Keajaiban Novena St. Antonius


Tanggal 22 Juli 08 akan kembali digelar Novena Besar St. Antonius Padua. Saya ingin menceritakan pengalaman terkabulnya doa saya untuk mendapatkan rumah. Semoga kisah ini meneguhkan mereka yang juga mencari rahmat Bapa melalui novena ini.

Tahun 2007 saya tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur. Tiap sore sepulang kerja saya lewat depan Gereja St. Antonius di Jl Otista tetapi tidak pernah mampir. Hingga satu Senin, 23 Juli 2007 saya mampir. Waktu itu saya sedang gelisah, cemas, bingung, segala macam kekuatiran campur aduk. Persoalan terbesar adalah sebulan lagi saya harus bayar semesteran isteri yang sedang studi Profesi Keperawatan di STIK Sint Carolus sebesar Rp.6.400.000,-. Bulan Oktober dia juga butuh dana cukup besar (Rp 5.600.000) untuk penelitian. Dan yang paling merisaukan adalah November nanti rumah kami habis masa kontraknya. Pemilik rumah meminta kami mengontrak kembali 2 tahunan sebesar Rp 16.000.000,-. Semuanya dibutuhkan dalam waktu hampir bersamaan.

Ini biaya berat bagi seorang guru agama SD seperti saya yang tidak pernah mendapat panggilan les privat, hanya kebagian panggilan pelayanan. Isteri tidak bekerja ditambah kami juga mengasuh anak yang sudah seharusnya masuk TK. Kami putuskan tidak akan menyekolahkannya tahun itu demi prioritas yang lebih penting. Kondisi makin sesak karena saya masih harus bayar cicilan pinjaman yang baru berjalan 2 bulan.

Ketika mampir di Gereja Antonius sore itu, saya melihat jadwal Novena Besar St. Antonius Padua yang dimulai besok. Saya tidak tahu banyak St. Antonius Padua dan belum pernah dengar novena besar ini. Saya hanya pernah dengar orang berdoa melalui St. Antonius ketika kehilangan sesuatu. Saya merasa novena ini tidak ada hubungannya sebab saya tidak kehilangan sesuatu, saya malah membutuhkan sesuatu. Tapi entah mengapa hati saya berkobar melihat jadwal itu. Tidak banyak waktu untuk memutuskan mengikuti selama 9 minggu atau tidak karena sehari lagi novena ini dimulai. Saya pun masuk gereja, memohon bila Ia berkenan tiap selasa saya bisa menghadiri novena ini. Singkat kata, saya keluar gereja dengan hati ringan, persoalan belum selesai tapi saya mendapat jawaban kemana harus mengadukan kekuatiran ini.

Sedikit catatan, keluarga saya sangat senang tinggal di rumah kontrakan itu. Satu rumah yang cukup luas dan bersih, 2 kamar tidur, berAC, ruang makan, ruang depan dan teras yang luas untuk anak bermain. Lingkungan aman, bebas banjir, jauh dari kebisingan kendaraan, akses ke tempat kuliah isteri mudah, relatif bebas macet dan dekat gereja. Saya dan isteri sangat berharap dapat melanjutkan kontrakkan itu, paling tidak sampai isteri selesai kuliah (1,5 tahun lagi). Kalaupun tidak mampu dan harus mencari kontrakan bulanan, kami berharap mendapat tempat yang senyaman rumah itu.

Saya menghadiri novena hingga 18 September 2007. Intensi utama adalah soal rumah. Dalam doa saya mengatakan: "St. Antonius, saya percaya engkau tidak hanya menolong orang yang kehilangan barang, tetapi mau menolong juga yang mengalami kesulitan hidup. Pada akhir novena ini keluarga saya mengalami masalah tempat tinggal. Saya tak tahu harus kemana setelah kontrakan habis, untuk melanjutkan saya tak sanggup. Tapi dengan iman akan Yesus yang hidup saya mohon pertolonganmu, semoga Bapa menunjukkan suatu tempat tinggal yang sesuai kemampuan saya".

Suatu hari di awal Oktober 07, 3 minggu setelah novena berakhir saya menerima telepon dari kenalan lama, seorang anak pendeta. Isteri saya pernah menjadi anak angkat dalam keluarga ini waktu belum menikah. Setelah 6 tahun bertugas di luar kota dan kembali lagi ke Jakarta, kami tidak lagi mengunjungi keluarga ini. Bahkan 3 tahun terakhir putus kontak sama sekali baik telepon maupun SMS. Anak ini mengatakan menemukan nomor HP saya "secara ajaib". Pembicaraan sangat singkat waktu itu. Dia hanya berpesan pada libur lebaran kami diundang ke rumah mereka. Saya menanggapi dengan senang hati karena libur tahun itu kami tidak rencana kemana-mana.

Keluarga ini telah beberapa kali pindah rumah karena tugas bapak pendeta berpindah-pindah. Menurut cerita si bungsu, ketika sedang menata barang-barang, ia menemukan buku telepon. Inilah keajaiban pertama itu. Ia membukanya dan menemukan nomor HP saya yang masih aktif dan langsung menghubungi saya. Tak disangka kisah ini menjadi saat yang paling membahagiakan dan penuh keajaiban. Mulai dari terjalinnya kembali relasi kekeluargaan sampai keajaiban terkabulnya novena saya.

Seminggu kemudian pada libur lebaran, kami mengunjungi mereka. Hanya ada dua anak pendeta di rumah. Mereka bercerita bahwa setelah si bungsu hampir selesai kuliah, bapak pendeta memiliki simpanan uang lalu membeli tanah dan membangun rumah ini. Tetapi baru selesai dibangun, bapak pendeta malah pindah tugas ke Surabaya.

Kami datang awalnya ingin bertemu kedua anak ini saja. Ternyata disitulah keajaiban berikutnya terjadi: berkat Tuhan melalui St. Antonius tercurah pada keluarga saya. Mereka mengatakan sedang mencari orang untuk tinggal dan merawat rumah ini. Pernah ada yang tinggal tetapi tidak merawat rumah dengan baik. Keluarga pendeta tahu isteri saya cukup telaten merawat rumah, tetapi mereka tidak berpikir akan menemukan kami sampai pada pertemuan hari itu dan tidak menyangka sekarang kami pun sangat-sangat membutuhkan tempat tinggal.

Tak henti-hentinya saya bersyukur. Sungguh suatu keajaiban. Saya sampai tertegun ketika si bungsu mengatakan bahwa mereka, termasuk bapak dan ibu sangat senang bila kami mau menempati rumah ini. Spontan saya teringat novena St. Antonius yang baru selesai sebulan. Kegundahan tentang tempat tinggal sampai pada titik antiklimaks. Kecemasan dan keresahan kini berganti bahagia dan kagum akan penyelenggaraan Tuhan.

Tuhan mengatur semuanya begitu rapi dan indah. Ia menunjukkan suatu tempat tinggal tidak hanya persis seperti yang kami harapkan. Rumah ini lebih dalam segala hal. Rumah yang bersih dan luas plus baru, ada 3 kamar tidur dan 1 kamar pembantu. Kompleks yang nyaman dan bebas banjir. Ke tempat kerja, kini saya hanya menempuh setengah perjalanan dibanding rumah sebelumnya. Dekat rumah ada sebuah TK modern, anak saya jalan kaki ke sekolah dan ia dapat keringanan biaya karena masuk saat tahun ajaran telah bergulir. Dan yang paling membahagiakan, kami boleh menempati rumah ini sampai bapak pendeta selesai bertugas di Surabaya. Itu artinya masih 4 tahun lagi atau 9 tahun bila periode tugas di Surabaya diperpanjang.

Waktu itu saya hanya memandang Tuhan dan merasakan kuasa keajaiban kasihNya yang tercurah pada kami di saat yang tepat. Saya juga terpana pada pribadi St. Antonius yang begitu mengagumkan. Ini bukan mimpi, saya benar-benar mengalami pertolongan Orang Kudus ini. Syukur padaMu Bapa dan terima kasih St. Antonius, bagaimana saya membalas pertolonganmu ini? Hanya itu yang dapat saya ucapkan.

Sungguh bisa diandalkan Bapa yang kita imani. Ia benar-benar membuka jalan ketika saya mengalami kesulitan. Bahkan Ia memberi lebih dari yang saya pikirkan. Ketika saya meresahkan kontrakan rumah, Ia menunjukkan rumah titipan orang tetapi saya menempatinya tanpa merisaukan biaya kontrakan untuk sekian lama. Ketika saya mengidamkan rumah yang nyaman dan layak, Ia menunjukkan bukan hanya yang nyaman dan layak, juga tepat dan strategis. Situasi yang tidak pernah saya bayangkan. Semuanya hanya bisa terjadi dalam nama Tuhan. Maka bila orang mengatakan Tuhan memberi pertolongan tepat pada waktunya, saya berani memberi kesaksian BILA KITA BERSERU DALAM NAMA TUHAN DAN IA BERKENAN, MAKA PERTOLONGANNYA TERJADI LEBIH DARI YANG KITA HARAPKAN. Terpujilah Tuhan bersama para kudusNya!

T.Lukman
tlukman14@yahoo.com



T. Lukman
Email: tlukman14@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Kesaksian

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved