Apa yang membuatmu datang kepadaku


Tok tok tok…., tok tok tok….. pintu kamarnya diketuk sekitar jam 11 malam. Ada apa gerangan, gumamnya. Apakah ada teman yang mencariku. Lalu terdengar suara memanggil, “Hun, ada yang mencarimu”. Aku bergegas keluar, dan tampaknya teman-teman yang biasanya ramai mengobrol dengan anak-anak kos di sini sudah pulang. Aku sampai di gerbang, dan ternyata seorang pemuda baru aku kenal yang mencariku. “Ada apa?”, tanyaku. Pemuda itu datang bersama seorang temannya; seorang wanita seumuran dengan kami. “Temanku ini sedang butuh uang, apa kau bisa meminjamkannya?”, dia bertanya.

“Apa yang mebuatmu datang kepadaku?”, tanyaku. “Maaf karena aku pun baru kali ini melakukannya, aku tak dapat berpikir untuk datang kepada orang lain selain engkau”, dia menjawab. Lalu dia meneruskan, “Jika ada orang lain yang kau tanyakan, mungkin jawabannya tidak berbeda. Sebelum kita bertemu, aku pernah tidak sengaja memperhatikanmu. Waktu itu kau sedang berjalan menuju mal di sebelah kampus kita. Saat itu, aku berjalan beberapa meter di belakangmu. Lalu di tengah jalan, ada seorang peminta. Kau segera mengambil selembar uang yang sepertinya sudah kau siapkan untuk kejadian seperti itu. Namun, aku terkejut dengan apa yang terjadi selanjutnya. Kau membungkuk, kau memandanginya, dan kau memberikan uangmu di genggaman tangannya, bukan di wadah uang yang ia sudah siapkan. Aku terperanjat dengan adegan itu. Badanmu tinggi, namun kau tak segan untuk membungkuk. Kacamata mu terlihat tebal, namun kau tak jenuh untuk memandangi mata seorang peminta”

“Ah cukuplah kata-katamu itu, aku tak sebaik itu. Apa yang sebenarnya terjadi terhadap temanmu?” balasku. “Dia butuh tambahan untuk membayar surat pembebasan pacarnya yang telah selesai masa tahanannya”, jawabnya. Lalu dia meneruskan, “Mungkin terdengar seperti aku mengarangnya, namun itulah yang sebenarnya”. Tiba-tiba si wanita bicara sambil tetap menunduk, “Maaf jika aku merepotkan, namun kalau kau keberatan, aku tidak akan memaksa dan mengganggumu”.

Aku menghampirinya. Aku mencoba melihatnya. Si wanita terkejut, sehingga dia mengangkat kepalanya. Aku berkata kepadanya, “Kau telah datang padaku, dan itu tidak terjadi begitu saja. Temanmu ini yang juga baru aku kenal telah memlihatku sedemikian rupa. Aku mau menolongmu”.

“Kini aku mengalaminya sendiri apa yang temanmu katakan tentangmu, dan itu memang benar. Aku jadi malu. Terima kasih” respon si wanita.

Kemudian temanku menambahkan, “Hun, terima kasih ya. Maaf, aku sudah mengganggumu malam malam begini”.

“Ah kau ini, lain kali aku yang akan mengganggumu, memintamu menjelaskan struktur perdagangan internasional. Aku dengar kau telah mengambil mata kuliah itu, dan sering dimintai tolong oleh mahasiswa lain untuk menjelaskannya” balasku.

“Wah ternyata kau pun telah melihatku sedemikian rupa, ha..ha..ha…” jawabnya. Aku pun juga tertawa, dan si wanita yang tiba-tiba bingung menyiratkan tawa kecil.



Darvian Wirawan
Email: darvianw@hotmail.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Cerita

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved