JANGAN JEMU BERBUAT BAIK


Perempuan itu duduk di tangga jembatan penyeberangan sambil memangku bayi kecil kurus. Bayi itu tidak memakai baju, hanya sehelai serbet yang menutupi tubuhnya yang berkulit gelap. Sebuah kaleng bekas permen terletak dekat bayi itu supaya orang bisa melemparkan uang receh ke dalamnya.

Seorang karyawati yang akan pergi bekerja melihat si ibu dan bayinya. Ia merasa kasihan.
Keesokan harinya si karyawati membawakan celana, baju, topi dan kaus kaki. Berdua si ibu karyawati itu memakaikan pakaian itu ke tubuh si bayi. Si ibu mengucapkan terima kasih dan si karyawati merasa puas.

Namun, ketika beberapa hari kemudian si karyawati melewati jembatan penyeberangan itu ia melihat bayi itu tidak berpakaian, tidak memakai kaus dan topi dan kembali hanya ditutupi serbet.
"Mengapa bayi ini tidak memakai pakaian lagi? Bukankah saya sudah berikan pakaian, kaus dan topi beberapa hari yang lalu?" tanya karyawati itu.
"Oooh, pakaiannya sedang dicuci!" jawab si ibu.
Jadi keesokan harinya karyawati itu kembali membawakan celana, baju, topi dan kaus kaki baru.

Namun, kali ini dia merasa kecewa karena si bayi tetap saja tidak berpakaian dan ditutupi serbet.
Ketika si karyawati menanyakan, si ibu menjawab, "Pakaiannya dikenakan pada malam hari saja. Kalau siang begini, si bayi mengenakan pakaian lengkap orang tidak merasa kasihan dan tidak memberikan uang! Saya perlu uang untuk makan!"
Si karyawati menggeleng-gelengkan kepala. Ia memberikan uang Rp 5000 kepada si ibu. Dan mulai hari itu ia mendoakan si ibu dan bayinya.Biarlah Tuhan memberikan yang terbaik untuk kehidupan mereka.

Kemudian karyawati itu tidak melewati jembatan penyeberangan selama seminggu, karena ia cuti pulang kampung.

Ketika ia masuk bekerja kembali dan melewati jembatan penyeberangan, ia melihat si ibu duduk di sana tanpa bayi. Si karyawati menanyakan kemana bayinya.
"Dia sudah meninggal dan dikuburkan dengan pakaian yang Nyonya berikan. Saya akan pulang kampung dan tidak mau jadi pengemis lagi. Tetapi saya tunggu sampai saya bisa bertemu Nyonya. Nyonya satu-satunya orang yang memperhatikan kami berdua!" si ibu menjelaskan."Saya harus mengucapkan terima kasih dan tidak bisa menghilang begitu saja tanpa pamit!"

Ketika si karyawati berlalu, ia semakin yakin bahwa Tuhan menghendaki kita untuk "jangan jemu berbuat baik." (Gal 6:9). Betapa banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kasih. Yesus sudah memberi teladan untuk mengasihi tanpa syarat. Mungkin kita pernah dikecewakan ketika memberi, namun teruslah memberi. Mungkin kita pernah dikecewakan karena mengasihi, namun teruslah mengasihi.



Widya Suwarna
Email: widyasuwarna@yahoo.co.id

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Cerita

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved