Anakku menuntunku kembali kepada Tuhan


Saya adalah seorang katholik semenjak bayi ( Katholik Warisan ) yang menjalani ibadah atau perayaan ekaristi hanya sebagai kewajiban dan rutinitas semata, sampai berumah tanggapun tetap seperti itu. Ketika memepunya 4 anak, badai ekonomi rumah tangga terjadi dan saya tidak mempunyai pekerjaan atau usaha, pendapatan hanya dari istri. Ketika itu saya berteman dengan beberapa paranormal dan selalu bersama mereka sampai subuh baru pulang ke rumah dan mengikuti cara sembayang mereka meskipun demikian setiap minggu ke gereja tetap saya jalankan. Ketika itu saya masih tidak menyadari perbuatan saya ini sampai suatu ketika saya diminta ayah saya mengantarkan dia ke gereja dan baru saya tahu itu adalah hari Rabu Abu, awal dari pantang dan puasa masuk masa prapaskah.

Dari kotbah romo yang berbahasa mandarin padahal saya hanya sedikit mengerti bahasa mandarin dan saya menangkap bahwa hari itu mulai masa prapaskah, masa pertobatan untuk silih atas dosa kita dengan pantang dan puasa. Saat itu juga hati saya mendorong saya berjanji untuk pantang daging selama masa prapaskah. Baru berjalan 3 minggu, saya yang masih datang ke tempat paranormal itu, pada saat itu dia (paranormal) memanggil muridnya dan memaksanya membuka kartu saya dan melihat nasib saya, padahal selama saya kenal dengannya tidak pernah saya minta untuk diramal, hanya ikut kegiatan sembayang dan mandi air kembang sebulan 2 kali, yang katanya untuk membersihkan diri. Ketika itu dia terkejut dan mengatakan saya ada memakai barang dukun dan ada yang menghendaki kematian saya karena sakit hati. Belakangan baru saya sadari pernah pergi ke tempat cucu majapahit dan diberi cairan untuk mengepel lantai rumah yang katanya untuk usaha maju. Atas saran paranormal ini yang mengetahui saya seorang katholik, menyarankan untuk memanggil romo supaya rumah saya di berkati dan orang yang menghendaki kematian saya itu dimaafkan. Aneh bagi saya, seorang paranormal bisa menyarankan seperti itu, bukankah di dalam injil Yesus meminta kita untuk mengasihi dan mengampuni musuh-musuh kita. Apakah Tuhan menegur saya melaluinya supaya saya kembali sungguh hanya menyembah Dia?

Setelah saya jalani apa yang disarankan terbukalah pikiran saya. Pikiran saya yang tadinya selalu hendak bunuh diripun hilang dan mantan bos saya pun menelpon saya agar kembali ke pabrik untuk memimpin. Semenjak itu ekonomi kami mulai membaik, meskipun demikian untuk ke gereja mengikuti ekaristi tetap saya jalani dengan hampa, masih tidak mau sungguh hanya menyembah Dia saja. Sampai suatu ketika anak saya yang pertama berumur 7 tahun sakit kepala dan hasil scan mengatakan ada kanker ganas (Meduloblastoma) di dalam otaknya. Seperti kiamat saja saat itu rasanya, dalam hati saya bertanya Tuhan apa lagi ini? Saat itu saya sudah tidak dapat berpikir apa-apa lagi, istri saya menyarankan agar kita pergi ke puncak untuk bertemu romo Yohanes yang mempunyai karunia penyembuhan. Ketika kami bertemu romo Yohanes, dia mendoakan anak kami dan kami orang tuanya pun didoakan serta menyarankan untuk tetap mendoakan setiap malam dengan menumpangkan tangan, dan operasi tetap harus dilaksanakan.

Sekembali dari sana saya ditelpon bos saya untuk menyiapkan paspor anak saya dan berangkat ke Singapura menjalani operasi di sana dan biaya seluruhnya ditanggung olehnya. Operasi berjalan lancar dan menurut dokter 100% terangkat karena ini jenis yang sangat ganas dia menyarankan untuk tetap diterapi kombinasi. Itu semua kami jalani di Jakarta selama 1 tahun dengan kemoterapi dan radiasi yang membuat tubuh anak saya kurus sekali. Semenjak anak saya sakit inilah saya mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki, saya mulai banyak mengikuti retret di Lembah Karmel, dari sana saya banyak mendapatkan pengajaran-pengajaran akan iman katholik yang sesungguhnya. Selama ini saya yang tidak senang dengan karismatik ( anti ), namun mulai ikut di dalam persekutuan dan merasakan iman saya tumbuh di sana. Satu setengah tahun berlalu tiba-tiba anak saya mengatakan kepalanya sakit sampai mengeluarkan air mata dan saya bawa kembali kontrol ke dokter. Dari hasil scan mengatakan kanker tumbuh dan menyebar sudah tidak mungkin untuk dioperasi ataupun radiasi, saat itu saya bisa lebih tenang menghadapi kenyataan dan rencana Tuhan. Dokter hanya memberikan obat penahan sakit. Saat itulah cara berdoa saya mulai berubah yang tadinya mohon kesembuhan saya ganti dengan: ˇ§Ya Tuhan, kalau Engkau menghendaki anakku kembali padamu, janganlah Engkau berikan ia kesakitan.ˇ¨ Karena saya sudah menyadari bahwa Tuhan telah memakai anakku untuk mempertobatkan aku dan kembali kepadaNya. Doaku ini dikabulkan Tuhan semenjak itu anakku tidak pernah mengatakan sakit pada kepalanya, padahal tidak pernah diberikan obat penahan sakit.

Setengah tahun kemudian anakku melemah dan kami masukan ke RS Carolus karena saya lihat kondisi anakku sudah tidak sadar lagi dan dokter menyarankan untuk dimasukan keruang ICU, tetapi kami tolak, saya mengajak istri saya untuk doa koronka (Kerahiman Illahi ) di mana dalam catatan Suster Faustina, Yesus mengatakan: ˇ§Bila koronka ini didaraskan dekat orang yang sedang menghadapi ajalnya, Aku akan berdiri antara Bapa dan orang itu bukan sebagai hakim yang mengadili melainkan sebagai Juru Selamat yang rahim.ˇ¨ ( BCH No 1541 ). Begitu selesai doa 1 menit kemudian nafas anakku berhenti dan kembali ke rumah Bapa untuk selamanya. Sungguh heran pada saat itu kami memohon romo paroki untuk membawakan misa penutupan peti arwah, tetapi tidak bisa karena jadwal yang padat, maka teman lingkungan membantu untuk cari di paroki lain dan akhirnya mendapatkan seorang room. Ketika selesai misa romo mengatakan dia bersedia untuk mendampingi dan menghantar sampai di krematorium dengan membatalkan seluruh jadwalnya selama 3 hari. Padahal kita tahu gereja katholik sangat kekurangan romo di dalam pelayanan kepada umat tetapi dia mau membawakan misa arwah selama 3 hari untuk anakku bukankah ini rencana Tuhan yang luar biasa untuk kami?

Sungguh luar biasa dan heran, ALLAH kita yang menyelamatkan dan memanggil kita kembali dengan berbagai cara. Dia telah memanggilku kembali untuk sungguh dan sepenuh hati melayaniNya melalui anakku. Kini tugas anakku di dunia telah selesai dan berbahagia bersama Bapa di Surga. Amin!

Tuhan Yesus selalu mengetuk pintu hati kita, akankah kita membukakan untukNYA masuk dan bertahta didalam seluruh kehidupan kita.



Angga leoputra
Email: betrixcitraregensi@yahoo.co.id

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Kesaksian

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved