana saya lansir di atas terjatuh menjadi sebuah kelompok massa yang ekslusif dan tidak cukup mampu berdialog dengan gereja sebagai institusi. Bahkan ada juga kemungkinan di mana orang melihat CL sebagai seperti sebuah kelompok penggemar tim-tim sepakbola yang begitu fanatik. Untuk mencegahnya dan terus memelihara semangat awal itu CL mengutamakan ciri kebersamaan melalui pertemuan-pertemuan berkala yang secara teratur terutama melalui Sekolah Komunitas untuk menghidupkan selalu kesadaran akan pengalaman pertemuan dengan kristus dalam hidup tiap-tiap orang dalam kesetiaan yang penuh pada Gereja.

3. Dari perjumpaan menuju persahabatan sebagai saksi.

Sebuah pertanyaan seringkali dikemukakan oleh orang-orang yang saya jumpai.
“Kenapa ada di Roma?”
“untuk belajar” jawab saya.
Dialog ini sederhana. Namun mengandung makna yang dalam, karena berkisar pada sebuah sejarah kekinian yang konkrit. Saya datang ke Roma karena mendapat tugas belajar. Saya mendapat tugas belajar sebagai pastor. Saya menjadi pastor karena saya katolik dan saya menjadi katolik karena dibaptis dan menjadi anggota Gereja. Dan di Roma saya berjumpa dengan banyak orang lain yang memiliki sejarah yang sama, yang datang untuk belajar karena diutus, mewakili keuskupan dan Gereja Indonesia. Bersama dengan kesibukan kuliah di kampus hemat saya, sejarah yang sama – yang sementara saya jalani bersama yang lain yang saya tidak pernah kenal sebelumnya- adalah sumber terdalam untuk membangun persahabatan.

Persahabatan pada tataran manusia lahir dari kemiripan minat dan sifat dan mungkin pula kepentingan. Tapi perjumpaan yang sementara dikerjakan oleh Tuhan dalam riwayat kita di Roma, adalah membawa kita kepada sebuah persahabatan yang terbuka pada horison yang jauh lebih tinggi yakni persahabatan di mana kita saling membantu untuk mengalami pertemuan dengan Kristus.

Hikmah pribadi yang saya dapat dari CL selama setahun adalah ini, bahwa saya mendapat kesempatan untuk merenungi bersama Don Giussani, misteri yang dikerjakan Kristus dalam GerejaNya yang juga saya alami secara pribadi. Ia juga melalui GerejaNya telah mempertemukan saya dan anda di kota Roma dan kota lainnya, mempertemukan saya dengan banyak sahabat dari berbagai suku bangsa. Perjumpaan kita adalah perjumpaan dari orang-orang yang dicintai dan diutus. Karena itu ia harus menjadi titik darimana sebuah kesaksian di mulai.****


(Seperti yang ditulis dan dikirimkan oleh Romo Leonardus Mali, PR dari kota Roma)





Shirley Hadisandjaja
Email: sicilia_shirley@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Berita

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved