lidah - lidah kehidupan


Bibir mengatup penuh makna dan arti koar kata melebar dalam perjalanan.
Menempuh hari dan waktu dengan sejuta rasa yang tercipta.

Hari esok mungkin tak lagi bersahabat meski hari ini begitu bersahabat dengan harapan.
Lalu dengan setiap kata kita bisa mendapatkan apa yang kita ingin.
Meski kita tahu jalan ini bukanlah jalan keutamaan yang sejati.

Dengan santainya kita berkata untuk apa kita pedulikan orang lain, bila hidup ini penuh dengan tikaman-tikaman lidah-lidah kehidupan.

Bukankah kita lebih baik memikirkan diri kita sendiri demi terwujudnya keinginan-keinginan dunia.
Lalu apalah artinya sebuah nurani yang terwujud dalam hati.

Akankah kita berdiam diri dengan mereka mereka yang tertindas dan terbuang.
Lihatlah mereka, dengar jerit mereka rasakanlah kepedihan hati mereka.

Di manakah nurani kita sebagai lidah-lidah kehidupan yang mampu untuk mengecap serta merasakan semua perjalanan hidup.

Matikah rasa kita akan semuanya ataukah kita hanya mencari kesenangan kita sendiri, serta mencari untung dan rugi.

Ah betapa dunia kita begitu rapuh tanpa ada empati bagi mereka yang tertindas oleh karena tirani.



ignatius suparyanto
Email: luka_igna @yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Puisi

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved