Ahh aku dicuri lagi...


Rasanya kesal, rasanya ingin mengeluarkan sumpah serapah saat aku kehilangan sesuatu yang aku sayangi. Apalagi sesuatu itu adalah memiliki kesan yang dalam, terlalu banyak nilai yang tidak hanya bisa dihitung dengan satuan Rupiah. Tapi dengan seenaknya, ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab mengambil sesuatu yang berharga itu dari padaku. Ya saat aku tidak waspada, dengan seenaknya dia mengambil yang menjadi milikku, hakku, kepunyaanku. Dalam hitungan detik telah terjadi pertukaran kepemilikan, padahal aku tidak pernah mengizinkannya untuk mengambilnya dariku.. Tapi kata Tuhan aku harus mengampuni, aku harus mengasihi musuhku.. Tuhan rasanya sulit, rasanya rasa marah itu lebih besar daripada kasih yang menutupi segalanya.

Mungkin itulah sedikit gambaran bagaimana hati kita menjadi tidak karu-karuan, saat kehilangan "sesuatu yang berharga dalam hidup kita", tidak hanya materi, tapi bisa juga orang-orang yang kita cintai, kita kasihi, sahabat, semuanya. Ya, semua yang ada dalam dunia ini bisa hilang begitu saja, dalam hitungan detik, bahkan mili detik.

Sejenak aku merenung, saat kehilangan sesuatu yang berharga yang disebabkan oleh keteledoranku sendiri saja, aku tidak bisa tidur semalam-malaman. Tapi bagaimana, seandainya yang aku sia-siakan adalah keselamatan yang sudah Tuhan kasih ke semua manusia secara gratis?? (Tuhan berkata "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan"), pasti penyesalan itu akan tidak pernah ada ujungnya saat kita menyia-nyiakan keselamatan itu.

Ternyata, dalam segala sesuatu pasti selalu ada pelajaran yang indah, yang dapat aku tarik, toh walaupun aku rugi secara materi, tapi ternyata aku masih dapat belajar suatu pelajaran yang sangat berharga, ya hidupku sangat berharga sampai Tuhan rela mati untukku.. Jangan sampai kita frustasi karena kehilangan sesuatu yang berharga, karena hidup kita lebih berharga dari apapun, karena Tuhan sangat mengasihi kita..

GBU..



Deborah
Email: care_girl_bogor@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Renungan

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved