Yubileum 2000

 

3.  YUBILEUM SEBAGAI JALUR PERTOBATAN


"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat.
Bertobatlah
dan percayalah kepada Injil" (Mrk 1:15)

          Sri Paus Yohanes Paulus II dengan Yubileum mengajak umat Allah untuk bertobat. Pertobatan ini selain inti dari kekristenan merupakan juga salah satu momen perjalanan rohani untuk menikmati kegembiraan Yubileum.

          Sepanjang sejarahnya pertobatan dan Perayaan Sakramen Tobat merupakan tahap-tahap khas dan even setiap Yubileum.

          Pertobatan itu adalah "metanoia" yaitu kembali memandang wajah Allah karena dengan dosa manusia seperti telah memalingkan muka dari Tuhan. Berkat pertobatan manusia dilepas dari sikap egois, kepentingan sendiri dan bersikap peka terhadap firman Tuhan dan terhadap sesamanya.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh 3:3). Dan "Jikalau kamu tidak bertobat juga kamu semua akan binasa" (Luk 13:3).

          Proses pertobatan ini merupakan suatu pengalaman yanh nyata pada agama-agama non Kristen yang disertai dengan pengakuan dosa, penyesalan atas kejahatan untuk memulihkan kembali dialog dengan yang ilahi, misalnya Nirwana, Idul Fitri, Nyepi dan lain-lain.

          Salah satu aspek dari proses pertobatan adalah mencari suasana dan tempat yang cocok untuk berdialog dengan Sang Ilahi, yaitu padang gurun atau tempat yang jauh dari keramaian sebagaimana nampak pada pengalaman Abram, Musa, Nabi-nabi, Yohanes Pembaptis, Yesus, Budha, Kungfu, Mohammad dan para petapa Gereja Timur dan Barat.

          Pertobatan itu terwujud juga melalui puasa dan sedekah. Mati raga, penyiksaan terhadap badan sebagai ungkapan penguasaan diri.

          Puasa itu sebagai latihan / olah untuk melepas diri dari dunia, konsumisme, hedonisme dan lebih-lebih dari hawa nafsu. Askesis/mati raga ini dipandang sebagai suatu karunia untuk semakin dekat dengan Tuhan.

          Sedekah sebagai perwujudan dari rasa persaudaraan dan kesetiakawanan sebagaimana dituntut dalam Perjanjian Lama : "Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluh, engkau sudah selesai mengambil segala persembahan persepuluh dari hasil tanahmu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang (Ul 26:12)

          Sedekah itu pada jaman modern ini diwujudkan dengan gaya baru yaitu :

  1. keterlibatan pribadi terhadap kebutuhan sesama (sumbangan persepuluhan)

  2. dari sedekah, sumbangan menuju pembagian harta yang dimiliki.

  3. kesetiakawanan nyata

  4. dan menolong mereka kepada keterlibatan mereka sendiri dalam menciptakan suatu masyarakat adil, makmur, kesejahteraan bersama.



"Ketika Ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergerahlah hatinya oleh belas kasihan" 
(Lk  15,20)



Klik disini untuk melanjutkan ke halaman berikut....

 

Home  |  Renungan  |  Cerita  |  Kesaksian  |  Diskusi Kontak Kami
                   
@ 2000-2002 Pondok Renungan