Mukjizat Maria Medali Wasiat Yang Saya Alami


MUKJIZAT MARIA MEDALI WASIAT YANG SAYA ALAMI

1. Pengantar:
Saya ingin mensharingkan penglaman saya dalam website Pondok Renungan. Pengalaman saya akan Allah melalui ‘Bunda Maria Medali Wasiat’. Saya adalah imam ‘Lazaris’ atau di Indonesia lebih dikenal dengan CM atau Congregatio Missionis (bhs. Indo. Kongregasi Misi).

Kongregasi kami didirikan oleh S. Vinsensius. Di samping itu S. Vinsensius a Paulo juga mendirikan Serikat Putri Kasih atau PK. Karena PK dan CM didirikan oleh pendiri yang sama hubungan kedua serikat ini bagikan saudara dan saudari dari orang tua yang sama. Berkat yang diterima oleh CM juga merupakan berkat untuk PK, demikian juga sebaliknya. Pada tanggal 27 November 1830 Tuhan memberkati serikat PK dengan penampakan Maria kepada S. Katarina Laboure di kapel rumah induk suster PK di Paris, Prancis. Beberapa waktu kemudian setelah tersebarnya “Medali Wasiat” yang dibuat berdasarkan penampakan tersebut dalam keluarga Vinsensian muncul tradisi untuk menghormati Bunda Maria Medali Wasiat dalam bentuk novena abadi yang didoakan setiap saat atau berkala dan juga novena 9 hari yang didoakan pada bulan November menjelang perayaan Maria Medali Wasiat.

2. Riwayat Singkat Medali Wasiat:
Pada hari Rabu, 21 April 1830, Katarina sampai di Paris dan diterima di Novisiat PK, di jalan Rue de Bac 132. Rumah sangat besar itu dihuni oleh 150 suster dan novis. Jumlah novis sendiri melebihi 100 orang. Beberapa hari setelah masuk Novisiat, Katarina dapat menyaksikan peristiwa besar di Paris, yaitu perarakan pemindahan jasad S. Vinsensius dari Gereja Katedral ke Gereja Saint-Lazare, rumah induk para romo CM.
Upacara keagamaan itu dipimpin oleh utusan Paus dan disaksikan oleh Raja Charles X dan massa besar umat Katolik. Perarakan itu dilaksanakan pada tanggal 25 April 1830. Malam menjelang hari raya S. Vinsensius (pada waktu itu dirayakan pada 19 Juli), mulailah pengalaman-pengalaman rohani paling istimewa bagi Katarina.
Pada sore hari tanggal 18 Juli 1830, Sr. Marta memberi informasi kepada para novis mengenai S. Vinsensius. Topik pengajaran waktu itu ialah, devosi sang pendiri kepada Perawan maria. Pada saat pergi tidur Katarina yakin bahwa ia akan memperoleh rahmat khusus dari bunda Maria. Pada jam 23.00, Katarina dibangunkan oleh seorang anak kecil dan diantarkan ke kapel. Dalam perjalanan, anak itu menyinarkan cahaya. Di kapel, semua lampu sudah menyala. Setelah menunggu agak lama, anak itu berkata: “Perawan Maria datang, lihatlah!” Maria datang dan duduk di satu kursi dekat altar. “Saya tidak mampu mengungkapkan perasaan saya dan apa yang terjadi dalam diriku saat itu. Saya melihat Bunda Maria.” Setelah didesak oleh anak kecil itu, Katarina melompat dan berlutut di kaki altar, sambil meletakkan tangan dipangkuan Perawan tersuci. Itulah saat yang paling menyenangkan di dalam hidupku. Akhirnya, Bunda Maria meninggalkan Katarina, yang kembali ke kamarnya dengan tetap diantarkan anak kecil itu.

Pada tanggal 27 November 1830, Maria menampakkan diri lagi kepada Katarina. Hari itu Katrina diliputi keinginan besar untuk melihat Maria lagi. Pada sore hari, sekitar pk. 17.30, ketika melakukan meditasi di kapel bersama dengan teman-temannya, Katarina melihat Maria berdiri di depannya dengan lurus ke bawah dan tangannya terbuka. Dari tangnya terpancarlah sinar-sinar. Katarina mendengar suara: “Sinar ini melambangkan rahmat yang diperoleh Maria bagi manusia yang memohonnya.” Maria dikelilingi tulisan: “Maria yang terkadung tanpa cela, doakanlah kami yang berlindung kepadamu.”
Setelah beberapa waktu, penglihatan berubah. Katarina melihat Salib di atas huruf M dan di bawahnya ada dua hati yang dikelilingi bintang-bintang. Maria menyampaikan juga pesan berikut ini: “Harus dibuat suatu medali yang sama dengan model yang kaulihat. Semua orang yang mengenakan medali ini dan mengucapkan doa singkatnya, akan memperoleh perlindungan Kristus melalui Bunda Allah.”
Setelah beberapa waktu, Katarina menyampaikan keterangan tambahan: “Maria tampak juga dengan tangan terarah ke atas sambil memegang semacam bola yang menggambarkan bumi”, seakan dunia dipersembahkan kepada Tuhan.
Pada jari-jarinya kelihatan cincin yang dihiasi bermacam-macam permata yang sangat indah. Beberapa di antara permata itu tidak memancarkan sinar. Dan itu melambangkan rahmat yang tidak disampaikan kepada manusia karena tidak ada yang memintanya.

Setelah beberapa hari, Katarina melaporkan penampakan baru itu kepada Rm. Aladel (pembimbing rohaninya), yang menjawab demikian: “Fantasi belaka!” Bila suster mau menghormati Maria, hayatilah keutamaan-keutmaannya dan waspadalah terhadap khayalan. Pesan kasar itu memberi pukulan berat kepada Katrina. Namun dia merasa damai, karena sudah melakukan perintah Maria. Dan sekarang dia mencoba melaksanakan perintah pembimbing rohaninya. Namun bunda Maria tidak tunduk kepada Rm. Aladel. Pada bulan Desember berikutnya, di tempat dan jam yang sama, Maria menampakkan diri lagi kepada novis PK itu, persis seperti pada penampakan sebelumnya. Katarina mendapat pesan ini: “Engkau tidak akan melihat aku lagi; tetapi selama meditasi engkau mendengar suara saya.” Di tengah bermacam-macam kesibukan dan keprihatinan, Katerina tidak melupakan pesan-pesan yang telah diterima dari Bunda Maria, khususnya mengenai medali. Sebetulnya, pesan itu sudah disampaikan kepada Rm. Aladel dan kita sudah tahu tanggapan pembimbing rohaninya. Katarina merasa sudah melaksanakan perintah Maria. Tetapi suara bunda Maria bergema di dalam hatinya dan mendesak dia untuk segera bertindak.

Pada bulan Mei 1831, Katarina memberanikan diri lagi menyampaikan pesan Maria kepada Rm. Aladel, dalam kesempatan pengakuan dosa. Tetapi tanggapan pembimbing rohaninya itu tetap sama: Jauhkanlah segala fantasi! Setelah beberapa bulan terdesak oleh suara sang Bunda, Katarina mencoba lagi, malah mengatakan kepada pembimbingnya bahwa bunda Maria bersedih karena pesannya tidak dihiraukan. Kali ini Rm. Aladel menanggapinya dengan lebih serius; malah pesan itu dibicarakan dengan Rm. General CM dan bapa uskup. Ternyata pimpinan CM dan Uskup tidak berkeberatan. Uskup berkata: “Tidak ada halangan apa pun untuk membuat medali itu, karena maknanya sesuai dengan ajaran Gereja”.

Pada bulan Maret 1832 medali dikerjakan oleh tukang emas bernama Vachette. Pada bulan Juni berikutnya, 1500 medali sudah siap dan Uskuplah yang pertama-tama menerima sutu medali. Katarina sendiri menerimanya pada awal Juli, dengan komentar: “sekarang perlu disebarluaskan!¨ para suster PK mulai menyebarkan medali dimana-mana. Dan dimana-mana terjadilah hal-hal yang ajaib berkat medali itu: banyak orang sakit menjadi sembuh, khususnya pada waktu daerah Paris diserang wabah kolera; juga banyak orang berdosa bertobat. Dari mana-mana, Saint-Lazare, rumah induk CM di Paris, yang menjadi pusat penyebaran medali itu, dibanjiri permintaan medali dan permintaan keterangan mengenai sejarahnya. Dibanjiri pula suart-surat yang melaporkan mukjizat-mukjizat yang telah terjadi.

3. Pengalam pribadi:
Setidaknya ada tiga pengalaman besar dalam pribadi saya berkenaan dengan Medali Wasiat. Pengalaman pertama saat saya bertugas di paroki Nanga Pinoh, Kalimantan Barat. Waktu persinya saya lupa (mungkin sekitar Agustus 1997). Sekitar jam 11.00 sepasang pasutri tergopoh-gopoh datang ke pastoran. Mereka dari jauh sudah berteriak; “pastor, pastor, anaknya Bp. Tejo tengelam, anaknya Bp. Tejo tenggelam” (Nb: Bp. Tejo adalah mantri kesehatan yang bekerja di rumah untuk orang sekarat yang dikelola oleh CM dan Sr. ALMA, dia juga sekaligus umat paroki Pinoh). Waktu itu spontan saya menjawab: “saya tidak bisa berenang”. Mereka juga spontan menjawab: “pastor berdoa, pastor bedoa!!!”. Saya pergi ke gereja di depan patung bunda Maria Medali Wasiat saya memohon mukjizat terjadi, saya nyalakan sebuah lilin dan setelah itu saya pergi ke sungai Pinoh dimana anak itu tenggelam. Sudah bukan rahasia lagi bagi kami yang tinggal di Kalimantan, bahwa kalau ada orang tenggelam dalam sungai, itu berarti tidak ada harapan lagi dan jazatnya baru akan diketemukan 2 atau 3 hari berikutnya.

Waktu saya datang ditepi sungai sudah banyak orang ada di sana, Bp. Tejo dan isitri menangis meraung-raung. Di tangan saya ada segenggam Medali Wasiat, saya minta orang-orang yang menyelam untuk mencari anak usia 7 th itu menaburkan medali di tempat anak itu tenggelam. Mukjizat terjadi, walau dalam keadaan mati anak itu muncul tidak lama setelah Medali Wasiat ditaburkan di sungai. Waktu itu hampir semua penduduk asli tidak percaya, sebab sudah lazim kalau orang tenggelam pasti akan muncul 2 atau 3 hari berikutnya, tetapi saat ini lilin yang saya nyalakan di gereja belum habis anak itu sudah muncul.

Pengalaman kedua ialah ketika saya selamat dari kecelakaan mobil pada bulan Maret tahun 2002 yang lalu. Saat itu saya menghantarkan bibi saya yang adalah seorang suster ke kota Taitung (60 km dari tempat saya bekerja di Taiwan). Pulang dari Taitung saya sendirian mengendarai mobil itu. Entah bagaimana saya tidak merasakan apa-apa lagi dan ketika mata terbuka mobil saya sudah berada di depan tiang listrik yang besar. Mobil itu sendiri sekarang menjadi barang rongsokan sebab mesinnya begitu menabrak tiang listrik langsung anjlok. Saya sendiri mengalami perawatan sekitar 3 bulan. Satu hal yang saya tak akan lupa, ialah di dalam mobil itu, tepatnya di deskboardnya terdapat patung kecil Bunda Maria medali Wasiat. Dan saya yakin tangan Bunda Maria yang terbuka itulah yang melindungi saya. Melihat kerusakan mobil banyak orang mengira saya sudah di alam yang lain.

Pengalaman ketiga ialah baru saja terjadi tanggal 27 November 2002 yang lalu. Sebagai anggota CM saya punya kewajiban moril untuk membagikan kekayaan rahmat Medali wasiat kepada umat. Maka sejak saya bekerja di Taiwan, setiap bulan November di paroki saya berada kami mengadakan novena Medali Wasiat. Karena waktu sangat terbatas maka kali kami hanya mengadakan Triduum saja. Pada hari pertama dan kedua tidak ada masalah dengan Medali sebab masih cukup persedian untuk dibagikan ke umat. Tetapi untuk hari ketiga, saya tidak punya lagi. Habis sama sekali. Saya pulang kerumah komunitas dan meminta kepada beberapa romo CM kalau-kalau mereka masih punya persediaan, ternyata mereka juga tidak mempunyainya lagi. Sekembali dari rumah komunitas yang berjarak dua setengah jam naik KA, saya kembali ke pastoran tempat saya tinggal untuk menyiapkan misa Triduum hari ketiga. Katika sampai di pinta pastoran saya melihat ada bungkusan paket dari CM Belanda, dan ketika saya buka ternyata isinya 2000 buah medali, saya langsung meloncat dan berteriak senang. Mukjizat terjadi! Saya tidak mengira mendapatkan pada hari saya membutuhkan sekali Medali itu. Beberapa waktu sebelumnya saya memang menulis surat kepada 2 intansi di Belanda untuk meminta barang-barang devosionalia, tetapi saya tidak menyebutkan kalau saya minta Medali Wasiat. Dan anehnya ketika saya buka bungkusan paket itu ternyata isinya Medali wasiat dan gambar Maria dari Medali Wasiat.

Inilah sharing sederhana saya. Saya tidak punya pengalaman rohani yang mistik atau khusus. Pengalaman saya hanya biasa-biasa saja, sebagaimana saya sebagai pastor paroki desa seperti sekarang ini. Davis, inilah sharingku dan hutangku kepadamu. Saya minta maaf kalau bahasa Indonesia saya kurang memenuhi standart.

Terima kasih banyak untuk David yang memberi saya kesempatan menuliskan sharing ini.

“YA MARIA YANG TERKANDUNG TANPA CELA, DOAKANLAH KAMI YANG BERLINDUNG KEPADAMU.” 3x

Cerita tentang S. Katarina saya ambil dari buku:
Sahabat-sahabat Tuhan dan Orang Miskin oleh Rm. S. Ponticelli CM dan Rm. Armada Riyanto CM.
Ada buku lain yang cukup bagus dan menarik ialah: A Light Shining on the earth, The Message of the Miraculous Medal, editions du signe.

Shallom...



rm. alloy budi cm
Email: tjoasenfu@hotmail.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Kesaksian

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved