Betapa Bodohnya Aku!


Aku adalah seseorang yang suka membuat rencana. Kalau tidak ada rencana, rasanya aku berjalan tanpa arah. Rencanaku juga tidak hanya satu, tetapi ada Plan A, Plan B, dst.

Kadang aku juga suka membaca Kitab Suci dan menemukan ayat-ayat yang berkesan. Salah satunya adalah Yesaya 55:8-9 “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu”. Jadi aku menyadari bahwa meskipun aku punya banyak rencana, namun BAPA punya rencana lain untukku yang belum aku sadari atau pun aku mengerti.

Selama ini kujalani hidupku dengan rencana-rencanaku. Kalaupun ada rencanaku yang tidak berjalan sesuai yang kuharapkan pada akhirnya aku menyadari bahwa BAPA memberikan yang lebih baik daripada yang kurencanakan.

Sampai akhirnya ada satu rencanaku yang “berantakan”dan aku berusaha keras agar rencanaku itu dapat berjalan. Tetapi semakin keras aku mencoba memperbaikinya, semakin berantakan rencanaku itu, sehingga aku benar-benar sedih karenanya. Aku menyadari bahwa mungkin yang aku rencanakan tersebut bukan rencana BAPA, tetapi aku masih selalu meminta kepadaNYA agar rencanaku yang satu ini suatu hari nanti dapat terlaksana. Saat itu benar-benar susah untuk berpasrah pada kehendakNYA, sehingga aku sering bertanya-tanya “Apa rencana TUHAN dalam hidupku?”.

Pertanyaan ini masih muncul setelah tahun berganti tahun dan apa yang kurencanakan dulu tetap tidak terjadi. Sampai suatu hari dalam kamar pengakuan dosa, seorang pastor memberikan ayat baru untukku agar aku dapat benar-benar menerima rencanaNYA, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.“ (Yeremia 29:11). Meskipun demikian, masih tetap sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa rencanaku itu sudah gagal total….

Waktu terus berlalu, suatu hari aku mendengar akan ada rombongan dari kotaku untuk mengikuti Retret Awal di Pertapaan Karmel. Kebetulan ada teman kantor yang pernah ikut, dan ia mendorongku untuk pergi mengikuti retret tersebut.

Akhirnya aku mengikuti retret itu. Sesi demi sei berlalu, tapi rasanya tidak ada kesan yang mendalamdari retret ini. Rasanya masih ada yang mengganjal meskipun seluruh sesi sudah kuikuti dan tinggal misa “penutup” pada hari Minggu pagi.

Ternyata Bacaan Pertama dalam misa itu diambil dari Yesaya bab 55, termasuk ayat yang aku suka di atas. Namun yang aku dengar dalam misa tersebut lain dari apa yang pernah aku baca, sampai-sampai aku membuka Kitab Suciku untuk meyakinkan apakah aku tidak salah dengar? Yang aku baca di sana tentu saja seperti yang aku kutip di atas, tapi aku yakin bahwa tadi aku mendengar “….demikianlah jalanKu LEBIH AGUNG dari jalanmu…”. Saat itu baru aku menyadari bahwa aku telah begitu bodoh selama ini… Sungguh bodoh bahwa aku telah menolak rencana TUHAN yang lebih agung dari rencanaku, dengan terus berkutat pada rencanaku itu dan tidak membiarkan TUHAN melaksanakan rencanaNYA.

Jadi dalam doa sesudah komuni aku berdoa kepadaNYA bahwa aku benar-benar bodoh telah menolak rencanaNYA, menyesali hal tersebut dan mohon ampunanNYA. Setelah penerimaan komuni ternyata ada sesi adorasi, yaitu ajakan biarawan/biarawati Karmel untuk menghormati Sakramen Maha Kudus dan memuji TUHAN. Setiap umat diperbolehkan untuk mengungkapkan rasa hormatnya dengan sikap atau caranya masing-masing. Jadi aku mengambil sikap berlutut, membuka kedua tanganku (seperti saat menyanyikan BAPA KAMI dalam misa) dan mulai berdoa.

Selama adorasi tersebut beberapa biarwan/biarawati Karmel menyerukan nubuat-nubuat untuk banyak orang yang hadir dalam Misa tersebut. Dan sementara aku berdoa, aku mulai merasakan jari kelingking kiriku “kesemutan”, yang lama-lama menjalar ke siku. Lama kelamaan aku merasakan tanganku bergerak dengan sendirinya, seolah ada yang membimbingnya untuk menelungkupkan tanganku, kembali terbuka, begitu seterusnya. Ada pembicaraan di antara peserta retret, bahwa itulah tanda-tandanya kalau Roh Kudus bekerja. Jadi aku begitu terharu dan berhenti untuk berdoa mengucap syukur. Aku merasa bahwa doaku sesudah komuni tadi berkenan kepada BAPA, karena kejadian yang baru saja aku alami itu.

Sesudah berdoa aku kembali mengambil sikap seperti tadi. Tak lama kemudian, kembali terasa ada yang menggerakan tanganku, jadi aku ikuti saja, percaya bahwa Roh Kudus sendirilah yang bekerja. Lama kelamaan tanganku terangkat ke atas kepala, kembali ke depan dada. Begitu seterusnya berlangsung selama adorasi tersebut dan aku tetap dapat mendengar berbagai nubuat yang diserukan. Menjelang usainya adorasi tersebut aku berusaha menghentikan gerakan tanganku dan kembali berdoa mengucapkan syukur kepada BAPA atas pengalaman iman yang boleh aku terima pagi itu.

“Terima kasih TUHAN karena Engkau tidak membiarkan aku pulang dari retret ini tanpa kesan, namun Engkau membuatku sadar bahwa selama ini aku telah berdosa kepadaMU karena menolak rencanaMU yang agung itu.”

Sekarang aku mencoba untuk membiarkan segala sesuatunya berjalan dalam bimbinganNYA, sesuai rencanaNYA dan tidak lagi ngotot untuk memaksakan rencanaku sendiri.



Brigitta Elizabeth
Email: noviyanti@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Kesaksian

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved