Sabtu, 25 Agustus 2001

Pada kesempatan ini kami (Ira dan anaknya, Lucia, Ino, albertus dan saya) berkunjung ke Kampung Jembatan di kawasan Cipinang Besar. Kami kesana dengan membawakan meja untuk kegiatan mereka, meja tersebut kami dapatkan dari sumbangan PT. PricewaterhouseCoopers Indonesia. Meja tersebut diletakkan di rumah singgah yang beralamat di Jl. Cipinang Besar
Meja (dari PwC) dan Happy Mie dari rekan Minarni.


Dalam kesempatan ini saya melihat lokasi salah satu tempat singgah anak jalanan ini, bangunan itu bertingkat dan ditinggali beberapa orang anak jalanan, di tempat itu kami melihat kehidupan mereka sehari-hari. Di depan pintu masuknya kami melihat ‘sampah’ bekas mereka mengerjakan kerajinan tangan, mereka mendapat orderan utk membuat souvenir berupa sumpit dengan kotaknya. sehingga halaman depan yang sempit itu penuh dengan serabut-serabut kayu, sisa dari pembuatan sumpit itu.
Ini merupakan salah satu kerjaan yang mereka lakukan, dan hasilnya saya lihat cukup baik, bisa dilihat dalam foto disamping ini :  


Kami kemudian berkumpul bersama dan juga saya mencari tahu kegiatan mereka di rumah itu, mereka nampaknya sudah terbiasa dengan keadaan ini, dan mau ber-sharing dengan kami, kami makan bersama mereka.
Dari kisah mereka, saya melihat bahwa mereka memang mau berjuang, mau maju, yah memang dengan keadaan ini mereka tidak putus aja, bimbingan dari kita-kita ini juga perlu diteruskan, memang perlu kesabaran yang tiada batasnya untuk mendampingi mereka.


Kemudian kami jalan ke ‘rumah karya’ mereka, di tempat ini mereka membuat hasil-hasil karya berupa sablonan, kaos dan spanduk, kemudian juga kertas daur ulang, gelas dari kertas koran, dan hasil lainnya. Tempat ini berukuran kecil, dan memang rawan banjir, karena tepat disebelah kali, jadi jika terjadi hujan lebat, mereka akan kesusahan. Pada saat itu kami pun diperlihatkan bagaimana mereka membuat kertas daur ulang itu, bisa dilihat dalam gambar dibawah ini..



Prosesnya mereka buat per kertas, dengan menggunakan ‘cetakan’ yang mereka buat menggunakan kayu dan kertas kalkir, kemudian mereka letakkan di kain yang beralaskan tripleks. Lalu setelah itu dikeringkan. Disini kertas daur ulang ini, bisa menggunakan bermacam motif, seperti tambahan daun the, kopi dan lainnya, kertas ini biasanya saya lihat di toko buku lumayan harganya sekitar 1500-2500 per lembarnya, memang kertas ini bagus untuk seni dan juga untuk dirangkaikan dengan yang lainnya. Mungkin mereka kekurangan ‘pemasaran’ sehingga bingung kemana harus menjualnya, sehingga mereka hanya membuatnya jika ada orderan buat souvenir. Mungkin bagi rekan-rekan yang bergerak di bidang seni ini bisa menggunakan jasa mereka ini. Mereka juga membuat sablonan baik untuk kaos, spanduk dan juga kertas ucapan.
Dari kegiatan tersebut, saya melihat mereka mau berusaha, dan andai kita bisa berikan mereka ‘kail’ keterampilan, saya yakin mereka mau belajar dan berusaha.
Rekan kami Ino juga memberikan pelajaran bermain gitar sekilas bagi mereka, sambil rekan lainnya melihat keadaan sekeliling tempat itu.

Ditempat itu ada ‘perpustakaan’ yang mana sangat sederhana, buku-bukunya pun masih dikit. Mereka butuh lebih banyak buku-buku, mungkin kita juga bisa menyumbangkan buku-buku yang sudah tidak terpakai buat mereka.


Dari kunjungan ini, saya dan rekan-rekan yang lainnya melewati tempat-tempat yang membuat kami berdecak kagum juga, karena mereka ada yg tinggal di ‘rumah’ yg tingginya kurang lebih 1,5 meter sehingga mereka harus menunduk kalua mau masuk. Mereka bisa hidup dalam keadaan begitu, memang penuh keheranan tapi itulah kenyataan, mungkin kita selalu mengeluh, tpai jika kita berada di lingkungna itu, kita akan tertegur. Dalam kesempatan ini, saya belum menggunakan ‘Dana’ yang terkumpul, karena saya masih melihat dan mempelajari lebih jauh, apakah yang akan kita sumbangkan kesana…

Terima kasih,

David Wirawan

Home  |  Renungan  |  Cerita |  Kesaksian  |  Diskusi |  Kontak Kami
                   
© 2000-2008 Pondok Renungan
All Rights Reserved