Adorasi Sakramen Maha Kudus


Ketika bekerja dan tinggal di Karang Jati (2001-2004), pada hari Jumat pertama, biasanya aku ikut misa di gereja Girisonta. Dalam misa itu ada penghormatan Sakramen Maha Kudus. Namun setelah pindah kerja ke kantor yang di Jakarta dan ikut misa Jumat pertama di gereja Kristoforus, ternyata dalam misa tidak ada penghormatan Sakramen Maha Kudus. Hal ini membuat aku merasa kehilangan dan ada yang kurang dalam misa Jumat pertama tersebut.

Pernah timbul kerinduan yang sangat, sehingga aku ikut misa adorasi KTM (Komunitas Tritunggal Mahakudus) di Wisma Indocement, mulai jam 19.00 sampai lewat jam 21.00. Karena pulangnya cukup larut, jadi agak kapok juga, sehingga cuma sekali itu aku pergi ke Wisma Indocement untuk ikut misa adorasi KTM.

Setelah pindah ke BSD tahun 2007, dalam misa Jumat pertama ternyata juga tidak ada penghormatan Sakramen Maha Kudus! Untunglah dengan ditetapkannya tahun Imam mulai bulan Juni 2009 yang lalu, sekarang pada misa Jumat pertama selalu ada penghormatan Sakramen Maha Kudus.

Sebelum penetapan tahun Imam ini, pada suatu misa Kamis Putih, saat perarakan Sakramen Maha Kudus dan lagu “Mari Kita Memadahkan” dinyanyikan, aku tak dapat menahan tangisku. Mungkin karena sudah sekian lama tidak mengikuti prosesi penghormatan Sakramen Maha Kudus dalam misa Jumat pertama.

Dalam misa Jumat pertama di gereja Santa Monika yang untuk pertama kalinya ada penghormatan Sakaramen Maha Kudus, air mataku juga mulai mengalir saat syair, “…darah yang berharga nian, darah Raja Semesta…” dinyanyikan. Aku merasakan betapa besar kasih Tuhan kepadaku, namun aku masih sering berdosa kepadaNya. Jadi sedih dan terharu mendengar lagu ini, mengingat pengorbananNya yang luar biasa dan keegoisanku yang terus menyakitiNya. Semoga aku bisa selalu memperbaiki diri dan lebih berusaha untuk menyenangkan Tuhan Yesus yang telah mengasihiku. Amin.

BSD, 22 Januari 2011



Brigitta Elizabeth
Email: noviyanti@yahoo.com

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Renungan

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved