St. Katharina dari Siena


Santa Katharina dari Siena, seorang yang spontan, seorang yang tak merasa takut untuk berhadapan dengan pemegang kekuasaan yang dianggapnya salah dan menyimpang. Demi kebenaran ia rela bahkan untuk menerima kematian. Ia adalah seorang suster dari biara Dominikan, yang membangun relasi yang amat dalam baik dengan para Paus maupun dengan kaum kecil para petani.

Katharina dilahirkan pada tahun 1347 di Siena, Italia. Ia harus berhadapan dengan penyakit yang melanda seluruh Italia saat itu, mengarungi masa kelaparan dan ppeperangan. Di samping itu gereja berhadapan dengan ancaman perpecahan yang dilancarkan oleh kelompok yang anti terhadap Paus dan ingin memilih Paus tandingan. Di masa hidupnya Paus memindahkan tahta kepausan dari Roma menuju Avignon, lalu kembali lagi ke Roma. Paus juga harus berhadapan dengan sekelompok skisma yang menyerukan anti Paus.

Kendatipun masih di masa kecilnya, namun Katharina sudah mampu merasakan gejolak yang ada dalam masyarakat sekitarnya, dan betapa ia ingin bangkit untuk membantu mengatasi situasi tersebut. Dengan penuh rasa kekanak-kanakan ia membayangkan dirinya mengenakan pakaian seorang Dominikan, dan beberapa kali ia berlari dan mencium tanah jalanan yang baru saja dilewati para imam Dominikan. Orang tuanya tak mampu membendung cita-cita Katharina untuk menapaki jalan hidup membiara, dan ketika ia berumur 16 tahun dengan bantuan Roh Kudus ia akhirnya diisinkan untuk memasuki Ordo Dominikan, yang disebut Mantellate.

Di masa hidupnya sebagai seorang religius, Katharina sering kali mengalami penglihatan serta ekstase yang panjang, namun ia lebih diingat karena tulisan-tulisannya, yang pada akhirnya menghantarnya untuk digelarkan sebagai Doctor Gereja pada tahun 1970 oleh Paus Paulus VI. Suatu kebenaran akhirnya terungkap, bahwa Katharina tak pernah belajar bagaimana harus menulis hingga sampai pada akhir hidupnya. Namun keinginannya untuk menulis tetap membakar dalam hatinya. Akhirnya dengan bantuan tiga orang sekretaris ia menyelesaikan tulisan-tulisannya.

Mengecam para Kardinal

Surat-surat Katharina, bahkan hingga dewasa ini, sering amat mengejutkan para pembacanya. Gaya bahasanya tak bertele-tele, tetapi langsung mengetuk pada sasarannya. Untuk mendukung Paus Urbanus VI, Katharina muncul dan mengecam tiga Kardinal Italia yang memihaki gerakan anti Paus. Mereka digelari sebagai kembang yang tak memiliki keharuman. Walau ia sering nampak begitu keras dalam mempertahankan kebenaran iman, namun Katharina memiliki panggilan yang unik dari Allah untuk berdiri dan membela para Paus dan Uskup, wakil Allah yang kelihatan dalam Gereja. Ini semua berakar pada kebesana imannya serta dalamnya cintanya akan Allah.

Meneguhkan Paus

Ia amat mengharapkan agar Paus Gregorius XI meninggalkan tempat pelarian di Avignon dan kembali ke Roma. Ketika ia tahu bahwa sang Paus takut karena diancam akan diracuni, Katharina menulis kepadanya; "Janganlah engkau menjadi sekian takut seperti anak kecil, jadi seorang lelaki..." Katharina berbicara kepada Paus Gregorius dengan kelembutan seorang anak kepada ayahnya. Dalam beberapa bagian dari suratnya itu, ia bahkan menyapa Paus dengan kata "Babbo" yang artinya "Ayah."

Berikan kepada sang Ratu

Katharina juga menulis surat kepada rati Gioanna, Ratu dari negeri Naples yang mendukung gerakan anti Paus. Ratu ini juga dituduh membunuh suaminya sendiri. Katharina sungguh tak merasa takut pada kaum penguasa. Dengan mengutuk ratu Gioanna, ia berada di pintu resiko kematian. Namun ia berkata; "Aku percaya pada Yesus Kristus, dan bukan pada diriku sendiri." Dan kepercayaannya inilah yang telah memberanikannya untuk bertindak demi kebenaran.

Suatu hari seorang anak muda Nicolo di Toldo, yang akan dipenggal kepalanya karena imannya akan Yesus Kristus meminta agar Katharina menghadiri peristiwa eksekusinya. Ia mengelus kepala Nicolo bahkan juga pada saat lehernya dipenggal. Di kemudian hari ia menulis kepada Beato Raymond dari Capua tentang peristiwa tersebut; bahwa ia menantikan Nicolo di tempat eksekusi. Namun ketika Nicolo datang, ia nampak seperti seekor domba lapar yang tak bertenaga, Namun ketika melihat Katharina, ia mulai tersenyum dan sambil menyebut nama "Yesus" ia menerima hadiah martir tersebut dengan gembira hati.

Katharina berhasil meyakinkan Paus Gregorius XI untuk meninggalkan pelariannya dan kembali ke Roma. Namun tak berapa lama ia meninggal dan diganti oleh Paus Urbanus VI. Katharina selanjutnya dengan penuh kasih mendampingi Paus baru dengan surat-suratnya yang meneguhkan. Ketika gerakan anti Paus kian memanas dan ancaman perpecahan menjadi kian bergetar, Paus Urbanus VI mengundang Katharina untuk datang ke Roma. Sang Paus membutuhkan dukungannya. Pada tahun 1378 ia menuju Roma dan dari sana ia menulis banyak surat untuk membela Urbanus VI sebagai satu-satunya Paus (menolak adanya paus tandingan saat itu). Setiap hari ia berjalan menuju Basilika St. Petrus untuk berdoa bagi kesatuan dan keutuhan gereja. Pada tahun 1380, karena dimakan kerja keras demi kesatuan gereja ia meninggal dunia pada umur yang relatif muda, 33 tahun. Ia dikanonisasikan oleh Paus Pius II pada tahun 1459. Paus Yohanes paulus II menjadikannya sebagai satu di antara wanita pertama yang menyandang gelar "Doctors of the Church."

Tarsis Sigho íV Taipei

Diterjemahkan secara bebas dari:
http://www.op.org/domcentral/trad/stcather.htm



Tarsis Sigho
Email: tarsis@svdchina.org

Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),
jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Kembali Ke Index Tokoh

Versi Cetak Versi Cetak   Email Ke Teman Email ke Teman  

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2014 Pondok Renungan
All Rights Reserved