AMAN DI TANGAN DIA


Peristiwa tabrakan maut di Tugu Tani, Jakarta, membuat kita sedih dan miris. Pejalan kaki di trotoar pun bisa kena musibah. Bukankah seharusnya trotoar adalah tempat yang aman bagi pejalan kaki?

Kejahatan-kejahatan yang terjadi di angkot pun membuat kita waswas bila harus naik angkot. Kejahatan tidak hanya terjadi pada malam hari, tetapi juga pada siang hari.

Di manakah tempat yang aman? Rumah juga bukan tempat yang aman, karena banyak terjadi pencurian dan perampokan.

Berbahagialah kita yang menjadi anak-anak Tuhan. Firman Tuhan ya dan amin dan masih berlaku di dalam hidup kita. Kita akan aman di tangan Dia.

Firman Tuhan berkata dalam Matius 10:29-31 "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun daripadanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya Sebab itu janganlah kamu takut, krena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit."

Itulah janji Tuhan. Tidak akan terjadi yang buruk kepada kita di luar kehendak Bapa. Kalaupun terjadi sesuatu yang buruk, itu adalah kesempatan kita untuk mengoreksi diri, bertobat dan berdekat kepada Tuhan.

Kita juga ingat ketika Yakub dan keluarganya pindah ke Mesir. Firaun memberikan mereka tempat tinggal di tanah Gosyen dimana mereka bisa memelihara ternak mereka (Kejadian 45:10). Ketika tulah demi tulah terjadi di Mesir seperti tulah nyamuk, lalat pikat, katak, hujan es dan bahkan tulah kematian anak sulung, semua itu tidak menyentuh orang Israel yang tinggal di tanah Gosyen.

Walaupun pada zaman akhir ini kita dikelilingi oleh kejahatan dan kekerasan, namun kita ada di "Gosyen" yaitu tempat yang tak tersentuh malapetaka, karena Tuhan yang membentengi kita.

Dengan demikian kita bisa bebas dari kekuatiran dan ketakutan. Kita lakukan tugas kita setiap hari dengan sebaik-baiknya untuk memuliakan Tuhan dan men jadi saluran berkat bagi sesama. Kita aman di tangan Dia, Tuhan Yesus, Juruselamat dan Penebus kita. Amin.



Widyawati Dharmasurya
Email: widyasuwarna@yahoo.co.id

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Renungan

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved