Ajarlah Aku Tuhan


Kemarin aku merasa sedih dan kecewa karena rencana nobar Soegija bersama teman berakhir tidak sesuai dengan harapanku. Beberapa teman sepakat untuk nonton pada hari pertama, sementara aku dan seorang teman lain kemarin berhalangan karena ada kegiatan lain...

Aku sadar bahwa bisa jadi ada miskomunikasi antara aku dengan teman-teman, karena seingatku ketika terakhir bertemu untuk membicarakan jadual nobar itu, aku sempat mengingatkan mereka bahwa teman yang satu lagi biasanya hari Senin atau Selasa off, sehingga kalau mau nonton di hari pertama (Kamis), dia pasti ga bisa ikut. Jadi aku beranggapan bahwa kami belum memutuskan tanggal nobar yang pasti.

Rabu malam aku terkaget-kaget, karena seorang teman menanyakan besok kita gimana (nobarnya)? Aku sama sekali ga kepikiran untuk nobar hari pertama karena teman yang lain kan memang berhalangan dan aku juga ada kegiatan lain di Kamis malam. Sedih, karena teman-teman sudah memutuskan untuk nobar Kamis malam tanpa konfirmasi ulang ke aku (mungkin mereka beranggapan aku sudah tahu bahwa kami mau nobar di hari pertama seperti diskusi dalam pertemuan terakhir kami yang waktu itu aku anggap masih menggantung karena seorang teman berhalangan ikut). Kecewa, karena keputusan itu baru aku ketahui malam sebelumnya, sehingga nobar yang ada dalam bayanganku harus berakhir dengan “nonton sebagian bareng”.

Paginya setelah curhat dengan teman yang juga ga jadi nobar aku memutuskan untuk tidak menjadi penghalang bagi teman-teman yang sudah mengatur jadwal mereka untuk nobar. Smsan dengan teman ini juga sedikit menghibur aku... Siangnya muncul email dari teman lain yang ga ada hubungannya dengan rencana nobar kami, tapi aku merasa emailnya itu mendukung keputusanku untuk menghadiri rapat di geraja daripada nobar dengan teman-teman yang lain.

Aku teringat bahwa voucher Soegija masih aku simpan dan aku memutuskan untuk membawanya ke kantor sehingga temanku bisa mengambilnya untuk nobar mereka. Dengan ekspresi yang wajar, sore itu kuserahkan voucher tersebut ke teman yang datang mengambil karena merasa bahwa itu sudah selesai... Biasanya aku akan bersikap dingin terhadap orang-orang yang telah membuat aku kecewa. Mungkin karena mereka teman-teman sekomunitas yang selama ini kami saling peduli satu sama lain, maka aku berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihan dan kekecewaanku itu, yang bagi mereka mungkin hanya masalah ketidakcocokan waktu, namun menurutku sebagai kelompok seharusnya kami bisa saling menyesuaikan waktu sehingga kami benar-benar dapat nobar...

Pelajaran yang kudapat dari peristiwa kemarin adalah aku bisa belajar bersabar dan menutupi kekecewaan dan kesedihanku dari teman-teman yang lain, belajar menerima keputusan mayoritas tanpa terlibat dalam prosesnya walau mengagetkan dan membuat kecewa, belajar untuk tidak mengutamakan egoku sendiri dan menerima bahwa teman-temanku memiliki prioritas yang berbeda denganku (kesetiakawanan sebagai kelompok). Aku bahkan sempat terpikir bahwa inilah salah satu latihan yang aku perlukan agar dapat menghadapi masalah yang serupa (kesedihan dan kekecewaan terhadap orang-orang yang dekat denganku) di kemudian hari.

Ya Bapa, Engkau telah membiarkan aku mengalami semua ini. Aku percaya ini adalah salah satu rencanaMu untuk membentuk aku agar dapat menjadi lebih baik lagi dalam melaksanakan ajaran kasihMu. Berikan aku hati yang lapang agar dapat mengolah kekecewaan dan kesedihan yang kualami dalam hidupku menjadi berkat-berkatMu yang semakin menguatkan aku dalam pergumulan hidupku. Terima kasih Bapa yang penuh kasih, amin.

BSD, 8 Juni 2012



Brigitta Elizabeth
Email: noviyanti@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Cerita

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved