 |
Taize
Sekilas Taize
Taize adalah sebuah desa pertanian
sederhana di Perancis Selatan.
Pada tahun 1940, ketika Eropa dilanda perang dunia
II,
Roger seorang mahasiswa teologi Protestan di Swiss yang berusia 25
tahun
tiba di desa Taize. Ia sendiri adalah anak seorang Pendeta Protestan
Swiss.
Ia terkejut melihat penderitaan dan kebencian merajalela di Eropa
akibat
perang. Dalam kondisi yang berkecamuk itu, pergilah Roger ke Perancis.
Sesampainya di desa kecil Taize, ia membeli rumah kosong yang sudah
rusak.
Ia tinggal di situ dan membuka rumahnya bagi pengungsi perang serta
tempat
perlindungan bagi orang Yahudi yang dikejar Nazi. Di rumah itu, ia
mengajak
orang-orang di sana untuk beribadah secara hening. Ia rindu untuk
menghadirkan komunitas persaudaraan (brotherhood) bersuasana Ucapan
Bahagia
Yesus, yaitu : sukacita, kesederhanaan, dan kemurahan hati (simplicity,
mercy, and joy).
Dua tahun setelah Roger bekerja sendiri, bergabunglah beberapa
kawannya.
Ketika perang telah selesai, Roger dan kawan-kawannya bertekad
meneruskan
pelayanan ini sebagai suatu perumpamaan tentang persaudaraan;
sebagaimana
yang dikehendaki Yesus. Begitulah pada hari Paskah tahun 1949, Roger
dan
enam kawannya membuat komitmen dihadapan Tuhan untuk menyerahkan
sepenuh
waktu dan hidup mereka bagi pekerjaan Tuhan tersebut dengan jalan hidup
membujang dan sederhana. Dengan begitu, lahirlah Communaute de Taize
atau
komunitas Taize.
Komunitas Taizé pada awalnya merupakan komunitas para biarawan Kristen yang didirikan atas dasar cinta kasih dan persaudaraan eukumenis, tanpa memandang latarbelakang anggotanya. Inspirasi ini muncul setelah Perang Dunia II yang mengerikan, di mana bangsa-bangsa Eropa terpecah belah, termasuk perpecahan hebat dalam agama Kristen sendiri (Katolik, Protestan, Ortodoks, Anglikan dan sebagainya).
Dari keprihatinan itu, Bruder Roger Louis Schutz bersama para biarawan di Taizé saat itu, menjalankan pola hidup persaudaraan intensif seperti dikatakan Santo Paulus dalam surat kepada umat Efesus, yaitu selalu sabar, lemah lembut, rendah hati, saling membantu dan damai (bdk.Ef.4:2-3) dalam hidup sehari-hari mereka.
Pola hidup ini dikomunikasikan dengan setiap orang yang datang berkunjung. Makin lama makin banyak peziarah yang datang dan memperoleh persaudaraan, persahabatan serta perhatian tulus dari para biarawan Taizé. "Kami menyambut mereka, mengatur tempat untuk mereka tinggal, menemani, mendengarkan orang yang ingin berbagi suka duka. Namun metode ini bukanlah semacam bimbingan konseling," demikian Bruder Jean-Marie, salah satu biarawan komunitas Taizé.
Demikianlah sampai saat ini, sepanjang tahun ribuan peziarah dari seluruh dunia datang ke Taizé untuk beristirahat, merenung, berdoa, bernyanyi, bahkan bekerja, bersama para biarawan dan penduduk sekitar. Di sana mereka keluar sejenak dari hidup sehari-harinya, dan mereka saling membagi perhatian, persaudaraan, persahabatan serta cinta kasih dengan sesamanya.
Taize kini menjadi tempat Retreat/ Bible Camp; di mana ribuan anak
muda
datang dari seluruh dunia untuk mencari sesuatu yang berarti bagi hidup
mereka. Melalui doa, refleksi, dan diskusi Alkitab, mereka ingin
memperdalam
kehidupan spiritualitas mereka dengan harapan agar dapat lebih baik
lagi
mengambil bagian dalam gereja asal mereka. Komunitas Taize tidak
bermaksud
untuk melahirkan sebuah aliran kekristenan yang baru, tetapi sebagai
sebuah
upaya memenuhi panggilan Kristus, yaitu mewujudkan rekonsiliasi
(perdamaian)
antara sesama pengikut Kristus. Doa dan harapan inilah yang diucapkan
Tuhan
Yesus di dalam Yohanes 17:21 : "... supaya mereka semua menjadi satu"
Doa Dan Suasana Ibadah Di Taize
Jantung kehidupan di Taize ialah doa. Sekalipun semua orang sedang
sibuk
dengan pekerjaan masing-masing, ketika lonceng ibadah berbunyi semua
orang
meninggalkan pekerjaannya dan masuk ke gedung gereja. Doa bersama
diadakan
tiga kali dalam sehari, yaitu : pagi, siang, dan malam. Pada doa pagi
hari
disertai dengan Perjamuan Kudus. Doa bersama inilah yang menjadi pusat
kehidupan sehari-hari di Taize. Dalam ibadah doa tiga kali sehari
tersebut,
ada waktu hening/ tenang (silent prayer) selama ( 15 menit. Waktu doa
hening
ini dimaksudkan agar setiap orang dapat dengan tenang berdoa dan
berdiam
diri di hadapan Tuhan tanpa terganggu dengan suara orang-orang di
sekitarnya. Doa hening ini mengajak kita meneduhkan diri dari begitu
banyaknya suara dan kata-kata yang sepanjang hari kita dengar dan
ucapkan.
Di dalam doa hening/ saat teduh ini; kita bukan hanya mencoba
mengutarakan
segala sesuatu kepada Tuhan, tetapi terutama memberikan kesempatan
kepada
Tuhan untuk berdoa bagi kita, berdoa di dalam diri kita, dan berdoa
bersama
kita.
Di dalam keheningan dan ketenangan, kita mencoba lebih peka untuk
mendengar suara Tuhan dalam kehidupan kita. Kita dipanggil untuk
merefleksikan ulang perjalanan kehidupan ini dan merenungkan kembali
pemeliharaan dan kasih setia Tuhan selama masa-masa yang telah lalu dan
mengkomitmenkan kembali masa selanjutnya ke dalam tangan Tuhan. Doa
hening
ini bukan sekedar intuisi atau khayalan, karena sebelum berdoa,
terlebih
dulu dinyanyikan Mazmur dan dibacakan ayat Alkitab.
Lagu-lagu Taize mempunyai ciri khas : satu atau beberapa kalimat yang
mudah
dimengerti (kesederhanaan kata-kata), diambil dari ayat Alkitab yang
singkat
(alkitabiah), diterjemahkan ke dalam banyak bahasa (internasionalitas)
dan
dinyanyikan berulang-ulang (meditatif). Lagu-lagu Taize dinyanyikan
berulang-ulang sehingga kita semakin mengerti dan meresapi kedalaman
lagu
tersebut. Tentu saja, lagu-lagu yang kita nyanyikan tetap dalam taraf
kesadaran kita (tidak trans/ kehilangan eksistensi diri). Hal ini dapat
dimengerti seperti bila kita membaca Alkitab. Ketika kita membaca
bagian
Alkitab tertentu beberapa kali, kita akan menjadi semakin mengerti dan
meresapi arti kedalaman Firman Tuhan bagi hidup kita tanpa membuat kita
kehilangan eksistensi diri kita (trans). Semua hal di atas membuat
ibadah di
Taize sangat khas, sederhana, mudah diresapi, serta mengalir seperti
aliran
sungai. Ibadah terkesan sederhana namun sangat berisi dan bermakna
tanpa
segala macam bentuk formalitas. Ibadah Taize yang sederhana ini selaras
dengan kehidupan di Taize yang juga sederhana.
Semangat Rekonsiliasi DDan Ekumenitas
Kita sering mendengar bahwa
: "Gereja harus membuka pintu dan jendela. Panggilan gereja adalah :
menjadi
gereja bagi orang lain; menjadi sesama manusia bagi orang di sekitar
kita."
Bahkan, kita juga terus menggumuli bagaimana membangun "gereja tanpa
tembok"; dengan beberapa seminar yang pernah diadakan, aksi sosial,
dsb.
Semangat rekonsiliasi dan ekumenitas ini pulalah yang sangat menonjol
di
Taize. Ratusan hingga ribuan orang/ anak muda yang datang setiap minggu
ke
Taize berasal dari berbagai negara, bahasa, maupun latar belakang
gereja
yang berbeda-beda. Namun, semua pengikut Kristus tersebut terpanggil
untuk
duduk bersama, bernyanyi bersama, dan berdoa bersama.
Dalam pertemuan doa akbar Taize di Eropa (European Meeting) yang
diadakan
setiap tahunnya, Sekretaris Jendral PBB selalu memberikan kata sambutan
tertulis sebagai respon positif terhadap orang-orang Kristen yang
mencoba
menghadirkan kedamaian dan kebersamaan di bumi ini.
Kita adalah lilin-lilin kecil yang dipanggil Tuhan untuk menerangi
dunia
yang gelap dan penuh kebencian ini. Kristuslah sumber dari terang itu.
Seperti sebuah lagu yang kita nyanyikan di tengah puing-puing gereja
kita :
"Yesus, terang-Mu pelita hatiku. Jangan gelap memerintah diriku.
Yesus, terang-Mu pelita hatiku. Biar selalu kusambut cinta-Mu."
Sumber : Johannes Linandi
Paus Yohanes Paulus II
ketika berkunjung ke Taizé pada 5 Oktober 1986, mengatakan, "Seseorang
yang singgah ke Taizé bagaikan mendekati sumber mata air. Di sini seorang
peziarah berhenti, melepaskan dahaganya sebentar, sebelum melanjutkan
perjalanannya".
Taize Di Indonesia
Ketahuilah kegiatan Taize di Indonesia, dan bergabunglah bersama untuk mengikuti kegiatan Taize ini.
Klik disini untuk melihat komunitas Taize di Indonesia......
Kumpulan Doa oleh Bruder Roger
Bersama Muder Teresa, Bruder Roger menuliskan doa-doanya dalam buku 'Doa, Mengetuk Hati Allah'.
Doa-doa yang membuat kita mengerti bagaimana berdoa dan mendengar suara Tuhan...
Klik disini untuk membaca doa-doa tersebut......
Home |
Renungan | Cerita
| Kesaksian | Diskusi |
Kontak Kami
@ 2000-2002 Pondok Renungan
|
 |