ANGIN BERUBAH


Angin berhembus dengan kencang. Siang dengan langit yang kelam. Dan gerimis jatuh menitik. Seekor kucing kecil nampak tertidur. Sayup-sayup terdengar nyanyian Susan Wong. Dunia terasa damai. Dan hati terasa tenang. Apa yang harus kucari untuk menyelami makna kebradaanku, selain dari menikmati apa yang ada. Daun-daun palem di depanku nampak melambai-lambai. Seakan tak peduli pada kerusuhan yang terjadi. Bumi nampak diam. Langit nampak diam. Segalanya nampak ada tapi tak ada. Suara Suzan Wong sayup-sayup sampai. Angin Berubah.

Siapakah aku? Siapakah dia? Siapakah kau? Siapakah kita? Apa artinya pengalaman yang sedang kita alami saat ini? Adakah hidup sungguh hanya menunda kekalahan, seperti kata Chairil Anwar? Sungguhkah tak ada sesuatu pun yang dapat kita lakukan dalam mengalami keberadaan kita di dunia ini? Lalu apa artinya kita? Apa artinya kita harus ada, mengalami, merasakan dan memikirkan segala sesuatu jika pada akhirnya semua akan berlalu? Bukankah pada akhirnya segalanya akan menjadi sia-sia belaka? Pada akhirnya toh, kita akan takluk pada usia, kita akan takluk pada penyakit, kita akan takluk pada ketak-mampuan fisik kita untuk meng-abadi. Lalu setelah ini usai, akan kemanakah kita? Kemana? Angin Berubah, lirih suara Susan Wong. Ah....

Aku melihat ke atas, langit kelam. Aku melihat ke daunan palma yang melambai-lambai. Aku melihat ke kucing cilik yang sedang tertidur lelap. Aku melihat gerimis yang jatuh merintik di siang yang merambat pelan dalam waktu. Dan kurasakan sepi datang, menghampiri jiwaku sambil berbisik: Semuanya berubah. Perlahan tetapi pasti, semuanya akan berubah. Dan memang, waktu tak pernah akan berhenti. Dia akan melewati bahkan keberadaan kita semua. Saat nanti, saat kita tak lagi berada di sini, saat kita tak lagi mampu merasakan semua ini, saat kita tak lagi dikuasai perasaan dan tak bisa lagi memikirkan segala hal yang mengganggu hati kita, dia akan tetap berjalan dalam suatu kepastian menuju ujung yang amat sangat jauh. Sangat jauh.

Angin Berubah, bisik nyanyian indah dari Susan Wong. Angin berubah dan aku pun berubah. Kita semua akan berubah. Tidakkah titik-titik gerimis yang turun di siang hari ini, susul menyusul, saling bergantian dan tak pernah sama? Damai terasa indah. Damai terasa menyelinap masuk ke dalam hatiku saat kusadari betapa sianya segala pengejaran hasrat, ambisi dan nafsu kita. Segala kebebalan kita untuk mempertahankan keinginan-keinginan kita. Angin Berubah. Hidup Berubah. Aku Berubah. Kita semua akan berubah. Tidakkah demikian adanya kita semua? Tidakkah demikian?

A. Tonny Sutedja



A. Tonny Sutedja
Email: tonny_sutedja@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Renungan

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved