MENGAMPUNI


MENGAMPUNI
Matius 18 : 21-35

"Forgiveness has opened the doorway to my own love". Kalimat ini terambil dari sebuah buku mungil karya Louise L. Hay yang berjudul "Loving Thoughts for Loving Yourself". Ketika membacanya, saya diingatkan kepada sebuah pengampunan agung yang Kristus berikan melalui kematian-Nya di Kalvari. Pengampunan yang lahir dari kasih-Nya yang teramat besar bagi kita. Jadi benarlah, cinta sejati selalu mampu membuahkan pengampunan.

Saudaraku, juga ada sebuah buku bertema sama, yang berjudul "The Wednesday Letters" karya Jason F. Wright, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gagasmedia . Dikisahkan dalam buku tersebut tentang seorang isteri yang diperkosa oleh seorang mekanik yang sedang mabuk. Isteri tersebut hamil dan dia bersikeras mempertahankan kandungannya. Hati sang suami terluka. Kebencian dan kegetiran memenuhi hidupnya. Namun akhirnya dengan pertolongan Tuhan, suami ini bersedia mengampuni sang pemerkosa setelah melewati pergumulan panjang:

-Karena akhirnya dia menyadari bahwa dia juga tidak sempurna.
-Karena dia berpikir tentang cinta yang telah Yesus Kristus bagikan kepadanya di atas salib di Kalvari.
-Karena dia belajar dari isterinya yang telah terlebih dahulu bersedia mengampuni sang pemerkosa.
-Karena dia berharap bahwa sang pelaku kejahatan tersebut akan mendapat kesempatan untuk bertobat, untuk menemukan kembali Sang Juru Selamat.

Saudaraku, kalau kita membaca dengan seksama Matius 18 : 21-35, kita bisa menyimpulkan bahwa memang tidak mudah menjadi anak-anak Tuhan. Dilukai atau disakiti, harus bersedia mengampuni. Tidak boleh membalas, tidak boleh mendendam, tidak boleh membenci. Mengampuni pun tidak hanya sekali. Harus sampai "tujuh puluh kali tujuh kali" ( Matius 18 : 22 ). Itu artinya mengampuni dengan tuntas tas tas´┐Ż Tak boleh lagi mengungkit-ungkit dengan sengit. Tak boleh juga mengingat-ingat sambil mencibir dan mendramatisir. Bahkan ada tafsiran yang seakan memberi "ancaman", yaitu jika kita tidak mau mengampuni orang lain, maka Allah akan menarik kembali pengampunan yang Ia telah beri kepada kita, seperti tercantum dalam Matius 18:35, "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu".

Saudaraku, kini tiba saatnya bertanya kepada diri sendiri, "Sudahkah aku mengampuni sesamaku yang pernah melukai hatiku atau mengacaukan hidupku? Apakah pengampunan yang kuberikan adalah pengampunan yang tuntas atau masih bersyarat? Apakah pengampunanku hanya sebatas yang terucap di bibir, sementara hatiku masih menyimpan dendam kesumat?"

Sesungguhnya, orang yang paling bisa mengampuni adalah orang yang sudah menerima pengampunan, yang merupakan pencerminan kasih Allah yang sangat dalam.
***



sisilia lilies
Email: sisilia_lie2001@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Renungan

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved