MARI PERGI KE SARANG SERIGALA


Sungguh menarik sekaligus menggelitik bahwa Yesus menggunakan metafora domba (Lukas 10:3 memakai anak domba), serigala, ular dan merpati dalam wejangan-Nya ketika mengutus para murid.

Di hadapan serigala, domba (apalagi anak domba) adalah mangsa yang sangat lemah tidak punya daya kekuatan untuk membela diri. Serigala akan sangat mudah menerkamnya tanpa bersusah payah bertarung dengan si domba. Itu logika serigala berhadapan dengan domba (anak domba).

Namun wejangan Yesus tidak stop pada domba, tetapi domba yang mengadopsi kecerdikan ular dan ketulusan merpati. Dengan kecerdikan ular dan ketulusan merpati tsb diharapkan dapat menghindarkan (sekurang-kurangnya mengeliminir resiko) domba dari terkaman serigala.

Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah mengapa Yesus tega atau bahkan nekat mengutus para murid dengan resiko dianiaya bahkan dibunuh ?
Jawabannya adalah Yesus sendiri telah menegakan diri-Nya dan nekat masuk ke sarang serigala dengan resiko dianiaya dan dibunuh.

Dia tahu resiko tsb akan menjadi kenyataan dalam sengsara dan wafat-Nya di kayu salib. Namun Yesus pun paham bahwa manusia dikaruniai kehendak baik seturut dengan citra Allah.
Oleh karena itu Yesus tetap menaruh harapan bahwa hati manusia masih terbuka bagi Kabar Gembira.
Maka the show must go on, rencana dan kehendak Bapa harus dihadirkan dalam hidupNya.

Kalau hal tsb di atas kita refleksikan kepada diri kita sebagai murid Yesus tentunya tidaklah begitu menakutkan untuk mengatakan "Ya" dan siap menjadi utusan-Nya.

Domba di sarang serigala bisa berdampak kematian, tetapi tidak mustahil dengan cerdik dan tulus mampu mengubah (watak) para serigala menjadi domba.
Tetapi serigala di sarang domba ? Kemudian para domba berubah (watak) menjadi serigala ? Maka jadilah Serigala berbulu Domba. Yesus meminta para murid waspada terhadap bahaya laten serigala berbulu domba dalam komunitas mereka.

MAKA SEBAIKNYA...MARI PERGI KE SARANG SERIGALA !!!!!!
AMIN.

YHS



YHS
Email: harsono_yohanes@yahoo.co.id

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Renungan

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved