Selamat Jalan dan Selamat Datang


Temanku... tiga ratus enam puluh lima hari telah kita lalui bersama. Kita membagi duka secara bersama-sama, dan tak pernah berpisah saat mencicipi setiap detik kebahagiaan. Engkau memahami setiap derap langkahku selama masa waktu yang demikian. Engkau tahu saat kapan ketika aku seakan terbang di angkasa biru ketika rejeki keberuntungan memihaki diriku. Engkau juga tahu saat-saat ketika aku mendekam dalam kesendirian di kamarku, ketika bantalku menjadi teman yang setia menghapus tetes-tetes air mataku. Itulah saat ketika duniaku seakan gelap. Itulah saat ketika hidupku terasa pahit. Namun engkau pasti akan memberikan kata-kata protes bahwa dalam masa waktu di atas, lebih banyak berkat dan anugerah yang harus disyukuri dari pada bayang-bayang kegelapan yang selayaknya ditinggalkan. Terimakasih karena engkau telah mengingatkan aku.

Masih teringat ketika kita bersama-sama memulai perjalanan ini. Saat itu aku dilanda kebingungan maha dalam. Ketika itu aku dipenuhi keraguan; Apa yang akan terjadi di jalan yang akan aku lalui? Dunia yang terbentang di hadapanku seakan sebuah kertas putih tanpa bekas, dan aku harus melewatinya sambil meninggalkan jejakku sendiri. Aku takut kalau-kalau jejak yang aku ciptakan merusak indahnya dunia yang tak ternoda itu. Aku enggan melangkah. Namun kata-katamu meneguhkan aku, bahwa engkau akan berjalan bersamaku sampai batas akhir yang telah ditentukan.

Kini ketika kakiku berpijak pada titik akhir itu, aku membalikan badan sekedar melihat tapak-tapak yang tercipta di masa silam. Sayup-sayup terdengar suaramu: "It is not the happy people who are grateful, it is the grateful people who are happy." Dan tapak-tapak itu sungguh seakan sebuah syair yang mengingatkan aku untuk berterima kasih. Terima kasih temanku. Terima kasih karena engkau telah berjalan bersama aku. Terima kasih karena aku telah dijadikan berani untuk menciptakan jejak di atas kertas putih itu. Terima kasih karena sebuah sejarah dalam hidupku kini telah terpatri, dan aku tak akan pernah menyesal karena telah melewati setahun lagi.

Dan... sebelum aku memberikan rangkulan pisah, engkau telah membalikan badanmu dan bergerak menjauhi diriku. Aku tahu bahwa saat itu akan datang, bahwa engkau akan menghilang selamanya dari hadapanku, dan seorang pendamping yang baru akan berjalan bersamaku. Aku tahu bahwa tiga ratus enam puluh lima hari akan menjadi sebuah kenangan. Walau aku tak ingin melepaskan genggaman tanganmu, namun aku harus berani menerima kenyataan ini demi sebuah cita di masa datang. Walau engkau pernah berkata; "Aku tak akan mengucapkan salam pisah karena aku tahu, engkau ada di hatiku", namun aku tetap akan berkata: "Selamat Jalan Temanku 2007." Kini aku menanti dengan penuh debar kedatangan pendamping baru, seorang malaekat baru, sebuah tahun yang baru. "Selamat Datang Temanku yang Baru, Tahun 2008."



Tarsis Sigho - Chicago
Email: sighotarsi@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Renungan

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved