Sejarah Areka


Dari beberapa Pastor yang saya tanya, saya mendapatkan informasi tentang sejarah Areka secara lisan karena belum ada secara tertulis. Semoga informasi ini bermanfaat.

Istilah Areka (Anak Remaja Katolik) pertama sekali hanya dipakai di Sumatera Utara dan KAM khususnya, sama seperti Asmika (Anak Sekolah Minggu Katolik). Saya tidak tahu apakah di Jawa juga menggunakan istilah yang sama.

Berawal dari bimbingan kepada Asmika oleh seorang Frater dari Seminari Tinggi Filsafat Teologi (STFT) di Pematang Siantar pada penghujung tahun 1984. Frater tersebut bernama Fr. Carolus Sembiring yang sekarang telah menjadi Pastor dan bertugas di Tiga Binanga Berastagi. Kala itu Frater tersebut melihat ada sekelompok anak remaja, dia melihat bahwa anak-anak tersebut sudah terlalu besar bila mengikuti Asmika dan masih terlalu kecil bila mengikuti Mudika.

Kemudian Frater tersebut berinisyatif untuk membuat suatu sarana untuk tempat berkumpulnya anak remaja tersebut. Sejalan dengan perkembangannya, maka diawal tahun 1985, sekelompok anak remaja itu telah mempunyai wadah yang dinamakan Areka (Anak Remaja Katolik) sekaligus Frater tersebut telah membuat sebuah artikel yang dimuat di majalah Menjemaat – majalah terbitan dari KAM – dengan judul ‘Areka memerangi Kera’. Kata ‘kera’ di dalam judul itu bukanlah berarti kera seperti yang kita ketahui selama ini yaitu hewan yang suka bergantung-gantung dari satu dahan ke dahan lainnya, tetapi kata ‘kera’ disini maksudnya ialah ‘kenakalan remaja’. Demikianlah sejarah terbentuknya Areka ini.

Sejak tahun itu sampai sekarang Areka ini sudah berkembang, dan dibeberapa gereja Areka ini banyak diasuh oleh para Suster dari biara, tetapi dibeberapa daerah sama sekali tak ada Arekanya. Sangat disayangkan, mungkin karena kurangnya publikasi mengenai Areka inilah makanya banyak sekali kita jumpai di gereja-gereja hanya memiliki Asmika dan Mudika, padahal wadah Areka itu sendiri sama pentingnya. Agar ‘kera’ (kenakalan remaja) tidak semakin berlarut-larut. Bukankah anda setuju?


Salam

Agnes



AREKA BER-YUBILEUM



Pasti kita semua bertanya " Apa maksudnya?", tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengajak kita semua yang katanya adalah umat Allah untuk memikirkan bersama generasi penerus gereja yang kita cintai ini. Kita tahu bahwa didalam gereka Katholik banyaknya terdapat lapisan-lapisan umur. Bertitik tolak dari lapisaan umur inilah makanya digereja kita tidak jarang kita jumpai yang namanya Asmika (Anak Sekolah Minggu Katholik), Areka (Anak Remaja Katholik) dan Mudika (Muda-Mudi Katholik). Kalau untuk Asmika dan Mudika sangat tidak jarang untuk didengar tetapi kalau untuk Areka jarang sekali dibicarakan. Mengapa? Mari kita jawab sama-sama untuk mencari tahu dimana kelemahan kita. Karena tanpa kita sadari kita telah mengabaikan generasi gereja yang satu ini.

Areka yang berarti Anak Remaja Katholik adalah salah salah satu dari lapisan umur dalam gereja kita. Kalau kita ambil kata ‘remaja’nya itu berarti usia dimana pada masa itu seorang anak menanjak dewasa atau dalam kata lain masa peralihan dewasa. Kalau dalam masa peralihan dewasa ini kita sudah tidak memperhatikan anak itu maka perkembangan jiwa dan mentalnya pasti tidak terarah. Mengapa saya katakan demikian? Dalam gereja contohnya - kalau kita tidak memperhatikan mereka – seorang anak remaja yang berusia katakanlah 14 tahun mau masuk Asmika, bukankah dia akan merasa terlalu besar bagi anak-anak disekitarnya dan ia mau masuk ke Mudika, pasti dia merasa ‘ah, aku masih terlalu kecil’, hal ini telah menunjukkan bahwa ia tidak punya arah. Apalagi kalau dalam lingkungan keluarganya seandainya orangtuanya tidak memperhatikan masa peralihan anak remajanya ini bukankah sianak akan tumbuh dewasa tetapi mempunyai moral yang tidak dewasa karena orang tua tidak mengarahkannya.

Atau kalau kita kaji lebih dalam lagi kata remaja itu sendiri terdiri dari dua suku kata yaitu ‘rem ‘dan ‘aja’ (singkatan dari kata saja). Rem berarti menghentikan. Nah, kalau seorang anak remaja yang ingin katakanlah menonton film usia 17 keatas tentu secara otomatis ada yang berkata rem saja, entah itu yang berkata suara hatinya atau apalah yang jelas suara itu mau mengatakan bahwa film itu belum bisa ditonton oleh anak remaja itu Tetapi kalau kita pikir secara logika tentu orang dewasalah seharusnya yang mengatakan rem saja karena orang dewasa tahu itu tidak baik baginya. Begitu orang dewasa menghentikan anak remaja itu tentu selanjutnya ia akan membimbingnya dan mengarahkannya mengapa film tersebut belum bisa ditonton oleh anak remaja. Jadi didalam masa peralihan ini harus ada yang mengatakan rem saja kepada anak remaja agar dia dapat tumbuh menjadi anak remaja yang berguna bagi keluarga bagi masyarakat bagi bangsa dan negara terlebih bagi Bapa di surga.

Sekarang mari kita berbicara untuk anak remaja ini lewat ‘kacamata’ gereja kita. Anak remaja yang merasa kesana (Asmika) salah kesini (Mudika) salah tentu dengan sendirinya ia akan malas untuk pergi ke gereja karena ia merasa tidak ada gunanya gereja. Lalu bagaimanakah solusinya? Yaitu dengan membuat suatu tempat atau sarana dimana disitu dapat dikumpulkan semua anak remaja kemudian kita dapat mengarahkan mereka lewat pembinaan iman yang bagi mereka tidak terlalu kekanak-kanakan dan tidak terlalu kedewasaan sehingga kita bisa mengarahkan pertumbuhanhnya sejalan dengan kebutuhan jiwanya. Apa nama sarana itu? Itulah yang kita namakan Areka atau Anak Remaja Katholik. Lewat Areka ini kita bisa membimbing mereka menuju kedewasaan. Misalnya waktu anak remaja itu duduk di Asmika tentu didalam Asmika itu semua dilakukan oleh guru Asmikanya misalnya pimpin lagu dan doa guru Asmikanyalah yang berperan aktif, tetapi didalam Areka guru Arekanya tentu akan membimbingnya agar kelak dia dapat menjadi seorang dewasa yang dapat bertanggung jawab juga berani. Oleh karena itu guru Arekanya akan mengajari anak remaja itu untuk pimpin lagu sendiri begitu juga halnya dengan doa. Sehingga setelah anak remaja itu tumbuh dewasa dia sudah berani untuk tampil kedepan Altar entah itu untuk bacaaan I dan II karena mentalnya telah dilatih selama dia masih remaja.

Nah untuk itulah ditahun Yubileum ini, mari kita galakkan Areka Beryubileum agar Areka kita mempunyai arah dan misi juga peranan penting dalam gereja sebagai generasi penerus gereja. Karena iman itu seperti kebun kalau kebun itu dipelihara tentu akan tampak rapi dan indah serta akan menghasilkan buah yang bagus-bagus pula. Begitu juga dengan Areka kalau dari sejak dini mereka kita perhatikan maka kita akan melihat bahwa Areka kita itu akan menjadi Areka yang berdisiplin dapat bertanggung jawab serta berani lebih-lebih dia akan mempunyai ketrampilan yang dapat diandalkan.Bukankah hal inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama, karena bila seorang Areka tidak mempunyai arah apakah gereja akan membiarkannya? Bukankah itu berarti bahwa gereja telah mempunyai penerus yang tanpa arah? Apakah ini yang kita inginkan? Saya yakin kita semua tidak menginginkan hal ini terjadi, apalagi dijaman era reformasi ini. Marilah sama-sama kita bina orang-orang yang akan mempunyai jiwa reformis positif agar negara kita mempunyai penerus yang dapat memberantas kemiskinan dan kemelaratan dalam materi terlebih dalam iman. Apakah anda setuju dengan Areka Beryubelium? Kalau jawabnya ya, maka saya ucapkan selamat ber-Areka Yubelium.

Salam dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.



Agnes Evi Tobing

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Gereja

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved